
Kini Chandra dan Andini sudah berada di Tempat Pemakaman Umum Khoiriyah, mengantarkan jenazah almarhum Bella Farasya, ketempat pengistirahatan terakhir manusia di muka bumi ini, tanah persegi panjang yang digali akan menjadi rumah bagi siapa saja yang sudah pergi.
Chandra menatap jasad Bella yang sedang diturunkan, hatinya berbisik
"Bella sayangku, maafkan aku tidak bisa menjadi laki-laki yang bisa menepati janjinya, maafkan aku yang tidak bisa menjadi kekasih yang bisa membahagiakanmu, maafkan aku tidak bisa berada disaat-saat terakhirmu, maafkan aku Bell. Semua ini gara-gara Andini, kau tidak pernah hidup bahagia, dia selalu memisahkan kita, bahkan dia begitu egois, aku tidak akan memaafkannya dengan mudah Bell. Jika saja dia tidak begitu egois mungkin kau sekarang masih bisa menghirup udara yang segar ini. Mungkin sekarang kau masih berada dipelukanku." Lagi- lagi matanya meneteskan kembali, menandakan dia benar- benar bersedih atas kehilangan seseorang yang dicintainya.
Andini yang berada disana, dia terus memperhatikan Chandra rasa sakit didalam dadanya sudah tidak bisa digambarkan lagi, sesak rasanya melihat seseorang yang sudah menjadi miliknya, malah begitu menyayangi orang lain, dan begitu sedih atas kepergiannya.
Dalam pikirannya, "Bagaimana jika itu aku, aku yang sedang di tutupi oleh tanah merah itu, apakah kamu juga akan merasakan kesedihan yang begitu teramat sangat, apakah kamu juga akan menangis. Bella aku sangat menyayangimu sebagai sahabatku. Tapi aku pun kecewa atas apa yang telah kamu lakukan kepadaku, begitu besar rasa bencimu sehingga kamu bisa dengan cepat berubah menjadi sosok pendendam. Bahkan semua yang terjadipun diluar kendaliku, aku tidak pernah ingin atau berniat menjerat Michell, aku selalu menolaknya karena aku tahu kamu sangat mencintainya, tapi kamu tetap saja merasa bahwa aku yang menghalangimu, namun akan kucoba lupakan semuanya aku akan memaafkanmu. Selamat jalan sahabat, tenanglah disana, aamiin" ucapnya kemudian dia mengusap wajahnya yang sudah basah karena air mata dengan kedua tangannya.
Ternyata tidak hanya ada mereka berdua disanapun ada Michell. Michell yang mendengar berita kematian Bella pun langsung mendatangi kediamannya sampai mengantarnya ke liang lahat. Dia sempat tidak percaya akan berita kematiannya, namun sekarang dia benar-benar percaya, dan berarti pada saat Bella datang kepadanya dia sudah menjadi mayat.
"Bella tidak disangka umurmu begitu singkat, baru saja kemarin kamu datang kepadaku dengan sangat marah, kini kamu sudah tidak bisa marah lagi karena di dunia ini sudah tidak ada bagimu, semoga tuhan mengampuni segala kesalahanmu, semoga kamu tenang berada dialam sana" ucap Michell.
Michell mengedarkan pandangannya dia melihat Andini berada dikerumunan orang, diapun ingin sekali menghampirinya namun tidak bisa karena di depannya ada Chandra. Entah sejak kapan mereka bermusuhan, Michell benar-benar malas melihat Chandra.
Akan tetapi dia terus saja mengikuti Andini sampai mengikutinya ke rumah sakit tempat papanya di operasi.
***
Dua hari Andini belum bisa merawat papanya dia selalu menitipkannya kepada Doni Asisten Pribadi papahnya, karena dia sibuk mengurus almarhum mertuanya, dan juga pikirannya terus memikirkan Chandra yang tidak mau berbicara padanya.
Andini datang kerumah sakit dengan sangat lesu, sedih tentu saja, harus bagaimana lagi agar Chandra bisa memaafkannya dan bisa menerimanya.
Papanya belum juga sadar, sempat merasa khawatir akan tetapi Dokter Suba selalu berbicara bahwa keadaan seperti itu tidak perlu untuk di khawatirkan.
Dia keluar dari ruangan papanya dengan langkah gontai, semuanya benar-benar lepas dari kendalinya dia tidak bisa lagi menahan rasa sesak yang ada dalam dirinya, yang mengganjal. Membuat dirinya tidak nyaman dan gelisah.
Michell yang melihat Andini sedang termenung di taman pun langsung menghampirinya, dan duduk disampinganya.
__ADS_1
"Nih" ucap Michell sambil memberikan plaster.
"Plaster ?" tanya Andini heran.
"Iya, aku rasa disini ada yang terluka tapi tidak tau lukanya di sebelah mana " ucap Michell.
