
...Aku bisa mencintai meski tak dicintai. Aku bisa mencintai untuk kita berdua. Dan hadirnya dirimu dalam hidupku itu sudah cukup untuk membuatku bernafas. Tapi tiadanya dirimu aku bagaikan mayat hidup. Tolong pikirkan kembali !!!...
...Chandra Tsu...
Doni, dia menjadi lebih panik dari sebelumnya. Pasalnya Andini pergi mengendarai mobil sendiri, saat setelah baru saja dia sadar dari amnesianya. Dia takut terjadi hal buruk dengan Andini.
"Bagaimana jika Andini, merasakan pusing dan menabrak pengguna jalan lain ? Tidak, itu tidak boleh terjadi," gumamnya. Dia langsung bergegas menginjak remnya dan melaju cepat dijalanan.
Saat masih dalam perjalanan mencari Andini, dia langsung menghubungi Chandra yang masih berada di Surabaya. Namun sayangnya tidak ada satu pun panggilannya yang terhubung. Dia langsung mengirimkan pesan yang berisi bahwa Andini sudah mengingat masalalunya.
Langit sudah mulai menggelap, kilatan-kilatan petir menghiasi sore itu. Hujan turun mengguyur kota itu, akan tetapi Doni masih belum menemukan Andini. Saat dia melewati pemakaman umum, seketika saja timbul pikiran bahwa Andini pasti berada disana, ditempat kedua orang tuanya di semayamkan.
Tanpa pertimbangan lagi, Doni langsung memutar arah, dia masuk menuju gang pemakaman tersebut.
Saat sudah tiba disana, dia melihat Andini yang menangis pilu sambil memeluk nisan Agas. Ada rasa sakit juga yang menjalar dihatinya, betapa kehilangan dirinya atas kematian Agas yang selalu membantunya. Doni, dia amat sangat tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.
"And..." lirihnya.
Kini dia sudah berada dihadapan Andini dan memayunginya agar hujan tak lagi menyentuhnya.
"Ayolah pulang !! Jangan sampai kau sakit And.."
"Pulang saja aku tidak mau. Aku masih ingin disini bersama kedua orang tuaku. Pulang saja !".ucapnya dingin.
"And, kamu selalu bilang tidak baik untuk selalu bersedih, iya kan ! Lalu mengapa sekarang kamu sangat bersedih ?" tanyanya, dia mencoba menyadarkan Andini.
"..."
"Setiap yang bernyawa pasti akan mati And, kamu, aku, kedua orang tuaku, hewan.. semuanya akan mati And.." tambahnya lagi.
"Aku tidak ingin mendengar ceramah mu, pergilah !!" titahnya.
"Tapi And..."
"Doni.. " bentaknya, membuat Doni terkejut.
"Apa kamu tidak mengerti, aku sedang bersedih. Orang tuaku meninggal bahkan aku tidak tahu, Don." Ini kali pertama dia membentak Doni.
"Pulanglah !! Aku tidak ingin marah-marah kepadamu," bentaknya lagi.
"Baiklah And, ini payung untukmu.." lirihnya, kemudian dia pergi meninggalkan Andini sendiri.
Sedangkan di Surabaya.
__ADS_1
Setelah menjelaskan kejadian tentang penembakan Laura kepada Polisi, Chandra membuka ponselnya.
Matanya terbelalak setelah membaca pesan dari Doni. Ada perasaan bahagia namun yang lebih dominan adalah sedih karena saat ini Andini sudah tahu bahwa Papanya sudah meninggal.
Chandra tidak bisa membayangkan rasa terpukulnya Andini setelah mengetahui kebenarannya. Dia juga ingin berada didekat Andini saat ini, dengan segera dia merogoh saku celananya dan menghubungi bawahan kepercayaannya yang berada di perusahaan cabang, bahwa dirinya tidak bisa menghadiri acara itu.
Setelah itu Chandra langsung memesan tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta.
***
Andini sudah pulang dari kuburan kedua orang tuanya. Pakaiannya sudah kotor karena tanah ditambah hujan yang membasahinya.
Dia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang gontai, pakaiannya yang kotor itupun mengotori lantai rumahnya, tapi dia tidak menyadari hal itu.
Terlihat dari raut wajahnya yang tidak ada mimiknya, tak bersedih juga tidak tertawa, tatapannya pun kosong, dia melihat namun seperti tak melihat. Semua orang yang melihatnya pun menjadi sedih dibuatnya.
Andini masuk kedalam kamar mandinya, dia mengguyur tubuhnya yang masih dibalut dengan pakaian. Dia hanya bisa termenung meratapi kepiluannya.
20 menit kemudian, Bik Ijah maupun Bik Sri saling bergantian membawa makanan. Karena mereka yakin sedari pagi Andini belum mengisi perutnya. Setiap makanan yang datang selalu dia tolak dengan dingin.
"And..." panggil Chandra yang baru saja tiba. Dia membawa sepiring nasi ditangannya, karena sebelum dia masuk ke kamar Andini, Bik Ijah memberitahunya bahwa Andini belum makan.
