
" Hallo Don. Dimana sekarang" ucap Chandra yang kini sudah berada dirumah sakit tempat Agas dirujuk.
"..."
"Baik, tunggu aku." Chandra berlari menuju ruangan yang dikatakan oleh Doni.
Sesampainya disana dia melihat mertuanya sedang tertidur diatas kasur yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Kondisinya memang belum sepenuhnya stabil sebulan yang lalu baru saja dia melakukan operasi transplatasi jantung, kini dia harus mencicipi lagi kasur yang sempit itu.
Memanglah bagi orang yang sudah melakukan transplatasi jantung, perasaan seseorang itu mesti dijaga baik-baik. Tidak boleh lelah, tidak boleh banyak pikiran, tidah boleh marah, tentu saja kaget juga dilarang. Karena hal itu semua membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Mengapa Papah bisa seperti itu Don.." tanya Chandra.
"Dia, dia mendengar pembicaraan kita tadi pagi. Dia amat syok mendengar Andini koma" ucap Doni sedikit takut membuat Chandra marah.
Chandra mengepalkan tangannya begitu kuat, ingin sekali dia menghajar manusia yang kini sedang berada dihadapannya itu. Namun hal itu tentu bukanlah tindakan yang layak atas sikap ketidak hati-hatiannya.
Bagaimanapun juga yang bertanggung jawab atas kondisi Andini saat ini adalah Chandra. Ini semua adalah karena kebodohannya yang mengakibatkan orang-orang yang berada disekitarnya menderita.
"Mengapa ....?" batinnya dalam hati. Saat ini dirinya benar-benar kalut, berantakan.
****
Sedangkan di rumah sakit yang berbeda.
Suster sedang setia menunggu Nona Andini, bukan karena dia tidak bekerja yang lain melainkan karena saat ini dia sudah berganti shift. Dia sangat membutuhkan uang sedangkan Chandra sedang membutuhkan orang, dia bersedia membayar orang untuk tetap selalu berada di samping isterinya.
Siapa sangka Dokter Rio sedang melakukan kunjungan disana. Untuk membahas beberapa hal dengan dokter-dokter yang lainnya.
Ketika sudah selesai, tak sengaja dia melewati ruangan Andini. Seketika dia memundurkan langkahnya lagi. Melihat sekali lagi dan memastikan siapa orang yang sedang berada di dalam kamar itu.
"Ada apa Pak Direktur" ucap salah satu dokter kepada Rio.
Rio adalah seorang dokter muda,pintar dan juga tampan. Dia adalah pemilik dari dua Rumah Sakit. Pertama RS yang ia pijaki saat ini dan yang kedua RS yang sedang merawat Agas. Sedangkan Dokter Suba adalah pamannya yang juga wakil darinya. Mereka berdua selalu berwara-wiri diantara kedua rumah sakit tersebut.
"Saya ingin melihat pasien yaang berada diruangan ini." Karena pemilik dari rumah sakit ini dokter manapun tidak dapat berkutik selain mengikuti dirinya masuk.
__ADS_1
Ceklek
Pintu ruangannya sudah dia buka. Para Dokter itu mendapati seorang suster yang setia menunggu Andini.
"Pak Direktur" ucap Suster itu sambil menundukan kepalanya.
"Nona Andini" ucap Rio.
"Bapak kenal dengan Nyonya ini ? Beliau adalah pasien koma yang baru saja kemarin dirawat disini."
"Koma ?" Rio langsung melihat papan tulisan yang berada diujung kaki Andini.
"Dia kenapa sampai bisa seperti ini ?"
"Dia terbentur dan banyak sekali mengeluarkan darah" ungkap suster tersebut.
"Apa.." lirihnya pelan. Tidak menyangka baru saja seminggu tidak bertemu. Kembali bertemu dengan keadaan Andini yang sudah seperti ini.
"Andini apakah kamu mendengar aku ?" ucap Rio. Sedikit dia menitikan air matanya. Entah kenapa rasanya sakit melihat Andini terkujur kaku seperti itu. Dia seorang dokter dia amat tau koma itu seperti apa dan bagaimana.
****
( Duh kok Chilla yang cape yah bulak-balik mulu😥)
"Doni" lirih Agas. Dia kembali sadar setelah 30 menit lamanya pingsan.
"Iya Pak" ucap Doni yang memang sedari tadi sudah berada di ruangan itu bersama Chandra dan juga Pak Samsul.
"Bapak ingin bicara dengan menantu bapak, bisa ?" lirihnya lagi.
Dia berbicara seperti itu artinya dia hanya ingin berbicara empat mata saja dengan Chandra. Asistennya itu mengerti akan maksudnya, dia hanya menganggukan kepalanya tanda bahwa dia mengerti dan kemudian dia mengajak Pak Samsul untuk keluar.
"Nak Chandra. Maafkan papa, papa tidak bisa menjaga jantung ayah mu dengan baik. Dan juga papa minta maaf karena sudah mengambil jantung ayahmu." Agas sempat mendengar bahwa Chandra tidak menyetujui keputusan ayahnya namun karena di paksa oleh Andini jadi Agas menurutinya begitu saja.
"Pah.. Aku yang seharusnya minta maaf bukan Papah."
"Tidak Nak, papah yang begitu egois. Maafkan papah."
