Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Bella


__ADS_3

Empat hari setelah acara lamaran itu, kini adalah waktu untuk mempersiapkan segalanya. Meski semuanya sudah diurus oleh kedua tetua dari kedua belah pihak tapi masih ada persiapan yang harus mereka siapkan.


"Chandra, hari ini kita fitting baju di butik mana ? Papahku menyuruh untuk menanyakan hal ini. Maaf jika sudah mengganggumu" ucap Andini pada benda pipih canggih yang ia letakan di telinga sebelah kanannya.


"Kamu pergi saja ke Butik Yun'er, itu adalah butik temanku, aku sudah bilang padanya bahwa hari ini kamu akan mendatanginya " jawab Chandra.


"Mm baiklah kalau begitu, apa kita bisa pergi bersama ? Kebetulan mobilku sedang di pakai Papa" ucap Andini, memang mobil papanya itu sudah tua perlu banyak servis, karna itu papanya meminjam mobilnya.


"Maaf sepertinya aku tidak bisa aku sedang sibuk, aku tutup dulu telponnya" ucapnya yang langsung menutup telponnya tanpa mendengar jawaban dari Andini.


Andini sama sekali tidak mencurigainya, bahkan berpikiran negatif pun tidak. Dia berpikir bahwa saat ini perusahaannya lebih membutuhkan Chandra ketimbang dirinya sendiri. Dia pun langsung memesan taksi online untuk pergi ketempat tujuannya yaitu butik.


Ditempat lain, dimana Chandra berada. Setelah dia menutup telponnya dia langsung pergi keruang inap pasien bernama Bella. Dia menemui Bella karna hari ini adalah hari kepulangan Bella setelah hampir lima hari berada disana.


"Hai Bell, kau sudah sembuh ?" tanya Chandra yang baru saja tiba diruangan Bella.


"Aku merasa badanku lumayan sehat dari sebelumnya, terimakasih sudah repot-repot menjagaku, menggantikan kedua orang tuaku Chandra " ucap Bella yang masih duduk di kasur pasien.


Ya memang setelah Bella masuk rumah sakit, Chandra sering mengunjunginya bahkan menawarkan diri untuk menjaga Bella.


"Jangan sungkan, aku senang melakukan hal ini untukmu "ucapnya dan Chandra langsung memasukan barang yang harus di bawa pulang.


"Dimana kedua orang tuaku ? Bukankah mereka akan menjemputku, hari ini aku bisa pulangkan ?" ucapnya yang sedari tadi tidak melihat kedua orangtuanya datang.


"Aku yang sudah meminta mereka untuk tidak menjemputmu, karna aku yang akan menjemputmu " ucapnya seraya menyunggingkan senyum yang begitu manis dan memperlihatkan ketampanan yang tersembunyi.


"Sungguh, ya sudah aku tidak ingin pulang" ucap Bella, yang semula ia berhadapan lurus dengan Chandra kini dia sedikit menyerongkan pandangannya kearah lain.


"Hai hai hai Nona cantik, kenapa kamu marah. Aku sengaja melakukan itu, aku ingin ada waktu berdua bersamamu, apa tidak boleh ?" tanyanya yang kini mulai mendekatkan dirinya pada Bella.


"Haha kau mulai menggombaliku, aku tidak akan terpengaruh" ucap Bella kembali dia memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Ya ya aku tau, sudah lebih dari sepuluh tahunpun kau tidak akan terpengaruh olehku " ucap Chandra yang kini dia sedang menunduk mengingat kembali kejadian sepuluh tahun yang lalu.


"Kata siapa aku tidak pernah terpengaruh olehmu" Ucapannya itu membuat Chandra mendongkakan kepalanya setengah kaget mendengar pengakuan dari Bella.


"Aku sebenarnya pernah terpengaruh olehmu, aku pernah menyukaimu, namun aku terlambat menyadari itu. Karna sebelumnya aku buta, aku begitu kagum pada Andini dan begitu menyayanginya sehingga melupakan kebahagianku, merelakan kamu untuk dia. Hmm dia polos sekali namun ternyata busuk juga, aku tertipu dengan penampilannya dan kepolosannya itu" ucap Bella kini berganti sekarang Bella sedang menundukan kepalanya.


Chandra yang kaget mendengar bahwa Bella menyukainya dengan cepatnya langsung memeluk Bella, membenamkan wajah Bella pada dada bidang miliknya.


"Sudah jangan bersedih kamu tidak terlambat. Aku ada disini untukmu. " Dia mengelus elus punggung Bella memberi ketenangan padanya.


"Memang Andini begitu busuk, bahkan dia menggunakan ayahku untuk menerima perjodohan ini, entah apa yang dia lakukan. Ayah begitu menyanjungnya, seandainya aku bisa membatalkan perjodohan ini pasti aku akan hidup bahagia bersama Bella" bisiknya dalam hati.


