
...Tidak ada yang namanya karma...
...Akan tetapi apa yang kita tanam maka itulah yang akan kita tuai...
...Semua perbuatan akan mendapat balasannya sendiri....
...***...
Hari yang sudah ditentukan itupun sudah tiba. Hari ini adalah hari persidangan lelaki tua yang dengan beraninya menabrak Hermawan sampai meregang nyawanya.
Selain kasus tabrak lari lelaki tua itupun diberatkan dengan pasal pembunuhan berencana. Dimana dia sudah lebih awal merencanakan untuk mencelakai Hermawan, karena dendam adiknya.
Semula berawal dari Hermawan muda yang sudah menikah dengan Ibu Chandra, Lina. Setahun sudah mereka menikah namun belum dikaruniai anak juga, karena itu perasaan Hermawan kepada isterinya menjadi abu abu.
Entah datang dari mana Mawar adik lelaki tua itu hadir didalam kehidupan rumah tangga mereka. Lama kelamaan Hermawan pun menyimpan rasa kepadanya begitupun dengan Mawar mereka saling mencintai.
Hari hari mereka jalankan dengan sangat bahagia tanpa diketahui oleh Lina. Hermawan benar-benar rapat dalam menutupi perselingkuhannya. Sampai suatu hari dia berjanji kelak akan menikahi Mawar dan membangun keluarga yang bahagia. Kala itu juga Hermawan sedang merintis usaha bersama Lina isterinya. Lina tidak pernah curiga kepada suaminya, karena sikapnya tak pernah berubah, dia selalu menyayangi Lina dengan sepenuh hati. Namun dalam lubuk hatinya itu sudah ada dua wanita yang tanpa keduanya itu tahu bahwa Hermawan sudah membagi hatinya.
Keajaiban pun datang dikehidupan rumah tangga Lina dan Hermawan. Sebentar lagi mereka akan memiliki seorang anak yang akan melengkapi kehidupannya itu. Mereka sangat bahagia sekali, sampai-sampai membust Hermawan lupa akan Mawar, kekasihnya.
Lama tak bersua membuat Mawar mencari alamat rumah Hermawan yang dulu pernah diberikannya berniat untuk menagih janjinya yang akan menikahinya itu. Namun ternyata alamat itu tidak menunjukan rumah namun tanah kosong yang sedang dijual.
Mawarpun marah kecewa dengan Hermawan, laki-laki itu sudah berani berbuat janji namun berniat untuk tidak menepati. Hatinya hancur seperti robekan-robekan kertas yang sudah tidak lagi bisa disatukannya.
Bertahun-tahun Mawar mencoba melupakannya namun tidak bisa dilupakannya.
Kala itu dia mencoba me-refresh kembali otaknya dengan pergi kesuatu taman. Namun bukannya me- refresh dia malah mendapati Hermawan sedang berpiknik bersama wanita dan juga anak kecil yang sedang berlari-lari disekelilingnya.
Mawarpun mendekati mereka dalam hatinya berharap bahwa wanita itu adalah kerabatnya.
" Mas Hermawan..."
"Mawar.."
__ADS_1
"Siapa sayang" ucap Lina, kemudian diapun menoleh.
Betapa hancur hati Mawar mendengar kata sayang dari mulut Lina. Langsung saja dia berlari dengan cepat menyembunyikan perasaan kecewanya itu tanpa dikejar oleh Hermawan. Walaupun ingin, dia tidak akan mengejar wanita itu karena disampingnya kini adalah isterinya. Dia merasa tidak akan sanggup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Keesokan harinya Hermawan menemui Mawar dan menjelaskan semuanya juga memutuskan hubungan mereka, bagaimanapun dia harus memilih salah satu dari mereka, dan tentunya Hermawan lebih memilih Lina yang sudah jelas statusnya dalam kehidupannya karena sebentar lagi merekapun akan dikaruniai seorang anak.
Mawar tidak menerima dengan keputusan Hermawan, dia sangat membenci Hermawan. Dia tidak bisa menerima begitu saja perlakuan Hermawan kepadanya.
