Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Terluka


__ADS_3

Bruuukk..


Andini terjatuh tepat di pinggang Chandra.


"Andini..." Chandra membungkuk dan langsung menopang tubuhnya.


"Andini..." lirih Rio.


"And.." lirih Michell.


"Bu Andini..." lirih Nina.


Ucap mereka bertiga bersamaan.


"Chand.. Sepertinya Andini pingsan" ucap Michell dengan nada Khawatir.


Mendengar perkataannya, dengan sigap Chandra langsung mengangkatnya lalu menggendongnya langsung berlari secepat mungkin menuju mobilnya.


"Apakah Andini sembuh, apakah memorinya terkumpul kembali dan metodeku berhasil, bagaimana jika tidak itu hanya memperburuk situasinya saja ?" Rio masih sibuk bermonolog sendiri. Pikirannya sudah melayang kesana kemari.


"Tidak, tidak aku harus memastikannya segera. Andini kau harus baik-baik saja" gumamnya lagi. Tak lama Rio pun pergi menyusul Chandra juga Andini.


"Apa ini semua gara-gara aku ?" batin Nina gelisah, sementara raut wajahnya sudah berubah menjadi pias. Antara takut dan resah. Takut dimarahi oleh Michell dan juga Chandra dan resah akan kondisi Andini yang sedang tidak baik-baik saja.


Kemudian lamunannya dikacaukan oleh Michell yang menarik-narik tangannya, mengajaknya untuk mengejar Andini..


"Ayo Nin ! Ayoo.." ucap Michell. Tak berbeda dengan yang lain wajahnya terlihat sangat merasa khawatir. Karena Nina yang diam saja tidak menanggapinya, Michell berlari sendiri.


"Tunggu Chell !!" teriak Nina kemudian dia segera ikut berlari.


"Tunggu Mbak.." Para pelayan itu sama ikut berlari dan salah satu dari mereka berhasil menahannya.


"Ada apa Mbak ?" tanya Nina yang kesal ditahan mereka.


"Mbak selesaikan pembayarannya dulu" pinta si pelayan itu.


"Hah ! Berapa Mbak.." Nina mengeluarkan dompetnya. Berisi uang bergambar Soekarno Hatta dua lembar dan satu lembar uang bergambar Pangeran Patimura.


"200 ribu Mbak.."

__ADS_1


"Ini.." lirihnya. Dia menyerahkan uang kesayanganya itu dengan menatap pilu. Kemudian dia berlari lagi mengejar Michell.


"Chell tunggu.." teriaknya sambil menghadang mobil Michell.


Kemudian Nina pun naik dengan nafas yang masih belum teratur.


Didalam perjalanan keduanya terlihat nampak diam, Nina dengan gerutuannya yang merasa seperti di copet, karena harus mengeluarkan uang untuk membayar pesanan mereka. Sedangkan Michell masih memikirkan kondisi Andini.


"Nin. Kamu yang memanggil Chandra ?" tanya Michell seketika. Entah mengapa dia merasa bahwa wanita yang ada disebelahnya ini adalah dalang di balik semuanya.


"Mm ituu.. Mm ituu, anu.."


"Jadi benar, kamu yang memanggilnya ?" Nada ucapannya meninggi, sambil sesekali melirik wanita yang tengah bersamanya ini. Tapi wanita itu tidak menjawab apa-apa dia hanya menundukan wajahnya.


"Jawab Nin, kamu yang lakuin ini. Kamu ngomong sama Chandra kalau Andini ada sama kita, iya kan ?" bentaknya. Dia benar-benar sangat emosi dengan perilaku yang Nina lakukan.


"Chell..." lirihnya.


"Kenapa kamu gak menyangkalnya. Huh, pikiranku benar kamu yang ngadu sama Chandra" bentaknya lagi. Namun Nina masih tidak ingin mengangkat kepalanya.


"Andini itu amnesia Nin. Hilang ingatan, otaknya lagi rusak. Kenapa kamu lakuin ini, kamu tau akibatmu itu bisa berakibat fatal pada mentalnya Nin" bentaknya untuk yang ketiga kali dan itu berhasil membuat Nina meliriknya.


"Bukan Bu Andini yang amnesia justru kamu. Kamu yang amnesia kamu yang lupa akan kehadiranku. Kamu yang selalu menatap Bu Andini padahal dia sudah bersuami." Kali ini Nina yang tidak dapat lagi menahan gejolak rasa marahnya.


"Maksud kamu apa ?"


