
Selama seminggu ini anak buah Doni gencar mencari keberadaan Laura. Tentu dia tidak ingin mengecewakan Doni, yang selama ini sudah membantu mereka.
Akhirnya tak selang beberapa menit setelah mereka tiba disana, Laura keluar dari rumah yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya. Terlihat dia sedang membawa keranjang yang berisi pakaian yang sudah terlipat. Ya, setelah ayahnya masuk dalam jeruji besi, Laura berserta ibunya, mereka harus pontang panting mencari uang untuk sesuap nasi.
Para anak buah itu langsung meluncurkan aksinya. Setelah mendapat perintah dari anggota lain yang sedang mengawasi di segala tempat, seseorang yang mengikuti Laura dari belakang langsung membekapnya, dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius sebelumnya.
Tap..
Tap..
Tap.. Suara derap langkah kakinya.
Eeuummmhh emmhh, Laura sempat melawan orang itu. Namun, obat biusnya mulai bekerja dan dia terjatuh tepat di pangkuan seseorang yang membiusnya. Sedangkan keranjangnya sudah terjatuh, pakaiannya pun sudah berceceran.
Orang itu langsung membawanya ke mobil. Tak ada satupun yang melihat kejadian itu. Mereka cukup pintar dalam mengawasi tempat itu. Tak lupa mereka membuang ponsel Laura. Berjaga-jaga supaya kejadian kemarin tidak terulang untuk kedua kalinya.
Salah satu anggota yang berada dalam mobil itu langsung memberi tahu bahwa mereka sudah berhasil menangkap Laura.
"Hallo ! Don, Laura sudah berhasil kami tangkap."
"Bagus, kerja bagus, " ucap Doni sumringah.
" Bawa saja dia ketempat yang sudah kita sepakati," ucap Doni lagi.
"Baik, kami akan segera membawanya kesana." Mobil merekapun segera melaju menuju ke suatu tempat.
Setelah mendapat kabar baik, Donipun langsung membagikan kabar baik itu kepada Chandra.
"Hallo !"
"Iya ada apa Don ? Apakah ada kabar baik ?" tanya Chandra yang tak kalah sumringahnya dari Doni.
"Benar Chand, aku membawa kabar baik. Laura sudah ditemukan dan sekarang anak buahku sudah membawanya ke gudang."
"Benarkah ? Sungguh ?" Rasa terkejut dan bahagia bercampur menjadi satu dalam diri Chandra.
"Benar, dan aku pastikan kali ini mereka berhasil."
"Bagus kalau seperti itu."
"Chand, kita ke Surabaya sekarang. Aku sudah memesankan tiket untuk kita berdua" ucap Doni. Diapun sudah tidak sabar ingin tahu orang seperti apa Laura itu ?
"Baik, terimakasih Don.." ucap Chandra sekaligus mengakhiri percakapannya itu.
Saat ini Chandra sedang sibuk mengemasi laptop beserta dokumen-dokumen yang akan dia bawa pulang. Tiba-tiba saja Rendi datang dengan penuh keheranan karena melihat Chandra yang begitu antusias memasukan dokumen itu kedalam tas.
"Hei Ren ! Sedang apa kamu dipintu ?" tanyanya yang baru menyadari kehaditan Rendi.
"Chandra, hari ini kamu bahagia sekali. Ada apa ?" tanyanya.
"Aku, aku akan pergi ke Surabaya."
"Ke Surabaya ? Untuk apa ? Apa kau mendapat proyek besar ?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku tidak mendapatkan proyek besar tapi aku mendapatkan ular besar."
"Ular besar, maksudmu ?"
"Laura, aku sudah menemukannya" ungkapnya sambil tersenyum.
Jelegher...
__ADS_1
Bak petir di malam yang sunyi. Yang ditakutinya benar terjadi. Chandra benar-benar menemukan seseorang yang selama ini dia sembunyikan.
"Laura ? Bagaimana bisa ?" Raut wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi.
Chandra pun merasa heran dengan perubahan mimik wajahnya itu.
"Doni dan para anak buahnya, mereka sangat gencar mencari Laura. Tidak seperti dirimu," sindir Chandra ditambah seringai tawanya.
"Maafkan aku Chandra yang tidak becus menangani masalah ini."
"Tidak apa, jangan dimasukan kedalam hati. Tapi mengapa raut wajahmu berubah seperti itu ?"
"Ah.. aku.. aku.. hanya merasa tidak enak saja. Orang lain bisa menangkapnya sedangkan aku tidak bisa" kilahnya. Sebisa mungkin dia menutupi rasa terkejutnya itu.
"Oh aku sudah bilang tidak apa.. oh ya Ren aku titip perusahaan. Ok ! Aku hari ini akan langsung terbang" pintanya.
"Mmm.. Chandra apa sebaiknya aku ikut denganmu ?"
"Tidak perlu Ren. Laura hanya satu orang, lagi pula dia wanita sedangkan kami semua laki-laki. Aku rasa sudah lebih dari cukup untuk mengurusinya."
"Chand.. kau pasti membutuhkan aku. Apa kau tidak akan melakukan sesuatu ?" tanyanya. Dia begitu khawatir dengan apa yang akan terjadi pada sepupunya itu.
"Aku tidak tahu Ren. Aku akan melakukan sesuatu atau tidak. Tapi jika mengingat namanya saja, sudah membuat emosiku meningkat. Kau tau Andini sangat menderita karena amnesianya itu."
"Kau tidak akan melakukan apa-apa ?" tanyanya lagi, berharap kali ini jawaban Chandra membuat dirinya tenang.
"Entahlah, aku merasa takut jika aku lepas kenadali dan membuatnya merasakan apa yang istriku rasakan."
