
...Aku mungkin hanya kehilangan orang yang tidak mencintaiku, namun akan ku pastikan bahwa kamu akan kehilangan orang yang sangat tulus mencintaimu. ...
...LH...
...***H***...
Setelah menutupkan pintu Andinipun terkulai lemas di lantai dekat dengan ranjangnya, air matanya terus mengalir deras. Sesak rasanya mengucapkan semua kalimat itu. Akan tetapi yang lebih menyesakannya lagi adalah penolakan Chandra yang tidak ingin menyentuhnya sama sekali.
"Semuanya bohong , waktu tidak bisa merubahmu untuk mencintaiku, meski selama ini aku mencintaimu. Kebencian yang tertanam dalam hatimu akan tetap menjadi bibit kebencian, tidak akan mungkin menjadi cinta.
Entah cintaku yang begitu besar atau aku yang terlalu bodoh, mencintai seseorang yang tidak ingin dicintai, bukankah ini akan menjadi cinta yang sia sia.
Mengapa ? Mengapa harus aku yang mencintaimu ? Mengapa aku memiliki hati yang setia, setia mencintai seseorang yang seharusnya tidak pernah aku cintai. Kenapa kita harus bertemu. Tak mengapa jika nanti kita dipisahkan setelahnya dipersatukan. Ini.. Bahkan kita tidak pernah disatukan. Mengapa ? Tolong siapa saja jawab aku ?
Aku ingin membencinya agar aku benar benar bisaa melupakannya. Agar aku bisa menjalani kehidupanku dengan tenang.
Biarlah tidak mengapa aku mencintaimu sepenuh hatiku Chandra, aku masih berharap akan ada seseorang yang bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu, dikehidupan nanti.
Tulus tidak membutuhkan balasan. Bodoh aku memang orang bodoh, kenapa bisa hatiku sebesar itu. Aku sekarang sangat membutuhkan balasan itu, aku ingin dicintai juga. Aku ingin seperti mereka, apa mungkin aku tidak layak ? Tidak layak untuk dicintainya, aku tahu aku seperti ini mana mungkin kau bisa mencintaiku, melirik ku saja bahkan kau tidak ingin." Gadis itu benar benar frustasi sehingga mengoceh sendiri dan ditemani derainya air mata. Dia meluapkan segala uneg unegnya yang terpendam selama ini dengan emosi yang dimilikinya sekarang..
" Aku lelahh, aku lelah berjuang sendiri dalam hubungan ini... Hu huhu huhu..." tangisnya kembali membuncah.
" Kini sekarang aku harus belajar tuk melupakannya. Lupakan semua yang terjadi, lupakan jika didunia ini pernah ada dia didalam kisahmu, lupakan semua perasaan yang semu ini, semua ini hanyalah fatamorgana, ilusi semata. Dan kenyataannya dia adalah mimpi, hanya orang orang yang menurutnya layak untuk mendapatkannya. Kau , kau sendiri bahkan tidak masuk dalam daftarnya. Sadar itu Andini sadarlah.. Hu hu hu..."
"Hari esok adalah hari terakhir aku bersamanya, maafkan aku ayah, aku sudah tidak bisa lagi bersama Chandra. Aku kecewa terhadap diriku sendiri, semua ini memang salahku. Aku memaksakan orang yang jelas tidak mencintaiku. Huh.. Andini kau orang yang paling bodoh didunia ini. Bodoh sekali." Andini terus mengoceh sendiri sambil menangis tersedu sedu, dalam pikirannya terngiang awal pertemuannya dengan Chandra sampai sekarang dia menjadi isterinya.
Selama ini dia telah bersabar dalam mempertahankan cintanya dan rumah tangganya. Tidak disangka besok adalah akhir dari perjuangannya selama 5 bulan pernikahan dan 11 tahun mencintai secara diam. Sungguh sebuah cinta yang miris dan selalu berujung dengan tangis.
Tak terasa malam itu kini sudah berganti menjadi pagi, jam sudah menunjukan pukul 3.25 dini hari. Andini tidak tidur semalaman, wajahnya sudah menjadi sembab karna air yang mengalir tiada henti, tenggorokannya pun sudah mulai terasa kering dan pahit, haus tentu juga dirasakannya. Dan akhirnya, dia memaksakan diri untuk mengambil air minum didapur.
Ketika sampai di dapur dia mengambil gelas. Samar samar dia mendengar suara seorang perempuan yang sedang berbincang dengan ponsel, entah siapa orang yang berada di dalam telpon tersebut.
"Loe harus tabrak dia. Gue gak mau tau, dia itu harus mati kaya bokapnya. Sebentar lagi dia bakal ada kunjungan ke perusahaannya yang ada di Surabaya. Jadi ini kesempatan kita buat eksekusi dia" perintah Laura pada seseorang disebrang sana.
"..."
