Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Andini Sembuh..


__ADS_3

Dua jam kemudian setelah Andini pingsan.


Dia mulai mengerjapkan matanya, melihat sekeliling ruangan tersebut. Bik Ijah, Bik Sri, Mang Samsul serta Doni ada disampingnya. Mereka menatap khawatir pada Andini.


"Loh, kok aku ada disini ?" Andini bangun dari posisinya dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Tadi Non pingsan, terus kita semua bawa Non kesini," ujar Bik Sri.


"Pingsan ? Pasti Papa yang udah bawa aku kesini," gumamnya.


Tok, tok, took.. suara ketukan pintu, yang ternyata diketuk oleh Dokter yang sebelumnya sudah dipanggil oleh Doni.


"Selamat siang," sapa sang dokter tersebut.


"Selamat siang Dok, silahkan !" Doni langsung menyambut dan mempersilahkan dokter tersebut.


Dokter pun langsung memeriksa keadaan Andini. Dia tidak melihat hal aneh ataupun luka dari diri Andini sekalipun.


"Nona baik-baik saja. Tidak ada yang salah dalam dirinya apalagi luka," ucap Dokter tersebut.


Semuanya nampak lega, tak ada lagi kekhawatiran dalam diri mereka. Setelah memeriksa dokterpun langsung bergegas pulang.


Kini di kamar itu tinggalah Andini dan Bik Sri berdua. Karena Bik Ijah dan Mang Samsul sudah turun dan memulai aktifitasnya yang tertunda, sedangkan Doni mengantarkan Dokter itu keluar.


"Ngomong-ngomong kemana Papa, Bik ? Kok aku enggak liat," tanyanya.


"Papa, Non ?" ucap Bik Sri penuh dengan nada Khawatir.


"Iya Bik, Papa. Masa Bibik gak tau sih. Oh iya ya, ini siang pasti Papa lagi dikantor."


"Non, Non udah inget ?"


"Hahha.. udah inget apa ? Emangnya aku amnesia, ya enggak lah," celetuknya.


"Non," lirih Bik Sri sendu.


"Iya Bik, kok Bibi kaya yang sedih gitu sih. Ada apa bi ?" tanyanya lagi.


"Non bener udah inget, Non ini Non Andini kan, Bukan Non Andin."


"Ish, Bibik kenapa sih ? Ya aku emang Andini, Andin itu nama kecil aku. Jangan bilang gitu sih bik aku kan jadi sedih kalau keinget mama, yang manggil aku Andin kan cuma mamah."


"Non.." Bik Sri mulai meneteskan air matanya. Tidak menduga bahwa Nona-nya itu kini telah pulih kembali ingatannya, juga bingung sebenarnya apa yang harus dikatakannya perihal Papanya.


"Bik, kok nangis sih. Kenapa ??" tanyanya heran.


"Enggak beres nih." Andini segera bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarnya.


Dia langsung mencari sosok yang sedari tadi di carinya, dia masuk kekamar Papanya.


Saat sudah di kamar papanya, dia mencium bau parfum yang sangat familiar baginya.

__ADS_1


"Kok, bau parfum Chandra sih. Jas, jaket Chandra kok ada disini sih.." monolognya.


Diapun segera berlari keluar, Doni yang tengah baru saja masuk langsung di buru oleh Andini dengan rentetan pertanyaan.


"Don, jawab aku. Kenapa di kamar papa banyak banget barang Chandra ?? Terus sekarang papa dimana ?? Kenapa Bik Sri sedih ??"


Doni terkesiap tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Bahkan dia yang balik bertanya, "And kamu, udah inget ?"


"Kalian kenapa sih, nanya aku udah inget, udah inget ?? Aku tuh gak pernah lupa atau apapun. Aneh deh !! Jawab dong Don pertanyaan aku," cercanya.


"And.. kamu bener udah ingat ??" tanyanya lagi memastikan.


"Don, kamu ini kenapa sih kaya Bik Sri gini ??" Tentu saja Andini merasa heran kedua kalinya orang- orang disekitarnya mengatakan 'kamu udah inget ?'


"Jadi, kamu bener udah inget And.." lirihnya masih tidak percaya.


"Aku inget semuanya, Don. Aku inget.." tegasnya.


"Kamu udah inget.." lirihnya lagi. Doni masih dalam keadaan terkejut, iya tak menyangka bahwa hari ini akan datang juga.


Andini yang terheran-heran langsung mencari orang lain, tapi sebelum itu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi papanya, meminta penjelasan, mengapa orang-orang semua mengatakan 'kamu udah ingat'.


Ia segera mencari kontak Papanya, kemudian dia menyentuh tombol panggil, namun hanyalah operator yang menjawabnya.


Kedua ketiga bahkan sampai 30 kali dia menelpon namun yang menjawab hanyalah operator saja.


Pikirannya mulai gusar, hatinya menjadi tak tenang, ada apa ini ? adalah pertanyaan yang berseliweran di pikrannya.


"Bik Sri, Bik Ijah kenapa kalian nangis ?" tanya Andini, dia mendapati kedua ART-nya sedang menangis berdua.


