Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Lanjutan


__ADS_3

"Tidak. Kejadian itu sudah lama sekali. Kau jangan mengarang cerita, Laura."


"Mengapa aku mengarang cerita, jika aku tau semua faktanya. Bibikku menjadi gila karena ayahmu, lalu ayahku memberi tahu ibumu. Dan setelah tahu, kesehatan ibumu menjadi memburuk kemudian dia meninggal," ungkapnya lebih jelas lagi.


"Tapi aku beserta keluargaku, hanya ingin ayahmu yang menderita. Lalu saban hari ayahku menabrak ayahmu, dan sayangnya kepa*at itu mati dengan mudahnya," umpatnya. Dia benar-benar mengeluarkan semua unek-unek yang ada dihatinya selama ini.


"Dan kau Chandra, " ucapnya sambil menunjuk Chandra.


"Kau malah memenjarakan ayahku. Kau tau aku sangat menderita selama ini, " teriaknya.


"Kau tidak pernah tau, rasanya di injak-injak oleh masyarakat, diusir, diasingkan. Dan," Laura menjeda kalimatnya,


"Daan kau tidak pernah tau rasanya pontang panting mencari uang kesana kemari, untuk makan. Kau tidak pernah tau itu, Chandra." Terdapat nada pilu ketika dia menceritakan apa yang selama ini dialaminya.


" Kehadiran ayahmu juga kehadiran dirimu membuat banyak orang menderita. Baik itu ibumu, istrimu, Rendi dan juga kami. Semuanya di buat menderita oleh dirimu dan ayahmu. Kau tidak pantas berada didunia ini," teriaknya.


Laura segera menadahkan pistolnya. Dan membuat semua orang yang berada disana terkejut. Laki-laki yang tadi memberinya makan langsung memeriksa dirinya. Dan dia baru menyadari bahwa pistol itu adalah miliknya.


Sedangkan Chandra langsung mengangkat kedua tangannya.


"Laura.." panggilnya.


"Aku ingin membunuhmu Chandra..." teriaknya, Chandra dan semua orang yang berada disana memejamkan matanya.


Daaaarr..


"Akh.." rintih Rendi. Dia menghalau peluru itu agar tidak mengenai Chandra.


Dan semua orang membuka matanya. Melihat Rendi yang sudah berlumuran darah di punggungnya.


Flashback on.


Rendi sudah berada di Surabaya. Dia langsung melacak ponsel Chandra. Untungnya dia pernah menaruh GPS pada ponselnya itu, sehingga dimanapun Chandra berada dia bisa langsung mengetahuinya.


Dia langsung menginjak pedal gasnya itu, mengemudikan mobilnya dengan laju yang sangat cepat. Menyusuri jalan yang sangat jarang terjamah oleh pengendara lainnya.

__ADS_1


Memang lokasi bekas pabrik itu berada sangat jauh dengan kota. Sehingga cukup sulit menemukan lokasinya.


Rendi terus fokus dengan jalanan yang ada di depannya, tanpa menyadari bahwa dia sedang diikuti oleh orang suruhan Budi.


Setelah sampai disana, dia sedikit mendengarkan pembicaraan antara Laura dan Chandra. Saat peluru sedang melesat dia berhasil menyingkirkan Chandra, namun dirinya sendiri yang tertembak.


Flashback off.


"Rendi ?" lirih Laura terkejut.


"Rendiii... " teriak Chandra sambil menghampirinya.


"Rendi.." lirihnya sambil memangku Rendi.


"Tak apa Chandra. Aku sungguh tidak apa," ucapnya dengan menggeleng pelan kepalanya.


"Tapi kau harus segera dibawa ke rumah sakit." Chandra merasa khawatir melihat dirinya yang sudah bersimbah darah.


"Tidak Chandra. Aku tidak ingin.." lirihnya.


"Aku dan atas nama ibuku, Mawar meminta maaf kepadamu. Ayah mu tidak pernah salah. Justru kehadiran diriku yang membuat semuanya runyam, ibuku memperalat ayahmu hanya untuk menghidupiku."


"..."


"..."


"Juga aku yang menyebabkan dirimu menikahi Andini. Aku yang mencuri uang perusahaanmu dan menyebabkan perusahaan mu bangkrut. Maafkan aku Chandra," ungkapnya. Rendi sudah tidak bisa menyembunyikan fakta itu lagi.


Seketika saja Chandra menjatuhkannya..


"Uhuk.." Rendi memegangi dadanya. Serasa sesak sekali, mungkin peluru itu hampir menembus jantungnya.


"Maafkan aku, kemarin yang menyebabkan kerugian di perusahaanmu juga aku."


"Kau harus berhati-hati ada orang yang ingin menjatuhkanmu, selain ..."

__ADS_1


Daarr..


Satu peluru lagi mengenai dada kirinya.


Dan membuat Rendi langsung tak sadarkan diri.


"Rendiiiii...." teriaknya.


"Semuanya bersiap ada penyusup.." ucap salah satu anak buah Doni tersebut.


Sebagian anak buah Doni langsung berpencar mencari penembak kedua Rendi. Sebagiannya lagi langsung membawa Laura. Dan Doni langsung menarik Chandra agar berada ditempat yang aman..


Chandra terdiam mendengar fakta-fakta yang baru saja didengar olehnya. Rasanya sesak sekali, mengetahui semuanya.


Satu persatu memori tentang ibunya masuk dalam pikirannya, betapa menyakitkan sekali dia tahu ibunya meninggal bukan hanya karena penyakit namun karena kebejatan ayahnya.


Dan lagi Andini, dia sudah membuat Andini banyak menderita. Dia menyalahkan Andini atas pernikahannya itu. Namun ternyata itu semua terjadi karena Rendi. Seorang sahabat yang sangat dia percayai.


Masalah ini semakin membuatnya pusing. Ini semua karena ayahnya. Tidak ini semua pasti karena kehadirannya yang terlambat.


"Apa salah ku tuhaaaan..." Laki-laki itu menjerit. "Mengapa kau menuliskan takdir yang begitu rumit ini. Mengapa ? Apa kau belum cukup puas menyakitiku. Ambil saja nyawaku aku sudah tidak sanggup hidup.. Huhuhh..." tangisnya pecah seketika mengingat semua yang sudah terjadi kepada dirinya.


"Kendalikan dirimu Chandra, masih ada Andini yang sangat membutuhkanmu.." ucap Doni. Dirinya pun sama meneteskan air matanya, jujur saja Doni pun tidak sanggup jika dirinya ada diposisi Chandra saat ini.


"Aku, sudah banyak menyakitinya, Don.. Aku tidak pernah mencari fakta yang sebenarnya.. Aku menyalahkannya atas kesalahan keluargaku sendiri."


"Chandra, yang lalu biarlah berlalu. Apa kau tidak ingin menata hidup yang baru ?" Chandra terdiam meresapi perkataan Doni.


"Andini sedang amnesia sekarang, anggap saja ini adalah kesempatan bagimu untuk merubah segalanya. Buatlah dia bahagia dengan tidak lagi mengenal arti kepedihan apalagi sampai merasakannya."


Chandra mulai terbuka hatinya, tidak seharusnya dia larut dalam kesedihannya. Masih ada orang lain yang mesti dia perjuangkan, dia bahagiakan yaitu istrinya.


...Ketika takdir sudah berbicara maka semuanya tidak dapat menyangkalnya....


...Terimalah, semua ini adalah ujian untukmu....

__ADS_1


...Tuk menjadi lebih baik lagi....


bersambung.


__ADS_2