Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Menyingkap Tabir


__ADS_3

...Bahagia kita itu sederhana...


...Asal ada aku dan kamu...


...Serasa dunia milik berdua...


...🍭...


Setelah berbincang dengan Mang Samsul. Kini Chandra sudah dalam perjalanan menuju kamar Andini ditangannya sudah ada segelas air hangat untuknya.


"And.."


"Iya ka" sahutnya dari dalam.


"Ada apa ?" ucapnya ketika pintu sudah terbuka.


"Apakah kamu sudah minum obat." Chandra masuk dalam kamarnya dan mendudukan dirinya di sofa meletakan gelasnya di meja.


"Belum.." Andini menggeleng


"Belum, ayo minum obatmu sekarang. Kakak sudah membawakanmu air." Chandra memberikan segelas air hangat itu kepadanya. Tanpa perlawanan, bantahan ataupun babibu lagi Andini langsung menuruti perintah dari Chandra.


Kemudiam dia mendudukan dirinya disamping Chandra. Namun didalam pikirannya, ada sebuah pertanyaan yang sedari tadi mengganggunya. Perkataan dari laki-laki yang mengaku sebagai temannya juga perkataan Chandra kepada mereka. Tak disengaja membuat wajahnya menjadi murung. Dan itu disadari oleh Chandra.


"Andini, ada apa, sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu."


"Ka..." ucapnya pelan.


"Iya.."


"Kakak tolong jawab pertanyaanku" pinta Andini dengan sangat.


"Orang yang tadi direstoran mengatakan bahwa aku amnesia, lalu kakak mengatakan aku istrimu. Aku hanya ingin bertanya apa amnesia itu, apa istri itu, ada apa dengan semua ini mengapa aku tidak ingat sekalipun" ucapnya.


Chandra terkesiap dengan pertanyaan Andini, wajahnya yang datar berubah menjadi cemas. Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, ini yang tidak dapat dia sanggupi jika pertanyaan itu sampai padanya. Namun waktunya sudah tiba Andini ingin tahu siapa dirinya.


"Kalau kakak boleh tau siapa yang mengatakan kamu amnesia ?"


"Dia mengatakan bahwa dia Rio, dan dia temanku."


"Rio..." geretaknya dalam hati Chandra. Entah apa yang sebenarnya laki-laki itu inginkan. Dia selalu saja muncul dan merusak hubungannya bersama Andini.


"Baik kakak akan mengatakan apa itu amnesia. Amnesia itu adalah hilang ingatan dimana kamu memiliki gangguan untuk mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah kamu lewati, fakta tentang dirimu, pengalamanmu, orang-orang disekitarmu. Tapi kebetulan kamu hanya mengingat peristiwa pada saat umurmu 6 tahun" terangnya.


"Berarti umurku sekarang ?" Andini menatap Chandra.


"Umurmu sama dengan kakak 23 tahun.."


"Lalu.. Apa itu istri ?"


"Istri adalah seorang wanita yang sudah menikah dengan seorang laki-laki dan laki-laki tersebut disebut sebagai suami, dengan kata lain istri adalah pendamping suami."


"Seperti Papa dan Mama.."


"Yaa.."


"Aku tidak mengerti" ucap Andini sendu lalu mengalihkan pandangannya kedepan.


"Lalu dimana suami ku ?" Dia berbalik menatap Chandra lagi.


"Suamimu, suamimu adalah aku"


"Kakak ?" tanya Andini dengan nada kaget. Dan dibalas dengan anggukan cepat dari Chandra.


"Aku masih tidak mengerti" ucapnya sambil menggeleng.

__ADS_1


"Akh.." Andini memegangi kepalanya yang terasa pusing, mungkin pikirannya kembali menyingkap tabir masa lalunya.


"And.. Kamu tidak apa-apa." Chandra memegangi kedua bahunya.


"Rasanya sangat pusing sekali ka."


"Kalau begitu jangan pernah pikirkan." Manik mata Chandra sudah memerah. Dibibir matanya sudah tergenang air mata.


