
Sepuluh hari kemudian...
Andini masih belum juga sadarkan diri dan Chandra masih setia menemaninya tanpa lelah dan tanpa menyerah. Kini rumah sakit bagaikan rumah kedua baginya, bahkan urusan kantor pun selalu dikerjakannya dirumah sakit. Chandra tidak ingin ketinggalan sedikit saja tentang kondisi Andini saat ini.
Sesekali Chandra sering mengajaknya untuk sholat bersama. Meski dalam tanda kutip Andini hanya dipakaikan mukena saja. Baginya itu sudah cukup membuatnya merasa bahwa Andini masih ada bersamanya.
Seperti sekarang ini, mereka melaksanakan sholat subuh bersama, kemudian Chandra melantunkan beberapa ayat suci. Pernah sesekali dia meng-googling tentang kondisi orang yang sedang koma. Ada yang mengatakan bahwa orang koma juga masih bisa mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Untuk itu dia berharap Andini mendengar suaranya ketika sedang mengaji.
Hikmah Andini menjadi koma adalah Chandra semakin sadar bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Andini, biasanya pagi-pagi sekali dia suka mendengar Andini sedang memasak. Namun kini suara dentingan wajan itu sudah menjadi suara yang dirindukannya. Biasanya ketika hendak berangkat Andini suka mencium lengannya namun kini sentuhan itu tak dapat dirasakannya.
Seusai mengaji dia suka mencium kening istrinya, menatapnya kemudian meminta maaf kepadanya dan mendoakannya agar Andini bisa kembali bersama dengannya, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
"Aku rindu padamu Andini... Bak pribahasa yang mengatakan, "Damainya dunia dan sejuknya syurga tetap saja jika tidak ada kamu hidup terasa bagai di neraka." Kondisi itulah yang saat ini aku rasakan. Hampa bahkan lebih hampa ketika Ayah meninggal. Aku seperti tidak ada tujuan untuk hidup." Dia memegang erat tangan Andini, kadang dia juga memainkan jari jemarinya. Kemudian kepalanya ditaruhnya diatas hospital bed Andini. Air matanya kembali menetes di kasur itu.
Setelah lama dia membatin sendiri akhirnya rasa kantuk kembali menyerangnya dan kemudian dia tertidur.
Sedangkan dirumah sakit tempat Agas dirawat.
"Dokter dokter... Tolong !" Mang Samsul berteriak- teriak meminta pertolongan Dokter.
Sedangkan Doni sudah beberapa kali memencet kontak untuk memanggil dokter. Tak lama segerombol Dokter dan para perawatnya datang dengan berlari-lari.
"Pak maaf silahkan tunggu diluar " ucap Suster. Dan mereka langsung keluar dengan wajah yang begitu khawatir.
"Don.. Mamang takut terjadi sesuatu dengan Pak Agas" ucap si Mamang dengan wajah yang sudah pucat pias.
"Mang.. Kita doain aja ya Mang semoga Pak Agas gak kenapa-napa."
"Aamiin Don !" Merekapun kembali menunggu. Karena rasa gelisahnya Mang Samsul sampai berjalan mondar-mandir sedangkan Doni dia sudah duduk dengan tangan menahan kepalanya dan terkadang memijat pelipisnya.
60 menit yang lalu, tepatnya pukul 05.00 WIB. Pak Agas ingin sekali melaksanakan sholat subuh berjamaah. Untuk itu Doni dan Mang Samsul mengiyakan keinginannya itu. Doni membantu Pak Agas dalam mengambil air wudhu sedangkan Mang Samsul menyiapkan sejadah untuk mereka berberdua, karena Pak Agas akan sholat dengan cara berbaring.
Sholat berjamaah sudah selesai mereka kerjakan. Terukir senyum manis di wajah Pak Agas. Merasa bahagia karena masih bisa melaksanakan sholat berjamaah. Kemudian Doni dan Mang Samsul menemaninya lagi, Doni berada di sisi kirinya sedangkan Mang Samsul berada dekat di kakinya. Mereka mendengarkan cerita tentang Agas diwaktu kecil. Diselingi tawa dan juga perasaan sedih karena pengalaman hidup Agas yang tidak biasa.
Sekitar setengah jam Agas bercerita kepada mereka sampai akhirnya Agas merasa kehausan. Saat Mang Samsul mengambilkannya tiba-tiba saja Doni berteriak.
__ADS_1
"Bapaaakkk......."
"Ya Allah Pak Agas.." ucap Mang Samsul yang tak kalah kagetnya melihat Agas yang sudah tidur tenang.