"Sok tau kamu" ucap Andini disertai dengan senyum.
"Aku tau lah.. Oh iya And.. Apa kamu masih mencintai Chandra ?" tanyanya pelan.
Andinipun menyernyitkan alisnya mendengar ucapan Michell.
"Kamu ini gimana sih kan kamu juga tau Chandra itu suami aku mana mungkin aku gak cinta sama dia" ucapnya dengan kesal karena baginya pertanyaan Michell itu salah.
"Tapikan And... Dia selingkuh terus aku juga tahu dia bela- belain mohon sama kamu supaya jantung ayahnya gak didonorin ke ayah kamu kan, aku tau kok itu buat siapa " ungkap Michell, dia sempat mendengar kabar burung.
"Chell.. Dia selingkuh karena dia belum tahu kalau disini ada aku yang selalu mencintainya, aku juga tau dia mohon buat siapa, Bella kan ?" jawabnya dengan sangat tenang.
"Maksud kamu ?"
"Aku pengen dicintai dan disayangi sama kamu, kaya dia And."
"Chell.." ucap Andini dengan garangnya.
"Iya maaf-maaf, aku gak maksud ko, cuman iri aja dia punya hubungan spesial sama kamu And."
"Chell hubungan kita juga spesial kok, hubungan pertemanan yang udah lebih dari 10 tahun."
"Iya terserah kamu aja. Aku pengen hubungan lebih dari itu tapi dikasih hubungan kaya gini juga aku bisa apa. Tapi aku bersyukur setidaknya aku pernah ketemu sama wanita yang tangguh kaya kamu" ucapnya sambil menyunggingkan senyuman
__ADS_1
"Mulaii dehh..." ucap Andini malas.
"Hehe.. Tapi beneran kamu gak bakal ninggalin Chandra.." tanyanya lagi.
"Michell.. Kamu kan tau aku dari dulu suka sama Chandra, tiba-tiba aku bisa nikah sama dia ajaibkan, nah mana mungkin aku lepasin keajaiban itu, apalagi sekarang setelah Ayah mertuaku rela donorin jantungnya untuk Papa, mana ada hati aku tinggalin dia. Lagipula aku udah janji sama Ayah sama Papa untuk selalu berada disamping Chandra dan selalu menjaganya. Aku gak bisa meninggalkannya dan gak akan pernah bisa" ungkap Andini.
"Jika suamimu itu bukan Chandra tapi orang yang kamu gak suka gimana ?"
"Ya sama, aku gak bakal ninggalin dia" jawab Andini.
"Mengapa ?"
"Mengapa ? Ya karena dia suamiku lah. Chell didunia ini ada yang bisa kamu gapai dan tidak bisa kau gapai. Memiliki Chandra adalah suatu yang mustahil bagiku, kamu taukan dia orang yang super cuek dan dingin susah buat dideketin. Tapi Allah beri aku sesuatu yang mustahil itu. Kalau kamu dikasih sesuatu yang mustahil apa kamu langsung gitu aja lepasin " ujarnya.
"Ya enggak tapi ..."
"Menurutku ciinta itu tidak ada tapi-tapian, aku hanya yakin kalau kita itu cuman salah waktu aja kok" ucapnya dengan percaya diri.
"And.. Aku orang yang beruntung bisa ketemu sama kamu didunia ini. Meskipun aku tidak seberuntung Chandra yang bisa memilikimu tapi terimakasih ya And, karena kamu aku menjadi seseorang yang kuat dan bisa seperti ini.." ujar Michell.
"Chell, kamu jadi Dokter itu bukan karena aku, kamu jadi hebat juga bukan karena aku, tapi karena kegigihan kamu semangat juang kamu yang membawa kamu sampai ke tahap ini. Aku percaya suatu saat nanti akan ada seseorang yang lebih mencintaimu dari pada dirimu sendiri."
"Makasih ya.." ucap Michell sambil tersenyum manis. "Oh ya, aku turut berbela sungkawa atas meninggalnya Ayah Chandra, maaf aku tidak bisa melayat pada hari itu."
"Terimakasih Chell, tidak apa kepergiannya begitu mendadak, aku juga masih tidak percaya bahwa Ayah sudah pergi jauh meninggalkanku, dia baik sekali kepada kami, disisa umurnya dia ingin mendonorkan jantungnya untuk Papa, aku merasa berhutang budi sekali, seandainya dia bisa hidup kembali aku ingin membalas kebaikannya itu, namun semua itu adalah kemustahilan, dia susah pergi.." lirihnya Andini sudah tidak bisa lagi menahan bulir air mata dipelupuknya.
"Udah jangan nangis, jika mertuamu disini mungkin dia sudah memarahimu karena air matamu itu" ucap Michell dan hanya mendapat anggukan kepala dan senyuman dari Andini.
Bersambungg..
__ADS_1
kasih aku vote dan like dong
huhu๐ ๐