Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Berkabung


__ADS_3

Andini terduduk lemas di lantai di koridor rumah sakit, memeluk kedua kakinya dan menundukan kepala diantaranya, pikirannya terpecah belah oleh sikap Chandra yang rela melakukan apapun demi Bella, Papanya yang kini sedang berada antara jurang kehidupan dan kematian, dan almarhum Ayah mertuanya yang memintanya untuk selalu memaafkan apapun kesalahan Chandra kepadanya.


Dia menangis tersedu-sedu, ingin sekali berteriak namun dia sadar dia sedang berada dimana. Bingung harus apa yang dilakukannya sekarang. Sedih senang kecewa dan juga marah dirasakannya dalam waktu yang bersamaan. Diseberang sana ada seseorang yang melihatnya dengan keadaan seperti itu, dan dia menghampirinya.


"Hai bukankah kamu Nona Andini" ucap seseorang itu.


Andini mendongkakan kepalanya kemudian dia menghapus air matanya.


"Kamu ?"


"Kamu masih ingat aku, aku Rio, oh iya Dokter Suba adalah pamanku" ucap Rio sambil mengulurkan tangannya.


"Andini" ucapnya namun dia tidak mau membalas uluran tangan itu.


"Aku sudah mengenalmu." Rio langsung menarik kembali tangannya.


"Kenapa kamu menangis ?" tanyanya kemudian.


"Aku tidak kenapa napa. "


"Benar, memang benar ucapan orang itu, seseorang perempuan yang bersedih jangan ditanya kamu kenapa karena pasti jawabannya tidak kenapa-napa, jangan pernah bertanya ada apa karena pasti jawabanya tidak ada apa-apa. Benar kan ?" ujarnya.


"Maaf aku harus pergi" ucap Andini, dia tidak ingin membagi masalahnya kepada orang lain terlebih orang asing.


"Tunggu Nona, aku tahu kamu sedang sedih, sedih dengan kepergian mertuamu dan juga aku yakin pikiranmu saat ini sedang khawatir terhadap keadaan ayahmu kan" ucap Rio.


"Jangan terlalu banyak menerka pikiran orang lain dan jangan pula terlalu banyak mengurusi hidup orang lain" ucapnya dengan nada jutek seraya melangkahkan kaki.


"Tunggu Nona, maafkan saya yang sudah lancang. Saya hanya tidak ingin air mata Nona jatuh sia-sia. Kematian seseorang adalah hak setiap orang yang bernyawa, sebaiknya Nona banyak-banyak mendoakan almarhum dan ayah Nona agar operasinya berjalan dengan lancar" ucap Rio memberi saran.


"Terimakasih atas sarannya." Kemudian dia benar-benar pergi dari sana.


"Benar apa yang dikatakannya, mengapa aku begitu sensitif, berfikiran buruk tentangnya. Tapi aku begitu sedih karena Chandra, Ya Allah kapan dia berubah, kapan dia menghargai aku sebagai isterinya, semoga saja aku terus bersabar menghadapinya, dan semoga saja aku bisa melewati ujian ini, aamiin." gumamnya.


"Lebih baik jika aku sholat dan mendoakan ayah dan juga papa" ujarnya. Dia pun langsung segera pergi mencari Musholla untuk melaksanakan sholat. Berdoa supaya ayah mertuanya mendapatkan tempat terbaik disisi-NYA. Dan semoga papanya lancar dalam operasinya dan bisa segera sembuh lagi.


"Ayah.. Kau adalah orang yang baik, mertua terbaik. Aku akan menjalankan pesanmu untuk menjaga suamiku, aku akan memaafkan segala kesalahannya, aku akan terus mencintainya, menyayanginya, dan akan terus berada disisinya. Ini janjiku ayah " ucapnya mantap. Lagi-lagi Andini akan memaafkan kesalahan yang pernah Chandra buat sesuai dengan permintaan terakhir ayahnya. Entah terbuat dari apa hati perempuan ini ketika dia memutuskan maka dia akan melakukannya.

__ADS_1


Setelah sholat dia kembali menunggu didepan ruang operasi, menunggu papanya.


Tujuh jam kemudian lampu yang menandakan sedang melakukan tindakan operasi pun akhirnya mati. Menandakan operasinya telah selesai dilaksanakan.


Keluarlah seorang dokter dari dalam ruangan itu, dan langsung dihampiri oleh Andini.


"Dok bagaimana, apakah operasinya berjalan dengan lancar" ucap Andini antusias.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar, ini semua berkat keajaiban dari tuhan. Dan beliau sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif selama beberapa hari " ucap Dokter Suba.


"Terimakasih dok, terimakasih yang sebanyak-banyaknya" ucapnya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Sama-sama mbak, dan iya almarhum Pak Hermawan sudah di mandikan, keluarga sudah boleh membawanya pulang dan melanjutkan kewajiban yang lainnya."


"Iya dok saya akan segera membawanya pulang agar secepatnya bisa di makamkan, terimakasih dok." ucap Andini.


Keesokan harinya.


