Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Kumpul


__ADS_3

"Hallo Nin!" Michell sudah mengangkat telepon itu.


"Chell, kamu hari ini liburkan. Kebetulan nih aku juga lagi dapet bonus kerja setengah hari, kita makan yuk.." ajak Nina, suaranya bernada bahagia mungkin karena bonusnya.


"Ayoo, aku udah di restoran Mall Taman Melati nih. Kamu kesini aja yah, aku tunggu."


"Iya siiip.." Kemudian Michell memutuskan sambungan telponnya.


Setelah selesai Michell pun langsung kembali lagi ke tempat dimana Andini berada. Saat beberapa langkah lagi sampai pada meja yang Andini duduki, dia terkejut dengan kehadiran seorang laki-laki yang sangat familiar baginya.


"Pak Direktur.." ucap Michell yang memandangnya dengan wajah keheranan.


"Dokter Michell..." Rio tak kalah terkejutnya dengan kedatangan Michell.


"Kok Pak Direktur ada disini.." tanyanya seraya mendudukan tubuhnya di kursi sebelah Andini.


"Chell dia temen kamu ?" tanya Andini yang juga bingung dengan tingkah kedua pria dihadapannya.


"Bapak lagi apa disini ?" tanya Michell, dia tidak menjawab pertanyaan Andini hanya meliriknya sekilas saja.


"Dokter Michell yang kenapa ada disini, bukannya ini waktunya bekerja ?" selidik Rio.


"Saya sedang mengambil libur Pak. Bapak kenal dengan Andini ?" Pertanyaan yang sejak tadi ada dibenaknya kini sudah dilontarkannya.


"Ya saya temannya" ucap Rio dengan mengangguk-angguk kecil.


"Sejak kapan Pak ? Kok kamu gak pernah cerita sama aku And.." Michell meminta penjelasan dari keduanya.


"Aku aku.." ucapnya sambil mengingat. Kepalanya mulai sedikit terasa pusing namun dia masih bisa menahannya. Entah kenapa sejak datangnya Rio dengan banyak pernyataan yang dia katakan tentang masa lalunya bersama Andini, membuatnya sedikit pusing. Lalu kemudian pertanyaan dari Michell pun juga membuatnya bertambah pusing.


"Sejak dulu, lalu kamu siapanya ?" tanya Rio lagi.


"Saya teman SMP-nya Pak."


"Oh teman masa kecil.."


"Michell Bu Andini.." seru seorang wanita yang baru saja tiba yang tak lain adalah Nina.


"Kenapa Bu Andini ada disini, bukankah dia sedang sakit ?" monolognya dalam hati.


"Ah Nin, ayo duduk disini.." ucap Michell mempersilahkannya untuk duduk disampingnya.


"Iyaa Makasih. Kalian udah lama disini ?" tanya Nina yang merasa agak cemburu pada Andini.


"Iyaa Nin tadi aku ketemu dia di jalan sendirian, terus aku ajak kesini."


"Lalu dia siapa Chell.." tanya Nina sambil melirik kearah Rio.


"Ahh saya Rio temannya Andini.." Tanpa diperkenalkanpun dia memperkenalkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Suasananya begitu canggung, Andini dengan kebingungannya manatap orang-orang baru dan mengaku telah mengenalnya. Michell yang baru saja melihat gelagat lain dalam diri Rio. Rio yang tidak suka pertemuannya di kacaukan oleh bawahannya sendiri, sedangkan Nina sibuk memperhatikan sikap Michell terhadap Andini.


Beberapa menit kemudian datanglah makanan yang di pesan lebih dulu oleh Andini saat Michell ke kamar mandi. Jajangmyeon sebuah makanan korea yang berupa mie bersaus pasta kacang kedelai hitam menjadi menu pilihannya.


"Ada lagi yang ingin memesan ?" tanya si pelayan itu.


"Mm saya pesan menu yang sama dengan Nona ini.." ucap Rio.


"Kalau begitu buatkan dua lagi jajangmyeon" sahut Michell. Dia seperti tidak ingin kalah dengan Rio. Sedangkan Nina yang berada disampingnya menatap kesal melihat tingkah Michell yang menurutnya kekanakan.


"Michell bahkan untuk hal makananpun kamu ingin terlihat sama dengan Bu Andini" batin Nina.


"Apakah Michell menyukainya ? Sampai-sampai dia melupakanku disini ?" pikir Nina.


"Kalau mbak yang satu ini ?" tanya pelayan itu lagi membuyarkan lamunannya.


"Ahh.. Saya, saya ingin pizzeria cavalese" ucapnya dengan tersenyum menahan duka.


"Apakah aku harus memanggil Pak Chandra. Pak Chandra kan suaminya. Mungkin lebih baik seperti itu, agar Pak Chandra bisa membawa Bu Andini pergi dari Michell" batinnya lagi. Sesak sekali rasanya melihat orang yang disayangi malah lebih perhatian kepada orang lain.


