Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
ATKMAMKT


__ADS_3

Aku Tidak Kamu Mau Aku Mau Kamu Tidak


Dalam waktu yang sama, setelah beberapa jam tidur akhirnya Nina pun sudah sadar. Dia mengedarkan pandangannya, atas putih, depan putih cokelat disampingnya terdapat ibunya yang sedang tidur dengan memegang erat tangannya.


Dilengan kanannya terdapat jarum yang menusuknya dilengkapi dengan selang berisi cairan, dibatang hidungnya dia merasakan benda asing menempel dibalut dengan plester cokelat. Diingatnya kembali kejadian yang menimpanya kemarin, kepalanya sedikit merasakan sakit.


"Nina.." ucap Ibunya yang baru saja bangun.


"Bu.. Nina dimana ?" lirihnya.


"Kamu dirumah sakit, kemarin kecelakaan dan mengalami patah tulang hidung tapi sekarang udah gak apa apa kamu udah di operasi" ungkapnya. Memanglah sifatnya seperti itu selalu berterus terang.


"Di operasi ?" kagetnya.


"Assalamualaikum" salam Michell yang baru saja tiba.


"Ehhh Nak Michell Waalaikum salam" balas Ibunya.


"Hai Nin..!" sapanya disertai dengan senyum manisnya. "Gimana udah baikan ?" tanyanya kemudian.


"Hemm..." jawabnya singkat.


"Kenapa ada dia disini, dari dulu aku coba ngelupainnya tiba tiba dia datang kesini, pake senyum segala lagi humph" batinnya.


"Eee.. Ibu cari makan dulu ya Nak, dari semalem Ibu laper adik kamu juga belum datang datang."


"Iya Bu, hati hati" ucap Nina.


"Ngapain kamu kesini ?" ucap Nina dengan nada sedikit ketus namun suaranya pelan.


"Aku aku pengen periksa keadaan kamu, kan aku dokter kamu sekarang" ucapnya disertai dengan senyum seringai.


"Hish " desisnya. Nina merasakan gatal di hidungnya, dia ingin sekali menggaruknya.


"Eh. Jangan dipegang dulu hidung kamu, kan baru aku perbaiki. Emang akan ada rasa aneh tapi ini cuman beberapa minggu kok" ujarnya.


Nina memalingkan wajahnya, dia tidak ingin melihat Michell. Dia khawatir semua usahanya untuk melupakan Michell tiba tiba saja gagal hanya karena memandang wajahnya.

__ADS_1


"Nin.. Maafin aku yah kalau aku punya salah. Aku gak mau terus kamu diemin kaya gini, gak enak tau" ucapnya memelas.


"Emang kamu ngerasa punya salah ?" ketus Nina.


"Ya siapa tau, ya kan kita udah lama gak ketemu, ketemu ketemu kamu udah kaya gini, dengan bibir yang lebih seksi" celetuknya.


Nina menatapnya jengah bibirnya yang sudah jontor itu dimajukannya lagi, "Enak saja dia katain aku kaya gitu, awas aja kalau aku udah sembuh." batinnya menjerit.


"Ngomongin apa itu dihati, jangan sering ngumpat orang gak baik tau gak. Udah kena musibah juga masih aja ngumpat orang."


"Sok tau kamu.."


Krucek krucuk.


Suara perut Nina menggema memecahkan keheningan yang sempat terjadi. Diapun memegang perutnya yang terasa sedikit panas.


"Haha.. Kamu lapar ? "


"Udah tau nanya lagi, kan aku dari kemarin belum makan makan."


"Oh ya, kuat banget kamu. Tapi sayangnya kamu abis operasi kalau belum keluarin gas, usus kamu berarti belum jalan, kalau kaya gitu nanti kamu muntah kan berabe" ucap Michell.


"Masa, sini aku periksa dulu." Michell baru saja ingin menyingkap bajunya.


"Kamu mau ngapain ?" Nina langsung sedikit menggeser tubuhnya.


"Periksalah."


"Tapi kan jangan buka baju juga."


"Terus aku periksanya gimana ?"


"Aku udah kentut tadi" ucapnya serius.


"Nina, kamu baru aja dibius total gimana kalau kamu lupa kamu udah kentut atau belom" jelas Michell.


"Chell aku itu udah sadar dari tadi, aku udah kentut" ucapnya memelas.

__ADS_1


"Ninaa kalau kamu bohong akibatnya fatal buat kamu" ucap Michell menakut nakuti.


"Aku periksa ya, tenang aku gak bakal lihat atasnya kok, cuman perut ya kali aku nyalahin kode etik dokter" candanya sembari mengedipkan salah satu matanya.


"Awas kamu" ancamnya.


Michell pun akhirnya bisa memeriksa keadaan Nina, dia mengetuk ngetuk kiri kanan perutnya, dan menempelkan stetoskop ke perutnya. Tak lama Suster pun datang dengan membawa beberapa alat suntikan, obat serta cairan infus.


"Permisi Dok, Mbak" ucap Suster itu. Kemudian dia melakukan tugasnya mengganti cairan infusan dan menyuntikan cairan obat ke dalam cairan infusan tersebut.


Tak lama kemudian ada lagi seorang Dokter yang akan mengambil sampel darahnya. Nina pun memejamkan matanya karena takut melihat jarum jarum itu menusuk dirinya.


"Tenang !" Kata itulah yang terucap dari bibir Michell. Satu kata itu pula membuatnya lupa akan rasa sakit yang kini sedang dirasakannya.


Sesaat setelah semuanya selesai " Ajaib، aku gak ngerasa apa apa" batin Nina, dia jarang sekali sakit sampai harus di suntik jadi dia tidak pernah tahu jika sebelum disuntik, areanya akan diberi alkohol terlebih dahulu.


"Yaudah makan yuk, aku udah dibawain bubur nih. Kalau nunggu makanan dari rumah sakit masih lama sekitar 30 menit lagi dan itu buburnya cuman sedikit gak bikin kamu kenyang" terang Michell.


"Enggak"


"Aaa... Aku suapin." Tangannya sudah menyodorkan sendok kedepan mulut Nina.


Nina pun akhirnya menerimanya, dan memakan bubur dari tangannya itu. Michell menekan tombol agar Nina sedikit lebih duduk dari hospital bed-nya.


"Suapan terakhir" ucap Michell ketika bubur itu hanya tinggal ada disendok.


Kini bubur itu semuanya sudah habis di makan oleh Nina bahkan Michell pun tidak memakannya sedikitpun.


Hatinya sedikit tenang ketika Nina mau menerima makanan dari tangannya. Desir perasaan bersalah yang ada dihatinya sedikit berkurang. Entah kini perasaan apa yang hinggap dalam hatinya, diapun ragu apakah ini cinta atau sekedar sayang terhadap sahabat.


"Yasudah kamu sudah makan, sementara aku masih lapar, aku keluar dulu. Sampai nanti " pamit Michell dilengkapi dengan senyuman manisnya. Dia pun beranjak dari kursinya dan keluar. Tak lama kemudian Ibunya kembali keruangan Nina.


Dari mulai perasaan nyaman, akan terbentuklah perasaan cinta. Buatlah orang terkasih merasa nyaman ketika bersamamu mungkin itulah satu jalan untuk meluluhkan hati seorang manusia. Tapi janganlah kau dengan beraninya membuat orang lain nyaman berada didekatmu jika suatu saat nanti kau akan mengusirnya pergi.


bersambung...


jangan lupa like, komen, vote, rate 5, share dan tekan love

__ADS_1


terimakasih.


__ADS_2