Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Aku Kesini Part 2


__ADS_3

"Aku kesini...." ulangnya lagi.


"Ahh.. Kenapa lidahku kelu, kenapa aku tidak bisa mengatakannya" gerutunya dalam hati.


"Aku kesini.." ulangnya untuk yang ketiga kalinya.


"Kamu kesini mau ngapain." Lagi-lagi Nina menanggapinya dengan kesal. Tiga kali dia mengulang kata 'aku kesini' tapi tak ada kata lanjutan lainnya.


"Aku kesini mau benerin sepatu kamu, supaya kamu gak lecet lagi.." ucapnya asal. Saat dia melihat kearah sepatu. Pikirannya melayang mengingat tontonan youtube beberapa hari yang lalu dilihatnya.


"Hah.." Nina terperanjat heran.


"Iya, kamu ada pantyliner" tanyanya tanpa ada rasa malu.


"Pantyliner ?"


"Iya pembalut berukuran kecil." Kini ucapnya disertai dengan senyum yang tidak dapat diartikan.


"Dari mana kamu tahu barang itu" ketus Nina.


"Please sekarang aku butuh pantyliner sama gunting nanti aku jelasin" ucapnya sambil tersenyum kaku lagi.


Nina pun mengangguk-angguk heran. Sebenarnya apa hubungannya pantyliner dengan dirinya kesini ? Tidak ada yang tahu. Karena Nina juga penasaran langsung saja dia mengambil barang pribadinya itu dikamar.


"Nih.. " Nina memberikan barang yang dia inginkan dengan sangat malu. Siapa yang tak malu itu adalah barang khusus milik wanita dan hanya digunakan untuk daerah kewanitaan saja.


"Nahh.. Ini sepatu kamu yang kemarin kan ?" tanyanya sambil mengambil sepasang sepatu hak tinggi berwarna cream.


"Untung gak bau." Suara dari alam nyata😑


"Iya, kamu mau ngapain sih.." tanya dengan penuh keheranan.


"Nah gini, ini di potong jadi dua kemudian dilepas masing-masing penutupnya lalu setelah itu di tempel di bagian belakang sepatu. Supaya kaki kamu gak lecet lagi. Udah deh." Dia memberikan sepatunya lagi.


"Dari mana kamu tau cara itu" tanya Nina sambil melihat-lihat sepatunya.


"Aku, aku nonton youtube, 123 Go Silver, itu ide cemerlang bukan.." ucapnya agak kaku.


"Ah iya cemerlang.. " ucap Nina yang juga tersenyum kaku.


"Kamu kesini cuma buat itu" tanya Nina lagi.


"Ee engak.. Aku kesini pengen ngobatin luka kamu."


"Aku gak butuh, nanti juga sembuh sendiri" ucapnya acuh.


"Sembuh sendiri, kamu mau ngelarang dokter yang mau nyembuhin kamu" tegasnya kemudian ia duduk lebih dekat dengan Nina. Dan menarik kakinya untuk berada dalam pangkuannya.


"Kamu mau ngapain ihh." Nina kembali menarik kakinya.


"Bentar.."


"Kamu itu Dokter Ortopedi bukan Dokter Umum.."


"Tapi aku punya title Dokter." Michell mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.


"Itu apa ?"


"Ini salep supaya luka kamu cepet mengering."


"Aku bisa sendiri." Nina mencoba menarik kakinya kembali.


"Bentar.." Akan tetapi Michell menahannya kemudian meratakan salepnya.

__ADS_1


"Akh.." Nina merasakan perih dikakinya.


"Kenapa sakit ?" tanyanya sambil menatap Nina.


Fiuhh fiuhh.. Michell meniup pelan kaki Nina agar tidak merasakan perih lagi.


"Sudah.. Silahkan diambil kakinya" ucapnya sambil tersenyum iblis.


"Terimakasih.." ucapnya begitu kaku.


"Sama-sama. Kenapa sih kaki kamu bisa kaya gitu, terus ngapain juga kamu lari dari mobil aku ?" tanyanya.


"Aku tau Nin, pasti kamu jalan kaki kemarinkan. kamu bukan ketinggalan uang tapi uangmu habis. Tolong jujur Nin" batinnya sambil menatap sendu Nina.


