
"Entah kenapa ingin sekali aku memeluk Andini, sekarang. Hal yang belum pernah aku lakukan selama ini. Huh.. Chandra.. Apakah kau yakin dengan perasaan ini ?" gumamnya.
Saat ini dia sedang dalam perjalanan kerumah sakit, untuk menemui Andini. Menemani hari-harinya lagi. Perasaannya sudah mulai sedikit terbuka untuk Andini.
Kemarin dia mengetahui semuanya tentang Andini sewaktu kecil, mulai dari makanan kesukaan, warna kesukaan, hal yang suka dia lakukan saat sedang bosan, ketakutannya pada ulat bulu sampai cerita-cerita lucu yang berkaitan dengannya dia mengetahui semuanya. Berkat papahnya yang menceritakan semua kelakuan Andini kecil.
Sekarang dia begitu percaya kepada mertuanya itu bahwa Andini benar-benar menyukainya. Mungkin semua itu berkat Michell yang membongkar kemunafikan Bella. Dia mulai percaya bahwa Andini sangat sungguh mencintainya, dan mengetahui bahwa Andini benar-benar nyata ada di dunia ini.
Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan seorang isteri yang cintanya hanya kepada dirinya sendiri tak pernah di bagi, dikali, di tambah ataupun dikurangi. Suatu keberuntungan untuk Chandra, mendapat isteri setia, baik, pintar dan segalanya.
Namun dia merasa kasihan pada Andini, Andini sangat mencintainya dengan begitu besar dan luas sedangkan dia hanya mendapatkan Chandra yang bahkan hanya tau cara menyakitinya saja.
"Andini sesuai perintahmu malam itu aku akan belajar mencintaimu, akan ku perbaiki semuanya. Semoga tidak pernah ada cacatpun dalam cinta mu kepadaku. Sehingga aku akan sangat sangat mencintaimu. Untuk itu bangunlah ! Agar aku juga bisa membalas rasa mu itu" ucap Chandra yang kini sedang mengelap lembut tangannya, kakinya dan wajahnya.
Meski Andini sedang koma dia ingin wajah Andini selalu tetap bersih berseri seperti biasanya, dia tidak akan membiarkan satu debupun hinggap di kulit putihnya.
Setelah membersihkan Andini, Chandra kembali duduk disofa sebrang kasur Andini. Dia mulai mengerjakan pekerjaannya yang sedari kemarin dia lupakan karena insiden yang terjadi kepada mertuanya.
Berita tentang Andini koma sudah tersebar luas dan juga berita tentang pencarian Laura sudah berada dimana-mana. Doni ikut membantu dan sudah mengerahkan para pasukan miliknya. Meski sudah tiga hari belum mendapatkan hasil tapi tak urung mereka mencari. Terus mencari dari satu kota ke kota lainnya bahkan sampai lubang buaya pun ikut di geledahnya.
Ditempat lain.
Dikeramaian orang yang sedang mengisi perutnya yang sudah keroncongan, terdapat dua insan manusia yang sama-sama mengisi perutnya. Mereka adalah Nina dan Michell. Disela-sela waktu istirahat mereka menyempatkan untuk bertemu dan makan berdua.
"Chell.. Aku mempunyai bos dia sedang sakit. Kamu mau ya menjenguknya bersama aku" pinta Nina.
Kabar Nina sekarang sudah membaik, pen yang ada dihidungnya sudah dia lepaskan, dan itu dibantu oleh Michell. Kini tinggallah dia menyembuhkan luka yang ada dekat bibirnya. Untung saja Michell juga memberi obat yang terbaik untuk Nina jadi lukanya sudah tidak tampak jelas lagi. Dia sangat bersyukur memiliki teman yang sangat baik kepadanya. Tidak akan pernah ia lupakan kebaikannya itu.
"Hmm... Sakit ? Kamu punya waktu untuk menjenguknya ?" tanya Michell yang tahu jadwal Nina yang super sibuk.
Bagaimana tidak isteri atasannya yang sakit, juga pemilik dari perusahaannya otomatis semua pekerjaan bayak di handle olehnya.
__ADS_1
"Aku punya waktu malam ini, mau yah. Tempatnya juga gak ribet tau. Rumah sakit tempat kamu kerja."
"Oke. Perkara mudah kok tinggal temenin doang hehe..." ucapnya dengan senyum nyengirnya.