"Non, yang sabar ya..." lirih Bik Ijah. Bagaimana pun mereka tidak bisa terus-terusan membohongi Andini.


"Ada apa ? Kenapa aku harus sabar, bik ? Katakan Bik ini ada apa ?" Andini mulai panik.


"Papa Non," jeda Bik Ijah. "Papa Non sudah meninggal..." Kedua Bibiknya bertambah meraung-raung.


Sedangkan Andini menutupi mulutnya dengan tangannya, raut wajahnya menunjukan bahwa dia terkejut, sangat terkejut dengan mendengar kata meninggal yang diucapkan oleh Bik Ijah..


Tubuhnya tersungkur, dia terjatuh tak mampu menerima kenyataan pahit yang dialaminya saat ini.


"Papa, papa meninggal," gumamnya. Tak terasa air matanya sudah turun seperti hujan.


"Tidak, " Andini menggeleng kepalanya. "Kalian semua bohong, papa belum meninggal, iya kan.." Dia berharap bahwa semua ini hanya lelucon belaka.


"Tidak Non, Tuan sudah meninggal," jawab Bik Sri lagi. Mereka sudah tidak bisa membohongi Andini lagi, karena Andini yang sekarang bukanlah yang kemarin.


"Bohong," pekiknya. " Doni, Doni.." dia berteriak memanggil Doni.


Doni pun segera menghampirinya, " And.." lirih Doni.


"Katakan padaku yang sejujurnya, kamu adalah temanku, ku berharap kamu tidak membohongiku seperti yang lainnya. Tolong jawab, papa ku kemana ?? Yang dikatakan Bik Ijah dan Bik Sri bohong bukan ?" tanyanya.

__ADS_1


"And, maafkan aku, bapak sudah meninggal."


"Apa ?? Aku tidak percaya, kalian semua pasti bohong. Aku tidak percaya." Andini segera berlari keluar.


"And, Andini...." teriak Doni.


Sedangkan Andini kini sudah ada dimobil, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk pergi ke satu tempat.


"Papa pasti belum meninggal, aku tidak percaya dengan mereka semua. Papa pernah bilang jika dia meninggal dia ingin dikubur didekat mama, aku harus ke pemakaman sekarang juga, memastikan semuanya," monolognya.


Dimobil itu, air matanya terus mengalir namun otaknya menentang tidak mau mempercayai perkataan mereka.


Sesampainya di sana dia langsung berlari ke tempat yang dituju, yaitu kuburan ibunya. Seketika saja tangisnya pecah, suara petir menggelegar ditelinganya, dia melihat dua kuburan yang ada dihadapannya bernisankan Papa dan mamanya..


Tangisnya pun menjadi pecah..


"Papa...." teriaknya, tak lama ia tersungkur di tanah antara kedua makam tersebut.


Andini menangis tersedu-sedu menatap dua kuburan itu. Siapa yang tidak akan bersedih mendapati orang tersayangnya sudah terbujur kaku dibawah tanah ? Terlebih dia tidak tahu kapan papanya itu meninggal, dia juga tidak ingat apapun, apa yang sudah terjadi padanya dan keluarganya.


"Papa, kenapa Papa tinggalin Andini, kenapa Pah ? Andini masih butuh Papa.."


"Andini masih butuh Papa.." ulangnya lagi, dia meremas tanah kuburan papanya itu kemudian memukul-mukulnya..


Lama sekali dia menangis sampai air matanya itu, mungkin sudah mengering dan tidak mau keluar lagi. Dia masih saja terus memandangi kuburan orang tuanya.


Pikirannya melayang pada masa ketika kedua orang tuannya masih hidup. Dulu ketika dia bersedih atas kehilangan Mamanya, Papanya lah yang memeluknya dan mengatakan,


" Sabar Nak, Mamamu sudah bahagia ?" Namun sekarang tidak ada lagi orang seperti itu.


Kini dia bangkit, dia berjalan menuju nisan kedua makan tersebut, dia memeluk nisan Papanya,


"Pah.. kenapa Papa tinggalin aku ? Disini aku sama siapa Pah, aku sendiri disini. Mamah udah lebih dulu tinggalin kita dan sekarang Papa juga ninggalin aku.." tes.. air matanya muncul lagi dan menggenang di pelupuk matanya.


"Hubungan ku dengan Chandra sudah diujung tanduk pah, aku akan segera bercerai dengannya. Dia membenciku, dia tidak mencintaiku. Aku sudah tidak sanggup mencintainya lagi.." lirihnya.


"Dia tidak seperti yang aku kenal lagi pah, bahkan dia tidak mau menyentuhku, dia teramat benci padaku, Pah.."


"Aku harus bagaimana, kepada siapa aku mengadu, Pah.. tolong kembalilah.." ucapnya sambil terus mengusap-usap nisan papanya.


***


bersambung..


Nih Andini udah sadar..


bagaimana perasaan Anda..


saya tidak bisa menggambarkannya😢😢


sedih banget.😥😥

__ADS_1


tetap dukung yah. jangan lupa


__ADS_2