
...Apapun yang terjadi janji tetaplah janji...
...Yang mesti ditepati...
...ABCD...
"Ayah mohon kepada kamu untuk berjanji tidak akan menceraikan dia apapun yang terjadi. Tapi jika dia yang meminta dan memohon kepada kamu sebanyak 3 kali maka Ayah serahkan semuanya kepada kamu " ucapnya penuh penekanan.
"Tapi yah... " sanggahnya
"Ayah tidak terima kata tapi dan penolakan. Ingat itu." Ayah nya memang sangat keras kepala sama seperti anaknya.
"Iya, aku janji."
"Ayaaaahh.." teriaknya. Chandra langsung bangun begitu dia sadar. Iya semua itu hanyalah mimpi namun hal itu pernah terjadi sebelum dia mengkhitbah Andini.
"Aku pernah berjanji seperti itu." Dia memegangi keningnya pening.
Saat sudah berbicara dengan Andini semalam, dan mendengarkan keinginannya, Chandra pergi meninggalkannya. Tak dapat dipungkiri, rasa lelahnya itu meraja lela dirinya. Sehingga dia tertidur sampai bermimpi tersebut..
"Andini, apa yang harus ku lakukan ?? Aku tidak ingin bercerai denganmu, tapi aku sudah berjanji. Tiga kali saja kamu meminta cerai padaku, maka aku harus menceraikanmu," monolognya.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi," monolognya lagi.
****
Pagi ini Chandra bangun lebih awal, mimpinya semalam membuatnya tidak bisa tidur.
Dia bersiap-siap mandi kemudian melaksanakan kewajibannya, yakni salat dua rakaat Subuh.
Setelah salat dia mengadahkan kedua tangannya, dia mengadu pada tuhan yang Maha ESA atas ujian yang sedang didapatkannya.
"Ya Allah apakah inilah karma bagiku, aku yang dulu menanam kebencian dalam dirinya dan sekarang dia melupakan ku untuk kedua kalinya dengan mudah. Bahkan sekarang dia sangat membenciku dan ingin bercerai denganku."
" Ya Allah aku tidak akan bertanya apa yang mesti aku lakukan, hanya saja buatlah dia kembali dalam pekukanku, aku sangat mencintainya. Dan tolong kuatkan diriku agar aku bisa membuatnya kembali cinta padaku seperti tempo hari," doanya kemudian dia menambahkan asmaul husna dan juga solawat diakhir doanya, setelah itu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya itu.
Bukannya beranjak dari sejadah itu, dia malah kembali termenung.
"Aku sungguh bodoh. Aku dulu membencimu tanpa dasar dan ketika aku benar-benar mencintaimu, kamu sudah pergi jauh dariku. Maafkan aku Andini.." Sepagi ini air matanya sudah menetes kembali.
__ADS_1
Sedangkan Andini, setelah melaksanakan kewajibannya, dia kembali termenung sambil menyenderkan dirinya di kepala ranjang. Terlintas dipikirannya tentang Papanya. Dia sangat merindukan Papanya itu, yang selalu mengajarkan kebaikan dalam dirinya.
Sama seperti Chandra, Andini pun menangis dalam diam, dia tak lagi mampu berbicara.
Hatinya benar-benar hancur setelah malam itu.
Saat fajar sudah naik, mereka sepasang suami istri yang sedang renggang itu berkumpul dan duduk berhadapan di satu tempat yakni meja makan.
"And.. Mari makan aku sudah masakan bubur untuk mu" ucap Chandra lembut. Hari ini dia akan berusaha untuk membuat istrinya kembali mencintainya lagi.
"Bik.. Bik Sri.. " teriak Andini memanggil Bik Sri.
"Iya Non.."
"Bikinin aku roti panggang ya jangan lupa selainya juga selai coklat," pintanya pada Bik Sri. Dia sudah tidak larut lagi dalam kesedihan. Ketika melihat Chandra kebencian itu muncul bagai mega mendung dihatinya.
Chandra hanya tersenyum kecut memandangnya. Sungguh sekarang dia bahkan tidak ingin memakan masakannya. Tentu saja Chandra mengingat kejadian ini semua di awal pernikahannya, dia pun pernah menolak masakan Andini.
"And.. cicipilan sedikit bubur buatan ku, dari kemarin kamu belum makan, kau harus makan makanan yang banyak karbohidratnya," saran Chandra dia mengucapkannya dengan sangat lembut dan penuh perhatian.
Tapi semua itu tidak dihiraukannya. Kebencian sudah terlalu menyelimutinya.
"Chandra mengapa kamu tidak pergi dari rumah ini.. Ahh benar aku tahu, kamu ingin surat perusahaan Pak Hermawan bukan ?" tanyanya, dengan sangat ketus.
"Pak Hermawan ? Sudah asingkah nama itu Andini.." lirih Chandra.