Lelaki dihadapannya itu tidak tahu bawa yang dimaksud oleh Nina adalah Andini. Begitupun dengan Nina yang tidak pernah tau bahwa Andini adalah orang yang paling Michell cintai dan bahkan masih belum bisa menghapus sisa-sisa cintanya.. Entah pertemuannya akan jadi seperti apa ? ( Intinya author juga sedang membayangkan. )
Mereka kembali menyantap hidangan yang ada dimeja, dengan banyak diam dan tidak mengucapkan sepatah atau dua patah kata lagi.
Setelah selesai mereka pun beranjak pergi. Nina yang awalnya dijemput oleh Michell kembali diantar pulang oleh Michell. Cukup bertanggung jawab atas perbuatannya. Mungkin sekarang hatinya sudah sedikit terbuka untuk orang-orang disekitarnya.
Dalam perjalanan pulang. Nina kembali membuka suaranya.
"Tapi kamu benerkan mau menemaniku menemui bos ku itu ?" tanyanya kembali. Nina sangat tidak ingin jika nanti dia akan ditinggalkan oleh Michell.
"Iya bener. Jadwalku malam ini kosong tenang saja. Aku akan ada selalu diruanganku" ucapnya meyakinkan Nina.
"Sipp.." ucapnya sambil mengacungkan jempol kanannya.
"Mengapa ? Dia laki-laki" ucap Michell sambil memutar stirnya karna dia akan berbelok ke pertigaan jalan.
"Bukan dia perempuan. Sebulan yang lalu dia menjengukku bersama asistennya. Dia meminta bantuan kepadaku untuk segera masuk kerja. Tapi kan kamu juga tau saat itu luka ku belum sembuh, aku tidak bisa mengabulkan permintaannya. Wajahnya terlihat sedih saat dia meminta bantuan kepadaku, sepertinya dia sedang ada masalah dengan suaminya itu."
"Mengapa kamu menyimpulkan begitu ?"
"Ya karena aku adalah sekretaris suaminya, dan dia bilang bahwa dia ada masalah dengan sekretaris pengganti sementara ku, seperti itu."
Ya hubungan Andini dan Chandra memang tidak disembunyikan. Semua pegawai tahu bahwa bosnya itu adalah istri Chandra yang juga menjadi bawahannya.
"Ohh.." ucap Michell cuek.
"Aku berharap kelak suamiku tidak seperti dia" gumam Nina yang masih terdengar oleh Michell.
__ADS_1
Seketika Michell tersedak mendengarnya.
*****
Akhirnya malampun tiba. Nina sudah bersiap-siap untuk pergi. Sebelum itu dia memesan taksi online karena motornya sudah rusak akibat kecelakaan yang menimpanya. Sungguh malang nasibnya hidung patah dan motornya hancur. Susah payah mengumpulkan uang nyatanya semuanya lenyap dengan sekejap.
Masih beruntung badannya tidak mengalami cedera parah, hanya wajahnya saja. Ah.. Tidak itu sama sekali tidak beruntung. Tetap saja kecelakaan ya kecelakaan. Tapi yang masih dia syukuri adalah dia masih hidup, kalau tidak matipun dia tidak akan tenang jika membiarkan ibu dan adiknya menderita. Begitulah mungkin pikir Nina.
Taksi online sudah datang menjemputnya. Tak lupa dia membawa sedikit bingkisan yang tadi dibelinya ketika pulang dari kantor. Sempat dirinya merasa bingung apa yang harus dia beli buket kah atau parcell berisi buah ? Jika buket itu hanya akan diletakan di samping bosnya saja tapi jika parcell bosnya kan koma tidak akan mungkin dimakan olehnya? Membeli dua-duanya dia sedang krisis uang.
Lama berpikir akhirnya dia memutuskan untuk membeli sekeranjang buah saja. Mau dimakan ataupun tidak itu terserah mereka yang terpenting dia tidak datang dengan tangan yang kosong.
Tak berapa lama kemudian akhirnya dia sudah sampai di tempat tujuannya. Nina langsung menelpon Michell dan memberitahunya bahwa dia sudah tiba.
Akhirnya mereka bertemu di titik yang sudah menjadi kesepakatan mereka. Mereka berjalan bersama menuju ruang Andini.
Semakin jauh Michell semakin hapal dengan jalan yang mereka tuju.
" Bukankah ini jalan menuju kamar Andini" gumamnya. Namun Michell tidak mau bertanya kepada Nina siapakah bosnya itu.
Dia mengikuti saja sampai didepan pintu.
"Benar ini kamar Andini" gumamnya lagi.
Ceklek
Nina sudah membuka pintunya.
"Nina Michell" ucap Chandra.
bersambung
__ADS_1