
Hari ini Andini sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter. Kondisi fisiknya sudah mulai membaik. Namun amnesianya masih melekat dalam dirinya. Entah sampai kapan penyakit itu akan hinggap dalam dirinya. Awalnya Chandra merasa sedih tapi kembali lagi kepada pikirannya yang selalu berpikir bahwa ini semua adalah ulahnya. Dan akhirnya dia harus bisa menerima apa yang sudah ditakdirkan kepadanya juga isterinya.
"Don sebaiknya Andini tinggal dirumah Papa saja, lagi pula dia hanya mengingat kenangan masa kecilnya. Mudah-mudahan dengan begini dia bisa mengingat secara perlahan tentang dirinya yang sebenarnya."
"Benar Chan.. Memang sebaiknya kita membawa dia kerumah bapak, dan juga disana ada Bik Sri, aku pernah mendengar bahwa Bik Sri sudah ada disana ketika dia baru berumur lima tahun" jelasnya.
"Itu bagus... Oh iya aku akan pergi kerumah dulu untuk membawa pakaian Andini juga pakaianku dan berkas-berkas perusahaan."
"Baiklah..."
Kemudian Chandra berangkat lebih dulu menuju rumahnya. Begitu pula dengan Doni, dia pun langsung membawa Andini pulang kerumah Agas. Andinipun langsung menurut ketika dia sudah mendapatkan permen juga eskrim yang dijanjikan kepadanya tempo hari yang lalu.
"Kaka.. Kita akan pulang ?" ucap Andini. Dia duduk di belakang kursi kemudi.
"Iya And kita akan pulang... "
"Wah aku rindu rumah, apakah Papa dan Mama sudah pulang..." ucapnya dengan girang.
"Eumm soal itu... anu...sepertinya belum And.. Sabar ya mungkin mereka sedang sibuk jadi tidak menghubungi kaka." Doni mencoba mencari alasan agar mudah dipercayai oleh Andini.
"Iya.. Oh iya kaka itu kemana kok aku gak liat dia sih. Udah beli permen pergi gitu aja .." celetuknya.
"Mmm.. Kamu kangen yah sama kaka itu.." goda Doni.
"Engga, aku belum bilang makasih udah beliin aku lolipop sama paddelpop."
"Gitu doang..." ucapnya disertai senyum seringai.
"Ih kaka apaan sih, becandanya aneh." Kali ini Andini sudah memasang wajah yang cemberut.
Setelah beberapa menit menyusuri jalan akhirnya mereka sudah tiba dirumah Agas, Papa Andini. Baik itu Bik Ijah, Bik Sri maupun Mang Samsul mereka sudah diberi tahu tentang kondisi yang diderita oleh Andini saat ini. Mereka juga sudah diberi tahu untuk tidak mengungkit-ungkit soal Agas dan Dilla didepan Andini.
Chandra melakukan hal itu semata-mata untuk kebaikan mental Andini. Bagaimanapun saat ini Andini bagi dirinya sendiri adalah seorang anak kecil begitupula dengan perasaan yang dirasanya.
"Selamat datang Nona.." ucap Bik Sri menyapa Andini yang baru saja turun dari mobil.
"Bibi...." teriaknya dia begitu bahagia bertemu dengan Bik Sri yang juga mengurusnya sedari kecil.
"Bik akhirnya aku bisa pulang kerumah ini.. Huh aku rindu rumah ini bik juga suasananya yang tenang dan tidak bau obat" ucapnya sambil berjalan menuju sebuah sofa.
"Bibi juga rindu Non, kata bibik kapan Non pulang, kapan Non pulang dan akhirnya Non pulang juga. Bibi sudah banyak menyiapkan makanan kesukaan Non. Semuanya sudah lengkap dan tersaji di meja makan. Ayo Non makan dulu.."
__ADS_1
"Tidaklah Bik, aku tidak mau aku belum berselera. Oh iya Bik aku lihat disini sudah banyak orang. Kapan Papa merekrut orang-orang itu.." ucapnya polos.
"Mereka baru saja direkrut" ucap Chandra yang baru saja tiba dengan membawa tiga koper besar dibantu oleh Mang Samsul.
"Kaka... Kemarilah duduk. Ini rumah orang tuaku." Chandrapun mendudukan dirinya dihadapan Andini..
"Aku ingin berterimakasih karena sudah membelikan ku permen juga eskrim. Terimakasih kaka.. Sekarang kaka boleh pulang. Aku sudah ada Bik Sri disini..." ucapnya santai.
Deg..
Perkataannya seketika saja membuat Chandra tertegun. Memang benar ini adalah rumahnya tapi dia juga suaminya, bukan ???.
"Beginikah rasanya diusir..." Pikirnya.