Jenazah Hermawan sudah dikuburkan didekat makam isterinya, Lina. Semua keluarga dan kerabat terdekat datang melayat bahkan ada yang sampai mengantarkan sampai ke pengistirahatan yang terakhirnya. Begitu banyak orang yang berbela sungkawa, Hermawan memang dikenal baik, dermawan dan bijaksana. Sebagai seorang Direktur, dia dikenal sebagai pemimpin yang baik, jujur dan adil. Sebagai seorang teman dia dikenal sebagai seorang yang setia kawan.


Saat semua orang sudah pergi disana hanya tersisa dua orang dia adalah Chandra dan Andini. Andini kembali menaburkan bunga yang tersisa dan Chandra hanya diam memandangi batu nisannya.


"Ayah aku akan menepati janjiku. Ayah yang tenang berada disana, aku adalah orang yang beruntung bisa bertemu dengan ayah didunia ini bahkan tidak hanya bertemu, malah aku menjadi menantumu, menjadi isteri dari anakmu yang juga orang yang aku cintai selama ini. Terimakasih ayah." tetesan air matanya kembali berjatuhan. Pertemuannya memang sesaat hanya tiga bulan saja tapi kenangannya akan selalu menjadi kenangan yang terindah.


"Ka, mari kita pulang " ajak Andini kepada suaminya.


"Kamu saja lebih dulu, aku ingin disini" tolak Chandra.


"Ka, tidak baik jika kita terus berlarut dalam kesedihan, sebaiknya kita pulang." Andini memberi saran.


"Dia ayahku, bukan ayahmu jadi kamu bisa saja bicara seperti itu seperti tidak ada beban."


"Tapi ka.."


Bip biiip biip ponsel Chandra bergetar, diapun langsung menggeser tombol hijaunya.


"Hallo"

__ADS_1


"Apa Bella meninggal " ucap Chandra kaget.


"Innalillahi..." Air matanya kembali jatuh. Tangannya bergetar, merasa kecewa, marah, tidak berguna sebagai laki-laki, bagaimana tidak dia sudah berjanji namun tidak bisa menepati janjinya sendiri.


Orang yang di cintainya kini semuanya telah pergi meninggalkannya sendiri. Dia terkulai lemas duduk di kuburan ayahnya sendiri, meratapi keadaannya. Benar- benar tahun ini baginya adalah tahun terburuk, dia menikah dengan orang yang dibencinya, ayahnya meninggal dalam kecelakaan dan sekarang orang yang dicintainya telah berpulang. Seakan-akan dunia tidak berpihak kepadanya lagi.


"Ka, ada apa.." tanyanya, Andini begitu khawatir melihat keadaan Chandra.


"Ada apa ? Ini semua gara-gara kamu Andini, kamu begitu egois sekarang Bella sudah tiada, Bella sudah meninggal. Puas kamu dengan apa yang telah kamu lakukan hah" bentaknya dia benar-benar marah kepada Andini.


Andini begitu kaget mendengar pernyataan dari Chandra, tangannya menutupi mulutnya, tidak disangka Bella sudah sampai pada umurnya. Sahabat baiknya juga selingkuhan suaminya kini telah tiada, entah harus apa dia sekarang bersedih tentu saja, karena satu sahabatnya kini telah meninggalkannya, dan juga dia merasa bersalah atas keegoisannya. Senang, apa dia harus senang ketika selingkuhan suaminya sudah tiada, penghalangnya sudah tidak ada lagi, dan seiring berjalannya waktu Chandra pasti akan melupakannya juga kan ?


Kini Chandra sudah pergi meninggalkan Andini. Tentu saja pergi kekediaman Bella, dia ingin sekali bertemu dengan Bella meskipun kini hanya tertinggal raganya saja, bagaimanapun Bella adalah kekasihnya, orang yang paling dicintainya, yang pernah menghiasi hari-harinya meski itu hanya beberapa bulan saja, tidak hanya itu dia juga ingin meminta maaf kepada kedua orang tuanya karena tak bisa menepati janjinya.


Andinipun mengikutinya dari belakang berniat untuk melayat, pikiran buruknya yang tadi sempat tersirat pun di buangnya kembali. Tidak baik jika mengungkit masa lalu, biarlah menjadi sepenggal kisah yang akan memperindah kisah lainnya. Menjadikannya sebagai pelajaran agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi nantinya. Yang bisa dia lakukan kali ini adalah mengingat akan setiap kebajikan yang pernah Bella lakukan selama hidupnya, dan berpikir mungkin saja kemarin dia dalam keadaan khilaf.


Bersambung...


Andini : Sedih senang marah dan juga kecewa bahkan nano nano pun kalah ramenya dengan perasaan yang aku rasakan saat ini...


Author : Weh weh permen kali And..😲


Bella : Thor.. Ko ku udah jadi arwah lagi aja yaπŸ‘» ?


Author : Berisik Bell. Udah abis kontrak jugaπŸ˜‘


Michell : Kapan aku dapet jodoh Thor..😨


Author : Turun ke bumi cari alamat rumah aku aja.πŸ˜‚


*.*.*


Terimakasih semua readers ku yang baik hatiπŸ˜‡


Tolong terus dukung aku yaa..


Like, Coment, Share, Vote, dan jadikan ❀

__ADS_1


Tencuuu semuaa..


😍😍


__ADS_2