Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 52


__ADS_3

Pagi ini mentari terlihat sangat cerah di ufuk timur bahkan cahaya mampu menembus kedalam kamar Maira yang masih setia dalam buaian mimpinya. Maira merasa tidurnya semalam sangatlah nyaman apalagi ada Rian yang menemaninya sepanjang malam. Jika suatu tragedi yang membuat hati Anna dan Dewantara terguncang tadi malam maka tidak dengan sepasang anak manusia yang sedang jatuh cinta itu, mereka merasa jika dunia ini begitu indah sejak tadi malam.


Harum tubuh Rian sangat membuat tidurnya nyenyak sedangkan Rian sendiri sudah terbangun sejak tadi namun dia enggan membangunkan Maira karena dia sangat betah memandang wajah cantik wanita yang di cintainya itu sangat Maira sedang terlelap.


Maira yang sejak tadi tidak sadar jika Rian terus memandangnya merasa sangat canggung ketika Rian tak berkedip menatapnya sambil tersenyum manis.


"Apa ada yang aneh di wajah ku tuan?". Tanya Maira sambil menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


"Tidak, justru kamu cantik saat kamu tertidur". Jawab Rian singkat.


"Bohong, mana ada orang cantik saat dia tidur".


"Sebelumnya memang tidak ada, tapi setelah melihatmu tertidur beberapa kali aku jadi percaya jika ada seseorang yang cantik saat sedang tidur".


"Berhenti menggodaku tuan, aku mau mandi dulu". Ujian Maira mendorong tubuh Rian dan mencoba melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya.


"Ayo, aku juga ikut mandi denganmu". Jawab Rian menggoda Maira.


"Jangan bercanda, lepaskan aku tuan".


"Aku serius, sepertinya akan menyenangkan jika kita mandi bersama". Rian langsung turun dari ranjang dan menggendong Maira untuk membawanya ke kamar mandi, tentu saja Maira melakukan perlawanan agar Rian menurunkan dirinya.


"Tuan, jangan lakukan ini atau saya akan teriak". Ancam Maira.


"Sekali lagi kamu memanggilku dengan sebutan tuan maka akan ku pastikan jika kita akan mandi bersama sekarang juga. Aku bukan majikanmu lagi Maira, aku kekasihmu, ayolah panggil aku dengan sebutan yang terdengar mesra di telingaku". Ujar Rian geram.


"Baiklah, turunkan aku, aku berjanji aku tidak akan memanggil anda dengan sebutan tuan lagi".


"Tidak akan sebelum kamu memanggil ku dengan sebutan sayang".


"Tuan, jangan seperti anak kecil".


"Baiklah sepertinya kamu memang sangat menginginkan momen kebersamaan kita di kamar mandi sayang". Rian kemudian langsung membawa tubuh Maira menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Aku mohon turunkan Aku, baiklah sa-sayang, Aku mohon turunkan aku". Seru Maira ketakutan karena dia tahu jika Rian adalah pria yang sangat nekat dan akan melakukan apapun seenak hatinya.


"Masih terdengar buruk, ayo rayu Aku semesra mungkin sayang". Rian mulai menggoda Maira.


"Kamu memanfaatkan Aku ya".


"Baiklah Aku akan penuhi keinginan mu untuk-".


"Sayang Aku mohon turunkan aku, Aku bisa mandi sendiri". Ujar Maira dengan nada yang di buat selembut mungkin.


"Katakan jika kamu mencintai ku". Titah Rian kemudian


"Haruskah Aku mengatakannya disini?". Tanya Maira serius mengingat mereka saat di sedang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


"Katakanlah Maira, kamu tidak pernah mengatakan jika kamu mencintaiku".


"Aku mencintaimu". Ujar Maira cepat kemudian memanfaatkan situasi itu untuk lompat dari gendongan Rian dan langsung menutup pintu kamar mandi.


Rian tersenyum melihat tingkah aneh Maira, karena biasanya para wanita akan terang-terangan menyatakan cinta kepadanya bahkan rela melakukan apapun demi mendapatkan cinta Rian namun Maira sangatlah berbeda, untuk menyatakan perasaannya saja dia terkesan sangat kaku. Disinilah letak dimana Rian merasa sangat beruntung mendapatkan cinta Maira yang masih lugu dan tidak memanfaatkan kecantikan fisiknya untuk mendapatkan para pria kaya di luar sana.


