
Kemarin lusa bagi Rendi adalah hari yang cukup menegangkan. Pasalnya dia harus melawan anak buah dari Doni yang berjumlah 17 orang. Namun beruntungnya dia masih bisa melewati setiap rintangan yang ada didepannya tanpa ada sedikit rasa curiga dari pasukan Doni itu.
Dan hari ini Rendi terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak akhirnya dia bisa menemukan seorang pengacara yang bisa membantunya untuk mengeluarkan pamannya. Dan sekarang dia akan bertemu dengan seseorang tersebut di sebuah kafe yang tak jauh dari apartemennya.
Kini dia sudah tiba di kafe tersebut, dan dia sudah memesan satu meja makan yang letaknya hampir tidak bisa di jangkau oleh sembarang orang. Semua itu adalah keinginan dari pengacara tersebut.
Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki yang cukup tua, berumur sekitar 48 sampai 50 tahunan. Dia menghampiri Rendi.
"Hallo selamat siang !"
"Siang.."
"Dengan Suadara Rendi ?"
"Iya saya sendiri.."
"Ah, perkenalkan saya Budi, pengacara handal yang bisa membebaskan paman Anda dari jeruji besi. Saya tidak akan berbasa-basi saya sanggup membebaskan paman Anda pak, dengan satu syarat."
"Syarat ?"
"Iya syarat, dengan syarat itu maka saya akan pastikan bahwa paman Anda akan segera bebas. Bagaimana apakah Anda akan menyetujuinya ?"
"Syarat apa ?"
"Menghancurkan perusahaan Chandra." Ucapnya dengan sangat menyeramkan.
Rendi merasa kaget dengan syarat yang diajukan oleh pengacara tersebut. Bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan perusahaan Chandra sedangkan perusahaan itu sudah bukan miliknya lagi. Dan juga dia tidak ada hati untuk melakukannya.
"Perusahaan Chandra. Chandra sudah tidak memiliki perusahaan, perusahaan itu sudah diberikan kepada Nona Andini." Dia menceritakan yang sesungguhnya agar orang itu juga merubah syaratnya.
"Owh. Seperti itu.." Pengacara itu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jika begitu maka hancurkan perusahaannya atas nama Chandra. Bagaimana ?" Pengacara itu tetap kekeh dengan keinginannya itu. Entah ada dendam apa dengan Chandra dia ingin Chandra hancur begitu saja.
Sedangkan Rendi dia terdiam sambil memikirkan jalan yang akan dia ambil.
"Itu terserah Anda jika Anda mau maka paman Anda akan bebas dan jika tidak mau maka Anda dalam bahaya sekarang" ancamnya.
"Maksudmu.. ?"
"Anda sedang diintai jika Anda berani melanggar atau tidak menyetujui maka Anda akan MATI" ucap Budi sang Pengacara itu dengan menekan kata mati.
"Anda menjebak saya.." geram Rendi.
__ADS_1
"Ini bisnis Pak dan saya tidak mau ada penolakan" ucapnya dengan seringai yang menyeramkan.
"Siapa Anda sebenarnya."
"Siapa saya Anda tidak perlu tahu, yang Anda harus tahu adalah saya akan membebaskan paman Anda ketika Anda sudah berhasil menghancurkan hubungan suami istri tersebut."
"Jadi tujuan Anda adalah Anda ingin Chandra dan istrinya cerai.."
"Benar.. Dan juga saya ingin Chandra hancur."
Rendi menghembuskan nafasnya secara kasar. Tidak mengerti dengan maksud seorang laki-laki yang ada dihadapnnya sekarang. Setahunya Chandra tidak memiliki seorang musuh. Tapi kenapa tiba-tiba ada seseorang yang ingin menghancurkannya ??
"Saya akan hitung sampai sepuluh jika Anda tidak menyetujuinya maka saya jamin dalam waktu dua hari Anda sudah berubah menjadi mayat" ancamnya lagi.
Rendi sedang berada dalam keadaan bingung sekarang. pilihannya adalah Chandra dan Andini atau Paman dan nyawanya sendiri. Sungguh sebuah pilihan yang tidak bisa dia pilih. Dia ingin semuanya dia tidak ingin Chandra dan Andini hancur terlebih sekarang Andini sedang dalam keadaan amnesia. Tapi dia juga harus menepati janjinya, membebaskan pamannya dari penjara. Selain itu dia juga masih ingin hidup tenang layaknya orang lain.
