Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Takut


__ADS_3

Rio mengepalkan tangannya keras. Saat mendengar jawaban Andini. Dia tidak menyangka bahwa Andini masih mencintai orang seperti Chandra.


Tiba tiba saja muncul lah ide gila Didalam otaknya. Dia memberhentikan mobilnya itu secara mendadak.


Krieeet..


Baik Andini maupun Rio terhuyung kedepannya.


Andini nampak terkejut sedangkan Rio berpura-pura terkejut.


"And, maafkan aku."


"Tidak apa-apa, Rio ! Tapi mobilmu kenapa ?"


"Sepertinya terjadi sesuatu dengan mesin mobilnya. Biar aku periksa dulu.." Rio pun keluar berpura-pura mengecek mobil.


Kemudian dia masuk ke kursi penumpang tempat Andini duduk.


"Bagaimana mobilnya Rio ?" tanya Andini masih tidak curiga dengan Rio.


Klik mobil itu terkunci. Saat suara itu berbunyi, barulah dia mulai merasa takut.


"Mobilnya tidak apa-apa. Aku yang apa-apa ?" ucapnya.


"Maksud kamu apa Rio ?" tanya Andini yang mulai ketakutan.


Rio mencoba lebih dekat dengan Andini.


Andini yang melihat gelagat jahat dari Rio memundurkan posisi duduknya, dia mencoba membuka mobil itu.


Bugh bugh.. Dia memukul-mukul kaca mobil tersebut.


"Rio apa yang sedang kamu lakukan.." Andini berbicara dengan bergetar.


"Sinilah aku hanya ingin mengobrol sebentar.."


Rio mencoba memegang tangan Andini namun Andini menepisnya.


"Kok gitu sih, And aku cuma mau ngobrol bentar loh.." ucapnya dengan seringai yang menakutkan.


"Tapi, tapi jangan seperti ini.."


"Aku maunya seperti ini..."


Dia terus mencoba meraih tangan Andini.


Andini terus memberontak namun apa daya Andini kewalahan, tenaganya tidak sama besar dengan Rio.


"Rio jangan seperti ini.."


"Aku cuma ingin mengobrol dengan mu seperti ini." Dia berhasil mengnindih Andini..


"Rio jangan seperti ini hentikan.." Andini mulai menangis sambil terus memberontak.


"Diamlah, cuma sebentar ko..


Dia mencengkram kedua lengan andini dengan satu tangannya..


"Tolong jangan seperti ini.." Andini kembali mengumpulkan kekuatannya dan dia berhasil melepas cengkaraman itu.


"Tolong !! " teriaknya. Tapi tak ada satupun yang dapat mendengarnya.


"Syuuut jangan berteriak."


"Tolooong...." Andini tidak mengindahkan perintah itu, dia terus melawan Rio.

__ADS_1


" Sepertinya kamu ingin cara yang kasar."


Plaaaak.


Dia menampar Andini dan berhasil membuat Andini tak berdaya.


Ruang yang sempit itu sangat tidak leluasa untuk dirinya bergerak. Dia menangis sambil sesekali menendang..


Sedangkan Rio terus memulai aksinya dia memulai melepas kerudung Andini, dan mengikat kedua tangan Andini dengan kerudung itu..


"Toloooong...." rintih Andini.


"Diam !!" bentaknya, "Ouh sepertinya aku tau cara membuatmu diam."


Dia mendekatkan dirinya dan mencium bibir Andini paksa.. Andini terus menagis tak berdaya.


Umm umm..


Tangan satunya menahan Andini, dan satunya lagi mulai membuka pakaian Andini. Andini yang merasakan sesuatu yang aneh langsung mengigit bibir Rio.


"awh.." pekik Rio.


"Hahaha.. Ternyata kau sudah pintar yah. Ah, aku lupa pasti Chandra pernah melakukannya kepadamu.." Dia menyeringai dengan jahatnya.


"Tunjukan padaku bagaimana caranya kau melakukan itu dengan Chandra."


Sudah yah author ngeri😂


Sedangkan diluar sana..


Chandra berhenti tepat dibelakang mobil yang sedang di tumpangi oleh Andini dan Rio.


"Mobilnya bergoyang-goyang.." gumamnya.


"Jalanan cukup sepi.. Pasti ada orang jahat." Dia mendekat pada mobil itu, samar-samar dia mendengar suara rintihan wanita.


Tok tok.. Tak ada jawaban.


Tok tok .. Tidak ada yang membuka.


Karena mobil terus bergoyang, dia mengambil batu yang lumayan cukup besar dan


'Pray' dia memecahkan kaca mobil tersebut.


Seketika matanya membelalak melihat siapa yang ada di mobil tersebut..


