Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Sakitnya......


__ADS_3

Hujan turun deras melanda kota itu. Cuaca sekarang sedang tidak normal buktinya pagi sampai siang cerah bahkan panas matahari terasa sangat menyengat, namun pada sore hari hujan turun tanpa pamrih dan tanpa memikirkan orang orang yang masih beraktifitas diluar.


Ketika Chandra masih setia menunggu kekasihnya kekamar mandi tiba-tiba saja dia mendapat telpon dari nomor yang tidak dikenal. Entah kenapa perasaanya berbeda dari biasanya. Biasanya dia tidak ingin menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Namun kali ini dia langsung menerima panggilan itu.


"Hallo "


"Hallo ka ini aku Andini.." ucap Andini dari sebrang sana.


"Adaa apaa.. Kenapa kamu ganti nomor " tanya Chandra.


"Ponselku mati ka, baterainya habis. Aku pinjam ponsel orang lain. Ka bisa tolong jemput aku, disini hujan lebat dan sudah sore."


"Tidak bisa aku sedang sibuk " tolak Chandra, karna hingga saat ini dia masih menemani Bella dirumah sakit.


"Sibuk ? Bukannya tadi kamu dirumah ya" tanyanya. Kemudian, " Disini hujan ka pangkalan ojek sangat jauh, ponselku juga mati enggak bisa pesen taksi online " ucapnya memelas.


"Terserah kamu mau pulang pakai apa, aku tidak bisa jemput." Chandra pun langsung mematikannya tanpa mendengar jawaban dari Andini.


"Ka... Ka.. Halloo, dimatikan "lirihnya sedih.


"Ibu terimakasih ponselnya yah " ucap Andini kepada Ibu penjual sayuran yang dia pinjam ponselnya.


"Sama sama Neng, tunggu aja disini Neng" saran Ibu penjual sayur itu.


"Enggak Bu, saya harus cepet pulang. Saya mau cari payung dulu. Terimakasih ya Bu, marii.." pamit Andini. Dia pun langsung membeli payung yang akan dia gunakan untuk mencari ojek atau angkutan umum lainnya.


Dia berjalan di tengah hujan yang masih mengguyur deras dengan menenteng barang belanjaanya di kiri kanan tangannya dan mengapit payungnya di sela lehernya. Dingin yang dia rasakan saat terpaan angin menimpa lengan pakaiannya yang sudah basah. Tentu saja sebuah payung tidak akan begitu melindungi dirinya. Pasti dia akan tetap basah juga.


Tapi setelah tiba di pangkalan ojek dia tidak melihat satupun tukang ojek disana, kemudian dia mencari angkutan lain tapi sayangnya tidak ada yang searah dengannya semuanya berlawanan dan tidak mau mengantarkannya.


Akhirnya dia hanya bisa melanjutkan perjalanannya, bukan Andini tidak ingin berteduh, hanya saja dirumahnya tidak ada siapa-siapa, dia harus masak sore ini karena itudia tidak bisa berteduh.


Andini tidak marah dengan keadaannya sekarang yang sudah basah kuyup dan susah berjalan di hujan yang lebat. Dia tidak bisa menyalahkan suaminya. Baginya ini adalah kesalahannya seharusnya dia mengisi baterai ponselnya terlebih dahulu sebelum membawanya kemana-mana .


Dia terus berjalan di trotoar depan kawasan pasar itu, berharap ada sebuah taksi yang melewatinya. Namun naasnya tidak ada satupun taksi. Karna terlalu kedinginan selama kurang lebih satu jam terkena hujan dan angin, Andini pun jatuh pingsan dan tak sadarkan diri dan masih di tengah hujan yang belum berhenti.


Saat Adzan Maghrib berkumandang. Saat itu pula Chandra baru tiba dirumahnya setelah mengantarkan Bella pulang. Diapun segera masuk kerumahnya. Dan terheran saat melihat lampu rumahnya masih gelap. Diapun langsung mencari Andini.


"Andini" panggilan pertamanya.

__ADS_1


"Andini." Panggilan keduanya yang masih tidak mendapatkan jawab.


"Andini" Diapun berteriak saat penggilan ketiganya. Namun masih saja tidak ada jawaban, diapun mencari-cari dimana Andini. Tapi dia tidak menemukan istrinya itu.


Dia pun mulai panik, langsung mengotak atik ponselnya menelpon Andini. Namun yang terdengar hanya suara dari operator.


"Sial, ponselnyakan mati " geramnya yang baru mengingat percakapannya tadi.


Dia melihat nomor baru itu dan langsung menelponnya.


"Hallo " ucap si Ibu penjual sayur itu.


"Hallo bu, tadi ada yang menelpon saya dengan nomor ibu " tanya Chandra.


"Oh iya ada tadi seorang perempuan cantik" balas ibu itu


"Ya.. Dia masih bersama ibu ?" tanya nya kemudian dia khawatir dengan keadaan Andini. Dan diluar pun masih hujan lebat.


"Tidak, dia sudah pergi sekitar dua jam yang lalu" ujar si Ibu penjual sayur


"Dua jam." Betapa kagetnya Chandra mendengar bahwa Andini sudah pergi dua jam yang lalu dan masih belum sampai kerumah juga.


"Makasih ya bu." Kemudian Chandra mematikan panggilannya itu dan bergegas ke parkiran mobilnya. Dia berniat akan mencari Andini.


