
...Cinta terbaik adalah cinta yang mampu mengubah Anda menjadi lebih baik lagi tanpa merubah Anda menjadi orang lain selain diri Anda sendiri....
..._Anonim...
...*******...
Beberapa hari kemudian Chandra dan Doni saling bergantian dalam menemani Andini. Chandra percaya kepada Doni, karena dia tahu bahwa Doni hanyalah sahabatnya dan tidak lebih. Dan itu membuat Chandra menjadi tenang, daripada ketika dia melihat Michell meski itu hanya menjenguknya saja.
Kali ini giliranlah Doni yang menjaganya. Doni pun tidak keberatan dengan permintaan Chandra, karena dia tahu kini Chandra tengah sibukg.ia mengurusi perusahaannya juga perusahaan Andini.
"Akh.. Kenapa aku ingin BAB ya biasanya jam segini gak mau pupp. Gak papa kali yah kalau aku tinggal dulu Andininya.." gumamnya sambil memegangi perutnya. Mengingat Chandra yang over protektif kepada Andini membuatnya takut akan ancaman Chandra.
"Sepertinya tidak apa-apa, toh kan perginya paling cuman 5 menit" lirihnya lagi sambil melihat jam dinding yang berada disana.
Doni langsung masuk ke kamar mandi yang berada dirungan itu, dan langsung membuang hajatnya.
Brut brutttt😂😂
(selingan😂)
***
Diluar kamar.
"Baik Dok !" ucap salah satu Dokter sambil berjalan.
"Andini, kebetulan sekali. Aku belum menjenguknya selama beberapa hari ini" batin Dokter Rio ketika melihat Andini di luar kaca ruangan.
"Ya ya "ucap Rio menyahuti Dokter yang bersamanya.
"Saya permisi dulu" kata Dokter tersebut sebelum pergi.
"Sebaiknya aku kesana dulu lahh, sekalian memeriksanya" lirih Dokter Rio.
Cek lek..
Rio menghampirinya lalu tersenyum, "Assalamualaikum Andini. Bagaimana kabarmu, apakah kamu begitu nyaman dengan posisi ini, sampai-sampai tidak mau bangun. Aku rindu sekali berbincang denganmu."
"Siapa Anda ?" Rio pun menengok ke belakangnya.
"Siapa Anda ??" ulang Doni yang baru saja mendekat kearah Rio.
"Saya, saya dokter disini juga teman Nona Andini" ucapnya sambil menunjukan senyum terramah seorang dokter.
"Teman ?? Seingat saya dia tidak pernah mempunyai teman seperti Anda" selidiknya lagi.
"Saya Dokter yang menangani Ayahnya, dan dari situ saya mengenal Nona Andini" ucapnya meyakinkan.
__ADS_1
"Tapi saya tidak pernah melihat Anda, dan dokter yang menangani Pak Agas adalah Dokter Suba" ungkapnya lebih jelas.
"Ya memang benar, Dokter Suba juga adalah paman saya." Rio tersenyum simpul, ya benar sekali yang selalu menangani Pak Agas adalah pamannya, dirinya hanya menangani Pak Hermawan.
"Ouh berarti Anda bukan orang yang menangani Pak Agas" celetuknya.
" Sebenarnya tujuan Anda untuk apa kesini ?" selidiknya lebih lanjut.
"Saya, saya hanya ingin bertemu dengan Nona Andini, biasanya saya suka membahas novel-novel bersama dia" jawabnya jujur.
"Novel ?" Doni menyernyitkan alisnya.
"Ya, saat saya bertemu dengan dia dan membahas novel dari penulis Candi sangat nyambung sekali, jadi saya pikir kami satu frekuensi."
"Candi ?"
"Iya nama penulisnya adalah Candi, dia sangat hapal dengan seluk beluk ceritanya"
"Hahaha..."
"Anda kenapa ??" tanya Rio yang terheran mendengar tawa Doni.
"Apa kau tidak tahu bahwa Candi itu adalah Andini.." ungkapnya.
"Apa ??" Kali ini Rio lah yang sangat terkejut.
"Dia adalah Candi ?" ucap Rio sambil menunjuk kearah Andini.
"Hahaha... Ini suatu keberuntungan yang tak terduga. Ternyata dia adalah orang yang saya kagumi melalui karyanya." Rio menatap Andini seolah masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Pantas saja dia sangat hapal dengan isinya ternyata dia adalah penulisnya" ucapnya lagi.
Sedangkan diluar kamar, Chandra yang baru saja selesai meeting bersama kliennya, langsung menuju kerumah sakit. Kali ini dia membeli seikat buket lagi. Bunga mawar pink itu kini sudah berada ditangan kanannya.