Langsung saja Mang Samsul berlari keluar memanggil Dokter, sedangkan Doni sibuk memencet kontak yang ada di dekat hospital bed-nya.
Lima belas menit kemudian.
Ceklek.
"Bagaimana kondisi Bapak Dokter..?" tanya Doni.
"Maaf Pak beliau sudah meninggal dunia.."
"Apa.."
"Coba sekali lagi dok, periksa sekali lagi."
"Maaf Pak beliau memang sudah benar-benar meninggal dunia, ketika kami baru tiba disini juga beliau sudah tidak ada."
"Chandra harus tahu tentang ini.." gumamnya.
Kemudian dia langsung mengotak-atik ponselnya.
Setelah lima kali tidak tersambung. Untuk kali ini dia berhasil terhubung.
"Hallo Tuan ... " ucapnya dengan gemetar.
"Iya ada apa Don"
"Tuan .. Pak Agas, Pak Agas meninggal dunia"
"Apa ...."
Tak... Ponsel Chandra terjatuh. Kali ini bukan tangisan namun dia terdiam. Entah apa yang terlintas dipikirannya kali ini. Dia melihat Andini kemudian dia memeluknya, "And... Maafkan aku.." Hanya perasaan bersalah yang kini dia miliki. Dia menangis tepat dibahu Andini. Merasa gagal sebagai suami juga sebagai menantu.
__ADS_1
"Semua ini salahku jika kamu tidak seperti ini maka Papah tidak akan meninggal secepat ini And. Maafkan aku.. " ucapnya dengan terus memeluk Andini.
Tes..
Terasa basah di pipi Chandra tetapi bukan berasal dari air matanya lalu siapa ?
Dia melihat Andini, terdapat sungai kecil mengalir dipipinya. Chandra masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia memegang pipinya, memang benar itu adalah air, air mata Andini.
Andini menangis, mungkin benar perkataan orang bahwa orang yang sedang koma pun bisa merasakan apa yang terjadi disekitarnya.
Semua itu membuat Chandra lebih merasa bersalah.. "Andini...." Dalam tangisnya dia terus memanggil Andini. Tidak ada perubahan lain lagi dalam diri Andini hanya ada setetes air mata. Chandra tahu bahwa Andini masih dalm keadaan koma jadi dia tidak memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian.
"Aku harus pergi kerumah sakit, aku harus menemui papah untuk yang terakhir kalinya. Aku adalah satu-satunya anaknya saat ini."
Kemudian Chandra langsung memanggil seseorang untuk menemani Andini.
"Ren.. Cepat kerumah sakit, mertua ku meninggal dunia. Kau, kau harus menunggu Andini disini" ucap Chandra pada telpon.
Setelah 15 menit kemudian Rendi sudah berada dirumah sakit menggantikan Chandra menunggu. Chandra benar-benar tidak ingin ketinggalan satu informasipun tentang keadaan Andini, saat dirinya tak ada disisinya.
Kini Chandra sudah tiba dirumah Agas. Pada saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, Chandra mendapat telpon dari Doni bahwa mertuanya itu sudah dalam perjalanan pulang kerumah duka.
Chandrapun langsung menancapkan gasnya, memutar arah menuju rumah duka. Sesampainya disana dia beserta yang lainnya langsung mengerjakan apa yang menjadi kewajiban bagi mereka yang masih hidup terhadap orang yang sudah meninggal.
Setelah disholati, jenazah akan segera dikebumikan. Chandra sempat teringat dengan Andini beberapa bulan yang lalu yang meminta dirinya untuk mengantarkan Andini menuju pemakaman. Diapun bertanya kepada Doni, beruntung Doni tahu bahwa di dalam TPU tersebut terdapat makam dari isteri Agas, Adilla ibunda Andini. Akhirnya Agas di makamkan dekat dengan makam isterinya.
Semua proses pun sudah dilakukannya. Dia berjongkok di makam Agas ditemani oleh Doni dan Mang Samsul karena Bik Ijah maupun Bik Sri sudah pulang kerumahnya.
"Pah.. Maafkan Chandra pah, belum bisa menjadi anak menantu yang baik, yang bisa menjaga isterinya dan juga Papa. Untuk perbincangan kita tempo hari yang lalu, Chandra janji pah, Chandra akan memegang ucapan Chandra sendiri, Chandra akan selalu menjaga Andini, selalu pah bagaimana pun keadaanya, Chandra akan selalu ada bersamanya pah. Papa yang tenang disana" ucapnya.
bersambung..
maaf yaa aku baru up
__ADS_1
kondisinya disini sedang gawat darurat😢😢