Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Jelas-jelas


__ADS_3

...Mengapa tuhan menciptakan manusia sepertimu yang mudah tuk ciptakan luka....


...***...


الله اكبر الله اكبر.......


Adzan subuh berkumandang merdu ditelinga setiap insan, membangunkan setiap jiwa untuk segera menegakkan kewajibannya.


Andini meregangkan otot-ototnya, menendangkan kakinya kearah kiri dan kanannya juga mengangkat kedua tangannya keatas. Dia tidak khawatir gayanya itu akan menganggu orang toh dia hanya sendiri tidur dikasurnya yang cukup besar itu. Selama ini mereka selalu berpisah ranjang, mungkin hanya beberapa kali saja mereka seranjang.


Saat nyawanya sudah terkumpul semua, Andini langsung mengambil handuknya dan mandi. Setelah itu dia menunaikan solat, berdandan dan kemudian pergi memasak. Hari ini dia akan memasak nasi goreng sebagai menu pilhan sarapannya karena baginya itu sangat mudah dan juga hemat waktu. Tak lupa dia juga membungkusnya ke rantang kecil miliknya. Rantang itu memiliki dua susun satu untuknya dan satu lagi untuk Chandra.


Setelah selesai dia hendak memanggil Chandra. Baru saja dia membuka mulutnya tiba-tiba saja Chandra berteriak,


"Andini...." Dia berteriak dengan kerasnya.


"Apa lagi kesalahanku ini.." gumamnya, dia langsung berlari untuk menghampiri Chandra.


"Ya Ka ada apa ?" tanya Andini dengan nada terengah engah.


"Ka ka ka ... Apakah aku ini kakakmu hah. Mana bajuku ? Apakah kamu lupa menyiapkannya ?" bentaknya kepada Andini.


"Ahh.. Maaf maaf sebentar." Andini langsung membuka almarinya dan mengambil kemeja putih, celana biru navy juga dasi warna senada untuknya.


"Kamu ini bagaimana sih tidak becus menjadi seorang isteri. Kamu masih ingatkan tugas-tugas seorang isteri itu apa saja ?"


"Maaf aku tadi bangunnya jam 5 jadi aku sedikit kesiangan, tadi aku habis masak ka" jawabnya dengan jujur.


"Heh wanita ular, tidak usah kamu memanggilku kaka jika kamu masih belum becus menjadi isteri" cibirnya, Chandra sekarang benar-benar sudah keluar dari batasannya.


Sreet.


Kata-kata itu sangat melukai hati Andini.

__ADS_1


"Jas ku.." teriaknya.


Andinipun langsung segera memilihkan jas warna navy menserasikan dengan celananya.


"Lihat kerjamu saja begitu lamban" cibirnya lagi sambil mengambil kasar jasnya.


"Maafkan aku" ucap Andini singkat sambil menunduk. Jujur saja matanya kini sudah berkaca.


"Apakah kau sudah menyiapkan sarapan ?" tanya Chandra ketika dia sedang merapihkan rambutnya.


"Sudah ka, eh kamu sebaiknya cepat makan selagi nasinya masih hangat." Andini mengikuti perintahnya untuk tidak memanggilnya kaka.


"Awas saja kalau tidak enak" ancamnya.


Chandrapun langsung menuju meja makannya. Dia mendudukan dirinya disana dan makan dengan lahap. Memanglah masakan Andini itu enak, itu pun diakuinya di dalam hatinya. Namun dia tidak pernah memberikan isterinya itu pujian dia selalu berpikir jika orang mendapatkan pujian maka orang itu akan berbesar kepala.


Diruang makan tersebut hanyalah ada dirinya seorang sedangkan Andini dia sedang sibuk mengganti pakaiannya, karena sebentar lagi akan pergi berangkat ke kantor dan tanpa sarapan.


"Ka.." panggilnya namun yang dipanggil seperti tidak memiliki telinga, dia tidak menoleh maupun merespon panggilannya.


"Chandra tunggu.." Andini menahan tangannya.


"Aku ingin berangkat kekantor bersamamu." Dia memohonnya dengan sangat.


"Hah.. Pergi saja sendiri." Chandra membanting pintu mobilnya dan segera mengemudikannya dengan laju yang cepat.


" Apakah aku salah ingin pergi bersamanya, kapan kau akan membukakan hatinya untuk ku Ya Allah" ucapnya setelah Chandra pergi.


Terbesit dalam logikanya apakah ini benar atau salah, apakah yang dipilihnya ini benar atau salah mengapa rasanya sangat sakit sekali menerima kenyataan ini. Jelas jelas selama ini suaminya belum pernah membukakan sedikit pintu untuk dimasukinya.


Akan tetapi tidak dengan hatinya, dia tidak bisa melepaskan Chandra begitu saja. Dia sangat mencintainya dan akan selalu mempertahankan rumah tangganya. Terlebih atas semua yang sudah ayah mertuanya lakukan untuk keberlangsungan hidup mereka. Dia akan merasa bahwa dia jahat sekali jika dia sampai meninggalkan Chandra dalam keadaan seperti ini.


Logika dan hatinya selalu saja berbeda arah. Lagi-lagi rasa bingung selalu melanda dirinya. Apa yang harus dia lakukan ? Kalimat itulah selalu menjadi momok menakutkan di dalam pikirannya.

__ADS_1


Setibanya dikantor Andini disambut baik oleh para karyawannya. Setiap karyawan yang bertemu dengannya selalu setengah membungkukan badannya sebagai bentuk hormat kepadanya. Andini sebenarnya agak risih dengan sikap mereka yang seperti itu bahkan sampai ingin menghapuskan kewajiban itu, akan tetapi Rendi melarangnya dengan alasan agar mereka tidak bertindak semena-mena kepada Andini, mengingat Andini hanyalah menantu di keluarga Hermawan.


Kabar tentang kecelakaan yang menimpa Nina sudah tersebar luas ke perusahaannya. Rendi adalah orang pertama yang mendengar kabar itu, hubungan Nina dan Rendi memang cukup baik meski hanya sebatas rekan kerja saja. Chandra pun sudah mengetahuinya bahkan dia kini sangat repot tanpa ada bantuan dari Nina.


Dalam sebulan ini dia akan bekerja sendiri, karena Nina sudah mengambil cuti selama sebulan untuk menyembuhkan luka lukanya.


Hari ini Chandra akan meeting bersama klien karena tidak ada Sekretarisnya diapun menyiapkan semuanya sendiri.


Saat dia dalam perjalanan pulang tiba tiba saja seseorang lewat didepan nya dan hampir tertabrak olehnya..


Kriiieeeett..... Dia langsung menginjak remnya.


Bersambung.


Akan ada pendatang baru nih.. Coba tebak cewek cowok ?


Penasaran kan tunggu episode selanjutnya yak.


Tencu.


Eh jangan lupa jempolin karya aku.


Komen dibawah sebagai kritik ya


Vote juga yaa biar aku semangat, susah loh bikinnya.


Share biar bisa cerita satu sama lain


Jadikan love biar kamu tau aku sedang update


Dan rate 5. Jangan lupa semua itu.


Tenncuuuu😍😍

__ADS_1


__ADS_2