"Bukan urusanmu." Nina mengalihkan pandangannya.


"Kamu bener gak mau jadi urusan aku ?"


Pertanyaan itu sedikit membuat wajahnya menjadi termenung.


"Ish ngomong apaan sih. Kamu udah selesaikan, ya udah sana pergi.." Kali ini dia sudah tidak tahan lagi dengan laki-laki yang ada dihadapannya ini.


"Enggak. Aku kesini sebenernya mau cerita sama kamu ?"


"Aku gak mau denger cerita kamu Chell" tegas Nina.


"Bentar aja ini tentang aku sama Andini.."


Nina pun terdiam terbesit dalam hatinya rasa penasaran ada apa sebenarnya antara Michell dan Andini. Namun disisi lain dia tidak ingin sakit hati mengetahui jika Michell pernah mempunyai hubungan yang spesial dengan Andini.


Tanpa menunggu persetujuan dari Nina, Michell langsung menceritakannya.


"Aku sebenernya temen Andini dan Chandra saat SMP, kamu tau itukan pas kita jenguk Andini waktu masih koma."


"Jadi saat SMP aku sangat menyukai Andini, dia yang bisa membuat aku berubah yang tadinya anak nakal menjadi seperti ini.. Aku selalu termotivasi karena kepintarannya, aku selalu ingin berada ditingkat yang sama dengannya. Tapi dia menyukai Chandra, dia selalu menolakku karena Chandra. Terlebih ketika kami baru saja lulus dari Universitas. Setelah aku mendapatkan gelar dokter aku menemuinya dan ternyata masih ditolak dengan alasan yang sama. Beberapa minggu kemudian dia menikah dengan Chandra." Ucapannya terjeda sebentar, lalu dia melanjutkannya lagi.


"Aku begitu frustasi Nin, kau tau bagaimana aku marah bukan ? Tapi beberapa hari kemudian Adikku, Ayuni memberitahuku bahwa sebelum Chandra menikah dengan Andini dia berpacaran dengan Bella. Dan ternyata Bella hanya menggunakan Chandra sebagai umpan balas dendam kepada Andini."


"Kau tau kenapa dia balas dendam. Karena dia mencintaiku, dan aku selalu menolaknnya, dan yang dia tahu aku selalu menolaknya karena Andini padahal Andini tidak salah. Tetapi tetap saja dia merusak hubungan Andini dan Chandra. Dia ingin Andini merasakan apa yang dia rasakan. Untuk itu aku merasa bersalah padanya, aku ingin menjaganya dari kejahatan Chandra."


"Kenapa pak Chandra jahat, Bu Andini kan istrinya ?"


"Karena dia terlalu buta dengan cinta palsu dari Bella. Bella menghasutnya untuk membenci Andini."


Nina mulai mengerti dengan cerita yang Michell katakan.


" Dan sehari sebelum dia meninggal dia datang kepadaku dan mengatakan dia akan mendapatkan aku apapun caranya. Dia seperti orang gila."


"Oh ya alasan apa yang membuatmu selalu menolaknya ?" Nina begitu penasaran, sebesar apa cintanya pada Andini.


"Karena aku tidak suka sifatnya Nin, dia suka mabuk-mabukan dan yang terpenting yang paling tidak aku sukai adalah ambisinya yang harus selalu mendapatkan apa saja yang ia mau."


Nina terdiam mendengar alasannya. Jadi bukan karena Andini saja, batinnya.


"Nina.. Maafkan aku. Bukan aku tidak mencintaimu, tetapi aku sedang menata hatiku. Aku tidak ingin kau hanya menjadi pelampiasanku. Aku juga tidak ingin menjadikan kau sebagai pengganti. Aku ingin diriku menghapus semua sisa-sisa rasa suka ku pada Andini dulu, apa kau mau memberikanku sedikit waktu" tanya Michell dengan penuh harap agar dijawab 'Iya' oleh Nina.


"Aku..."


"Nin.. Satu bulan saja." Michell mencoba meyakinkan lagi.


"Chell, apa kamu yakin dengan waktu satu bulan kamu bisa melupakannya. Terlebih cinta pertamamu.."


Deg.. Jantung Michell seperti berhenti saat itu juga. Pertanyaan itu, sebuah pertanyaan yang belum bisa dijawabnya.