"Akh..." rintihnya lagi.


"And.."


"Tidak ka, aku ingin mengingat semuanya, aku ingin tahu siapa aku, aku ingin hidup dengan identitasku yang sudah berumur 23 tahun. Aku ingin tahu apa saja yang sudah aku lalui" Dia bersih keras ingin mengingat semuanya.


"Coba katakan semuanya mungkin aku akan mengingatnya" timpalnya lagi.


"Tidak, aku tidak ingin membuat kepalamu sakit And.. Kita jalani saja kehidupan yang sekarang."


"Tapi ka, apakah kamu tidak merasa sakit, ketika aku tidak mengingatmu sekalipun." Andini mendongkakan kepalanya menatap Chandra.


"Tidak And.. Meski ingatanmu.." Ucapannya langsung dipotong oleh Andini.


"Tidak ka, aku ingin mengetahui apa saja yang sudah kita lakukan, aku penasaran ka.." kekehnya lagi.


"And.." Chandra memeluknya dengan erat. Air matanya sudah lolos begitu saja.


"Bagaimana aku menjelaskannya ? Aku sendiri bahkan merasa sakit ketika aku mengingatnya, aku tidak ingin kamu tahu bahwa aku laki-laki brengsek yang menjadi alasan setiap air matamu. Aku tidak ingin kau tau And.. Biarlah tetap seperti ini, agar aku bisa memelukmu setiap saat" batin Chandra menggelora, tidak ada air mata yang tertahan semuanya sudah mendarat di pipi mulusnya.


"Ka.. Katakan !" Andini mendesaknya. Dia melepaskan Chandra secara paksa dari pekukannya. Andini menatapnya, meminta Chandra untuk mengatakan kebenarannya. Sedangkan Chandra tidak lagi bisa menolaknya.


"Kakak adalah laki-laki yang sangat dicintai kamu dan juga kakak adalah laki-laki yang sangat mencintai kamu And, kakak tidak akan pernah meninggalkanmu, dan kakak tidak akan pernah melepaskammu. Itu yang hanya perlu kamu ingat And" ucapnya sambil menatap balik Andini. Dia hanya mengatakan tentang dirinya yang sekarang. Dia tidak ingin mengatakan luka kepada Andini.


"Benarkah ?"


"Ya.." Andinipun merangkulnya kembali, memeluknya dengan sangat erat, dan dirinya membisikan kepada Chandra,


Deg, jantung Chandra berdegup kencang, terhenyak atas apa yang Andini ucapkan. Seperti dia sudah mengingat sesuatu. Tak lama Andini melepaskan pelukannya, kemudian menatap Chandra lagi.


"And.." lirih Chandra.


"Aku sangat bahagia memilikimu. Jangan pernah tinggalkan kakak lagi.." ucapnya, tangisannya pun kembali mengalir.


"Tidak akan." Andini menghapus jejak air mata yang ada dipipi Chandra.


"And.." lirih Chandra.


Kini Chandra dan juga Andini, keduanya saling memejamkan matanya. Chandra perlahan mendekati Andini, terus mendekati Andini dan cup, mencium tepat dibibirnya. Dia terus menempelkan bibirnya pada bibir Andini. Keduanya masih belum membuka matanya. Dan Chandra tidak melakukan aktifitas lainnya lagi, hanya menempelkannya saja dengan sangat lama. Tapi tiba-tiba saja tangannya terangkat. Kini tangannya menarik kepala Andini dia berniat untuk merapatkan lebih dalam kecupannya itu. Dan sampai akhirnya dia sedikit menggigit bibir Andini.


Dan tiba-tiba dia mendengar suara..


"Ka.." Suara pertama pelan.


"Ka.." Suara kedua sedikit meningkat.


Akan tetapi Chandra sedang tidak ingin diganggu dalam posisi tersebut.


"Kakak..." Suara ketiga terdengar melengking ditelinganya dan berhasil menyadarkannya. Dia tersadar dalam posisi keningnya dan kening Andini sedang menempel. Mata mereka benar-benar bertemu dalam satu ruang.


