
Sebelum itu Rendi memasukan Laura ke kursi penumpang dan menyuruhnya agar tidur terlentang supaya memperlihatkan darah yang ada dikakinya.
Dan benar saja para pasukan itu menghadangnya tepat di gerbang keluar masuk.
Tok tok tok tok..
"Buka kacanya" ucap salah satu anggota pasukan.
Rendipun langsung membukanya dan berkata,
" Pak istri saya sebentar lagi akan melahirkan harus dibawa segera kerumah sakit, jika tidak dia bisa kehilangan banyak darah.." bohongnya lagi. Sedangkan yang dibelakang sana Laura sedang meringis menahan kesakitan diperutnya.
Dilihatnya dengan seksama oleh pasukan itu. Memang benar apa yang dikatakannya, wanita itu sudah mengeluarkan banyak darah.
"Bos, mereka dari dalam dan sudah diperbolehkan untuk keluar" bisik aggota pasukan satu ke anggota lainnya.
"Ya sudah kamu boleh keluar."
Mendengar kalimat itu Rendi langsung saja menancapkan gasnya dan pergi secepatnya dari sana.
Setelah jauh Laurapun bangun dan melepaskan pakaian hamilnya. Dia sengaja memakai dua baju sekaligus, karena tidak mungkin dia kabur dengan baju pura-pura hamilnya itu.
"Huhh akhirnya aku bisa lolos dari kepungan mereka.." ucapnya.
"Kenapa kamu masih disini ?" tanya Rendi.
"Beberapa hari ini aku terjebak oleh mereka, dan aku tidak tahu caranya keluar, untung saja ada kamu jadi aku bisa kabur" ucapnya sambil mengelap darah-darah yang ada ditubuhnya.
"Didunia ini tidak akan selamanya ada kata 'untung saja' Laura.. Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini."
Laurapun hanya diam mendengarnya, dia tidak ingin beradu mulut dengan sepupunya itu. Menurutnya sepupunya itu tidak akan mengalah dalam hal beradu mulut, meski dia laki-laki tapi dia sangat cerewet.
"Kenapa kamu berhenti disini ?" ucap Laura yang merasa aneh dengan Rendi yang menghentikan mobilnya di tengah jalan.
"Kita akan ganti mobil, kamu tidak inginkan jika kita diikuti."
"Lalu mobil ini ?"
"Itu akan jadi urusanku."
Lalu mereka berdua keluar dan masuk ke dalam mobil hitam yang berada didepannya.
"Aku akan mengantarkanmu ke Bandara."
"Bandara ?"
"Iya jam dua belas nanti penerbangannya."
"Kemana..."
"Pulang ke rumahmu lah ke Surabaya, aku sudah bilang jika kamu terus disini aku tidak akan bisa menolongmu."
"Hmm... Tapi ingat janjimu itu, jangan pernah mengingkarinya" ancamnya.
"Hemm" jawabnya hanya dengan satu deheman saja.
"Tapi Ren, orang-orang itu siapa ?"
"Mereka bukan orang-orang ku tapi orang-orang dari Andini."
__ADS_1
"Pantas saja mereka tidak akan melepaskanku." Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang menemani perjalanan mereka.
Kini Rendi sudah mengantarkan Laura ke Bandara dan sekarang seharusnya Laura sudah berada dalam awak pesawat itu.
****
Ditempat lain Chandra sedang berada dalam sambungan telepon dengan Doni.
"Apa Don, Laura berhasil kabur ?" kagetnya.
"Iya sepertinya ada seseorang yang sudah membantunya Chand. Menurut anak buahku dia adalah seorang laki-laki." Doni menjelaskan cara mereka kabur dari kepungan tersebut.
"Maafkan aku Chand.. Aku belum bisa menangkap Laura untuk mu.. Maafkan kebodohan pasukanku Chandra.."
"Tidak apa-apa, sepertinya dia bukan orang sembarangan yang dengan gampang ditangkap." Meski merasa kecewa tapi apalah daya dia hanya bisa bersabar.
"Tapi tenang saja Chandra aku tidak akan menyerah.." ucapnya lagi. Donipun merasa sangat bersalah karena ketidak berhasilannya itu.
"Ya.. Baiklah terimakasih Don."
"Ya.."
"Don bagaimana kabar perusahaan tanpa Andini dan Mertuaku..?"
"Perusahaan dalam keadaan stabil Chandra, malam ini kau boleh melihat data-datanya.."
"Baiklah.. Antarkan saja ke ruanganku dirumah."
"Iya.."
Percakapan mereka diteleponpun sudah diakhiri dengan kata 'ya' dari Doni. Setelah menerima telpon itu Chandra menjadi lemas, siapakah Laura itu adalah pertanyaan yang selalu muncul dalam benaknya.
Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunannya.
"Ya masuklah !" titahnya.
"Ada apa Nin ?" tanyanya setelah melihat Nina masuk dengan membawa beberapa dokumen.
"Ini Pak ada berkas yang meski bapak pelajari terlebih dahulu untuk persentasi besok bersama klien kita dari China."
"Ya ya.. Taruh saja disini..." ucapnya dengan nada lesu. Tentu saja karena pikirannya sedang berkecamuk sekarang.
"Mm.. Pak besok persentasinya akan dimulai pada jam sembilan pagi, dan ini sangat penting untuk perusahaan kita. Jika kita berhasil maka kita akan meraih keuntungan yang besar" ucap Nina mengingatkan namun dengan nada yang terbata-bata. Entahlah mungkin karena takut.
