Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Harta Tahta Laura


__ADS_3

...Aku cukup lama bertahan dan ternyata benar-benar tertahan dalam belenggu masalalu. Ingin melangkah namun tiada tujuan. Saat ada tujuan pun, pikiranku hanya satu, yang terbaik hanyalah kamu. Tapi yang kuasa berkata lain kamu bukanlah yang terbaik hanya baik saja. Terimakasih atas tamaran hidup ini semoga aku bisa segera siuman....


...LH...


...******...


Waktu istirahat sudah tiba. Andini langsung meraih rantang yang dibawanya pagi ini dan akan mengantarkannya kepada Chandra. Meski pada saat pagi dia menyakitinya namun dia tetap ingin Chandra memakan masakannya.


Pada saat Andini sudah tiba diruang kerja Chandra. Bukanlah Chandra yang di dapati melainkan kursi kosong yang ditingalkan oleh tuannya. Chandra sudah keluar terlebih dahulu sebelum dia sampai.


Kecewa, tentu saja. Siapa yang tidak kecewa ketika dirinya sudah bangun pagi-pagi, menyiapkan makan dan juga bekal namun tidak di makannya. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan orang lain begitu saja toh karena memang sekarang Chandra sedang sibuk dalam mengurusi perusahaan. Bagaimanapun ini adalah peninggalan satu satunya dari ibunya.


Akhirnya Andini hanya bisa memberikan bekal itu kepada Rendi. Awalnya Rendipun menolaknya karena merasa sungkan. Akan tetapi Andini memaksanya untuk menerima itu, menurutnya hal itu layak-layak saja karena Rendi pun sudah berjasa kepadanya dan juga itu hanya satu rantang makanan tidak lebih.


Setelah sepuluh jam bekerja akhirnya Andinipun memutuskan untuk pulang kerumah, sebelum itu dia membeli sayuran dan lauk pauk untuk dimasaknya.


Ceklekk


Dia membuka pintu rumahnya dan masuk lebih dalam lagi,


Pluk..


Sayuran yang ada ditangannya pun terjatuh.


Dia dikagetkan dengan adanya perempuan lain sedang duduk bersama Chandra. Cukup seksi penampilannya hanya saja pakaiannya sedikit agak lusuh, rambutnya yang kurang tertata rapi, atau itu bisa disebut dengan acak acakan.


"Siapa dia ?" tanya Andini yang baru saja tiba.


Chandrapun melihat kearahnya dan menjawab,


" Dia Laura, dia akan menjadi Sekretarisku." Katanya dengan sangat santai.


"Hah.. " Andini heran mengapa masalah pekerjaan sampai ke rumah.


"Sudah kamu jangan bengong disana, cepat masakan kami makanan yang enak." Bukannya menjelaskan Chandra malah menyuruh Andini untuk memasak.


"Tapi.."

__ADS_1


"Apa kamu tidak tahu etika kepada seorang tamu ? Cepat suguhi dia minuman dan makanan dan juga aku sudah lapar." Bentaknya kepada Andini.


"Baik." Hanya itulah kata yang terucap dari bibirnya, berharap nanti Chandra akan menjelaskannya secara rinci dari mana dia mendapatkan perempuan itu.


Andinipun sudah menuruti perintahnya. Tiba saatnya bagi mereka untuk makan. Biasanya Andini akan meninggalkan Chandra akan tetapi untuk saat ini dia tidak bisa meninggalkannya bagaimanapun disini bukan hanya ada mereka berdua.


"Laura kamu masuklah kekamar itu, itu kamar kosong, dan juga baju mu masukan saja tidak usah pergi dari sini. Dan mulai besok kamu akan bekerja diperusahaanku" ucap Chandra memecah keheningan.


"Baik mas !" jawabnya.


Deghhh...


Sontak saja membuat Andini kaget mendengar panggilan Mas dari mulut Laura. Hati Andini begitu berkecamuk orang lain menyebutnya dengan sebutan Mas sedangkan dirinya memanggilnya Kaka saja sudah dimarahi.


Andinipun menghentikan aktifitas makannya. Berharap Chandra peka terhadap perilakunya namun ternyata Chandra hanya diam saja tidak menggubrisnya sama sekali.


Setelah selesai makan Andinipun langsung membersihkan piringnya, menatanya kembali dan dia segera berlari kekamar Chandra dengan bercucuran air mata.


Ceklek.. brughh


"Andini..." ucap Chandra terkejut.