"Ah... Sebenarnya kaka juga tidak ingin tinggal bersama anak nakal seperti mu, mmm tapi apa boleh buat sekarang kaka bertugas untuk menjagamu" ucap Chandra sedikit menetlalisir kekacauan dihatinya.
"Jadi.." Chandra menghampirinya dan berjongkok tepat dibawahnya.
"Mau tidak mau, suka tidak suka kaka akan tinggal disini bersamamu dan lainnya" ucapnya kemudian seraya mencuil ujung hidung mancung Andini.
"Ishh.. Kaka yang nakal, main pegang-pegang." Tangan Andini bersiap mencubit lengan Chandra. Namun Chandra sudah lebih dulu kabur..
Merekapun berlari-larian layaknya benar-benar seorang anak kecil. Mengejar satu sama lain. Suara tertawa Chandra juga Andini yang sama-sama terdengar seperti tidak memiliki beban sekalipun. Terkadang Chandra juga berpura-pura tidak akan berlari, tetapi setelah Andini mendekatinya dia kembali berlari lagi. Sampai...
"Andini..." Chandra langsung menghampiri isteri kecilnya itu. Dengan cemas dia memandang Andini. Sedangkan tangannya sudah memegangi kedua bahunya.
"Aww... Sakit sakit..." Kali ini Chandra meringis kesakitan akibat dicubit oleh Andini...
"Kamu ya.."
"Haha.. Wleeee.." Andini menjulurkan lidahnya mengejek Chandra. Keduanya saling tertawa...
"Ayoo makan, kau sudah lapar bukan" ajak Chandra. Yang sudah bisa mengusai deru nafasnya.
"Tidak.. Aku akan pergi lebih dulu.." Andini langsung berlari lagi karena tidak ingin ditangkap oleh Chandra.
Siang itu mereka makan bersama, baik Chandra maupun Andini mereka tertib dalam acara makan tersebut. Tidak ada suara dari mereka juga tidak ada suara dentingan dari sendok ataupun garpu karena mereka makan menggunakan tangan mereka sendiri. Menu masakan hari ini adalah masakan sunda tapi tanpa sayur asem. Karena Bik Ijah dan Bik Sri lupa membeli sayurπ.
Setelah makan mereka kembali ke atas, kekamar mereka masing-masing. Chandra menempati kamar yang pernah ditempati oleh Agas. ( Hayoo lu Chand.. Malem-malem nanti pak Agas datang π»π») Karena kamar itulah yang paling dekat dengan kamar Andini.
Sungguh pernikahan seperti apa yang mereka jalani ini, sudah menikah selama tujuh bulan namun belum pernah tidur bersama. Apalagi melakukan hubungan suami isteri, jelas mereka belum pernah.
__ADS_1
Malam hari Chandra masih berguling sana berguling sini, ingin tidur tapi tidak bisa tidur. Mungkin karena selama hampir sebulan ini dia selalu tidur di sofa rumah sakit jadi dia merasa kaget ketika dia membaringkan badannya di ranjang berukuran besar.
Berusaha memejamkan tapi matanya tak pernah mau terpejam. Dia tidur terlentang, menghadapkan wajahnya keatas melihat langit-langit rumah. Dia teringat sesuatu ketika dia hendak mengambil baju Andini dirumahnya.
Secarik kertas yang ditemukan dibawah tumpukan baju Andini. Tetapi belum sempat dia membukanya sebuah telpon berdering keras...
"Iyaa.. Hallo.."
"...."
"Baik, baik ya. Terimakasih." Dia memutuskan sambungan teleponnya. Matanyapun sudah teralih pada kertas yang sedang dipegangnya.
"Sebaiknya aku bacanya nanti saja" ucapnya sambil memasukan kertas itu kedalam saku jaketnya.
Flashback selesai..
Bersambung...
...Hai semuanya othor juga readers kesayangan Chilla, cintanya Chilla. Segalanya buat Chilla. ...
...Uhh... ππ lebay yah....
...Tapi bener sih segalanya tau enggak ?...
...Oh iya happy new mounth hha....
...Happy new year nya masih sebulan....
...Dukung aku ya yang punya poin, vote dong ada kolom biru kan didepan....
...Nahh love juga soalnya update nya gak nentu kadang siang kadang malem...
...Like ...
...Komen jangan diem diem aeπ΄...
...Rate yaa masa 4.7 doang π’π’...
...Dukung aku gess. Buat beli kuota...ππ...
...Udah mah nyari sinyal di jendela, beli kuota juga ngandelin mamaπ’π’...
__ADS_1
...Menyedihkann...
...Hahaha.. Udah ahh. Curcoll nya pokoknya like, komen, love, rate, vote.. Jangan lupa subrekkππ...