
Surabaya
Laura sudah sadar dari pengaruh obat biusnya, secara pelahan dia mulai membuka matanya. Melihat kearah sekelilingnya, terdapat banyak drigen-drigen besar diruangan itu. Dapat dipastikan bahwa gedung itu adalah bekas pabrik.
Dia merasakan pegal ditangannya. Kemudian dia melirik kearah belakangnya. Kedua tangannya sudah terikat kuat di sandaran kursi yang dia duduki itu. Tak hanya tangan, kakinya pun bernasib sama terikat di kursi tersebut.
Ceklek..
Tiba-tiba saja pintu gedung itu terbuka, terlihat seorang laki-laki menghampirinya, ditangannya dia sudah membawa nampan berisi piring dan juga gelas.
"Heh.. Rupanya kamu sadar juga. Aku kira kamu tidak akan sadar, sudah sejam lebih kamu tidur. Mm.. apa mungkin efek obat biusnya yang bagus ?" ucapnya sambil meletakkan nampan itu di atas meja sampingnya.
"Untuk apa kau menculikku ?" sargahnya langsung.
"Aku bukan orang kaya yang dapat kau mintai tebusan.." tegasnya.
"Haha, kamu pikir aku tidak tahu kamu orang miskin, humm." Laki-laki itu menaikan alisnya.
"Pistol, aku harus mendapatkannya," bisiknya dalam hati. Ketika dia melihat bagian pinggang laki-laki tersebut.
"Aku tahu kamu bukan orang kaya tapi orang yang mencarimu yang orang kaya," jawabnya.
"Ini makanlah !" ucapnya lagi.
"Chandra, tidak salah lagi pasti dia yang sudah menculikku," terkanya.
"Bagimana caranya aku makan, jika tanganku masih kau ikat, bodoh.." umpatnya namun itu adalah sebuah pancingan untuk laki-laki itu mendekatinya.
"Kau yang bodoh. Makan itu pakai mulut bukan pakai tangan." Entah mengapa dengan laki-laki itu, meski dia berbicara seperti itu. Dia tetap saja membukakan tali pengikat tangannya.
"Nah, pakai satu tangan saja," ucapnya ketika dia sudah berhasil melepaskan tali di tangan kanannya.
"Tapi tangan kiriku juga pegal," ketusnya.
"Dasar wanita hanya menyusahkan saja." Kemudian laki-laki itu membungkukan tubuhnya kembali, untuk membuka tali pengikat di tangan kiri Laura.
Tentu momen itu dia gunakan dengan sebaik- baiknya untuk mengambil pistol yang ada di pinggang laki-laki itu.
Slupp.. Dia berhasil mengambilnya dan langsung menyembunyikan pistol itu dibalik bajunya. Sedangkan laki-laki itu masih berkutat membukakan tali yang sangat kuat mengikatnya.
"Sudah.. tapi jangan kau pikir untuk kabur dari gudang ini. Karena itu tidak mungkin. Kau tahu kan orang disini banyak," paparnya.
"Cihh.. Aku kabur akan mati, tidak kabur juga akan mati. Untuk apa aku menyia-nyiakan tenagaku. Lagi pula aku juga ingin tahu siapa yang menculikku itu," terangnya. Lalu dia menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya.
"Nah, akhirnya kau pintar juga. Habiskan makanan itu ! Aku akan mengawasimu disini.."
__ADS_1
"Terserah ! Aku tidak perduli," ketusnya lagi.
Kemudian dia makan sambil berfikir, bagaimana caranya agar dia bisa kabur dari tempat terkutuk itu.
Sementara diluar sana. Chandra dan Doni sudah berada di mobil menuju tempat Luara berada. Sebelumnya dia sudah menempuh perjalanan udara selama 1 jam 10 menit. Setelah tiba di Surabaya dan tanpa istirahat lagi, mereka berdua langsung menuju tempat itu dengan dijemput langsung oleh anak buah Doni.
Perjalanannya dari Bandara menuju tempat itu memakan waktu selama dua jam. Dan berhasil membuat Chandra gelisah karena dia tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali, juga dia sudah tidak sabar untuk menanyakan maksud dari perbuatannya yang mendorong Andini sampai amnesia seperti itu.
Setelah tiba di bangunan bekas pabrik tersebut, Chandra langsung masuk kedalamnya, dan disusul oleh Doni. Dia mengedarkan pandanganya dan mendapati Laura yang sedang makan dan diawasi oleh salah satu anggota anak buah Doni.
"Hi Chandra.." sapanya dengan tersenyum manis.
Chandra menghampirinya dan meminta semua orang untuk mundur kebelakangnya. Memberikan waktu untuknya berbicara empat mata dengan manusia jelmaan iblis dihadapannya itu.
"Lama sudah tidak bertemu, Laura ?" ucap Chandra dengan wajah yang sangat menakutkan.
"Ya, benar sekali. Ada apa kau mencariku dengan cara menculikku ?" tanyanya, " Ah.. tidak ! Biar aku tebak, kau sudah jatuh cinta pada istrimu ?" tanyanya lagi.