"Apa kenapa kamu marah ?" bentak Andini, emosinya sudah memuncak.


"Kamu punya sopan santun atau tidak ?" bentak Chandra.


"Seharusnya aku yang tanya sama kamu, kamu punya hati atau tidak ?" Dia benar-benar sedikit memberanikan dirinya untuk mengucapkan kalimat itu.


"Humph.. Kamu membicarakan hati, justru kamu apakah kamu punya otak atau tidak ?" Mereka saling melempar pertanyaan satu sama lain.


" Maksud kamu apa jelas-jelas disini kamu yang salah." Andini sudah tidak lagi bisa menahan amarahnya.


"Kamu membawa perempuan lain kerumah ini tanpa persetujuan dariku, kamu anggap aku ini apa ?" ucap Andini dengan nada marah ditambah isak tangis. Dia sangat kecewa dengan perlakuan Chandra. Baginya ini benar-benar kelewatan.


"Dengar Andini ini rumah aku, tanpa persetujuan darimu aku bisa melakukan apapun."


"Tapi kamu juga bisa kan tidak memberinya tempat tinggal disini ?" sanggah Andini.

__ADS_1


"Humph.. Kau pikir sewa rumah itu murah. Lagi pula disini juga luas, untuk apa aku mencari rumah lain, aku ini suami mu jadi kamu harus menuruti segala perintahku, jika kamu masih ingin menjadi isteriku maka turutilah perintahku. Dan juga jika saja kamu menyentuhnya atau menyinggungnya maka tunggu saja aku akan berbuat apa yang tidak seharusnya aku perbuat" ancamnya.


"Tapi ..."


"Pergi kamu dari sini" usirnya.


Andini pun berlari pergi meninggalkan Chandra dikamarnya, tangannya sudah menghapus air bening dari pelupuk matanya itu.


"Haha.. Chandra kamu pintar. Lihat saja cepat atau lambat Andini akan menderita dan aku berharap dia pergi selamanya dari kehidupanku." ucapnya dengan senyum seringai yang menyeramkan itu.


***


Hiks hiks.. Dia berlari dan menangis sungguh sudah tidak bisa dia bendung lagi air matanya itu. Ingin bercerita tapi kepada siapa ? Papa, tentu itu hanya akan memperburuk keadaannya saja jika sampai dia bercerita kepada Papanya. Doni, tidak pasti akan tembus pada Papanya.


Dia benar-benar kecewa dengan kenyataan pahit yang diterimanya. Dia menangis terus menangis meluapkan segala perasaan sedihnya. Terluka tentu saja wanita mana yang tidak terluka ketika suaminya sendiri membawa orang lain kerumahnya.


Dengan masih sesegukan namun tidak ada air mata yang berjatuh lagi, hatinya yang masih ambyar itu pun masih belum sembuh juga. Dia coba untuk mencurahkan segala kesedihan dan kekecewaannya kepada teman setianya. Book of her life yaitu diarynya.


^^^My diary^^^


^^^Chandra^^^


^^^Tolong bilang padaku, apakah aku ini bodoh ? Selama ini aku mencintaimu sepenuh hatiku. Bahkan hari itu kamulah yang datang padaku, memintaku menjadi isterimu. Aku sangat bahagia tentu sangat bahagia.^^^


^^^Namun kini dengan beraninya kau membawa orang lain, apakah seorang Bella saja tidak cukup untukmu, haruskah ada orang lain lagi ?^^^


^^^Aku mengenalimu sudah lama aku pikir kamu adalah orang baik tapi ternyata kamu bahkan menyiksaku, menyiksa perasaanku. Kamu bawa orang itu kamu memberinya tempat tinggal, makan dan lainnya.^^^


^^^Apakah kau tau yang aku rasakan saat ini Chandra. Hancur ..^^^


^^^Apa yang harus aku lakukan ?^^^


Tak terasa ketika ia menulis keluh kesahnya ini air matanya kembali turun begitu deras, seakan semua yang terjadi padanya terputar secara otomatis didalam pikirannya, memori-memori menyakitkan itu selalu membayanginya.


Tak lama diapun tertidur. Mungkin saat ini baginya yang sedang tersakiti hanyalah tidur yang menjadi obat yang paling ampuh. Ditemani dengan belaian hembusan angin yang menelusuri setiap kulitnya melalui celah-celah dinding kamarnya itu tanpa permisi lagi. Biarlah kini biarkan semuanya tenang dulu biarkan subuh jadi penentunya.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2