Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Tidur Berdua


__ADS_3

Chandra langsung memasuki kamar Andini yang tak sempat Andini kunci. Dia mendengar isak tangis Andini. Chandra pun sedikit menepuk pelan tubuh Andini karna mengira Andini masih sadar, dia ingin berbicara kepada Andini tetapi Andini sudah tertidur dengan isakan tangis yang masih terdengar.


Perasaan sakitpun menghinggapi dirinya karna melihat Andini menangis. Tapi dia fikir bahwa sakitnya bukan karna itu akan tetapi sakit melihat fakta bahwa istrinya adalah orang yang menjauhkan dirinya dengan orang yang sangat di cintainya, Bella.


Kemudian Chandra pun tidur disebelahnya, diapun sudah mulai mengantuk dari tadi dan sebentar saja langsung membawanya ke alam bawah sadarnya.


Waktu sudah menunjukan tengah malam dan Andini merasa pengap, ia pun membuka matanya perlahan dan sontak saja dia kanget melihat tangan yang melingkar di pinggulnya, dia pun langsung membalikan tubuhnya, dilihatnya Chandra yang tengah tidur pulas dengan memeluk Andini.


Senyuman pun terukir manis di wajah Andini yang kini sedang memandang Chandra dengan lekat, "Ya Robb seandainya saja dia melakukan ini setiap malam, pasti kebahagian ku akan berkali-kali lipat" lirihnya yang samar terdengar oleh Chandra. Secara tidak sadar, wanita itu memberikan kecupan ringan tepat dibibir suaminya.


" Dia menciumku " gumam Chandra dihatinya.


Saat tersadar ada sesuatu yang menempel tepat di bibirnya, namun dia masih berpura-pura tertidur.


Andini pun langsung membalikan tubuhnya karna senang bisa mencium suaminya meski melakukannya seperti sedang mencuri.


"Andini " lirihnya kemudian memukul-mukul bibirnya itu yang menurutnya sudah lancang.


Wanita melihat jam yang terpampang jelas di dinding kamarnya, yang menunjukan pukul 03.25 menit artinya tengah malam, dia pun segera bangkit dari kasurnya dengan pelan-pelan berharap Chandra tidak merasakannya, ia pergi menuju kamar mandinya untuk mengambil wudhu .


Setelah itu dia pun langsung mengambil mukenanya dan melaksanakan sholat Tahajud. Chandra pun bangun dan melihat Andini yang sedang sholat. Dalam hatinya masih ada yang harus dia bicarakan dan selesaikan dan diapun menunggu Andini menyelesaikan shalat sunahnya itu.


"Andini" panggil Chandra yang mengetahui bahwa Andini sudah selesai mengerjakan sholatnya itu.


"Ehh kamu sudah bangun, ka " ucapnya sedikit ragu dengan kata terakhirnya.


"Iya. Aku mau bicara sama kamu."


"Ada apa ? " Andini langsung menghampiri Chandra yang sudah duduk diatas kasurnya.


"Kenapa kamu berbohong demi membelaku ? " tanya Chandra.


"Maksudnya apa ka ?" Andini sedikit agak lancar memanggilnya kakak.


"Kenapa kamu berbohong ke Ayah kalau aku udah ijin sama kamu mau pulang telat " ulangnya lagi.


"Ohh itu.. Bukan aku bermaksud membohongi ayah tapi aku yakin kamu itu sibuk kerja ka."


"Terus kenapa kamu bilang kalau aku baik sama kamu. "


"Karna aku juga yakin kamu orang baik ka. "


"Aku gak pernah baik sama kamu."


"Gak apa-apa, yang penting aku tau dari dulu kamu itu selalu baik sama orang walaupun bukan sama aku" ungkapnya sedikit pilu.


"Bilang saja ke Ayahku kalau ada keluh kesah tentang diriku. "

__ADS_1


"Tidak ka, tidak mungkin aku menjelekan suamiku sendiri meski itu didepan ayahnya sendiri. Itu bukan diriku" ucapnya.


"Mengapa..?" tanya Chandra.


"Karna aku mencintaimu ka, sangat mencintaimu sudah dari dulu aku memendam rasa ini" potongnya langsung.


"Jangan memendam perasaan yang bahkan akan menyakiti dirimu dan juga orang lain disekitarmu" tegas Chandra.


"Maksudmu apa ka ?" tanya Andini yang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Chandra.


"Kamu terlalu buta karna cinta, sehingga melukai seseorang dengan perasaan kamu itu."


"Aa aaku sungguh tidak mengerti maksud dari ucapan mu itu ka, tolong jelaskan !" pintanya.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan Andini. Karna semuanya sudah jelas, hanya kamu saja yang tidak melihat fakta dari semuanya, jangan terlalu berharap padaku. Bicarakan saja tentang ini kepada Ayahku, dia yang akan memberi keadilan untukmu" ucap Chandra yang kemudian dia meninggalkan Andini yang masih tidak mengerti dengan ucapannya itu.


Andini hanya bisa menangis, hatinya begitu terluka bahkan luka yang belum sembuhpun kini telah di taburi kembali oleh air perasan jeruk nipis. Perih sekali, hatinya sakit sekali bertubi-tubi menerima kenyataan pahit.


