Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Ku Rujuk Kembali Dirimu


__ADS_3

Chandra segera berlari ke kamar Andini, dalam perjalanan itu dia bergumam, "Aku masih bisa merujuknya.."


Braak, pintu itu dibuka secara kasar. Namun dia tidak mendapati Andini disana.


"And," panggilnya. "Pasti dia ada di kamar mandi.." Chandra bergegas membuka pintu kamar mandi tersebut. Dan mendapati Andini yang terbujur kaku..


"Andini, astaga Andini kenapa kamu seperti ini ??" Dia langsung menggendong Andini ala bridal style.


Kemudian diletakannya Andini di ranjangnya dan dia segera memanggil Bik Sri dan Bik Ijah untuk mengganti pakaiannya.


Ketika Bik Sri dan Bik Ijah sedang sibuk dengan perintahnya. Doni dan Mang Samsul diminta untuk menjadi saksi rujuknya mereka.


"Mang, Don aku ingin rujuk dengan Andini.."


"Den, mamang senang dengernya. Semoga Aden sama Non Andini bisa mengarungi bahtera rumah tangga ini bersama-sama." Entah dari mana mang Samsul mendapatkan kata-kata itu yang pasti itu sangat dalam artinya.


"Terima kasih Mang.." ucapnya dengan sumringah.


Keesokan harinya..


"And, apa kamu sudah mendingan." Chandra masuk kekamar Andini dan membawa satu piring nasi dan segelas air. Sedangkan dibelakangnya dia diikuti Doni dan juga Mang Samsul.


Andini hanya mengangguk pelan.


"And, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu.."


Chandra mendekatkan dirinya dan menepuk pelan bahu Andini.. "And, kurujuk kembali dirimu.." Satu kalimat yang akan merubah banyak hidup Andini.


Andini tersentak dengan kalimat itu, seolah tak percaya. Tapi dalam pikirnya, 'apa dia masih pantas untuk Chandra ?? Saat ini dirinya sudah ternodai oleh laki-laki lain'.


Bukannya senang Andini malah menangis. "Aku tidak mau.." Dia menggeleng-geleng kepalanya.


"And.." Semuanya terkejut.


"And.. Tapi mengapa ?? Kita saling mencintai," ungkap Chandra.


"Tapi aku sudah kotor, Chandra. Aku tidak mau aku tidak pantas untukmu.." Andini kembali mengamuk.


"And.." serunya, dia mencoba memeluk Andini. "Kamu tidak kotor, And."


"Tidak..." teriaknya. "Tidak, aku sudah kotor Chandra. Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, huhu.." tangisnya pecah. Air mata itu tak henti- hentinya menghujani Andini bak hujan dibulan Desember ini.


"Tapi And.. dia tidak sampai melakukannya.."


"Dia sudah meluc**ti semua pakaianku, dia dia.." lirihnya sesegukan dia tak mampu melanjutkan perkataannya lagi, sedangkan Chandra terus memeluknya dengan erat.


"Tidak sayang," ujar Chandra sambil mengelus pelan pucuk kepala Andini.

__ADS_1


"Tidak," gumamnya. Sedangkan satu tangannya mengepal keras mengingat kejadian malam tragis itu.


"Jangan berbohong Chandra, jangan membohongi dirimu sendiri. Dia sudah mengotori ku, aku sudah kotor aku tidak pantas bersanding denganmu.." Andini melepaskan pekukan itu kemudian dia mendorong Chandra agar jauh darinya.


"Jauhi wanita ini." Andini menunjuk kasar dirinya, "Dia sudah kotor. Dia tidak layak untukmu.." Andini menghantamnya dengan bantal, dan dia berhasil menggiring semuanya keluar.


"Aaaargghhh..." teriaknya frustasi.


Disaat Chandra kembali dan merujuknya namun sayangnya kondisi Andini sudah seperti ini. Dia tidak ingin melukai hati Chandra lebih dalam, dirinya sudah tidak seperti sedia kala. Hal yang seharusnya dilihat oleh suaminya kelak tapi sudah terlebih dulu dilihat oleh orang yang tak punya akhlak.


Meski hampir saja merenggut kesucianya namun ia merasa dirinya kotor tak mampu mempertahankannya. Bahkan selama pernikahannya dengan Chandra tak satu jengkalpun disentuh olehnya.


Chandra yang terus berpikir bagaimana cara menyadarkan Andini, bahwa dia tidak kotor seperti apa yang dipikirkannya pun tidak mendapatkan ide apapun.


Tapi ada satu hal yang membuatnya berpikir terbalik.


"Air tanah, aku bisa membuatku sama seperti kotornya Andini.." batinnya


Dengan segera dia menggali tanah itu memasukannya kedalam ember dan langsung mengaduknya dengan air. Dia membuat semacam lumpur.