"Kakak sedang apa ?" tanya Andini aneh.


"Apakah kamu kesakitan ?"


"Kesakitan ?" tanyanya heran.


"Ya.. Bukankah kita sedang berciuman ?"

__ADS_1


"Cium ?"


"Ya.." lirih Chandra. Namun dia melihat wajah heran yang di nampakan oleh Andini


"Apakah tidak terjadi apa-apa ?" tanyanya.


"Tidak.." Andini menggeleng. "Kakak hanya menempelkan keningmu dengan keningku. Bahkan keningku sakit sekali, sepertinya benjol. Aku ingin melepasnya tapi kakak malah memelukku erat, sampai aku hanya bisa berdiam seperti ini."


"Akh maaf.." Chandra langsung melepaskan Andini dari kungkungannya.


"Bodoh Chandra jadi tadi kamu berkhayal sedang mencium Andini. Astaga malu sekali aku." Chandra sesekali melirik Andini. Sedangkan Andini hanya membalasnya dengan senyum.


"Astaga astaga astaga bagaimana ini ? Bagaimana aku akan bersikap kepadanya." Chandra benar-benar merasa malu dengan tindakannya sendiri.


"Ka..." lirih Andini.


"Yaa.."


"Kepalaku sakit" ucapnya dengan manja sedang tangannya sedang mengelus pelan kening.


"Dimana yang sakit ?" Chandra cemas melihatnya. Dan tangannya sudah meraba-raba kepala Andini.


"Dimana ?" cicitnya lagi.


"Disini, keningku.." sahut Andini.


Chandra mendekatkan tubuhnya berusaha untuk lebih dekat melihat kening Andini. Sementara Andini juga semakin mendekat dengannya dan cup Andini mencium bibirnya sekilas.


Mata Chandra terbelalak, wajahnya termenung terkejut dengan apa yang sudah Andini lakukan kepadanya. Seakan dia masih tidak percaya dengan Andini yang baru saja menciumya dan itu tepat di bibirnya sesuai dengan yang dikhayalkannya.


"Tunggu apakah aku sedang berkhayal lagi ?" batinnya


"Andini.." Dia memegang bibirnya sendiri.


"Apakah itu yang namanya berciuman ?" tanya Andini polos.


"Kau.. Kau melakukannya ? Kau tau dari mana ?" tanya Chandra dengan gagap.


"Aku hanya mengikuti instingku. Apa itu salah, itu bukan ciuman ?" tanyanya lagi dengan bertubi-tubi.


"Jangan lakukan itu pada orang lain" ucapnya dengan nada tidak suka. Pandangannya sudah beralih pada objek lain.


"Kenapa ?"


"Karena kamu adalah istriku.."


"Lalu.." tanyanya, dia menyunggingkan senyumannya. Hatinya merasa bahagia melihat mimik Chandra yang sekarang.


"Andini..."


"Iya iya.. Asalkan besok kakak harus menepati janji kakak, membawaku main ketempat yang seru, dan perbolehkan aku makan apa saja dan juga aku boleh memukulmu lagi, bukan ?" tanyanya sambil dia tersenyum seperti iblis.


Andini memulai aksinya memukul-mukul lengan, dada, dan juga perut Chandra. Chandra menerimanya dengan hanya meringis kesakitan. Sungguh malam itu meski diawali dengan kesedihan namun diakhiri dengan tawa dari keduanya. Mungkin ini yang disebut berbohong demi kebaikan, dan itu sah-sah saja untuk dilakukan.


Chandra tak akan pernah tahu kapan amnesia itu akan hilang. Yang saat ini Chandra lakukan adalah menjalani kehidupannya, dan menatanya lebih baik lagi, memberikannya cinta setiap saat dan juga membahagiakannya.


Bersambung


Satu permintaan ku


Please jangan minta Andini sembuh dulu yah


πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


Like & vote mu sangat berguna.

__ADS_1


Sisakan untukku 10/1 saja, xiexie.


Jaizian😊


__ADS_2