Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Mengintip


__ADS_3

Hampir 3 bulan dia tidak menemukan Chandra dimanapun. Sekarang Chandra sudah tidak diketahui rimbanya oleh siapapun. 80 hari ini Andini juga terus mengurung diri dirumah, berarti tinggal dua puluh hari lagi masa iddahnya sudah selesai.


Sedikit demi sedikit dia mulai menerima kenyataan, bahwa Chandra pasti tidak akan pernah kembali kepadanya lagi..


Melamun dan bersedih sudah tidak ada artinya lagi, bahkan mungkin jika dirinya sudah sakit parah sekalipun Chandra tetap tidak akan datang kepadanya. Dia berpikir bahwa Chandra sangat marah kepadanya atas semua perlakuan yang ia berikan.


Hari ini dia ingin pergi kemakam kedua orang tuannya juga ke makam mertuanya.


Seperti 80 hari sebelumnya, dia tidak mengenakan polesan make up sedikitpun, meskipun begitu orang yang terlahir cantik akan tetap terlihat cantik tanpa riasan make up sekalipun.


Setelah mengunjungi makam kedua orang tuannya dia beralih ke makam kedua mertuannya.


"Ayah..." lirihnya.


"Maafkan aku," tetesan air matanya meleleh saat mengingat masalalunya.


"Aku sudah melupakan pesanmu untuk selalu memaafkan anakmu, aku tidak menimbang keputusanku dulu. Aku sangat menyesali itu, Yah. Memutar waktu adalah hal mustahil, Chandra sudah pergi entah kemana.." sesal Andini, dia terus memandangi kuburan mertuanya itu, seolah-olah Hermawan benar-benar ada dihadapannya dan mendengarkannya.


"Aku bodoh ayah, aku terhasut oleh rasa benciku sendiri. Maafkan aku..." Air matanya selalu saja menderas, jika orang sudah mengenalnya mungkin orang itu akan bosan dengan air mata yang dia keluarkan.


Tapi apalah daya Andini, dia hanya bisa menangis setelah apa yang dia lakukan tidak membuahkan hasil yang dia inginkan.


Tak lama dia menadahkan tangannya sejajar dengan dadanya. Dia melafalkan doa-doa untuk kedua mertuanya juga Rendi. Dia sudah mendengar kebenaran tentang Rendi dari Doni. Sempat syok dengan fakta tersebut, tapi bagaimanapun dia adalah korban dari tindak kejahatan keluarganya.


Tak jauh dari keberadaannya di balik pohon yang besar juga rindang, ada seorang laki-laki yang memantaunya..


"Ternyata, kau selalu baik pada orang tuaku. Terima kasih, terima kasih sudah mendoakannya," lirihnya.


"Maafkan aku, aku sungguh malu untuk bertemu dengan dirimu. Aku takut pertemuan kita akan menyakitimu lagi, Andini maaf.." lirihnya lagi. Air matanya menggenang.


Chandra memang sering datang ke makam kedua orang tuanya dengan penyamaran. Hal itu dilakukannya agar Andini tidak menemukannya. Bukan tanpa alasan, dia menginginkan Andini bahagia, tanpa bayang-bayang masalalu yang telah dia perbuat.


Diapun sangat merindukannya, ingin rasanya memeluknya dengan erat agar Andini tahu bahwa dia sangat mencintainya. Tapi rasanya tidak mungkin karena yang dia tahu Andini sudah sangat membencinya.

__ADS_1


"Kita memang berdekatan tapi hatimu telah berlari jauh. Kenapa aku dulu begitu bodoh, kenapa aku selalu menghindar darimu ketika kamu selalu mencoba dekat denganku ?? Kenapa hubungan kita seperti sebuah magnet yang berbeda kutub ??" Chandra menatapnya sendu.


"Aku sebenarnya ingin seperti kemarin aku ingin menjagamu, memelukmu, membahagiakanmu, mendekapmu dengan erat agar kau tidak pergi dariku. Aku ingin kita selalu berpegangan tangan seperti saat itu."


"Tapi sekarang hal itu tidak akan mungkin terjadi.. Di antara kita ada sebuah penghalang yang sulit dihancurkan.."


Andini yang sudah selesai dengan ritual berdoanya pun segera beranjak pergi.


Dalam langkahnya dia bergumam, " Andai kita bertemu disini, ka. Pasti aku sangat bahagia. Tolong jaga suamiku ya Allah. Dimanapun dia berada..." gumamnya sambil menghapus jejak air mata itu.