Chandra tidak pernah merasakan cinta yang ia taburkan, cinta tulusnya yang selama ini hadir hanya untuk dirinya. Baru saja dia merasakan hati yang berbunga bunga karna mendapati suaminya tidur bersamanya namun tak lama kemudian hatinya pun dihancurkannya kembali oleh orang yang sama.


Andini tidak bisa tidur lagi setelah kejadian itu dia gelisah, tapi dia tidak ingin terpuruk, dia ingin menjadi wanita yang kuat. Dia percaya bahwa dia bisa melewati masalah ini, karna tidak ada suatu masalah kecuali dia mampu untuk menanggung masalah itu. Diapun langsung pergi ke dapur mencuci pakaian kemudian memasak untuk sarapan.


"Non kok udah bangun, Bibi kesiangan yah" ucap Bik Ijah panik melihat majikannya sudah bangun lebih awal darinya.


"Enggak Bik, aku yang kepagian. Semalem aku langsung tidur jadi bangunnya terlalu pagi deh " ucap Andini berbohong.


"Enggak papa Bik, aku tuh di rumah Papa juga gini suka bantu Bik Sri, aku tuh orangnya gak bisa diem Bik, tangannya itu pengen pegang ini pegang itu" ucap Andini.


"Haha.. Non ini makasih Non udah bantuin Bibi. Yaudahh Bibi kedepan dulu yah" pamit Bik Ijah.


"Iya Bik"


Andini pun sudah selesai memasak dan juga sudah selesai mandi sudah rapi dengan pakaian kerjanya berwarna biru, juga hijab berwarna senada, wajahnya cantik dengan riasan tipis dan lipstik berwarna jingga yang membuatnya terkesan ramah dan membuat siapa saja yang melihatnya akan merasakan teduh dihatinya.


Kemudian dia pergi keruang makan dan disana sudah ada ayah mertuanya.


"Ayah sudah bangun " sapanya.


"Iya nak, kan ayah juga mau berangkat kerja " ucap Hermawan.


Tiba tiba saja Chandra datang dan berkata,


"Sayang aku cari kamu kemana mana ternyata disini" setelah itu dia mencium kening istrinya itu.


"Sayang kali ini kamu jangan nolak yah kita berangkat kerja bareng " tambahnya kemudian.


"I i iya ka" Andini bingung dengan perubahan sikap Chandra yang tiba tiba saja menjadi manis.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapannya masing masing mereka pun langsung pergi untuk melaksanakan aktivitasnnya, dalam perjalanan Chandra mengawali percakapannya lagi.


"Kamu jangan seneng dulu aku bersikap kaya gitu karna ada ayah aku."


"Iya ka."


"Seharusnya kamu nolak untuk diajak bareng sama aku, jangan nurut. "


"Kan kamu yang bilang jangan nolak."


"Kamu gak ngerti yah, itu semua karna didepan ayah aku."


"Childdish, kekanakan banget, sabar sabar Andini dia suami kamu" gumam Andini.


"Kenapa kamu diem aja, kamu ngerti enggak." Chandra merasa dia sedang di cuekin.


"Aku ngerti kok " jawabnya yang tak ingin lagi banyak bicara.


" Bagus kalau kamu ngerti."


" Emm. Aku berenti disana aja. " Melihat Tempat Pemakaman Umum, Andini ingin sekali mengunjungi makam ibunya.


"Ngapain kamu berenti disana, bukannya kantor kamu masih agak jauh " ucapnya heran. Karna tidak mengetahui bahwa makam almarhum Ibu mertuanya ada disana.


"Aku mau ke kuburan mamah ka, aku rindu dia." Air mata Andini pun menggenang di pelupuk matanya teringat kenangan dulu bersama Ibunya.


"Iya iya jangan nangis, kita kesana. Tapi aku gak bisa nungguin kamu aku takut.. "


"Iya aku ngerti kok kamu takut telat " selanya, dia ingin sekali memberhentikan perbincangan yang akan membuat dirinya merasakan sakit kembali.


"Hemm." Chandra pun langsung menyebrang dan masuk ke area pemakaman.


"Assalamualaikum" Andini mencium tangan suaminya dan berlalu pergi.


"Waalaikum salam" setelah itupun Chandra langsung menancapkan gasnya pergi berangkat ke kantornya.


Setibanya di pemakaman ibunya, Andini tak kuasa lagi menahan tangisnya, dia sangat merindukan sosok ibunya itu, yang selalu ada untuknya dan selalu menjadi teman curhat semasa hidupnya.


"Assalamualaikum Ma.. Gimana kabar Mama, Aku kangen banget sama Mama, Mah Mama tau suamiku dia adalah Chandra yang sering aku curhatkan dulu sama Mamah. Dulu dia orangnya baik tapi entah kenapa sekarang dia seperti itu, apa aku kurang baik Mah, apa aku kurang sabar dalam berjuang. Mah aku cinta banget sama Chandra dan aku juga berharap dia membalas perasaanku ini. Apa aku salah ma ?


Seandainya saja mamah ada disini pasti ...


Astagfirullah, kenapa aku berpikiran seperti itu. Mah maafin Andin ya ma. Andini akan berusaha untuk menjadi lebih kuat lagi ma. Oh ya Ma Andini pamit dulu yah Ma. Andini mau kerja dulu. Assalamualaikum Ma.."


Andinipun berpamitan dan pergi menuju kantor dengan menggunakan taksi online.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2