"Ya.." jawabnya singkat.
Karena tidak ingin dimarahi, Ninapun langsung keluar setelah meletakan berkas tersebut.
Setelah menutup pintu Nina bergumam, "Ada apa dengannya, seperti tidak biasanya. Apa karena Bu Andini, entahlah yang terpenting kamu tidak membuat kesalahan Nina."
Sungguh hari ini membuat Chandra tidak bahagia. Laura sudah memenuhi pikirannya. Ingin rasanya dia menangkap lalu menindasnya sampai meninggal seperti menindas kutu rambut.
"Huh... Dimanapun kamu Laura aku tidak akan sampai melepaskanmu" batinnya dalam hati.
Hari sudah berganti menjadi malam, tepat jam delapan malam akhirnya Chandra sudah selesai dengan pekerjaanya namun dia melupakan tentang berkas untuk persentasinya besok.
"Astaga kenapa aku sampai lupa mempelajari berkas ini, inikan untuk besok.. Haiss kenapa aku harus sampai melupakannya" keluhnya. Kemudian dia memasukan berkas itu kedalam tas bersamaan dengan laptopnya.
Kini Chandra sudah berada dirumah Agas. Dia langsung masuk kekamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Setelah itu dia kembali berkutat dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Di meja kerjanya sudah terdapat map berisi data-data perusahaan Andini yang Doni letakan sebelum Chandra datang. Kemudian dia mengeluarkan laptop beserta berkas yang dia bawa dari kantornya.
Pada jam setengah sepuluh dia masih berkutat dengan pekerjaannya sampai-sampai matanya sudah mulai mengantuk. Dan akhirnya dia tertidur dimeja kerjanya.
****
"Bik Andin tidak melihat kak Chandra, dimana dia ?" tanya Andini yang seharian ini tidak bertemu dengan Chandra.
"Mm den Chandra itu anu Non, diruang kerjanya" ucap Bik Sri yang sedang merapihkan dapur.
"Kak Chandra udah makan bi" tanyanya lagi.
"Bibi gak liat Non, sepertinya belum."
"Belum ya bik, dia masih kerja yah.." ucapnya dengan merasa kecewa.
"Ka Chan pasti kelelahan, dikantornya pasti banyak kerjaan sampai dia pulang selarut ini dan masih tetap bekerja diruangannya.. Apa sebaiknya aku buatkan susu hangat saja ya bik, biar badannya terasa lebih enak. Aku sering melihat Mama membuatkan susu hangat untuk Papa, jika Papa sedang bekerja. Ah sebaiknya aku buatkan sajalah ya bik, kan dia juga baik. Orang baik harus dibalas dengan kebaikan kan bik ?" tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya Non sini biar bibi aja yang buatkan dan Non yang bawa keatas" saran bi Sri.
"Jangan Bik, gak spesial. Biar aku aja yang buat. Kan ka Chandra baiknya sama aku bukan sama bibi" ucapnya lagi dengan nada menggemaskan.
"Ya sudah hati-hati ya.." ucap Bik Sri. Kemudian dia kembali lagi merapihkan dapurnya.
Andini langsung mengambil termos kecil berisi air panas, gelas dan juga sendok.
"Tuangkan susunya, terus kasih air panas dan aduk, jadi deh susu frissian flagnya..." ucapnya penuh kegirangan.
Setelah membuat susu, dia meletakannya di sebuah nampan, dan membawanya keatas dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin susu hangat buatannya itu sampai tumpah atau bahkan jatuh.
Dia berjalan dengan pelan. Saat dirinya sudah berada didepan pintu ruang kerjanya, dia mendorong pelan pintu yang sedikit terbuka itu dengan tubuhnya.
Dia melihat Chandra sudah tertidur di atas meja kerjanya. Karena dia tidak ingin usahanya menjadi sia-sia, dia berniat untuk membangunkan Chandra. Diletakannya nampan berisi susu hangat itu diatas meja kerjanya yang sudah menumpuk dengan kertas-kertas.
"Kaka..." panggilnya, dia membangunkannya dengan sangat pelan.
"Ka.. Kakak..." Kali ini volume suaranya sudah dia naikan ditambah dengan tangannya yang sudah mengoyangkan tangan Chandra, tetapi Chandra masih tidak mau bergeming.
"Kakak.." ucapnya setengah berteriak dan menggoyangkan tangannya dengan sangat kencang. Chandra bangun karena kaget dan membuatnya mendorong susu yang sudah di buatkan oleh Andini.
Plukkkkk... Semuanya tumpah tanpa ada yang tersisa membasahi semua berkas-berkas yang ada di meja tersebut. Semua berkas tersebut adalah berkas penting untuk perusahaan Chandra juga Andini..
Bersambung..
Hayooooo apa yang akan terjadi dengan Andini.. ??
Haha.. Aku suka part part yang kaya gini nih..
Bilang penasaran dan lanjut yah hehehe..
btw dua bab ini loh😆
To : silent readers ku yang tercinta..
Tolong ucapkan hadir agar aku menyadari kehadiran kalian dengan like komen vote.
Ehh tak lupa Share biar kalau gosipin Chandranya nyambung.. Love in juga biar tau aku up ya .
Hehe..
__ADS_1
Jaiziaannn😍😍😍