
...Ketika kau bersama orang lain...
...Aku merasakan sakit dalam dada ini...
...Tetapi ketika kau dihadapanku...
...Aku amat membencimu...
...LH...
.....**..**..**..**..**..**..**..**.....
Kini tinggalah Andini sendiri lagi ditaman itu. Pikirannya kini beralih kepada Dokter Rio yang ternyata adalah penggemarnya meski pada kenyataannya Dokter Rio mempunyai sudut pandang berbeda dengan novel yang di buatnya itu, tapi kini bagi Andini itu bukanlah suatu masalah.
Lama Andini menunggu disana. Akhirnya Doni menelponnya dan mengatakan bahwa mereka sedang menunggunya diparkiran.
Setelah Andini dan semuanya masuk kedalam mobil, tiba- tiba Agas memulai percakapan.
"Kamu tadi kemana saja Nak" tanyanya kepada Andini.
"Aku ke taman Pah. Oh ya Aku juga ketemu sama penggemar novel aku Pah" ucap Andini dengan gembira.
"Novel.." Agas tidak pernah tahu bahwa Andini adalah seorang penulis.
"Haha.. Iya novel" jawab Andini terbata.
"Tuan, memang Nona Andini ini sangat pintar merangkai kata-kata sejak SMA"
"Doni aku pernah bilang kepadamu panggil saja aku Bapak" ucapnya dengan nada lemah.
"Iya Don, panggil saja aku Andini dimanapun."
"Aku merasa tidak enak."
"Kalau begitu kamu keluarlah dari mobil ini" ancam Andini tidak suka mendengar penjelasan dari Doni.
"Doni apakah kamu tidak menganggap kami sebagai keluargamu ?" tanya Agas langsung pada intinya.
__ADS_1
"Ahh bukan seperti itu Tuan"
"Sudahlah Doni turuti permintaanku kali ini" ucap Agas tidak mau dibantah.
"Ba ba baik Tuan ehh Pak" ucap Doni menyetujui.
Mereka bukanlah saudara sedarah akan tetapi Agas sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Sebelum itu terjadi Agas pun sering menguji Doni dan akhirnya Doni berhasil dari ujian yang di berikannya..
Hubungan kekeluargaan tidak akan selalu terikat pada sebuah tali persaudaraan atau hubungan sedarah, mereka yang diyakini orang baik dan memberikan kita kenyamanan pun bisa di berkati dengan nama keluarga.
Selesai sudah Andini mengantarkan Papanya chek up. Kini saatnya dia pulang kerumahnya Chandra.
Saat dia sudah sampai didepan rumahnya terlihat sebuah mobil terparkir rapi. Sejenak Andini memperhatikan mobil itu, mengingat-ingat siapa pemilik mobil itu. Setelah lama memperhatikan akhirnya dia tahu bahwa itu adalah mobil Rendi.
"Rendi kenapa kamu menunggu diluar, kenapa tidak masuk kedalam" ucap Andini.
"Tidak Nona sebaiknya kita bicara disini saja" tolak Rendi. Dia sangat mengetahui etika bertamu. Saat ini dirumah ini hanya ada Andini dan Bik Ijah, baginya akan sangat tidak sopan jika dia sampai masuk kedalam rumah.
"Oh oke." jawab Andini.
Kemudian dia meminta Bik Ijah untuk membawakannya cemilan dan minuman.
"Ren.. Apa kamu tau kabar dari Chandra ?"
"Dia baik-baik aja Non"
"Dimana dia ? Dari kemarin dia enggak pulang kerumah aku khawatir dia kenapa-napa" lirihnya.
"Dia ada dirumah Pak Hermawan Non " ucapnya.
Andini terdiam, Rendipun kembali berbicara, "Yang sabar ya Non Andini, biasanya Chandra tidak seperti ini, saya kenal dia udah lama, saya tau dia orang yang baik. Hanya saja mungkin karena .." ucapan Rendi dihentikannya. Dia tidak ingin hal buruk terjadi.
"Aku akan berusaha bersabar dan bertahan kok Ren. Mudah-mudahan dia berubah dan bisa liat aku" ucap Andini sendu.
"Nona besok Nona harus kekantor. Untuk memperkenalkan diri sebagai CEO dari perusahaan kami, dan harus segera mengambil alih pekerjaan Pak Hermawan." Andinipun mengerti ini semua harus dijalaninya, karena amanat yang dipercayakan oleh Ayah mertuanya.