"Hahaha... pasti tebakan ku itu benar bukan ? Bagaimana keadaan istrimu ?"
"Mengapa kau mendorongnya malam itu ?" tanyanya, langsung saja pada tujuan pertama dia datang ketempat itu.
"Ouh, apa kau lupa ? Kau yang menghadirkan aku dalam rumah tanggamu, kau juga yang menyuruhku untuk menyakitinya, bukan ?" ucapnya dengan seringai senyum iblis. Laura sudah tidak merasa takut lagi kepada Chandra.
"Tapi aku tidak pernah memintamu untuk mencelakainya, Laura," ucapnya dingin. Dia masih menahan emosinya itu.
"Mengapa ? Mengapa kau lakukan hal itu, haah.." Chandra mencengkram kuat pipi Laura.
"Karna aku menyukaimu.." Perlahan tapi pasti. Ucapannya sukses membuat Chandra melepaskan cengkramannya itu.
Chandra memundurkan dirinya, tidak menyangka Laura mengatakan hal yang sama dengan yang Rendi katakan. Mungkinkah itu benar ??
"Hahhaha..." Tawa Laura menyeruak memenuhi gedung itu..
"Mana mungkin aku menyukai laki-laki brengsek sepertimu. Kau bahkan tidak pantas mendapatkan cinta, Chandra." Dia menekan keras kata 'cinta' pada kata terakhirnya.
Chandra menatap aneh kepada Laura.
"Hanya orang bodoh seperti Andini yang mencintai orang sebrengsek dirimu.."
"Cukup kau hina istriku. Sekarang aku tanya satu kali lagi, mengapa kau mendorongnya pada malam itu, Laura ?" bentaknya lagi. Berurusan dengan Laura membuat energinya banyak terkuras.
"Hahahaha.." Laura kembali tertawa terbahak-bahak.
"Kau ingin tahu. Tahu bulat atau tahu busuk ?" tanyanya dengan menatap lekat Chandra.
__ADS_1
"Akh.. tidak, pertanyaannya begini. Mau tahu aja apa mau tahu banget ?" ucapnya dengan senyum meledek.
"Aku beri kamu satu kesempatan lagi, jangan bertele-tele."
"Baiklah, sepertinya kamu ingin tahu sekali. Maka dengarkan aku !!" Tatapan Laura berubah menjadi tatapan dingin.
"Pada malam itu entah dia datang dari mana, dia mendengarkan semua rencanaku. Dan dengan bodohnya dia akan memberitahu mu, bahwa aku akan membunuhmu."
Jleb. Perkataannya seperti sebuah belati yang menusuk tepat dijantungnya.. Namun satu hal yang membuatnya masih penasaran tentang rencana pembunuhannya ? Salah apa dirinya kepada Laura sehingga dia ingin membunuhnya ?
"Membunuhku ?"
"Ya, membunuhmu. Aku sangat ingin membunuhmu Chandra. Namun Andini mengagalkan rencanaku, apa boleh buat aku harus sementara membuatnya bungkam. Namun ternyata bungkam selamanya. Haha.." Tawanya penuh kemenangan.
"Mengapa kau tidak membunuhku saja, Laura. Mengapa kau membuat Andiniku tersiksa karena amnesianya, haaah?" teriak Chandra.
"Akan, " bentaknya. "Aku akan membunuhmu Chandra. Dan itu akan terjadi hari ini setelah kau mengetahui satu fakta."
"Fakta..?" Chandra menyernyitkan alisnya.
"Ya.. Fakta. Kau tahu alasan kematian ayahmu ?"
"Kecelakaan tabrak lari ?"
"Huh, Chandra, Chandra selain suami yang jahat ternyata kau juga anak yang durhaka."
"Apa maksudmu ? Tapi mengapa kau tahu tentang kematian ayahku ?"
"Karena orang yang menabraknya adalah ayahku Chandra."
"Jadi, jadi kau, kau adalah anaknya ? Untuk apa kau datang kemari ?"
"Untuk membalas dendam kepadamu Chandra, apa lagi ?"
"Tapi itu semua adalah kesalahan ayahmu, Laura. Dia adalah penyebab utama ayahku meregang nyawanya," bentak Chandra untuk yang kesekian kalinya.
"Penyebab utama ? Lalu bagaimana dengan ayahmu yang membuat bibiku, Mawar menjadi gila, haaah..?" Laura membalas bentakannya itu.
"Bibi, Mawar ?" Chandra memang tidak pernah mendengar nama itu.
"Ya.. ketika dirimu belum ada dikandungan ibumu. Ayahmu mendekati bibiku, dan berhubungan dengannya. Setelah kamu ada dirahim ibumu, ayahmu meninggalkan bibiku dan membuatnya mengalami GANGGUAN JIWA, Chandra," ucapnya sambil menekan kata terakhirnya.
"Tidak kau pasti berbohong, kau mengada-ada cerita tentang keluargaku ?"
"Chandra, Chandra aku tahu semua tentang keluargamu. Ibumu meninggal karena dia mengetahui fakta tersebut.".
__ADS_1
bersambung..
#judul belum diganti π pusing bikin judul abis nulis 3x