Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Berpulang...


__ADS_3

...كل نفس ذاءقة الموت...


...Tiap tiap yang bernyawa akan merasakan mati...


...QS. Ali-Imran : 185...


...Semua yang ada didunia ini pasti akan pergi baik itu benda, hewan, maupun manusia. Janganlah terlalu terikat pada apa yang ada didunia ini....


...***..**..**..**..**..***...


Biip biip biippp.


Ponsel Andini berdering nyaring tertera nama ayah mertua.


"Hallo dengan Nona Andini ?"


"Iya saya Anda siapa ?" tanya Andini heran.


"Ini dari pihak Kepolisian ingin memberitahukan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakan dan sudah di bawa ke rumah sakit Indah Bersama" ucap polisi disebrang sana.


"Apa... Innalillahi Ayah, bagaimana bisa Pak " tanya Andini khawatir.


"Kami pihak Polisi sedang menginvestigasi, mohon Nona segera ke rumah sakit kemungkinan korban mengalami banyak kekurangan darah."


"Baik Pak saya akan segera kesana, terimakasih Pak atas pertolongannya " ucap Andini sambil menutup sambungan teleponnya.


Dia segera masuk kedalam mobilnya menuju ke rumah sakit dimana ayah mertuanya dirujuk. Dia mengendarai mobilnya sedikit ngebut karena jarak rumah sakit dan rumahnya yang lumayan jauh. Beberapa kali dia menghubungi papanya, Chandra dan juga lainnya namun tidak ada satupun teleponnya yang diangkat.


"Ya Allahh.. Ayahh... Bagaimana ini ka Chandra, Papah kenapa mereka tidak mengangkat telponku semua" gumamnya. Kemudian dia memberhentikan mobilnya dan mengetik sesuatu di ponselnya untuk memberitahu bahwa ayah mertuanya masuk ke rumah sakit, tak lupa dia juga memberi tahu rumah sakit mana ayahnya dirujuk, agar nanti ketika pesannya terbuka mereka langsung bisa menyusulnya.


Akhirnya dia tiba dirumah sakit tersebut dan langsung menanyakan kepada resepsionis tentang dimana keberadaan ayah mertuanya sekarang.


"Mbak saya mau tanya ruangan atas nama Hermawan yang baru saja mengalami kecelakaan dimana mbak ?" tanya Andini dengan nada terburu-buru.


"Oh beliau sedang dirawat diruangan Melati nomor 4 lantai dua" jawabnya.


"Terimakasih mbak " ucap Andini. Dia pun segera mencari ruangan tersebut.


"Ayah " ucapnya ketika baru saja tiba. Dan melihat Hermawan sudah terbaring lemah dengan alat bantu menghirup oksigen yang sudah menempel menutupi hidungnya.


"Permisi, apakah Nona ini anaknya ?" tanya dokter muda bernama Rio.

__ADS_1


"Ahh saya menantunya dok, bagaimana keadaan ayah mertua saya ?" tanya Andini.


"Keadaannya cukup kritis karena banyak sekali kehilangan darah, untung pihak Kepolisian dengan cepat membawanya kemari. Masih ada satu orang lagi yang dibawa kemari bersama mertua Nona, dia masih muda dan berada diruang sebelah " ucap dokter tersebut.


"Boleh saya lihat dok" ucap Andini.


"Ya silahkan. Mari..." ucap Dokter Rio kemudian mengajaknya keruangan sebelah.


"Apa Nona mengenal orang ini ?" tanya Rio.


"Saya kenal, dia adalah Rendi. Bagaimana keadaan dia dok" tanya Andini.


"Dia hanya cedera ringan saja, apa dia suami Nona" tanya Dokter Rio.


"Ahh.. bukan .." ucap Andini singkat.


"Ohh " jawab dokter itu tergurat sebuah senyum manis di bibirnya, entah apa yang sedang dipikirkan oleh dokter itu. Saat melihat Andini dia terus memandang wajahnya tanpa henti.


"Baiklah saya permisi dulu , yang sabar ya" pamitnya, kemudian Dokter Rio pun pergi meninggalkan Andini sendiri diruangan itu.


Setelah melihat Rendi yang juga sama-sama belum sadarkan diri, Andini kembali melihat ayah mertuanya. Jari telunjuk ayahnya mulai bergerak pertanda dia sudah sadar dari masa kritisnya dan itu disadari oleh Andini.


"Ayahh..." lirih Andini memanggil ayah mertuanya.


"Na ak" ucap ayahnya lemah.


"Ayah sebentar yah dokter akan segera datang" ucap Andini panik.


"Naak.. uhuukk.. "


"Ayah ing ngin men donor kan jan tung a yah un tuk pa pa mu, to long te rima jan tung a yah uhuukk.. A yah sudah men daftar kan diri se bagai pen donor un tuk pa pa mu."


"Ayahh... tidak ayah, ayah harus sembuh..." Andini terisak tangis mendengar ucapan ayah mertuanya.