__ADS_1


"Apa aku bisa melupakannya dengan waktu satu bulan ?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Aku, aku..." Michell tiba-tiba saja menjadi gagu.


"Pergilah ! Pulanglah dulu, jika kamu bisa melupakannya datanglah padaku. Jika tidak maka lupakanlah aku. Aku ingin bahagia tanpa harapan palsu lagi Chell. Terlebih harapan yang aku buat sendiri."


Dengan berani dia mengungkapkan segala keluh kesahnya selama ini. Dia tidak bisa terus menerus seperti ini, dia ingin maju, hanya ingin maju tanpa bayang-bayang masalalu.


"Nin, hanya satu bulan." Michell kembali meyakinkannya lagi dan lagi.


"Tidak aku sudah tua Chell. Aku ingin menikah, aku ingin mencari seseorang yang bisa mencintaiku, hanya mencintaiku Chell. Aku tidak ingin suamiku membagi hatinya untuk wanita lain selain diriku." Nina benar-benar menegaskan keinginan masa depannya.


"Baik Nin, aku akan membuktikan bahwa hanya aku satu-satunya laki-laki yang bisa merebut hatimu. Dan aku berjanji tidak akan pernah membagi hatiku untuk siapapun kecuali dirimu."


"Humm kamu yakin !"


"Ya hanya sebulan saja aku akan membuktikan cintaku padamu juga dalam satu bulan itu pula aku akan menghapus semua rasaku pada Andini."


"Itu terdengat seperti membual Chell.."


"Tidak Nin. Aku sudah bilang bukan aku tidak mencintaimu, itu artinya aku mencintaimu, hanya saja.." Dia menjeda perkataannya.


"Aku tidak ingin kau berpikiran aku menjadikanmu sebagai pengganti Andini, atau pelampiasan saja. Aku tidak ingin. Aku hanya ingin Nina Ayuningtyas Soetopo menjadi wanita satu-satunya yang benar-benar bisa mengambil hatiku."


Deg deg deg..


Ungkapan Michell sungguh membuat jantungnya berpacu cepat dan membuat pipinya menjadi merah seketika.


"Bagaimana ? Apa kau mau ?" tanya Michell. Kali ini dia tidak ingin hidupnya dipenuhi perasaan semu lagi. Dia membutuhkan balasan, dia juga ingin mencintai dan dicintai seperti khalayak lainnya.


"Baiklah, satu bulan saja. Kamu harus membuktikannya." Nina menyetujuinya karena melihat kesungguhan yang terpancar dari mata Michell.


"Baik.." Dengan reflek dia memeluk Nina. Dan membuat ibunya keluar dari persembunyiannya.


"Ekhem.. Ekhemm..." Suara itu sontak membuat Michell mendorong Nina. Semuanya tertawa karna wajah terkejutnya itu.


Wajah terkejutnya itu langsung digantikan dengan wajah bahagianya lagi. Meski Nina belum resmi menjadi miliknya, tapi setidaknya dia masih mau membuka hatinya untuk Michell.


Cinta memang sepertinya kali ini membuat Michell menjadi gila. Dalam waktu sebulan dia berjanji akan melupakan cinta monyetnya itu sekaligus akan membuktikan bahwa dia memang mencintai Nina. Sebenarnya akan sulit dipercaya tapi cinta seperti mantra yang bisa merubah segalanya.


Memberinya kesempatan juga bukanlah kesalahan. Semua orang pantas mendapatkan kesempatan karena mungkin saja kesalahannya yang pertama bisa dijadikan pelajaran olehnya. Agar dia bisa menjadi pribadinya yang lebih baik lagi.


.


.


.


...**Jika seseorang benar benar mencintaimu, mereka tidak akan membuatmu merasa seperti terus menerus berjuang untuk mendapatkan perhatianmu....


..._Anonim**...


bersambung ges..


Markisa ( mari kita sabar ) menunggu Andini sadar😆


butuh waktu. kini hati othor lagi condong dengan perasaan Chandra dan Nina yah..


Othor lagi mikirin perasaan Andini nih..


please nanti juga ada waktu oke😢😢


jan lupa like, share vote nya yah.

__ADS_1


jaizian😊


__ADS_2