Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Pukulan


__ADS_3

...Pergi bukan berarti berhenti mencintai tetapi kecewa dan lelah harus berjuang sendiri. ...


..._Anonim...


Didalam mobil.


Chandra sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung menggendong Andini keluar, dan langsung berteriak teriak memanggil para Suster dan Dokter.


"Susteeer... Dokter... Tolong saya !" teriaknya.


Mereka pun langsung menghampirnya dengan membawa brangkar. Kemudian diletakannya Andini disana. Kondisinya masih belum sadar dari awal dia terbentur hingga kini sampai di rumah sakit. Sedang darahnya masih terlihat mengalir sedikit demi sedikit.


"Dok.. Sepertinya pasien kehilangan banyak darah" ucap salah satu Suster.


"Ya ya .. Bawa dia langsung ke ruang UDG" kata Dokter tersebut.


Dokterpun langsung bersiap siap untuk segera melakukan tindakan. Sedang Chandra segera mengurusi administrasi.


Didepan ruangan tersebut dengan harapan yang besar Chandra menunggu kabar tentang kondisi isterinya. Khawatir tentu saja kini sedang menyelimutinya, baru saja kemarin malam dia hendak tidur dikamarnya Chandra dan pagi ini dia sudah tidur di kasur milik rumah sakit.


Matahari sudah menunjukan sinarnya, namun Dokter masih tidak kunjung juga keluar.


Beberapa jam kemudian...


Ceklek..


Dokter pun keluar dari ruangan tersebut, yang langsung diserbu oleh Chandra.


"Bagaimana keadaanya dok ?"


"Dia banyak sekali kehilangan darah Pak, dan Alhamdulillahnya dia sudah melewati masa kritis, akan tetapi ..." ucapnya tertahan


" Akan tetapi apa Dok ?" ucapnya khawatir.


" Akan tetapi sampai saat ini dia belum sadarkan diri juga" ucap Dokter itu memelas.


"Apa... ?" Chandra terkulai lemas. Tumitnya serasa sudah tidak bisa menompang tubuhnya lagi.


"Dia mengalami koma" timpal Dokter tersebut.


"Tidak Dok, ini tidak benar. Andini saya kuat Dok, dia tidak mungkin koma. Dokter coba dulu untuk memeriksanya lagi ya Dok. Andini tidak akan koma Dok" ucapnya tak percaya sambil menunjuk ke ruangan Andini.


"Sabar Pak.. Kami akan berusaha sebaik mungkin" jawab Dokter tersebut.


"Tidak Andini... Hu hu.." Diapun terjatuh bersimpuh dilantai rumah sakit itu.


"Andini.. Ini semua salahku.. " lirihnya, matanya bergelinang, ini kali kedua dia menangis untuk Andini.


"Chandra" teriak seseorang yang baru saja tiba. Yang sedari tadi mendengar perbincangan antara Chandra dan Dokter


Dia menarik kerah baju Chandra, membuatnya bangun, dan

__ADS_1


Bugh... Dia memukul bagian perutnya.


Bugh... Pukulan kedua untuk perutnya.


Bugh... Bogeman itu untuk pipi kirinya.


"Apa yang udah lo lakuin hah" bentak Michell, ketika dia berbicara kasar artinya dia sedang marah tingkat tinggi, sedang tangannya masih mencengkram kerah baju Chandra.


Bugh.. Bogeman kedua masih untuk pipi kirinya.


"Aa aku eshhhh tidak melakukan apapun.." ucapnya terbata sedikit meringis menahan sakit di pipi juga diperutnya.


" Bohong kamu, sekarang dia masuk rumah sakit itu pasti gara gara kamu. Dimana dia sekarang ?"


"Di dia di dalam, dia koma" ucapnyas terbata.


"Apa.. ?"


Bugh bugh bugh.. Kembali lagi pukulan itu untuk perutnya dan terakhir untuk punggungnya. Kini Chandra benar benar sudah tidak bisa berdiri akibat pukulan Michell yang bertubi tubi. Tanpa balasan dan tolakan dari dirinya.


"Puas kamu Chandra, puas.. Sekarang dia diantara hidup dan mati. Aku yakin kau pasti senang kan dengan kondisinya yang sekarang" bentaknya.


"Akan aku buat kamu menyesalinya Chandra, lihat ini..." Michell memberikan ponselnya. Dia memutarkan sebuah rekaman yang dia ambil tiga bulan yang lalu. Dia benar benar ingin membuat Chandra menyesal.


Chandra mendengarkan dengan teliti, dia mendengar suara rekaman. Dia sangat yakin akan suara itu. Suara itu adalah milik Bella, tidak Almarhumah Bella.


"Jaa jadi selama ini, Andini benar. Bella tidak pernah mencintaiku, dia dia hanya memanfaatkan aku. Huh " Chandra pun kembali berderai air mata.


Kemudian dia menekan handle pintu ruangan Andini dan masuk diikuti oleh Michell. Melihat Andini terbaring dengan berbagai macam alat yang di pakainya, dan suara suara dari detak jantungnya terdengar jelas ditelinga Chandra. Dia bersimpuh di dekat hospital bed yang sedang ditiduri oleh Andini.


"Andini maafkan aku.." lirihnya. Dia tertunduk menyesali segala perbuatannya


"Aku tidak pernah percaya akan kata katamu. Aku bahkan menyelingkuhimu namun kamu masih memaafkan ku, apa yang sudah aku lakukan padamu Andini..." gumamnya dalam hati. Semua yang pernah dia lakukan yang bersangkutan dengan Bella terngiang kembali.