"Loe kayak gak kenal gue aja, soal harta gampanglah. Gue masih ada cara lain, dan tentunya loe juga bakal kebagian kalau kerja loe cakep dan juga bersih. Intinya loe tenang aja soal itu, dan pastiin Chandra harus mati.."
__ADS_1
Praaaayy...
Gelas yang sedang di pegang oleh Andini langsung terlepas dari genggamannya. Pecah menjadi kepingan kepingan beling yang tajam. Terkejut mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Laura.
"Andini.." Begitu juga dengan Laura yang tak kalah kagetnya.
"Siapa sebenarnya kamu Laura ?" Pertanyaan itulah yang pertama Andini tanyakan.
"Aku .." Laura tersenyum sinis sambil menunjuk dirinya.
"Katakan Laura siapa kamu, apa rencanamu terhadap Chandra" tegasnya.
"Untuk apa kamu tahu semuanya. Lagi pula ini semua menguntungkan kamu. Bukankah dia selalu menyiksamu ?" sangkalnya.
"Itu bukan urusan mu karena ini adalah kehidupanku. Yang menjadi urusannya sekarang adalah apakah kamu ingin membunuh Chandra."
"Yaa Andini.. Aku ingin membunuh Chandra" bentaknya.
Andini terkejut bukan main, permasalahannya beberapa jam yang lalu seketika dilupakannya begitu saja.
Bugh ....
Dengan tanpa sengaja dia mendorongnya hingga Andini jatuh dan kepalanya terbentur di siku meja.
Seketika Andini langsung pingsan dengan kepalanya yang berlumuran darah. Darah itu mengalir deras seakan tidak mau berhenti.
"Andini.." lirih Laura yang sudah ketakutan melihat darah Andini.
" Andini.." Chandra berteriak, rupanya sedari tadi dia melihat kejadian terbenturnya Andini.
"Andini... " Chandra pun langsung menghampirinya. Melihat Andini yang berlumuran darah, dia pun terkejut.
"Kamu apakan Andini hah.." bentaknya kepada Laura.
"Aku aku tidak apa apa kan dia, dia yang mencoba menyerangku Chandra" kilahnya. Dia mengucapkan kata kata itu dengan sangat manis agar Chandra mempercayainya.
"Bohong kamu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu yang mendorongnya." Chandra mendekatinya dan menunjuk nunjuknya.
__ADS_1
Laura tersenyum sinis..
"Ouhh jadi kamu melihatnya, bagus itu bagus untukmu. Kamu memang pantas untuk ditinggalkan olehnya, lihat bahkan Andini saja sudah pergi meninggalkanmu." Laura tersenyum sinis. Auranya sudah berubah yang semula adalah kelinci sekarang sudah menjadi siluman rubah.
"Andini..." Chandra pun sadar dan menghampirinya lagi. Andini sudah kehilangan banyak darah. Dia menghampirinya dan memangku Andini ala ala bridal style.
"Andini.." lirihnya lagi. Dia mulai panik dengan keadaan Andini yang tak mau sadarkan diri.
"Jika Andini sampai kenapa napa, Aku tidak akan pernah melepaskanmu Laura" ancamnya, sebelum dia pergi meninggalkan rumah itu menuju rumah sakit untuk mengobati Andini.
"Andini.." lirihnya lagi ketika dia sudah berada didalam mobil. Dan mendudukannya di depan tepat samping kursi kemudi.
Kemudian dia menelpon Rendi untuk segera mengurusi Laura, dan mencari tahu siapa sebenarnya Laura ?
Setelah itu..
"Shiiiiit... Ini semua adalah salahku. " Chandra memukul stirnya, frustasi.
"Wanita itu, siapa dia sebenarnya. Ini bukan akhir yang aku inginkan Andini.. Andini kamu harus tetap hidup, jangan pernah tinggalkan aku" ucapnya sambil mengelus pipi Andini yang sudah terlumuri darahnya sendiri.
Entah apa yang terjadi dengan Chandra. Mungkin kejadian beberapa jam yang lalu yang menurut sebagian orang adalah kejadian memalukan itu kini sudah mulai sedikit demi sedikit merubahnya. Dia tidak ingin Andini meninggal begitu saja. Dia harus sesegera mungkin cepat sampai rumah sakit, karena darahnya masih tidak mau berhenti.
Didalam perjalanan itu dia selalu memegang Andini, seolah olah dia tidak memperbolehkan Andini pergi.
Bersambung...
Maafin Prichiilla ya guys, hehe..
Gak jadi kepengadilan. Katanya libur
Jadi Andini nya mau di off in dulu..
Kelelahan berjuang sendirian hoho..
Eits .. Jangan kabur dulu dong.. nanggung dong . stay on my novel terus yaa huhu.. Big love buat kalian cintaku hanya padamu ..
Jan lupa dukung oce. Aku tunggu.. π muach.
__ADS_1