__ADS_1
Chandra tersentak mendengar perkataan mertuanya itu, benar dia merasa bahwa dia yang sangat egois. Lama sekali keduanya nampak diam. Chandra tidak tahu harus berbicara apalagi. Merasa bersalah atas apa yang dia telah lakukan.
"Chandra.. Bagaimana keadaan Andini ?" tanya Agas. Dia masih mengkhawatirkan putrinya itu yang kini kondisinya sedang berada diantara hidup dan mati.
"Mm.. Dia..." Chandra tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena Andini belum juga menunjukan akan sadar atau tidak. Kondisinya masih sama seperti kemarin.
"Papa yakin walaupun dia wanita tapi dia adalah wanita yang kuat sama seperti mamanya, tidak ada bedanya. Lembutnya, sabarnya, tenangnya, cantiknya, pintarnya dia anak papa yang paling papah sayangi. Papa teringat dengan masa lalu saat dia masuk SMP dia menyukai seseorang. Kata mamanya semenjak dia sekolah SMP dia menjadi semakin rajin, rajin belajar juga rajin membantu mamanya. Lambat laun akhirnya kami mengetahui kenapa dia menjadi tambah rajin, dia menyukai teman disekolahnya."
Chandra masih mendengarkan cerita Agas.
"Pernah suatu malam papa kekamarnya, dia sedang tertidur di meja belajarnya dengan beralaskan buku dibawahnya. Papa memindahkannya ke tempat tidurnya lalu papa melihat ternyata itu bukan buku pelajaran melainkan buku diarinya. Andini memanglah anak yang introvert dia jarang sekali berinteraksi dengan seseorang. Akan tetapi jika dengan kami dia begitu cerewet. Dia tidak banyak memiliki teman. Dia termasuk orang yang kurang percaya kepada sesamanya untuk itu dia hanya bisa menuliskan keluh kesahnya dibukunya itu."
Chandra sempat mengingat kejadian dimasa lalu. Dia sangat sering melihat Andini memainkan buku, mencoret-coret buku. Tapi dia tidak pernah tau apa isi buku itu dia juga tidak pernah ingin tahu. Karena hampir seluruh teman-temannya tahu jika Andini menyukainya. Entah siapa yang pertama kali menyebarkan gossip itu sehingga membuat Chandra malu, karena selalu dipojokan.
"Ayah melihatnya disana ada foto seorang anak laki-laki yang dia tempel dibuku itu. Lalu dibawahnya tertuliskan tanda love dan terdapat nama dibawah love itu. Namanya Chandra."
Deg..
Jantungnya terasa berdegup. Hatinya berdesir desir. Ada rasa malu ketika namanya disebut.
"Iya Nak, putri papa sudah lebih dulu menyukaimu. Papa awalnya marah kepada anak itu, papa kira dia sudah pacaran, papa sangat melarang putri papa berpacaran. Tapi mamahnya berkata bahwa kalian tidak berpacaran. Andini memang menyukaimu tapi dia tidak ingin berpacaran denganmu, dia menjadikanmu sebagai salah satu alasan untuknya lebih semangat lagi dalam belajar. Papa mencoba mempercayainya, benar saja putri nakal papa itu selalu mendapatkan juara. Dia tidak pernah absen dalam kejuaraan."
Benar bahkan akupun kalah oleh putrimu pah. Dia gadis yang pintar, batin Chandra.
"Setelah itu papa pernah melihat Hermawan dan kamu yang waktu itu masih kecil. Papa menjadi ingat bahwa kamu itu adalah teman Andini. Papa ingin menyapa Hermawan kala itu tapi ayahmu lebih dulu pergi meninggalkan tempat itu. Tahun ke tahun kami tidak pernah bertemu lagi. Untuk awal kami bertemu lagi itu diperusahaan papa. Ayahmu meminta bantuan karena perusahaannya yang sedang kolaps. Papa pun memberikannya bantuan namun dengan syarat, kamu harus menikahi Andini."
"Maafkan papa melakukan itu, memaksa kamu untuk menikahi putri papa. Kala itu papa hanya berpikir bahwa Andini musti mendapatkan apa yang menjadi kebahagiannya. Dan kebahagiannya ada bersamamu. Tapi tak menyangka Hermawan pun menyetujuinya. Dan akhirnya kalian sekarang menjadi sepasang suami isteri. Papa menjadi lega sekarang, merasa tidak terbebani lagi, dan merasa tugas papa sudah selesai menikahkan putri papa dengan orang yang paling di cintainya."
Chandra menunduk sangat sangat merasa bersalah kepada Andini dan juga Agas. Selama ini dia selalu menyia-nyiakan cinta Andini dan juga kepercayaan mertuanya. Namun semuanya sudah seperti terlambat. Andini sedang dalam koma entah kapan dia akan sadar dari komanya itu.
"Papa yakin kamu adalah laki-laki yang baik juga bertanggung jawab. Papa ingin kamu selalu menjaganya seperti papa dan papa juga ingin kamu selalu berada disampingnya hidup bersama sampai ajal menjemput. Bolehkah papa meminta itu dari kamu ?" tanya Agas dengan menatap lekat mata Chandra seperti sedang memohon dengan sangat.
"Baik pah." Air matanya kembali menghujaninya. Dia memeluk mertuanya itu.
"Papa harus kuat, agar ketika Andini bangun dia langsung melihat Papa" ucapnya. Chandra memanglah Chandra tidak bisa berucap yang lebih manis lagi.
Bersambung....
__ADS_1