Dia melajukan mobilnya, menyusuri jalan menuju pasarnya itu, kiri kanan bahu jalan selalu dia perhatikan, berharap semoga Andini tidak melakukan hal yang bodoh seperti menunggu taksi di pinggir jalan.


Dia sudah sampai di depan kawasan pasar tersebut, betapa kagetnya dia melihat ada seorang wanita yang tengah pingsan di trotoar dan masih terguyur hujan. Dia pun langsung memakirkan mobilnya, dan keluar tanpa memakai payung karna ingin segera memastikan bahwa itu bukanlah Andini.


Betapa terbelalaknya dia terkejut melihat orang itu adalah Andini istrinya. Diapun langsung menggotongnya dan meletakannya dikursi depan bersebelahan dengan kursi kemudi, setelah itu diapun mengambil barang -barang milik istrinya.


"Banyak sekali barangnya dan ini semua berat" ucapnya yang baru saja menenteng barang-barang itu.


Setelah meletakannya di belakang, Chandra pun langsung mengemudikan mobilnya. Dia begitu khawatir melihat wajah Andini yang sangat pucat seperti tidak memiliki darah, diapun menarik tangan Andini dan mencoba untuk memberinya kehangatan. Sesekali dia pun menempelkan tangannya pada kening Andini. Keningnya begitu panas.


"Dia demam " ucap Chandra. Dan ia langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya itu kemudian menelpon seorang dokter untuk segera datang kerumahnya.


Sampai dirumah dia langsung membawa Andini menuju kamar Chandra, karna itu yang paling dekat. Chandra yang melihat pakaiannya sudah basah terkena hujanpun langsung mengambil pakaian yang kering ke kamarnya. Chandra langsung menggantikan pakaian isterinya itu


"Andini maafkan aku. Aku harus melakukan ini, jika kamu tidak terima kamu boleh marah setelah sehat nanti. Maafkan aku. " Dia mengganti pakaian Andini dengan sedikit mata tertutup namun masih bisa melihat.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti, dia hendak pergi untuk mengganti pakaiannya juga. Tapi Andini bergumam memanggil namanya, "Ka chandra..."


"Dia memanggil namaku walaupun di alam bawah sadarnya dia mengingatku." ucap Chandra. Kemudian dia memegang tangan Andini dan tangan lainnya mengusap pucuk kepalanya.


"Sebentar ya Andini, aku ganti baju dulu dan aku akan memasakan bubur untuk mu.. Sebentar ya.." lirihnya kemudian melepas tangannya itu.


Sesuai dengan ucapannya dia mengganti pakaiannya dan kemudian memasakan bubur untuk Andini.


Dia kembali lagi ke kamarnya dengan membawa kompresan, tak lama dokterpun datang kerumahnya. Dan Chandra menyuruhnya untuk langsung memeriksa Andini.


"Chan. Istri lo cuman kelelahan jadi dia pingsan terus keanginan kehujanan jadi dia demam gini" ucap Dion, seorang Dokter yang juga teman dekat Chandra ketika SMA. Dion pun sama bekerja dirumah sakit yang sama dengan Michell hanya saja mereka jarang bertegur sapa.


"Tapi dia gak kenapa-napakan " tanya Chandra, dia tidak ingin Andini sakit. Entah kenapa perasaan itu muncul ketika dia melihat Andini terbaring lemah.


"Tenang aja. Dia gak apa-apa kok, cuman lo harus kompres dia, jagain dia terus selimutnya tambah aja biar dia gak kedinginan satu lagi kalau dia sadar kasih dia makan sama obat ini. Insya Allah sii dia cepet sembuh " ucap Doni dan langsung memberikan obat demam itu.


"Oke makasih ya Dion"


"Iya kaya kesiapa aja lo, gua kan temen lo, lo ngeribetin kan udah biasa " ucapnya terkekeh. Chandra pun hanya tersenyum.


"Yaudah gua pulang dulu" Doni pun pamit pulang.


Setelah mengantar Dion, Chandrapun langsung masuk ke dapur dan mengambilkan bubur untuk Andini. Setibanya di kamar dia meletakan bubur yang dia bawa di atas nakas yang berada disamping kasurnya.


Sejenak dia memperhatikan Andini yang sudah tidak memakai kerudungnya, yang dia lepas tadi saat mengganti pakaiannya. "Manis" desisnya kemudian dia berkata : "Maafkan aku Andini seandainnya aku mau menjemputmu, kamu tidak akan terbaring lemah seperti saat ini" sesalnya.


"Andini maafkan aku." Kata itulah yang sering dia ucapkasn dari saat Chandra mulai mengkompresnya. Diapun juga menambah selimutnya lagi sesuai yang di perintah oleh temannya.


Setiap sudah sepuluh menit dia langsung mengganti kompresanya. Tak jarang diapun mengganti air kompresannya yang sudah dingin.


Karna merasa sangat lelah, rasa kantuknya datang dan kemudian dia memejamkan matanya dengan tangan yang memegang tangan Andini.


Bersambung...


Hai semua maaf banget yahh aku baru up, soalnya baru punya kuota hehe.. sebagai tebusannya aku crazzy up..


tolong jngan lupa beri aku dukungan like dan lainnya. dan aku minta sarannya dari kalian . terimakasih.. peluk hangat dari jauh hoho


keep healty yah😅

__ADS_1


__ADS_2