Nina pun langsung melancarkan aksinya. Dia mengirim pesan kepada Chandra bahwa isterinya itu tengah bersamanya, Michell dan juga Rio.


***


Drrrttz drrtzz


"Andini...." geramnya. Bahkan sampai membuat giginya menggeretak.


Chandra langsung mengambil kunci mobil menuju tempat yang sudah disebutkan oleh sekretarisnya itu.


Memang rasa cemburu itu akan membuat semua orang dalam keadaan gelap mata. Otaknya seakan-akan tidak lagi berfungsi, dia akan melakukan apa saja yang menurutnya adalah benar. Itulah yang kini tengah Nina maupun Chandra lakukan. Tapi bagi Chandra tidak apa bukan toh dia adalah suaminya, sedangkan Nina ??


"Aduh thor jahat banget dah lu.." keluh Nina😕


"Biarin wleee..."😝


***


Kembali lagi pada tempat dimana mereka berempat berada, ya sebuah restoran yang ada di pusat perbelanjaan itu.


Kini semua menu sudah dimiliki oleh masing-masing pemesan. Andini sedari tadi sudah melahap dengan sangat lapar, kemudian diapun memesannya lagi untuk kedua kalinya. Entah kali ini dia lapar atau kerasukan sehingga memesan satu porsi lagi jajangmyeon.


Melihat itu Michell dan Rio hanya tersenyum geleng-geleng tak menyangka bahwa Andini punya sisi perilaku yang seperti ini.


"Apakah kau sedang lapar ?" tanya Rio sambil tertawa kecil.


"Tidak " jawabnya sambil terus mengunyah mie itu.


"Apakah itu enak ?" tanya Michell yang juga masih tak ingin kalah dengan Rio.

__ADS_1


"Ekhemm" deheman Nina membuat mereka diam kembali.


Akan tetapi suara itu hanya ampuh untuk beberapa saat. Ketika Andini makan dengan lahap sampai meneguk mangkuk berisi jajangmyeon tersebut dan menyisakan sisa-sisa bumbu di sudut bibir kiri maupun kanannya. Kedua pria itu langsung mengusap sudut bibir Andini secara bersamaan. Ya Rio yang duduk disebelah kanannya mengusap sudut bibir kanan Andini sedangkan Michell sudut kiri Andini.


Baik Andini maupun Nina mereka berdua terbelalak atas perlakuan yang kedua laki-laki itu lakukan kepada Andini. Nina menatapnya penuh kecemburuan dan kemarahan sedangkan Andini sendiri menatapnya penuh dengan keheranan dan kekagetan.


"Andini...." Tiba-tiba saja suara itu melengking keras ditelinga mereka berempat.


Nina orang yang pertama melihat siapa yang berteriak pun berkata 'yes !' didalam hatinya. Matanya berbinar penuh kemenangan seakan dia sedang mendapat hadiah mobil ditirai yang dia pilih.


"Apa yang sedang kalian lakukan hah.." teriak Chandra yang membuat kedua laki-laki yang sedang memegang sudut bibir Andini pun terlonjak dan langsung menarik tangannya masing-masing.


"Chandra.." gumam kedua laki-laki itu.


"Apa yang sedang kalian lakukan hah, Andini adalah isteri saya dan kalian tidak punya HAK untuk menyentuhnya" sungut Chandra dengan berapi-api, mengatakannya dengan penuh penekanan.


Tidak ada satu orang pun yang berada disana tidak kaget dengan teriakannya. Terlebih dengan Andini dia seakan-akan kembali di ingatkan dengan masa lalunya, dan membuat kepalanya sangat pusing. Sedangkan didalam kepalanya, didalam otaknya sendiri seakan berusaha kembali mengingat rekaman memori yang sulit untuk diingatnya kembali. Kini tubuhnya sudah mulai gontai dan,


Bruuukk.. Andini jatuh tepat di pinggang Chandra.


"Andini..." Chandra langsung menopang tubuhnya.


"Andini..." lirih Rio


"And.." lirih Michell.


"Bu Andini..." lirih Nina.


Ucap mereka bertiga bersamaan.


"Chand.. Sepertinya Andini pingsan" ucap Michell dengan nada Khawatir.


Mendengar perkataannya, dengan sigap Chandra langsung mengangkat lalu menggendongnya. Dia berlari secepat mungkin agar segera sampai pada mobilnya.


bersambung..


Maaf ya kalau misalkan tulisnnya enggak rapi dan meski dibaca berulang-ulang. Maaf banget😢😢


BTW Andini ingat lagi gak yah.???


Sembuh gak yahh ???


Pokoknya tunggu besok😂


Jawabannya ada di otak othorr..


Jangan lupa dukungannya. gak susah dan gak mahal beib.


Jaiziann👋👋

__ADS_1


__ADS_2