Dapat di bayangkan betapa kagumnya Rian melihat Maira yang sangat lincah di dapur apalagi dengan penampilannya yang sangat alami tanpa make-up dan rambut panjangnya yang di gulung asal-asalan. Rian sungguh tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Maira dari dari belakang dan menghirup harumnya area tekuk dan leher Maira.


"Tuan, jangan-".


"Sekali lagi kamu memanggilku tuan maka jangan salahkan aku jika kita akan berakhir di tempat tidur sekarang juga". Ancam Rian namun dia tetap melanjutkan aktivitasnya dengan leher Maira.


"Sa-sayang lepaskan aku, aku sedang memasak untuk kita sarapan". Ralat Maira sesegera mungkin.


"Yang memasak tanganmu sayang dan aku tidak mengganggu tanganmu". Jawab Rian acuh.


Maira selalu merasa kalah jika harus berdebat dengan pria itu karena apapun yang Maira katakan pasti Rian lah yang akan jadi pemenangnya sehingga dia malas berdebat dan terus melanjutkan aktivitas meskipun Rian terus menempel kepadanya.


Sarapan pagi itu terasa sangat indah bagi keduanya, selain itu kali pertama Rian menikmati masakan yang di buat langsung oleh Maira, pria itu juga merasa sangat bahagia karena dapat menikmati momen kebersamaan mereka tanpa gangguan dan halangan dari siapapun. Mereka bercanda dan tertawa lepas seolah selama ini tidak ada masalah apapun yang terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


"Ayo bersiap sayang". Ujar Rian yang kembali memeluk Maira dari belakang saat Maira sedang mencuci piring.


"Kita mau kemana?". Tanya Maira.


"Tentu saja ke mansion".


"Untuk?, aku baru saja dari sana dan aku harus pulang karena-".


"Jangan merusak momen kita dengan selalu membahas hal tidak penting". Potong Rian ketika Maira hendak mengungkit perihal kejadian yang membuatnya sakit hati itu.


"Baiklah, jawab dulu untuk apa kita kesana lagi?". Tanya Maira lagi.


"Kamu akan tinggal bersamaku dan papa di sana". Ujar Rian santai.


"Jangan bercanda".


"Aku serius, mulai sekarang kamu akan tinggal bersamaku dan tidak akan ku biarkan kamu jauh-jauh dariku lagi".


"Jangan berlebihan tuan, Aku masih istri orang dan status kita belum jelas-".


"Sepertinya Aku tidak bisa membiarkanmu terlalu banyak bicara nona Maira, ikut denganku tanpa bantahan". Ujar Rian dengan nada suara yang mengintimidasi.


"Setelah hari ini tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi sayang, Aku juga tidak akan membiarkan kamu jauh dariku lagi sehingga menyebabkan luka-luka ini, Aku merasa sangat tidak berguna karena bekas luka ini Maira. Aku akan pastikan jika tangan bajiingan itu akan patah jika dia berani menunjukkan wajahnya di hadapanku". Sambung Rian lagi sambil membalikkan tubuh Maira dan menyentuh bekas luka yang ada di wajah wanita itu dengan lembut.


"Aku baik-baik saja jangan berlebihan seperti itu. Tolong jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan dirimu hanya karena Aku". Jawab Maira serius, dia tidak ingin jika pria yang di cintainya itu berada dalam masalah karena dia tahu jika Rian fan Dewantara adalah dua orang yang sama keras kepalanya dan nekat melakukan apapun.


"Kalau begitu ikutlah denganku dan jangan pernah jauh-jauh dariku atau Aku akan sulit mengendalikan diriku".


"Kamu sangat pintar memanfaatkan keadaan". Jawab Maira ketus.


Jika Rian sudah berkehendak maka tidak ada satu orangpun yang dapat membantahnya termasuk Maira sehingga wanita itu hanya menuruti saja keinginan Rian apalagi Rian selalu menakut-nakutinya akan kehadiran Dewantara yang kapan saja bisa ke rumahnya.


Bukan hanya itu, tuan Dhika juga secara khusus menghubungi Maira bahkan tanpa di minta oleh Rian untuk membujuk wanita itu agar mau tinggal bersama mereka sambil menunggu proses perceraian Maira dan Dewantara berakhir sehingga Rian segera bisa menikahi Maira.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2