Setelah itu dia memoleskannya pada dirinya, bajunya, wajahnya, tangan serta kaki. Karena merasa belum kotor ditambahkan lagi air kedalam ember itu kemudian dia mengguyur dirinya sendiri dengan lumpur buatannya itu.


"Chandra apa yang sedang kamu lakukan ?" tegur Doni. Dia sudah tidak mengerti dengan jalan pikiran Chandra.


"Kamu lihat keadaanku bagaimana ?" tanyanya.


"Kotor.."


"Tapi..."


"Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu, aku akan ke kamar Andini dulu.."


"And..." teriaknya. Dia berlari memasuki kamar Andini.


"And..." lirihnya, saat sudah berada di dalam kamarnya.


"Pergi..." lirih Andini. Dia masih menangis sambil memenggosok badannya.


"Tidak And, aku akan tetap disini.."


"Pergi Chandra.."


"Aku suamimu sekarang, And.." tegasnya.


"Tapi aku sudah kotor, Chandra. Apa kau masih ingin dengan wanita kotor sepertiku, haah.."


"Lihat aku.." Chandra memegang kedua bahu Andini.

__ADS_1


"Aku juga sudah kotor, apa kamu mau membersihkannya ? Jika kamu mau kita bisa membersihkan kita berdua," ucapnya membuat semua orang ambigu πŸ˜‚. Tapi beruntungnya hanya ada mereka berdua.


"Tapi nodamu berbeda dengan nodaku Chandra.." dia masih meneteskan air mata yang tak pernah berhenti kering itu.


"And, noda tetap noda. Kotor tetap kotor satu-satunya jalannya adalah bersihkan ! Tolong sadarlah bahwa aku juga kotor, Andini. Lihatlah ini Andini.." Dia mengguncang tubuh Andini.


"Lupakan kejadian malam itu, lupakan ! Dan ingat sekarang Kau sudah menjadi istriku.." tegasnya kemudian dia memeluk erat Andini, mengelus punggungnya memberikan kekuatan kepadanya. Dia tidak ingin Andini terus-menerus larut dalam kejadian itu.


"Ayo kita bersihkan bersama." Chandra menyeretnya masuk kedalam kamar mandi.


Chandra memeluknya meski tanpa balasan. Dia menyalakan shower, dan membasahi mereka berdua.


"Lihat aku Andini," dia menangkup pipi Andini. Terlihatlah Andini yang benar-benar rapuh. Wanita yang terkenal kuat itu kini sedang berada di unjung tanduk kehancuran.


"Aku suamimu sekarang, aku sudah merujukmu. Apa kau tidak ingin merayakannya ?? Apa kau sudah tidak mencintaiku ?? Humm." Chandra menaikan alisnya.


"Chandraa...." lirihnya.


"Sudah jangan menangis, aku tidak meridhoi air mata ini jatuh lagi." Dia mengusap pelan, menghapus jejak air mata itu.


"Aku tidak ingin air mata itu jatuh meski air mata kebahagiaan sekalipun, yang boleh hanya tawa, yang boleh hanya senyuman. Berikan aku senyumanmu.." Dia masih menangkup erat wajah itu.


Tak ada balasan dari Andini.


( Sebenernya pengen nangis tapi udah dilarang, pengen ketawa bukan situasi yang baik, pikir author )


"Andini.. Perintah dari suami adalah kewajiban, tersenyumlah..." Perintahnya agak kasar namun itu semua demi kebaikan Andini.


"Chandra.." Andini malah memeluknya erat. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu. Chandra pun membalas pelukan istrinya itu.


Air dingin dari shower terus membasahi mereka, membawa tanah-tanah yang menempel di pakaian Chandra. Lama sekali mereka berpelukan seperti gaya pelukan tingky wingky, dipsey, lala dan pooo. Sampai akhirnya Andinilah yang mengakhiri pelukan itu.


Dia sudah tak lagi menangis, yang ada keduanya mengigil tapi dengan cepat Chandra mencium bibir Andini dan me****nya. Chandra terus menuntut meminta sebuah balasan.


Layaknya whats app dia selalu mengirim


P


P


P


P


Dan Andinipun akhirnya membalas.


Entah apa yang ada dipikiran keduanya, mungkin otak itu sudah membeku, nafsu sudah mengusai akhirnya mereka benar-benar membersihkannya satu sama lain.

__ADS_1


Mandi, sampoan dan lainnya. Tolong kalian jangan berpikir macam-macam karena setelah Andini kehabisan nafas, Chandra mengusir saya dari dalam kamar mandi tersebut. Ntar ya saya tanyain lebih detailnya.πŸ˜‚


Bersambung.


__ADS_2