Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 77


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Maira sangat bahagia melihat foto-foto Anna dengan Dewantara, bukan karena dia bahagia jika kedua orang itu akhirnya bisa lebih dekat karena dia tahu cepat atau lambat Anna dengan Dewantara pasti akan bersatu karena memang ada cinta di mata mereka masing-masing, Maira justru berimajinasi tentang dirinya sendiri jika kelak dia hamil dan perutnya sudah sebesar perut Anna, suaminya pasti akan sangat memanjakan dan menjaga dirinya dengan sangat baik.


"Kapan kamu hadir di rahimku sayang, cepat lah hadir karena kami sangat menantikannya". Ujar Maira lirih dengan wajah lesunya sambil mengelus-elus perut datarnya.


Wanita itu memang sangat menginginkan kehadiran seorang bayi di tengah-tengah dirinya dan Rian, Maira juga mengkonsumsi berbagai macam suplemen, susu dan penyubur kandungan agar bisa segera hamil bahkan dia juga membeli begitu banyak testpack yang akan setiap hari sia gunakan padahal pernikahannya dengan Rian belum genap dua bulan.


Rian juga selalu mengingatkan Maira jika dia tidak perlu berlebihan seperti itu untuk mendapatkan keturunan toh mereka baru saja menikah dan belum puas menikmati masa-masa bulan madu, namun Maira justru marah dan berpikir jika Rian tidak serius untuk memiliki anak.


Maira juga selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Anna yang baru satu kali melakukan hubungan badan namun langsung bisa hamil, sedangkan dia dan Rian bahkan setiap hari melakukannya dan lebih dari satu kali namun dia tak kunjung hamil juga. Dan pada saat Maira membanding-bandingkan dirinya dengan Anna inilah yang selalu menjadi momen dimana Rian sangat kesal pada istrinya itu.


"Kenapa aku belum hamil juga mas?". Pertanyaan yang hampir setiap hari Maira tanyakan dan Rian bingung dan jenuh harus memberikan jawaban apa.


"Mungkin belum waktunya sayang, Tuhan ingin kita menikmati masa-masa bulan madu kita sambil terus berusaha agar kamu segera hamil". Jawab Rian sebijak mungkin agar Maira tidak emosi seperti hari-hari sebelumnya.


"Tapi kenapa Anna tidak perlu berusaha sekeras kita?". Tanya Maira lagi dan pertanyaan itu juga hampir setiap hari Maira tanyakan.


"Sayang, takdir hidup seseorang itu berbeda-beda dan kita tidak akan bisa menebaknya jadi kita harus tetap bersabar, berdoa dan berusaha".


"Tapi aku-".


"Sudahlah sayang, kapanpun kamu hamil tidak akan menjadi masalah bagiku". Rian memotong pembicaraan Maira karena dia yakin jika pembicaraan mereka itu akan berujung pada perdebatan seperti hari sebelum-sebelumnya.


"Kapan kita akan pergi ke dokter dan memeriksa keadaan kita?". Kali ini pertanyaan yang Maira lontarkan adalah pertanyaan yang sebelumnya belum pernah dia tanyakan.


"Aku rasa tidak ada masalah apapun pada diri kita, apakah perlu kita ke dokter?, Maira dengarkan aku, jika kamu stress dan terus berada dalam keadaan tertekan itu juga tidak akan baik untuk kesuburan seseorang, sudahlah sayang fokus saja pada study mu yang hampir selesai mungkin Tuhan juga tidak ingin melihat kamu kerepotan dengan memikirkan dia hal sekaligus di waktu yang bersamaan, nanti jika study mu sudah selesai kita akan fokus memikirkan untuk memiliki anak, bagaimana?". Bujuk Rian selembut mungkin agar Maira tidak matahari dan merasa kecewa.

__ADS_1


Maira tersenyum manis kearah suaminya yang begitu saat pengertian. "Terimakasih telah begitu perhatian dan mengerti keadaanku suamiku". Jawab Maira lirih dan langsung memeluk suaminya itu.


"Aku janji akan memberikan kamu keturunan suamiku, karena aku tahu tidak mudah hidup sebatang kara di dunia ini apalagi penyebab kepergian kedua orang tuamu adalah papaku sendiri dan aku akan menebus semua kesalahan masa lalu itu dengan memberikan keturunan yang akan menjadi penerus mu". Batin Maira.


 


"Apa kamu yakin tidak mau ku panggilkan dokter saja?". Tanya Dewantara kepada Anna. Anna hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang di tutupi dengan kedua tangannya.


"Hei, kenapa menutup wajahmu, ayo buka dan pandanglah lawan bicara mu". Sambung Dewa lagi sambil menarik kedua tangan Anna. Posisi Anna saat ini sudah di baringkan oleh Dewa di atas kasur namun pria itu juga tidak beranjak dari kasur tersebut melainkan setengah menindih tubuh Anna.


"Aku malu mas". Ujar Anna dengan napas yang naik turun, jujur dia sangat gugup ketika harus berada sedekat ini dengan Dewa apalagi saat ini bisa di katakan mereka setengah polos.


"Tidak perlu malu bukankah aku sudah-".


"Malam itu kamu tidak sadar jadi jangan katakan kamu sudah melihat semuanya". Potong Anna sedikit kesal karena mengingat momen malam panas yang mereka habiskan bersama.