Kini Andini sedang melaju cepat membelah jalanan di ibu kota. Tujuannya adalah sebuah kafe yang tak jauh dari tempat pemakaman itu.


Andini duduk seorang diri di kafe itu, dia melihat kesekelilingnya, semua orang yang berlalu lalang dihadapannya terlihat tengah menggandeng para pasangannya juga bercanda ria dengan keluarga kecilnya. Hal itu membuatnya kembali terenyuh mengenang masalalu bersama keluarga juga bersama suaminya.


Tak lama terdengar suara alunan musik, seseorang menyanyikan lagu "Terlambat Sudah" yang dipopulerkan oleh Hanin Dhiya. Liriknya mengingatkan perasaan yang sedang dia rasakan yaitu penyesalan.


Inilah yang membuatnya tidak ingin keluar rumah, semua yang terjadi disekitarnya berhasil membuatnya sensitif dan kembali bersedih. Tetapi dia harus tegar, semua ini harus bisa dilaluinya. Dia tidak boleh menyerah, dia hanya boleh menyerahkan segala urusannya kepada tuhan, bukan menyerah berhenti dan berdiam diri.


"And..." panggil Michell, dia sedang menggandeng tangan Nina.


"Michell, Nina.." gumamnya. Wajah Andini terlihat bahagia.


"Boleh kami duduk disini.."


"Tentu saja boleh siapa yang melarangmu.." ucap Andini sambil tersenyum. Sengaja dia melakukan itu untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Bu, bagaimana kabarnya ??" tanya Nina.


"Ah.. aku baik-baik saja.." lirihnya sambil tersenyum getir saat mengatakan keadaannya. "Tapi sebentar, ada yang belum aku ketahui disini. Chell ini Nina kan ?? Kamu sekretarisnya Chandra bukan, dari mana kamu mengenal dia ??" tanyanya, dia menghujani pasangan itu dengan berbagai pertanyaan.


"Bisakah kamu menanyakannya satu persatu, kasian calon..." Belum selesai Michell sudah dicubit oleh Nina. Nina amat mengerti dengan keadaan Andini saat ini. Dia tahu betul bahwa Andini dan Chandra sudah berpisah.


"Benar, saya adalah Sekretaris Pak Chandra dulu, tapi sudah sebulan yang lalu saya berhenti. Karena,.."

__ADS_1


"Apa yang diberitakan itu benar, perusahaan itu sudah gulung tikar ??" tanyanya antusias


"Iya Bu.. "


"Bagaimana dengan kabar Chandra sekarang ? Apa kau tahu di mana dia berada ??"


"Tidak, Bu. Pak Chandra sudah tidak pernah mengunjungi kantornya lagi."


"Apa dia pernah menghubungimu ??"


"Pernah, ketika saya masih bekerja. Tapi sekarang tidak."


"Oh begitu.." terdengar nada kecewa dalam jawaban itu.


"Aku dengar sebentar lagi kalian akan menikah. Chell mengapa kamu tidak memberi tahuku kabar baik.."


"Aku, aku ingin mengatakannya. Baru saja.."


"Ah dasar, tolong ceritakan padaku kenapa kalian bisa saling kenal ??"


"Kita teman SMA," jawab mereka berbarengan. Andini hanya tersenyum mendengarnya.


"And.. Maaf yah bukan bermaksud untuk menyinggung keadaanmu sekarang.. Tapi..."


"Tidak apa-apa. Pasti kalian akan mengundangku yah, aku dengar tiga hari lagi kalian akan menikah."


"Iya kami akan menikah.."


"Bagus itu, aku juga pasti hadir.." ucapnya.


Setelah kejadian itu Michell dengan berbagai macam pertimbangan dan dorongan dari keluarga, dia memantapkan diri untuk memilih Nina dan melupakan Andini. Pikirnya diapun perlu bahagia dengan orang yang mampu menerimanya tanpa alasan apapun. Terlebih lagi dia sudah mengenal siapa Nina dan bagaimana rasa cintanya kepada dirinya.


Dia tidak ingin terus larut dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan. Michell juga ingin bahagia tanpa bayang-bayang cinta yang semu. Dia juga mengerti akan rasa sakit akibat cinta yang tak berpihak, untuk itu dia tidak ingin Nina merasakan kepedihan yang amat dalam seperti dirinya. Tak ada salahnya jika dia memilih Nina, toh seiring berjalannya waktu cinta juga akan menghampirinya, begitu pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2