Sebelum membuka pintu dia sudah mendengar ada orang lain didalam selain Doni. Didengar-dengar suara itu adalah suara pria dan bukan Doni pemiliknya.
Cek lek
Dia membuka pintu itu.
"Dia memang seorang penulis, dia sangat menyukai menu.... lis..." ucapnya setengah terpotong karena tiba-tiba saja Chandra memanggilnya.
"Don "
"Ahh Tuan.. !"
"Siapa dia ??.." Chandra menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Aku Rio" ucap Rio sambil mengulurkan tangannya.
"Aku rasa aku tidak asing dengan laki-laki ini" batin Chandra.
"Kau Rio yang tempo lalu selalu berada didekat Andini kan... Untuk apa kamu kesini ?" tanya nya dengan intonasi yang tidak ramah.
"Saya hanya kebetulan lewat saja, tiba-tiba ingin menjenguknya."
Tatapan Chandra begitu tajam, seolah-olah tidak suka dengan kehadiran Rio. Tergurat rasa cemburu ketika mengingat Andini bisa tertawa lepas dengannya, sedangkan dengan dirinya sendiri dia tidak pernah senyum.
" Semua kesalahanmu Chandra. Kamu yang terlalu bodoh" batinnya lagi.
"Kamu seorang Dokter bukan ?" Chandra melihat dari pakaian yang tengah kini Rio pakai.
"Ya saya memang dokter disini, tapi saya tidak begitu sibuk. Jadi saya menyempatkan untuk datang kesini" ucap Rio membeberkan semuanya, seakan tidak ingin di tanya lagi.
"Andini adalah isteri saya dok, jadi tidak perlu Anda tengok" ucap Chandra dengan begitu ketusnya. Entah kenapa hatinya sangat-sangat marah melihat Rio disana.
"Hummp Pak Chandra ini gimana ya ? Saya hanya temannya saya hanya ingin menjenguk apa saya salah ?" tanya Rio dengan tak kalah juteknya.
"Maaf sebaiknya kalian berdua berbicara diluar saja. Andini membutuhkan lingkungan yang tidak bising, bukan ?" ucap Doni hati-hati. Sebelumnya saat Chandra baru saja datang, Doni sudah merasakan hawa yang tidak beres diantara keduanya. Seakan-akan dunia ini akan runtuh jika mereka bersama.
"Biarkan dia saja yang pergi, toh dia sudah tidak dibutuhkan disini." Chandra sudah mendudukan dirinya di sofa. Sementara Doni dan Rio masih berdiri.
"Ckk ckk.. Suami yang tidak bertanggung jawab yang selalu membuat isterinya menangis." Semuannya terbelalak dengan apa yang di cetuskan oleh Rio. Kata-kata pedas itu akhirnya keluar dari mulut seorang Dokter Rio.
"Apa maksudmu ?" tanya Chandra.
"Mengapa dia bisa tahu, apa Andini pernah berkata kepadanya. Tidak, Doni saja aku yang memberitahunya, lalu dia ?" batin Chandra gusar.
"Humph.. Aku seorang Dokter Pak Chandra, aku sedikit tahu tentang pasien, mulai dari raut wajah, gerak geriknya. Semua akan terbaca secara jelas" jelasnya lagi.
"Itu kesalahanku dulu. Dan sekarang aku tidak akan pernah membiarkan siapapn menyakitinya termasuk diriku sendiri" lirihnya. Chandra bisa apa selain jujur, toh memang apa yang dikatakan Rio itu benar, terkadang membuat dirinya ingin memukuli dirinya sendiri ketika mengingatnya lagi.
"Humph kita lihat saja nanti pak. Biasanya penjahat tetaplah penjahat" ucap Rio tak mau kalah.
"Bisakah kalian keluar..." ucapannya terpotong,
"Andini..." ucap Chandra sambil menghampirinya. "Jari telunjuk Andini tadi bergerak Don" ucap Chandra dengan nada sumbringah.
"Apa..." Rio langsung menghamipirinya, ingin segera mengeceknya.
bersambung....
hayoo lohh Sadar apa cuma halunya si Chandra doang.
ehh Rio serem juga yaa kalo marah..
__ADS_1
humm penasarankan apa yang terjadi selanjutnya. nah stay tuned terus di ABCD. ya ya ya.. ohh iya vote juga.. jangan lupa kan ada warna biru di atas nama prichill nah klik itu aja oke.. jangan lupa kasih aku vote😂😂😂
haturnuhun🙏