"Ya besok aku akan kesana. Tapi Ren, aku juga punya tanggungan lain diperusahaan Papaku. Mungkin aku gak selamanya bisa berada disana. Dan tolong kamu terus berada disisi Chandra, bagaimanapun perusahaan ini adalah perusahaannya. Tolong bantu dia menjaga aset keluarganya" pinta Andini dengan sangat.
__ADS_1
"Baik Non Andini, saya akan selalu berada disampingnya. Bagaimanapun juga saya punya hutang budi sama Pak Hermawan. Dia yang udah rawat saya dan keluarga saya" ucapnya.
"Makasih ya.."
"Non Andini.. Saya yakin Chandra bisa berubah. Saya yakin suatu saat dia akan mencintai Non melebihi Non mencintainya. Tolong bersabar dan tolong jaga kepercayaan Ayah mertua Non" pesannya kepada Andini.
"Ren.. Jauh sebelum kamu mengenal dia, aku sudah mengenalnya. Aku sangat mencintainya. Mungkin ini hanya ujian untuk kami agar kami bisa saling mengetahui perasaan kami" ucap Andini dengan sangat yakin.
Hatinya selalu meyakini bahwa setiap cobaan, ujian yang di terimanya pasti mengandung hikmah yang baik. Dia juga percaya akan kata-kata RA. kartini " Habis gelap terbitlah terang."
Tidak hanya itu dia juga percaya "Dimana ada kesulitan pasti ada kemudahan" dan alam pun selalu mengajarinya meski hujan datang di hari yang cerah, namun setelahnya akan ada pelangi yang mendekorasi.
Hatinya kini sudah menjadi tenang mendengar kabar bahwa Chandra sedang baik-baik saja, meski sedikit sedih karena dia tidak pulang juga. Tapi tidak mengapa, dia juga mengerti ada kalanya semua orang membutuhkan waktu sendiri.
Lain halnya dengan Chandra kemarahannya kembali meningkat setelah dia melihat Andini mengobrol berdua dengan Dokter Rio ditaman rumah sakit.
Chandra yang kala itu ingin menanyakan kepada Dokter Suba bagaimana keadaan ayahnya sebelum meninggal pun juga tentang rencana donor jantungnya diurungkannya kembali karena kekesalannya melihat Andini tertawa riang bersama laki-laki lain.
Hatinya berkecamuk, merasakan sakit seperti ditusuk jarum pengkhianatan dan jarum kebohongan. Benar-benar sakit sekali sehingga dia tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Bughh...
Pintu rumahnya dia tendang. Dia hempaskan dirinya duduk dikursi ruang keluarga. Bibirnya tersenyum kecut ketika pikirannya mengingat kejadian tadi.
"Hah apa ini yang namanya kamu mencintaiku Andini, setelah kamu mengambil semuanya, setelah kau jadikan aku sampah, kamupun mencari mangsa lain bermodalkan dengan wajah lugumu itu" ucapnya sambil mengangkat tangannya dan mengepal dengan sangat kuat.
" Aaarggggh ..." Chandra mengusap wajahnya kasar.
"Ya Allah kenapa kau berikan aku istri seperti dia. Mengatakan cinta kepadaku tapi jelas-jelas itu hanyalah kedoknya untuk mencuri semua yang aku miliki dan aku jaga."
"Jelas-jelas aku melihatnya sedang berselingkuh, Ayah.. Aku sudah membuktikannya sekarang jika kau masih hidup apa yang akan kau katakan tentang dia ? Hhahahha kau sudah tertipu Ayah, kita sudah tertipu. " Raut wajah Chandra terlihat mengerikan dengan hiasan senyum yang menakutkan.
"Aku tidak akan membiarkan ini Andini, aku akan membalasnya satu persatu dan aku akan mengambil semua, apa yang sudah menjadi milikku ."
Dia menjanjikan kepada dirinya sendiri akan membalas setiap perbuatan yang Andini perbuat.
Mengambil keputusan secara sepihak jelas tentu adalah hal yang salah. Akan tetapi seperti kata pepatah darah sudah menggumpal akan menjadi daging dan menutupi tulang. Artinya kebencian yang terkumpul akan menjadi dendam dan menutupi semua kebenaran.
__ADS_1
bersambung....