"Kau akan membuatnya amnesia ?"
"Bahkan lebih dari itu, aku ingin membunuhnya" ucapnya tanpa ada rasa, seperti membunuh adalah hal biasa.
"Kau akan membunuhnya ?" tanyanya dengan getir.
Rendi hanya menelan ludahnya. Tidak bisa membayangkan kedua keluarganya merasakan kurungan penjara.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang juga. Aku titip perusahaanku.." titahnya untuk kedua kalinya.
Chandra sudah menenteng tasnya dan akan beranjak meninggalkan Rendi, namun ditahan olehnya.
"Chand, aku harus menemanimu kesana .."
"Tidak Ren. Kau disini saja.."
"Tapi apa kau yakin ?"
"Seratus persen yakin, sudahlah jaga saja perusahaanku ini. Aku berangkat dulu." pamitnya. Dia meninggalkan Rendi sendiri disana.
Setelah Chandra lumayan jauh. Dia menjatuhkan dirinya dilantai itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Dia mengusap wajanya kasar.
"Shiiiit, sial mengapa semua ini terjadi kepadaku ? Satu masalah belum selesai dan datang lagi masalah lain. Apa belum cukup penderitaanku ini..." teriaknya.
Rendi sangat frustasi dengan keadaanya saat ini.
" Aku tidak bisa membiarkan Laura mati, ataupun merasakan jeruji besi. Tidak, aku sudah berjanji pada paman untuk selalu melindunginya di kala susah. Aku harus melindunginya apapun yang akan terjadi. Aku juga tidak bisa membiarkan Chandra terluka. Kedua orang itu harus dipisahkan" monolognya.
Rendi segera bergegas keluar dari ruangan Chandra. Kemudian dia merapihkan file-file yang ada di meja kerjanya.
***
__ADS_1
Dirumah Chandra.
"Ka, kamu akan pergi kemana ?"
"And, kakak ada urusan diluar kota. Kamu baik-baik disini yah," ucapnya sambil memegangi kedua bahu Andini.
"Kak, apa aku boleh ikut ?" Andini menunjukan mata kucingnya. Sorot mata yang bisa membuat orang tidak kuat untuk menolaknya.
"Tidak, sebaiknya kamu dirumah saja dan tunggu kakak pulang." Saat ini Chandra tidak terhipnotis dengan tatapan mata itu.
"Tapi kak.."
"And, pecayalah dengan kakak. Tunggu kakak pulang, yah !" ucapnya sambil mencium kening Andini.
"Baiklah, hati-hati..!" Andini tidak bisa menahannya lagi.
Ada perasaan tidak rela dalam dirinya. Namun, dia tidak bisa melarang Chandra, karena dia tahu pasti urusannya itu lebih penting dari apapun hanya bisa mendoakannya agar suami yang tak diingatnya itu berada dalam lindungan-NYA.
Setelah pamit pada Andini, Chandra langsung berangkat bersama Doni ke Bandara.
Sedangkan di apartemen, Rendi berusaha menghubungi Laura. Namun tidak berhasil. Melacaknya pun juga tidak berhasil. Yang saat ini berhasil adalah masalah ini berhasil membuat kepalanya terasa akan pecah sekarang juga.
Kemudian dia menghubungi bibinya. Didalam sambungan telpon itu tak henti-hentinya bibinya menangis. Dia juga meminta agar Rendi dapat segera menemukan Laura.
Kini otaknya tak lagi mampu berpikir. Dia harus mengikuti Chandra ke Surabaya. Dia tidak lagi memikirkan apapun konsekuesinya, yang ada dalam pikirannya hanyalah keluarganya.
Rendi langsung memesan tiket pesawat di ponselnya. Beruntung dewi fortuna masih bersamanya. Dia berhasil mendapatkan tiket pesawat tersebut.
Dengan segera mungkin dia membanting stirnya menuju Bandara tersebut.
Tanpa dia sadari, orang yang selalu mengawasinya tahu akan rencananya pergi ke Surabaya. Orang itu pun langsung menghubungi Budi. Orang yang selama ini membayarnya.
"Hallo Pak !"
"Ya ada apa ?"
"Rendi akan pergi keluar kota, saat ini saya sudah mengikutinya sampai Bandara."
"Apa, apa dia berencana akan kabur dari perjanjiannya ?"
"Saya kurang tahu pak, yang saya tahu dia pergi dengan sangat tergesa ?"
"Ikuti dia, kemanapun dirinya akan pergi. Dan ingat satu hal, jika dia buka mulut tentang kita, maka habisi dia. Ini perintah" ucapnya penuh penekanan.
"Baik.."
Budi pun mematikan sambungan telponnya itu. Dan ternyata Rio sedang berada dihadapannya saat ini. Dia begitu merasa di kecewakan oleh Rendi, yang tidak memberi tahu apapun tentang kepergiannya keluar kota itu. Biasanya supaya saling mempercayai, mereka akan memberitahu satu sama lainnya. Tapi kini dia tidak melakukannya.
bersambung....
Maaf banget telat up 😢
Jadi gini kemarin seharian penuh gak bisa nemu kata-kata yang pas. Tadi pagi sampai sore coba nulis dan dapet dua bab. Giliran mau di kirim tulisan yang udah ke kumpul di google keep tiba-tiba aja hilang😈 . Bahkan semuanya hilang😈😈😈. Rasanya pengen mewek jungkir balik😤😢😢😥 pokoknya kesel.
Gak ada cara lain nulis ulang😡
dan baru selesai satu😑
langsung up pas tau komenan yg minta up.
maafkan aku yah🙏🙏
__ADS_1
jangan hilang😢
tetap dukung aku.😥