"Humph." Nina tersenyum kecut.


"Bahkan soal ini saja kamu tidak tahu. Aku cemburu Michell aku cemburu, melihat kamu yang selalu mencari perhatian pada Bu Andini mulai dari makan, ada noda di bibirnya kamu langsung menghapusnya. Sedangkan aku, kamu anggurin gitu aja. Apa aku salah Chell manggil Pak Chandra, dia suaminya sedangkan kamu ? Benar kata dia kamu gak berhak Chell."


"Nina... !" teriaknya lagi.


"Apa Chell.. Apa ?? Aku tuh suka sama kamu Chell dari dulu bahkan aku cinta sama kamu. Tapi apa kamu bahkan sedikitpun tidak pernah menganggapku ada, aku sabar Chell selama kamu selalu ada buat aku itu udah cukup. Aku cukup bahagia dengan adanya kamu disamping aku Chell." Ini kedua kalinya Nina menyatakan perasaannya kepada Michell.


Kriiiiiiieeeet


Michell tiba-tiba saja mengerem mobilnya. Membuat keduanya terhuyung kedepan. Kemudian dia menatap wanita yang ada di sampingnya itu. Hanya menatapnya nanar tanpa mampu berkata-kata.


Sedangkan Nina dia sudah meneteskan satu persatu air matanya. Hanya satu dalam pikirannya, ingatannya tentang dulu ketika dia ditolak mentah-mentah oleh Michell.

__ADS_1


"Nin.." lirih Michell.


Nina pun menatapnya sekilas. Dia tidak ingin Michell mengatakan 'aku tidak mencintaimu' untuk kedua kalinya.


Brakk...


Nina membuka pintu mobilnya dan berlari sejauh mungkin agar tidak dikejar oleh Michell.


"Nin.. Ninaa.." teriaknya.


"Nin.. Sedalam itukah cintamu huh.." Michell tersenyum getir. Otaknya kembali bernostalgia mengingat tentang kebersamaannya selama ini. Memang Nina selalu menunjukan cinta kepadanya akan tetapi berbeda dengan dia, dia hanya menganggap bahwa semuanya biasa kecuali Andini. Dia belum sepenuhnya berhijrah hati dari Andini.


Tiid tiiid tiiid.. Mobil dari belakangnya terus membunyikan klakson. Meminta agar Michell berjalan maju. Dan itu merupakan tamparan keras agar Michell kembali sadar pada dunia yang kini sedang dijalaninya. Michell pun kembali menyalakan mobilnya dan melaju dengan pelan.


Sedangkan Nina dia terus berlari dengan air mata yang juga terus berderai, tidak ada satupun yang mampu menghentikan langkahnya juga tak ada satupun yang bisa menghentikan air matanya.


"Kenapa Michell kenapa, kau terlalu perduli pada orang yang bahkan tidak mengingatmu, apakah dia masa lalumu yang tidak bisa kau miliki. Tapi ini adalah masa sekarang. Kini sudah ada aku tidak bisakah kau melihatku, aku selalu mencintaimu aku selalu mencintaimu Michell huuhu huhu."


Dia berhenti berlari, dan mendudukan dirinya di halte bis. Sakit karena luka lecet dikakinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Ya kakinya kini sudah lecet-lecet akibat sepatu hak tingginya, bahkan sampai meluarkan darah. Tapi dia mengesampingkan lukanya itu dan mencoba untuk meneguhkan hatinya lagi.


Beralih kepada yang Chandra yang sekarang sedang berjalan mondar-mandir di depan ruangan Andini. Pikirannya benar-benar berantakan sekarang. Berbagai macam gaya telah dia lakukan untuk menenangkan pikirannya. Namun lagi-lagi tidak berhasil.


Tiba-tiba dari arah kanannya nampak seorang Rio yang tengah berlari kearahnya.


"Bagaimana keadaan Andini" ucapnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Dia, aku tidak tahu bagaimana keadaannya" jawabnya ketus.


"Huh huh..." Rio mencoba mengatur nafasnya perlahan.


"Untuk apa kau kesini ?"


"Tidak, aku hanya mengkhawatirkannya."


"Orang yang Anda khawatirkan itu sudah memiliki suami. Anda bukan saudaranya, Anda bukan ayahnya dan Anda bukan siapa-siapanya. Jadi tolong untuk tidak mendekatinya lagi."


"Cih" Rio berdecih mendengar larangan yang dikeluarkan oleh Chandra.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2