Tak lama dokterpun datang dan langsung memeriksa keadaan Hermawan. Akan tetapi kali ini bukanlah Dokter Rio seorang melainkan ada dokter lain yang sudah berkepala empat ikut menemaninya.


"Mbak tolong mbak keluar dulu sebentar, kami akan berusaha semampu kami" ucap seorang suster seraya menggiring Andini untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Ayaaah..." teriak Andini sambil menangis.


"Tolong tolong saya ingin bersama ayah saya" tambahnya lagi.

__ADS_1


"Tidak bisa mbak, sebaiknya mbak diluar dulu ya" ucap suster tersebut kemudian menutupkan pintunya untuk segera mengambil tindakan pertolongan kepada pasien.


Beberapa saat yang lalu ditempat yang sama yaitu rumah sakit namun berbeda daerah. Chandra yang ketiduran menunggu Bella tidak mendengar adanya panggilan dari Andini, namun ketika sudah bangun dia dikagetkan dengan notifikasi beberapa panggilan telepon dari Andini dan sebuah pesan yang memberitahukan ayahnya sekarang sedang berada dirumah sakit karena kecelakaan mobil.


Chandra langsung berlari tergopoh-gopoh dari ruangan Bella tanpa sempat menitipkan Bella kepada suster yang biasa merawatnya. Dia begitu khawatir dengan keadaan ayahnya, dia menancapkan gasnya dan menambah kecepatan laju mobil agar dia sampai cepat ke tempat tujuannya.


Beberapa menit kemudian dia sudah tiba di rumah sakit dan melihat Andini yang sedang menangis dengan dirangkul oleh Agas papanya dan Rendi terkulai lemas dengan luka yang sudah di balut di bagian kepala dan juga ditangannya.


"Dimana ayah Ren" ucap Chandra dengan nada mengintimidasi. Karena yang dia tahu Rendi adalah orang terakhir yang bersamanya.


"Tu tu tuan sedang berada didalam" ucapnya takut melihat Chandra, bagaimanapun dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi tuannya dari kecelakaan yang terjadi padanya.


Ceklek ... Pintu ruangan itu dibuka oleh seorang suster yang menggiring Andini. Dan semuanya menghampiri suster tersebut.


" Ada yang bernama Andini " tanya suster tersebut. Dan mereka semua pun mengangguk menandakan ada.


"Pasien ingin bertemu dengan Anda , mari ikut saya." Andini langsung mengikuti suster tersebut.


"Ayahh...." ucap Andini dengan lirih.


"And dini .." ucap Ayahnya seraya memaksakan diri untuk tersenyum.


"A yah ti tip Chan dra, ja ga dia, ma af kan se gala ke sala han nya demi Ayah. Ayah a kan men donorkan jan tung a yah" ucapnya lemah dan terbata.


"Dok ter Su ba te man ku, aku min ta to long untuk seg gera meng am bil jan tung ku dan beri kan ke pada ayahnya" ucapnya sambil memegang erat tangan Dokter Suba, seperti perkataannya Dokter Suba adalah temannya sekaligus dokter yang sangat dia percayai. Kebetulan Dokter Suba sedang berkunjung kerumah sakit tersebut, mendengar bahwa pasien itu bernama Hermawan beliaupun langsung bergegas ikut memeriksa.


"Re kam medis nya di Asis ten sa ya, tolong..." ucapnya terhenti seiring dengan matanya yang memejam, hilangnya denyut nadi dan berhenti pula nafasnya.


"Pak Hermawan... Pak Hermawan Innalillahi waninna ilaihi rooojiuun" ucap Dokter Suba.


Dreeeeettt.. Bunyi alat yang dipasang yang terhubung dari tubuhnya.


"Ayaaaah..." teriak Andini dia menangis tersedu sedu melihat kepergian ayah mertuanya.


Huhuhuhuhu.


Semua orang yang berada didepan ruangan tersebut kaget mendengar teriakan Andini pun langsung masuk ke ruangan tersebut. Dan semuanya terlambat mereka tidak dapat melihat detik-detik kepulangan Hermawan.


"Wan wan... " ucap Agas sambil menepuk kaki Hermawan.


"Ayahhh...." teriak Chandra, begitupun dengan Asisten Pribadinya, Rendi diapun berteriak " Tuan, tuan bangun tuan.."

__ADS_1


Air mata mereka terus berjatuhan seperti hujan yang deras tak terhitung bulir tetesannya, siapa yang tidak bersedih atas kepulangan seseorang yang disayanginya. Pergi begitu saja tanpa pamit, membuat semua orang begitu terkejut. Pada dasarnya memanglah ajal tidak akan pernah bisa ditebak, ajal akan datang menghampiri setiap insan yang bernyawa dengan waktu yang telah ditentukan tanpa menyiapkan kesiapan hati terlebih dulu.


Bersambung...


__ADS_2