Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Let Bygones be Bygones


__ADS_3

...Jika hati ini bukan buatan Allah mungkin aku sudah tiada di kisah ini.. ...


...Aku bertahan dan bersabar dalam hubungan ini...


...Karena aku yakin aku masih bisa mencintaimu ...


...dengan segala kekuranganmu...


...Namun sekarang aku sudah tidak bisa...


...Jalani hari-hariku dengan sabar.....


...ABCD...


Beberapa hari kemudian.


Andini maupun Chandra bagaikan orang asing yang hidup dalam atap yang sama. Chandra sering mengajaknya untuk mengobrol, atau berinteraksi lainnya. Namun, Andini memasang jurus diam sejuta bahasa.


Senyuman sudah hilang dari bibirnya, air mata sudah tak lagi menetes. Dia berubah menjadi seseorang yang lebih dingin daripada cooler yang ada di market terdekat.


Dia sering bertemu Pak Karni untuk mengurus pembalikan nama pemilik perusahaan. Andini sudah bertekad untuk mengembalikan amanat ayah mertuanya itu. Dia sudah tidak bisa lagi terus bersama dengan orang yang membencinya.


Hari itu dia diantar oleh Doni. Doni pun tau akan langkah yang akan ambil oleh temannya itu. Dan sekarang dia berada dalam keadaan bingung, antara kasihan pada Chandra namun dia juga akan melakukan hal yang sama jika dia berada diposisi Andini. Dia sudah tau semua yang telah terjadi di antara keduanya, semua ini berkat kuping wajannya itu.


Tapi jika mengingat ketika Andini amnesia, dia melihat ketulusan yang begitu pada Andini.


"And, apa aku boleh berbicara sesuatu kepadamu ?"


"Apa ?" Dijawab tapi dengan nada yang dingin.


"Kamu sungguh akan melakukan ini ? Maksudnya kamu sungguh akan menceraikan Chandra ?" tanyanya pelan.


"Aku sangat yakin, Don."


"Tapi, aku lihat kemarin ketika kamu sedang koma dan amnesia, dia adalah orang yang berada di garda paling depan dalam menjagamu, And."


"Mungkin dia merasa bersalah, karena sudah mencelakaiku.."


Dalam ingatan Andini, Chandralah orang yang mendorongnya hingga dia terjatuh. Efek karena benturan benda keras itu membuat fungsi otaknya bergeser. Andini tidak mengingat kejadian dimana dia sedang amnesia.


"Tidak And, kamu melupakan sesuatu. Chandra tidak melakukan hal itu."

__ADS_1


"Atas dasar apa kamu membelanya, Don. Bukankah kamu tidak tahu akan kehidupanku dengan Chandra ??"


"Aku memang tidak mengetahui bagaimana kalian hidup dulu. Namun satu yang aku ketahui, And. Ketika kamu amnesia dia adalah satu-satunya orang yang paling bisa membuatmu nyaman. Kamu begitu lengket dengannya sampai seperti tak terpisahkan."


"Stop Don !! " Andini membentaknya.


"Jangan mengatakan apapun yang tidak aku lakukan. Aku tidak pernah melakukan hal itu begitupun dengan dia. Aku sangat paham dirinya, Don. Dia membenciku.." ucapnya penuh penekanan.


"Kamu pernah melakukannya, And. Kamu terlihat bahagia bersama dirinya. Dan kami semua adalah saksinya," Doni mencoba lebih meyakinkan Andini.


"Jika pernah terjadi seperti itu, mengapa aku lupa ?? Amnesia ? Tidak Don." Dia bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.


"Chandra itu penuh perhitungan. Mungkin saja dia baik padaku hanya karena dia inginkan perusahaannya kembali ?? Mungkin juga karena dia ingin membunuhku, seperti papa."


"Kematian Pak Agas tidak ada sangkut pautnya dengan Chandra, And. Dia memang meninggal karena penyakit yang dideritanya."


"Iya Don, tapi seandainya aku tidak apa-apa malam itu mungkin hal itu tak akan terjadi, mungkin papaku masih hidup."


"Jangan pernah berkata seandainya, And. Itu akan membuatmu terlihat tidak pernah bersyukur," ucap Doni mengeras karena tak habis fikir orang yang selama ini ia sanjung sebagai orang yang baik tapi ternyata punya pikiran seperti itu.