"Tujuh, delapan.."
Tapi dia tidak bisa bernegosiasi lagi, dia harus memilih salah satunya.
"Sembilan.."
"Baik, saya akan menghancurkan perusahannya."
"Bagus.. Semakin cepat Anda menghancurkannya maka akan semakin cepat pula paman Anda bebas."
"Jika begitu Anda bisa saja menipu saya ? Saya ingin di hari ketika saya berhasil menghancurkan Chandra di hari itu pula paman saya bebas."
"Baik tidak masalah, apapun yang ada inginkan akan terwujud" ucap Pengacara itu menyanggupinya.
"Baik.." Mereka berdua saling bersalaman saling menyetujui syaratnya.
Setelah itu Rendi pergi meninggalkan pengacara tersebut. Ada perasaan bersalah namun jika dia tidak memilihpun orang itu pasti akan tetap mengejar Chandra dan menghancurkannya. Yang saat ini dipikirkannya adalah alasan mengapa orang itu tetap kekeh dengan keinginannya bahkan berani mengancam nyawa orang lain.
Saat Rendi sudah pergi jauh Pengacara Budi sudah menerima telpon dari seseorang.
"Hallo bos ! Tenang saja, rencana awal sudah berhasil dilakukan" ucapnya.
"...."
"Baik, baik tapi jangan lupa imbalannya.."
"..."
__ADS_1
"Haha.. Iya iya. Terimakasih bos !"
Tut..
Pengacara Budi memutuskan sambungan telponnya. "Ada-ada saja manusia sekarang. Tapi yang penting duit dan ketenaran, dengan begitu pekerjaanku akan lancar" gumamnya.
******
Besoknya...
Fajar sudah menyingsing di ufuk timur, burung gelejra sudah berkicau dimana-mana. Kini Andini sudah menyiapkan bekal untuknya bertamasya. Sebenarnya Chandra tidak menyuruhnya hanya saja dia yang bersih keras ingin membawa makanan dari rumah. Padahal konsep mereka adalah pergi jalan-jalan ke Wonderland yang ada di kota tersebut.
Karena Andini sangat ingin membawa bekal, dengan sangat berat hati Chandra menyetujuinya. Mobilpun sudah melaju dijalanan, membelah keramaian dijalan itu. Kemudian dia teringat sesuatu yaitu dia tidak akan pergi kekantor hari ini. Untuk itu dia akan meminta Rendi untuk mengurusi urusan kantornya.
"Hallo Ren..
"..."
"Apakah kau sudah sembuh ?" Chandra menanyakan keadaanya karena kemarin-kemarin Rendi meminta ijin padanya untuk tidak masuk kerja karena sakit.
"Iya aku sudah lumayan pulih" ucapnya berbohong karena dia sama sekali tidak dalam keadaan sakit. Selama ini dia hanya sedang fokus dengan urusannya.
"Baiklah sekarang masuklah kerja dan jangan lupa untuk selalu melapor kepadaku. Aku sedang bersama Andini, kami akan jalan-jalan untuk hari ini."
"Baiklah.." ucapnya tak ada penolakan.
"Ok terimakasih."
Kemudian dia menyudahi panggilannya itu. Didalam mobil tidak ada obrolan penting diantara mereka hanya ada suara musik dari ponsel Chandra. Sesekali Andini mencuri pandang kepadanya tapi ketika Chandra membalasnya dia mengalihkan pandangannya itu. Chandra hanya bisa tersenyum gemas melihat tingkahnya.
Kini mereka sudah tiba di tempat tujuannya. Andini sangat girang sekali melihat banyak wahana permainan yang sudah menantinya disana. Pertama kali permainan yang dia inginkan adalah naik komidi putar. Sedangkan Chandra adalah bianglala, dia menginginkan wahana itu karena dia pernah mendengar bahwa orang yang berciuman di tempat yang paling atas, dia akan terus bersama dengan orang yang dicintainya itu.
"Aku ingin kesana !" ucap dan tunjuk mereka berbarengan akan tetapi berbeda tujuan.
bersambung...
Nah nah siapa yang keinginannya terwujud ?.
Bianglala atau komidi putar..
.
.
__ADS_1
Btw maafin othor yah kemaren gak update. Soalnya pala othor pusing. Mikirin jodoh ππ