"Makan dulu yuk !" ajaknya, namun Andini tetap diam tak bergeming.
"Makan yuk atau kamu mau aku sua.."
"Mengapa kamu membunuh Papaku ?" tanyanya sambil menepiskan tangan Chandra.
"Membunuh ? Apa yang kamu katakan Andini, aku tidak membunuhnya, itu semua sudah ajalnya And.." ucapnya.
"Huh.."
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu, kak ? Ahh tidak kamu yang melarangku memanggil kakak. Bagaimana aku bisa mempercayaimu, Chandra ?" Air mata itu kembali menggenang dipelupuknya.
Deg..
Jantung Chandra berdentum keras, ucapan Andini seperti bom yang meledak di dadanya. Ternyata sakit di panggil nama oleh istri sendiri, seperti tak ada lagi harkat dan martabat dalam dirinya.
"Katakan Chandra," bentakan Andini membuatnya tersadar.
"Katakan padaku bahwa kamu yang membunuh Papa ku, iya kan ! Kamu benci pada Papaku juga, karena dia mengambil jantung ayahmu. Bella sampai meninggal karena tidak segera mendapat donor jantung. Katakan padaku bahwa kamu membenci ku..." teriaknya.
Chandra hanya menggeleng.
__ADS_1
"Aku tidak membencimu, aku tidak membunuh Papa, mana mungkin aku lakukan itu And, sementara aku tahu bahwa didalam dirinya ada jantung ayahku. Masalah Bella, aku sudah tidak memperdulikan lagi. Bahkan aku sangat membencinya, maafkan aku." Chandra pin ikut menangis.
"Maafkan aku And, aku menyesal. Aku salah, aku sudah dibohongi oleh dia. Maafkan aku yang terlambat menyadarinya. Tolong !!!" Dia mendekat sambil memegang tangan Andini.
"Maaf Chandra, setelah semua yang terjadi kamu bilang maaf ? Gampang sekali kamu meminta maaf.."
"And.. apapun, apapun akan aku lakukan And, agar kamu memaafkan aku. Kamu mau bagaimana aku akan turuti."
"Aku ingin kita bercerai..." ucapnya pelan namun pasti. Pasti menusuk jantung Chandra.
"Tidak, aku tidak menceraikanmu. Tidak, yang lain saja yah. Aku mohooon..." Air matanya terus berjatuhan.
"Tidak, aku sudah tidak bisa mencintai kamu lagi. Hati sudah hancur Chandra, dan kau, dan kau yang menghancurkannya.. Aku tak bisa.."
"And.. Tolong pikirkan kembali. Aku tidak ingin berpisah. Aku tidak mau, aku tidak sanggup And.. Tolong !!" Dia menghapus air matanya. Dia menilik lebih dalam mata Andini, melihat apakah disana masih ada cinta dimatanya.
"And, aku tau kamu juga mencintaiku begitupun aku sangat mencintaimu, And. Pikirkan baik-baik, tolong jangan ambil keputusan disaat kamu marah."
"Hahh hahaha haha.." Andini tertawa..
"Haha haha haha.." Dia tertawa lebih keras lagi.
Chandra pun masih terus mengamatinya, dia tidak mengerti dengan arti tertawa itu.
"Apa kamu bilang ? Pikirkan baik-baik ?" Andini kembali pada nada bicara yang dingin.
"Selama ini kamu bagaimana Chandra ? Bukankah kamu yang mengajarkan aku seperti ini ? Huh," Dia menyungging senyumnya.
"Pikirkan baik-baik ? Aku sudah memikirkannya baik-baik Chandra, aku ingin bercerai denganmu. Karena bersama pun tidak ada gunanya. Kamu membenciku .."
"Tidak, aku sudah mencintaimu.." sangkalnya.
"Ouh sudah mencintaiku, berarti aku yang sudah membencimu, Chandra Tsu putra Hermawan."
Chandra memundurkan dirinya, tak menyangka bahwa yang dia takutkan terjadi begitu saja. Terlebih sekarang setelah Andini menyebutkan nama lengkapnya, dia merasa asing dengan orang yang kini sedang berada dihadapannya.
Dia terdiam, memikirkan bagaimana jalan terbaiknya.
"Begini saja And, aku akan membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu," tegasnya.
"Satu hal lagi, aku bisa mencintai meski tak dicintai. Aku bisa mencintai untuk kita berdua. Dan hadirnya dirimu dalam hidupku itu sudah cukup untuk membuatku bernafas. Tapi tiadanya dirimu," Chandra menjeda kalimatnya.
"Aku bagaikan mayat hidup. Jadi tolong pikirkan kembali, kita ulangi kehidupan rumah tangga ini dari awal.."
__ADS_1
Chandra pergi meninggalkannya sendiri. Tentu saja dia tidak ingin terus mendengar kata pisah yang keluar dari mulut Andini. Rasanya benar-benar sesak dan sakit.