"Hmm baru kali ini aku melihat air mata komodo mu itu. Aku akan menambah rasa penyesalanmu itu Chandra. Asal kamu tau, kematian Bella orang terkasih mu itu bukan karena dia tidak mendapatkan donor jantung melainkan karena dia terlalu banyak minum minuman ber-alkohol."


Chandra terkejut dengan ungkapan Michell, dia mencoba untuk berdiri, akan tetapi pukulan yang di berikan Michell membuatnya sangat kesakitan sehingga dia tidak mampu berdiri.


"Shh.." desis Chandra.


"Hais." Michell menatap jengah Chandra.


" Menyusahkan" cibirnya dan akhirnya Michellpun memapahnya menuju sofa yang sudah tersedia diruangan tersebut.


" Apa maksudmu ?" ucap Chandra. Ketika mereka sudah duduk berdampingan di sofa tersebut.


Michell pun menceritakan kejadian sebelum Bella meninggal, dan juga dia menceritakan siapa Bella sebenarnya.


" Dia tidak mencintaimu Chandra, dia mencintaiku. Berulang ulang kali dia menyatakan perasaannya namun aku juga selalu menolaknya" ungkapnya.


"Kenapa shh..." Chandra masih menahan sakit di bagian perutnya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mencintainya sedikitpun. Tak pernah terbesit ada rasa kepadanya meski sedetikpun. Aku mencintai isterimu. Tapi dia selalu menolakku bahkan sebelum dia menikah denganmu. Dia begitu setia dengan cintanya kepadamu."


Chandra terdiam..


"Kenapa, gak percaya ? Humm." Michell tersenyum kecut.


"Chand...Barang berharga harus berada ditangan orang yang menghargainya. Jika kamu tidak bisa menghargainya maka lepaskan" cetusnya


"Aku tidak akan pernah melepaskannya." Kawaban itu terlontar cepat dari bibir Chandra.


Michell tersenyum sinis ketika mendengar perkataan Chandra.


"Apa kamu sudah mencintainya ? Tapi jika kamu masih menyiksanya aku akan merebutnya"


Deg...


Perkataan itu membuat Chandra semakin gugup. "Apakah aku mencintainya ?" batinnya meminta jawaban. Tidak, dalam pikirannya masih banyak pertanyaan lain yang belum terjawab. Tapi kenapa dia tidak ingin kehilangan Andini juga tak ingin melepaskannya ?


"Kamu masih saja diam dan mempertimbangkan hal lain ? Ingat Chandra aku serius dalam ucapanku" tebak sekaligus ancaman kepada Chandra.


"Andini hanya inilah yang bisa aku lakukan, semoga suatu hari ketika kamu sadar dia juga menyadari akan adanya kamu dan bisa menghargai statusmu dalam hidupnya" batin Michell.


Meski hatinya sakit mempersatukan orang yang dicintainya bersama orang lain, tapi dia tidak ingin hidup sia sia dengan dendam seperti Bella. Dia sadar bahwa sampai kapan pun Andini tidak akan memilihnya meski tidak adanya Chandra sekalipun.


"Sudahlah aku akan pergi dulu" pamitnya.


" Terimakasih. Tapi sebelumnya kenapa kamu tahu aku dan Andini disini ?" tanya Chandra penasaran karena dia belum memberitahu siapapun tentang keberadaannya kecuali Rendi.


"Ini.." Dia menyodorkan kartu id-cardnya.


Chandra membacanya, disana ada nama, jabatan dan juga nama rumah sakit yang sedang ia pijaki sekarang. "Jadi dia Dokter disini" batinnya.


"Jangan sering sering kesini" celetuk Chandra.


"Cih aku ini Dokter disini, bagaimanapun aku bisa melakukan apapun disini. Apalagi menyangkut sahabatku, aku akan sering kesini" tantang Michell.


"Aku suaminya aku tidak mengijinkannya. Pergilah ! Jangan lupa pintakan aku obat memar, badan ku juga wajahku sakit akibat pukulanmu."


"Punya uang berobat sendiri" ucap Michell dengan sinis sebelum dia pergi meninggalkan ruangan itu.


Setelah semuanya pergi, hanya suara detak jantung Andini saja yang kini dia dengar, melihat keadaanya yang sekarang, Chandra kembali membatin.


"Andini seandainya saja semalam aku menerima mu mungkin kamu tidak akan tidur seperti ini, mungkin saja kamu masih memelukku saat ini. Tapi takdir berkata lain, kenapa aku baru mengetahui kejahatan Bella kepada kita. Bahkan aku membantunya menyakitimu. Setelah keadaan mu seperti ini. Andini kumohon sadarlah dan ceritakan semuanya kepadaku. Masih ada banyak pertanyaan dibenakku, salah satunya tentang perusahaan yang diserahkan kepadamu. Apa maksud ayah melakukan hal itu ? Andini kau adalah pertanyaan dan jawaban, kumohon sadarlah."


Tak terasa air matanya kembali menetes, dia memang tidak menangis sesegukan. Tapi bisa dilihat dari matanya bahwa air yang mengalir itu adalah air mata penyesalan.


Bersambung....


Jan lupa dukungan guys


maaf juga lmbat hehe..

__ADS_1


__ADS_2