"And, tolong pikirkan kembali, atau kau akan menyesal."


"And, dari dulu kamu kemana saja, baru mengucapkan lelah setelah menikah ??"


"Ya aku tau seharusnya aku tidak mencintainya,"


"Maksudku bukan begitu, dia adalah orang yang sudah kamu cintai selama bertahun-tahun tapi setelah kamu mendapatkannya kamu bahkan akan melepaskannya begitu saja ? Iya??"


"Aku tidak ingin menjerat dia lama-lama, Don. Aku juga sangat mencintainya, tapi cintanya pasti bukan untukku. Aku tidak ingin hidup dengan cinta yang beralaskan simpati seseorang. Aku tau dia mencintaiku karena dia kasihan padaku, karena sekarang aku tidak lagi punya siapa-siapa," bisiknya dalam hati.


"Dan hatiku sekarang sedang terguncang, aku tak tahu apakah aku masih bisa bertahan untuk mencintainya ?? Sedangkan aku tahu dan aku merasa kehidupanku dulu bersamanya sangatlah pahit," bisiknya lagi.


"And.. kamu kenapa diam ??" tanya Doni yang tidak mendengar sahutan apapun terhadap perkataannya tadi.


"Eh iya Don, ada apa ??" Andini terkesiap dan tersadar dari lamunannya itu.


"Perceraian itu hal yang paling.." Belum sempat Doni menyelesaikan ucapannya Andinj sudah memotong kalimatnya.


"Aku tahu !" tegasnya.


Doni tak lagi melanjutkan kalimatnya. Setidaknya poin penting yang ingin dia katakan sudah dikatakannya.

__ADS_1


Merekapun membelah jalan dengan keheningan, Andini masih fokus dengan lamunannya sedangkan Doni memilih fokus dengan jalan yang ada dihadapannya.


Setelah berada di rumah. Andini langsung memberikan surat kepemilikan perusahaan Chandra yang sudah di balik nama. Dan kini perusahaan itu sudah menjadi milik Chandra seutuhnya.


"Ini," ucap Andini sambil menyerahkan surat itu.


Chandra menatap nyalang ke surat itu.


"Andini " ucapnya sambil meraih tangan Andini untuk digenggamnya.


"Kita sudah berada di persimpangan jalan, aku akan menggugat cerai untukmu, tunggu saja," tegasnya.


"Andini " Chandra masih erat menggenggam tangannya. "Aku sungguh tidak ingin bercerai," tambahnya lagi.


Air mata Andini pun tidak bisa dibendung lagi


"Hidup itu harus terus maju, bukan ?"


"Tapi aku sungguh tidak ingin bercerai dan aku ingin terus menata masa depan bersamamu.." Chandra pun sama menangis seperti Andini.


"Kamu tidak akan pernah hidup bahagia bersama orang yang kamu benci," ucapnya sambil melangkah kedepan.


"Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu," ucap Chandra sambil memeluk dari belakang


"Tolong maafkanlah aku, kembalilah bersamaku setidaknya untuk Ayah dan Papa," tambah Chandra lagi.


"Kaa !!" lirihnya sambil melepaskan pelukannya, dia berbalik menghadap Chandra.


"Pikirkan dulu Andini, tolong pikirkan dulu, aku mencintaimu." Chandra kembali menggenggam tangan Andini.


"Tapi aku terlalu sakit untuk memaafkanmu." Tangis Andini membuncah.


"Maka segeralah hukum aku, apapun itu akan aku lakukan, katakanlah yang penting kamu bisa kembali bersamaku." Keukeuh Chandra. Tentu saja Chandra ingin semua ini berakhir baik-baik saja. Jika Andini memnintanya untuk mencambuknya dirinya sendiri pun pasti akan dia lakukan.


"Tidak, aku tidak ingin menghukum mu, semua yang terjadi biarlah terjadi, aku ikhlas. Sekarang lebih baik kita tidak bersama." Andini melepaskan genggamannya.


"Tidak, tidak Andini, apakah tidak ada lagi cinta untukku di dalam hatimu ???" tanya Chandra.


Andini hanya mengangguk, lalu dia berlari keatas kamarnya. Begitupun dengan Chandra yang mengikutinya dari arah belakang. Dalam pikirannya dia harus bisa membuat Andini mengurungkan niatnya.


next..

__ADS_1


__ADS_2