Tahun pun berlalu dengan begitu cepat dan membuat keadaan mental Mawar menjadi lebih buruk, dia mengalami gangguan jiwa. Akan tetapi kakaknya beserta keluarga lainnya tidak ingin Mawar dirawat di rumah sakit jiwa, mereka dengan sabar menerima musibah itu namun dalam hati kakaknya dia memendam kebencian yang teramat sangat kepada Hermawan. Dia berjanji suatu saat akan membalaskan dendamnya itu.
Setelah Chandra memasuki sekolah SMP-nya barulah Lina tahu semua kebusukan yang suaminya telah perbuat. Karena lelaki tua itu sudah menceritakan semuanya. Dari awal tahun itulah kehidupan rumah tangga mereka sudah tidak seharmonis dulu lagi. Sering bertengkar membuat Lina membatin dan akhirnya menjadi sakit-sakitan lalu meninggal dunia.
Tidak hanya sampai disitu lelaki tua itu pun masih belum puas hanya dengan kematian Lina, lelaki tua itupun mencoba beberapa kali untuk mencelakai Hermawan.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu, waktu ajal dari Hermawan pun sudah tiba. Pada saat Hermawan pulang dari Surabaya setelah meresmikan perusahaan yang baru didirikannya, lelaki tua itupun memulai aksinya untuk menabraknya dan membuatnya lumpuh. Agar merasa hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Namun yang terjadi bukan seperti apa yang diinginkannya, Hermawan meninggal dunia begitu saja ditangannya.
Meski dia melarikan diri namun nasib buruk lelaki tua itu menghampirinya, dia harus mendekam dipenjara selama belasan tahun karena perbuatannya sendiri.
Itulah sebabnya Ayah Chandra tidak ingin sampai Chandra memainkan sebuah hubungan pernikahan, dia belajar dari masa lalu kelamnya yang kehilangan orang yang paling dicintainya.
Setelah sidang selesai Chandrapun pulang kerumahnya.
Bik Ijah sudah tidak ada dirumahnya, Andini belum pulang juga dan perut Chandra sudah mulai keroncongan. Karena kesal menunggu Andini yang belum pulang juga dia pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Kini Andini sudah tiba dirumahnya, bukannya masuk ke dalam kamarnya Andini lebih dulu masuk ke dapur menyiapkan segala kebutuhan manusiawinya.
Dia melepaskan tas dan juga jam tangannya, kemudian dia memakai celemek berwarna merah untuk menjaga pakaiannya agar tidak kotor.
Dia memasak cah kangkung, ikan goreng, dan ayam goreng yang baru saja dia beli tadi disaat perjalanan pulangnya.
Meski sebenarnya repot dan juga cape akan tetapi dia lakukan dengan senang hati. Sebelumnya jarang sekali dia memasakan makanan untuk Chandra jika sedang sibuk namun mulai dari hari ini hal itu akan sering dilakukannya.
Chandra yang menyium bau harum dari dapurpun langsung menghampirinya. Dia mendapati Andini yang tengah sibuk berperang dengan wajan dan panci.
__ADS_1
"Huh.." Chandra tersenyum licik
"Capek bukan baru datang langsung bertempur dengan dapur, tapi aku suka melihatmu menderita hahaha.." gumam Chandra dikejauhan.
Setelah selesai Andini berniat untuk memanggil Chandra, namun sebelum itu terjadi Chandra sudah berada didepannya.
"Ka..." ucapnya sedikit terkejut.
"Hem.." balas Chandra singkat.
"Ayo makan, semuanya sudah siap." Chandrapun langsung mendudukan dirinya disana.
"Mau yang mana ?" tanya Andini yang sudah siap mengambilkan teman nasi untuknya.
"Semuanya .." Andinipun tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Chandra. Terbayar sudah rasa capenya hanya dengan satu kalimat saja.
Merekapun makan bersama diruang itu dan tidak ada suara lain selain suara dentingan garpu dan sendok.
bersambung..
Dimohon untuk kemurahan hatinya dalam memberikan
like
vote
koment
men-share
jadiin favo / love
ya... biar author makin semangat..πππ
__ADS_1