"Ouh lalu apa ? Aku sebentar lagi akan cerai dengan anaknya, bukankah hubungan kita sebentar lagi akan menjadi asing. Dan ya surat-surat tentang kepemilikan perusahaan akan segera sampai ditanganmu," ucapnya lagi dengan intonasi yang sangat datar dan tanpa ada perasaan.
"Aku tidak membutuhkan semua itu, yang aku inginkah hanyalah kamu, kamu istriku. Aku sangat mencintaimu, sangat." Chandra kembali menahan air matanya.
"Huh.. Sungguh ! Aku sudah katakan bahwa aku sudah sangat membencimu. Dengar dalam diriku sudah tidak ada lagi cinta, yang ada hanyalah kebencian. Dan semua ini adalah karenamu, Tuan Chandra yang terhormat," ucapnya. Kalimat itu benar-benar membuat keduanya menjadi asing.
"Humph..." Chandra menghembuskan nafasnya kasar dan tersenyum kecut.
"Aku juga sudah bilang bahwa aku juga bisa mencintai untuk kita berdua, aku tidak akan memintamu untuk mencintaiku lagi apalagi memaksamu. Itu semua tidak akan terjadi Andin," lirihnya, dia terus menilik sendu wajah Andini.
"Jangan pernah memanggilku Andin, Tuan Chandra" bentaknya dingin.
Chandra mengbuang nafasnya kasar,
__ADS_1
"Hmm.. Baiklah !!"
"And, you should know that i really love you. Love you more, And. Aku tidak membutuhkan balasan untuk cinta ini, karena aku memang tidak pantas mendapatkannya. Tapi satu hal yang aku mau, kamu terus berada disisiku setiap saat. Aku tidak akan dan tidak ingin menceraikanmu."
"Terserah apa katamu, tapi aku akan tetap menggugatnya Chandra. Sekarang i love you no more, rasa cintaku seakan hilang dengan penolakanmu malam itu, aku tidak ingin menjadi istrimu lagi."
"Aku sangat benci, Chandra. Aku tidak ingin kembali menjadi orang bodoh seperti tempo lalu," teriaknya. Keluarlah semua yang selama ini dia pendam.
Chandra menghampiri Andini dikursinya, dia bersimpuh dihadapan Andini, kemudian menggengam kedua tangannya.
"Kumohon And, beri aku kesempatan. Ku mohon !! Aku tidak bisa hidup tanpamu And," lirihnya. Air mata itu benar-benar lolos dihadapan Andini.
"Sekali ku ucapkan tidak, ya tidak Chandra," bentaknya lebih keras dari sebelumnya.
"Kau tau betapa tersiksa dan terlukanya diriku ? Saat ayah datang, aku mendengarkan ucapanmu bahwa kamu tidak bisa menerimaku sebagai istri. kamu sangat membenciku, tapi aku bertahan Chandra, karena aku yakin bahwa kamu akan merubahnya," ucap Andini berapi-api.
"Tapi, setelah kamu menduakan aku dengan Bella, kepercayaanku menipis, Chandra. Aku tidak menyangka jika kamu bisa menduakan aku, bahkan itu dengan sahabat aku sendiri. Ok !! kita lupakan Bella, karena dia sudah tiada."
"Aku kembali mengetuk hatimu, aku beri kesempatan lagi, tapi kamu malah menduakan aku dengan Laura. Wanita mana yang akan terus bersabar dengan kenyataan itu ?? Wanita mana Chandra, katakan padaku ? Jika ada aku akan berguru kepadanya."
"Dan pada malam itu, aku mencoba dirimu. Jika saja kamu tidak menolakku, maka aku akan terus bersabar dalam menunggumu. Tapi, apa ? Kamu bahkan menolakku, kamu jijik padaku, iya kan ?? Sampai tidak ingin menyentuhku sekalipun." Air matanya tak berhenti menangis.
"Sakit Chandra, sakit rasanya.." Dia menekan kata sakitnya itu.
"Jika bisa, aku akan memintamu untuk membunuhku saja malam itu, aku tidak ingin hidup lagi, aku hancur Chandra."
"Maafkan aku. Tolong !! Maafkan aku.." lirih Chandra sambil menilik lebih dalam matanya, sesekali jempolnya itu menghapus air mata Andini.
"Stop Chandra !!" Andini memundurkan kursi yang di dudukinya, dia menjauhi Chandra.
"Pergi, pergi aku tidak ingin melihatmu lagi..." teriaknya, lalu dia berlari kearah kamarnya dan membanting pintunya.
Dia mengurung dirinya sendiri disana. Menangis meraung-raung. Chandra yang sudah di depan pintu kamarnya pun juga ikut menangis.
"Apa yang harus ku lakukan Ya Robb.." gumamnya.
"Mengapa ??" lirihnya lagi.
Rumah tangganya akan hancur begitu saja. Memang itu adalah hal yang diinginkan olehnya dulu, tapi sekarang saat dirinya sudah benar-benar mencintai Andini. Perpisahan adalah hal yang paling ingin dia hindari.
__ADS_1
next continue😅