Lain halnya dengan lubuk hati Bella yang paling dalam. "Andini kamu tidak akan bisa memiliki orang yang kamu cintai bahkan juga yang mencintaimu. Baik Chandra ataupun Michell semuanya tidak pantas untukmu, dulu aku terlalu baik padamu, membiarkan mereka ada meski hanya dalam mimpimu. " Ia tersenyum kecut didalam pelukan Chandra.


"Kamu harus percaya padaku, aku akan membuatmu sembuh. Tunggu hari itu dan peganglah janji ku ini" ucap Chandra yang kini sedang memegang kedua bahunya.


"Bahkan jika kamu ada berada disisiku saja sudah bisa menyembuhkanku." Bella melemparkan senyum pada Chandra.


"Mm sudah ayo kita pulang. " Kini Bella sudah duduk di kursi rodanya dan sesuai dengan ucapan Chandra, dia mendorong kursi roda itu kemudian mengendongnya masuk kedalam mobil dan langsung melaju menuju rumah pujaan hatnya itu.


****


Andini sedang menunggu pemilik butik, namun masih belum juga menunjukan batang hidungnya, sudah 20 menit dia duduk disana. Tapi karna ini sangat penting jadi dengan sabar dia menunggu pemilik butik itu.


"Ah.. Maaf, Anda adalah Andini calon istri Chandra bukan ?" ucap sang pemilik toko itu tersenggal senggal, dia mengatur nafasnya agar lebih tenang.


"Ah.. ya saya Andini, mbak ini .. " tanyanya pada orang itu


"Saya Rina pemilik butik ini, maaf sekali mbak dihari pertama saya sudah membuat anda kecewa dengan pelayanan saya, saya mohon maaf mbak" ucap Rina sambil membungkukan badan.


"Tidak apa mbak, saya bisa memakluminya." Andini sebenarnya sudah bosan menunggu namun melihatnya yang terburu-buru datang jadi ia memakluminya.

__ADS_1


"Oh ya mbak ini saya punya beberapa model gaun pernikahan silahkan mbak lihat terlebih dahulu" ucap Rina sambil memberikan katalog miliknya.


"Mm begini Mbak saya mau langsung lihat saja dan jika ada yang cocok saya ingin mencobanya juga, boleh ? Ya karna sepertinya tidak sempat, acaranya dua belas hari lagi" ucap Andini menjelaskan. Sebenarnya ia sangat ingin menikah dengan desain yang ia inginkan namun keadaan yang tak mengabulkannya.


"Aduh kenapa saya lupa yah " ucap Rina sambil memukul dahinya "Chandra sudah memesannya, ayok silahkan Mbak" tambahnya seraya memintanya untuk langsung keruang ganti.


"Bagaimana Mbak apa mbak suka. Kami menyediakan pilihan yang lain juga, jika mbak kurang menyukainya " ucap Rina.


Andini menyunggingkan senyumnya ketika ia melihat dirinya yang sudah di balut dengan gaun pernikahan berwarna putih.


"Tidak, saya menyukai ini. Saya menginginkan yang ini saja" ucapnya pada Rina.


"Baiklah Mbak" ucap Rina.


Dia langsung mengemas gaun itu dan setelah itu Andini pulang karna hari sudah semakin sore.


Sesampainya dirumah dia langsung beristirahat di kamarnya dan tak lupa membuka laptopnya, membaca laporan dari sekretarisnya. Andini bisa disebut orang yang sangat beruntung, karna setelah lulus kuliah dia langsung dikerjakan di kantor milik ayahnya.


Hal itu tidak semua orang bisa merasakannya, ada orang yang ingin kuliah tapi terhambat biaya ada orang yang lulus kuliah namun sulit mendapat pekerjaan dan masih banyak lagi. Dan karna itulah ia selalu bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang.


Meski soal asmara dia tidak seperti anak remaja pada umumnya, dan tidak seberuntung orang lain yang bisa mencinta dan dicinta. Tapi hal itu tak membuatnya merasa kurang dan bersedih baginya cinta dari orang tuanyalah yang membuatnya bahagia, dan ia selalu memasrahkan perasaannya itu.


Terbukti sekarang cinta dalam doanya itu akan menjadi nyata. Dulu melihat Chandra tersenyum saja meski bukan untuknya hati Andini merasa sangat bahagia.


Dan tiba pada waktunya tidak hanya senyuman Chandra, wajahnya dan apapun yang ada pada diri Chandra akan dia lihat setiap hari, bahkan setiap waktu. Sungguh mimpi Andini yang menjadi nyata. Bersyukur selalu ia panjatkan dan berpikir positif selalu ia terapkan. Itulah yang kini Andini lakukan atas takdir yang terjadi padanya.


bersambung....


Tolong untuk memberiku dukungan !


Aku tunggu 😍

__ADS_1


__ADS_2