"Andini Rio," pekiknya. Melihat Andini sudah menangis tak berdaya, "Keluar kamu bajingan," teriaknya.


"Chandra ..." Rio pun terkejut dan menghentikan aktifitasnya. Sedangkan Andini terus meraung- raung menangis. Saat ini pakaiannya sudah tidak lagi menempel pada dirinya. Yang tersisa hanya pakaian d*l*m. Beruntung Rio belum sampai pada aktifitas intinya 😂 hanya meninggalkan banyak jejak mer*h pada tubuhnya. ( Mungkin seperti itu author gak tau, dan belum waktunya tau😑)


"Apa kau ingin ikut ??" tawar Rio "Mari sini.." Dia menggerakan empat jarinya, mengajak Chandra.


Chandra yang kesal langsung melempar lagi batu itu .. "B-jing*n br*ngs*k.."


Pluk, batu itu tepat mendarat di kening Rio dan berhasil membuatnya tak sadarkan diri.


Chandra langsung membuka kuncinya. Dan langsung mengeluarkan Andini, dia memakaikan jaket yang sedari tadi menempel didirinya.


"Pakai ini.."


Andini terus menangis.. Chandra langsung memeluknya dan memindahkannya ke mobilnya.


Dia langsung menghubungi Doni melalui ponsel Andini, dan menghubungi polisi.


Andini yang syok terus menangis membuat Chandra tambah geram pada Rio.

__ADS_1


"Kep*ra* kamu Rio.."


Tak lama kemudian polisi dan Doni sampai di TKP. Chandra langsung melapor dengan bukti-bukti yang ada. Baik itu rekaman di jalan tersebut. Rekaman yang ada di mobilnya dan menunjuk Andini yang sedang menangis.


Mereka langsung menahan Rio meski Rio sedang dalam keadaan pingsan dan berlumur darah.


Setelah itu Chandra langsung menghampiri Andini yang masih terguncang mentalnya. Kejadian tak patut itu, kejadian yang hanya merugikan wanita ternyata terjadi kepadanya. Selangkah lagi Rio sudah mengambil sesuatu yang berharga miliknya.


"Andd..." Chandra memeluknya, menenangkan Andini. Kini mereka sudah berada di kamar Andini.


Andini hanya menangis, pikirannya kembali membayang saat Rio hendak melakukan itu.


"Jauh jauh..." rancaunya, dia memukul dada Chandra.


"And, ini aku Chandra," pekiknya.


"Jauh jauh.. Jangan dekati aku.." Dia melempar-lempar bantal yang ada dibelakangnya.


"And, tenang ini aku.." Chandra mencoba lebih mendekatinya.


"Jauh aku bilang jauh...." bentaknya. Dia benar-benar terpukul.


Chandra keluar dari kamar itu, sedangkan Andini yang menyadari bahwa dirinya sudah sendiri, dia berlari ke kamar mandi. Tanpa melepas baju lagi dia menyalakan shower itu dan menghujaninya dengan air yang sangat dingin..


"Aaaaarrrgghh..." teriaknya dia mengusap kasar tangan dan tubuhnya itu.


Dia terduduk disana dan masih meraung-raung.


"Tidak, ku mohon jangan.." rancaunya.


Sesekali dia memukul lantai yang dia duduki.


Chandra yang berada diluar begitu sedih melihat kondisi Andini yang terguncang mentalnya.


"Chandra," sapa Doni.


"Don.."


"Darimana saja kamu ? Aku dan Andini selalu mencarimu," tanyanya.


"Aku, aku takut Andini membenciku lebih dalam lagi.."


"Dia sudah tidak membencimu, dia bahkan ingin meminta maaf kepadamu.."


"Apakah dia sudah mengingat masa amnesianya ?"


"Ya.."


"Sungguh ?" tanyanya masih tak percaya. "Aku takut kehadiranku akan menambah luka," tambahnya.


"Chan, apa kamu masih mencintai Andini.."


"Tentu saja, aku masih mencintainya," jawabnya antusias. "Tapi mungkin tidak dengan dia." Kini terlihat sendu di wajahnya.


"Dia masih mencintaimu Chandra, dan masih dengan kata sangat," jelasnya. "Apa kamu mau kembali kepadanya ?" tanyanya.


Terlihat Chandra sedang memikirkan sesuatu. Entah apa itu..


"Kamu tidak ingin kembali kepadanya ?" tanya Doni yang menyadari sesuatu.


"Apa aku bisa ?"


"Tentu saja, bukankah masa iddahnya 17 hari lagi akan selesai ?"


"Benar..."

__ADS_1


Seperti diingatkan kembali pada sesuatu, Chandra segera berlari kekamar Andini...


"Aku masih bisa merujuknya.." gumamnya ketika dia sedang berlari.


__ADS_2