Dewa menangkap tangan Anna dan menciumnya dengan mesra, dia meletakkan tangannya mungil itu di atas tekuk nya kemudian menatap mata wanita yang di cintainya itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Sulit bagi Dewa memang untuk menahan hasratnya apalagi saat ini momennya sangat pas dan mereka berada di atas akasur dalam keadaan setengah polos itu dengan tubuh yang sama basah. Rambut basah Anna adalah hal utama yang membuat hasrat itu bangkit seketika.


Dewantara sangat tahu cara membuat Anna seperti mabuk kepayang, dia membelai wajah Anna dengan tangannya kemudian beranjak mengusap bibir Anna dengan menggunakan ibu jarinya. Kata hatinya mengatakan jika dia tidak seharusnya melakukan hal ini namun logikanya menolak hal tersebut sehingga pria itu langsung menerkam bibir segar yang basah karena sisa air di kolam renang tadi apalagi melihat Anna hanya pasrah tanpa perlawanan bahkan wanita itu memejamkan matanya seolah memberikan izin bagi Dewa untuk menyentuh dirinya.


Cup...


Benar saja seperti yang di artikan oleh Dewa jika Anna sama sekali tidak melarangnya untuk menyentuh bibirnya itu sehingga terjadilah hisapan dan tarik menarik yang cukup lama di antara keduanya. Anna juga bahkan tanpa sadar juga mengimbangi permainan Dewa, hal itulah yang membuat dewa yakin jika sebenarnya Anna sudah bisa menerima kehadiran dirinya namun wanita itu masih saja mempertahankan egonya saja.


******* yang awalnya lembut dan pelan itu sekarang menjadi ******* yang semakin panas dan menuntut di anatar keduanya bahkan tangan Dewa sudah berani meremas buah kenyal yang sangat menantang yang berada di dada Anna, tentu saja hal karena Anna sedang hamil sehingga buah tersebut semakin mengeras dan membesar.

__ADS_1


"Aah". Anna bahkan sudah berani mendesah saat Dewantara memainkan lidah dan bibirnya di leher jenjang Anna sehingga membuat Dewa semakin melancarkan aksinya.


"Aaaaaa". Teriak Shinta melihat pemandangan di hadapannya rupanya Dewa dia tidak mengunci atau bahkan sekedar menutup pintu kamar Anna tadi."Oh my God, kalian sudah menodai mataku yang suci ini". Sambungnya dengan suara yang sangat menggelegar bahkan nyonya Dewi langsung menghampiri wanita itu. Shinta yang sedang berpura-pura seolah menutup matanya itu menunjuk kearah tempat tidur Anna.


"Aaaaa". Teriak nyonya Dewi kemudian tak kalah menggelegar nya di bandingkan suara Shinta. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri putranya kemudian menarik paksa tubuh Dewa. "Awas anak nakal apa yang kamu lakukan hah?, sayang apa kamu baik-baik saja?". Tanya nyonya Dewi kepada Anna.


Anna dengan sigap langsung melempar jubah mandi kearah Dewa agar pria itu mengenakannya karena selain dia tidak ingin tubuh Dewa menjadi bahan tontonan orang lain dia juga menyadari jika bagian inti pria itu terlihat menonjolkan sesuatu dari dalam sana. "An-anna baik-baik saja ma". Jawab Anna gugup karena baru saja dia di pergoki oleh nyonya Dewi sedang sedang melakukan hal yang memalukan bersama Dewantara.


"Apa perlu mama panggilkan dokter?, lain kali jangan berenang tanpa pengawasan dari mama ya nak". Ucap nyonya Dewi lagi sambil membelai rambut Anna yang masih basah.


"Anna tidak apa-apa ma karena tadi mas Dewa cepat menyelamatkan Anna".


Nyonya Dewi bernapas lega kemudian dia membalik arah dan menatap putranya dengan tatapan yang sangat kesal. "Mama tidak akan memaafkan mu jika kamu berani masuk sembarangan ke kamar Anna lagi apalagi sampai berani naik ke ranjang ini lagi". Ancam nyonya Dewi.


"Ma, jangan seperti anak kecil". Jawab Dewa cuek sedangkan Anna menunduk menahan rasa malunya.


"Hajar dia ma". Celetuk Shinta.


"Kamu yang harus ku hajar, bagaimana bisa kamu tidur begitu pulas nya sampai tidak menyadari Anna berteriak memanggil namamu, lihat saja kamu ya aku ku berikan kamu pelajaran". Jawab Dewa kesal kepada Shinta.


"Sudah, sudah, kalian semua sama-sama termasuk kamu An, kenapa kamu mengizinkan pria nakal ini masuk ke kamarmu bahkan sampai naik ke ranjang mu heem?, pokonya mama tidak mau tahu kalian semua harus mama hukum, mulai sekarang kamu Shinta jangan pernah berenang lagi selama satu bulan ke depan atau kamu tidak akan mama izinkan berenang lagi selamanya dan kalian berdua harus segera menikah tanpa bantahan atau alasan apapun". Ujar nyonya Dewi tegas.


Tentu saja apa yang dikatakan oleh nyonya Dewi barusan menjadi berita bahagia untuk Dewantara namun bagi Anna itu adalah hal yang sangat memalukan namun menikah dengan Dewantara memang hal yang sangat dia inginkan saat ini sedangkan Shinta terus melakukan protes kepada nyonya Dewi bahkan dia sampai mengikuti wanita patuh bayar itu kemanapun nyonya Dewi pergi.


Dewantara mendekati Anna dan duduk kembali di samping Anna sambil tersenyum bahagia. "Menikahlah denganku An, aku mencintaimu". Ujar pria itu kemudian mengecup mesra kening Anna.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2