Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Warisan part 2


__ADS_3

"Aarrrrrggghhhh, kalian semua sudah bersekongkol, aku akan buktikan kepada semuanya bahwa kalian salah, Ayahku tidak mungkin melakukan itu" ucap Chandra kemudian dia pergi begitu saja tanpa pamit.


Andini berusaha mengejarnya namun dilarang oleh Rendi dan akhirnya meminta Rendi untuk mengikutinya. Rendipun menuruti keinginan Andini.


Setelah mereka pergi, "Nona Andini"panggil Pak Karni.


"Iya pak."


"Saya harap setelah ini Nona Andini menerima warisan itu dan tidak pernah meninggalkan Chandra " pintanya.


"Pak meski saya tidak pernah mendapatkan warisan itu saya pun tidak akan meninggalkannya. Tapi bagaimana jika dia yang meninggalkan saya" tanya Andini pilu.


"Saya rasa dia tidak akan meninggalkan Nona, tetapi mungkin disini akan ada masalah baru" ucapnya menebak.


"Tolong Pak balik nama saja" pinta Andini dia benar-benar tidak ingin hal ini terjadi, baginya ini hanya menambah masalah saja.


"Tidak saya tidak berani melakukan itu, saya sudah berjanji kepada beliau untuk tidak pernah menggugat apa yang sudah menjadi keputusannya, saya hanya pernah mendengar ini ketika beliau memberikan surat ini kepada saya, beliau ingin Chandra tidak pernah meninggalkan Anda, dan beliau juga ingin Anda bisa berkuasa dan tidak mudah untuk ditinggalkan."


"Saya tidak mengerti dengan jalan pikiran Pak Hermawan akan tetapi itulah yang terjadi" ucap Pak Karni melemah.


"Baiklah Pak terimakasih, sudah memberitahu saya." Andini bingung merasa percuma bertanya kepadanya toh dia pun sama tidak bisa berkutik.


"Baik Non Andini saya permisi dulu" pamit Karni. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan Andini sendiri dirumahnya.


Chandra melaju dengan cepat sehingga Rendipun tidak dapat lagi mengejarnya. Tujuannya kini adalah rumah yang pernah ia dan ayahnya singgahi. Untuk mencari sesuatu bukti, bahwa surat warisan itu tidak benar.


Ruang pribadi ayahnya kini sudah diacak-acak. Kertas- kertas itu sudah berhamburan kemana-mana, bahkan seperti tumpukan sampah-sampah, mencari kesana kemari namun hasilnya nihil dia tidak mendapatkan apapun. Ayahnya tidak memberinya petunjuk apapun.


Chandra terkulai lemas menerima kenyataan ini, "Aaaarrrggh" dia berteriak frustasi. Tangan Chandra mengusap kepalanya secara kasar. Sesekali dia mengobrak-abrik lagi ruangan itu, dan


Pluuuk....


Buku aneh terjatuh !


Buku itu berwarna cokelat, tetapi penampilannya nampak usang dan sedikit koyak, mungkin sudah berumur puluhan tahun.


Di bukanya perlahan, dihalaman depan terdapat foto Hermawan dan Lina waktu masih muda. Hermawan yang kala itu masih tampan dan berwibawa, memakai kaus putih yang dimasukan ke celana hitamnya dan memakai gesper. Sedangkan Lina memakai dres selutut berwarna senada dengan Hermawan, dres itu memiliki motif kembang-kembang mereka bergandengan dan saling tersenyum, sungguh manis sekali.

__ADS_1


Tesss..


Foto itu terkena air matanya. Rindu pada kedua sosok orang tuannya. Ingin memeluknya namun sudah terpisah jarak dan waktu, percuma saja tidak bisa tergapai.


Lanjut lagi membuka lembaran lainnya yang di yakininya itu adalah buku berbalas pesan. Pacaran pada zaman dulu mungkin cara komunikasinya seperti itu. Tidak seperti sekarang yang tinggal sentuh dan berkata "Hallo."


Sampai pada halaman terakhir, terdapat tulisan yang baru saja ditulis. Mungkin sekitar dua atau tiga bulan yang lalu. Tulisan tersebut seperti ungkapan rindu Hermawan.


Lina..


Bagaimana kehidupanmu disana ?


Apakah bahagia..?


Aku rindu padamu..


Aku ingin bertemu denganmu..


Aku ingin kita kembali bersama..


Sudah ada yang perduli padanya


Seperti dirimu kepadaku dahulu..


Ah.. Aku merindukanmu..


"Jadi Ayah apa kau sudah bertemu dengan Ibu.." ucap Chandra tersenyum getir.


"Tapi Ayah apa yang sudah kamu lakukan kepadaku, kau tau perusahaan itu adalah kenangan dari Ibu, mengapa kau memberikannya kepada Andini, dia hanya menantu mu saja, dia wanita yang bermuka dua, wanita ular, kenapa kau begitu percaya kepadanya."


Sejenak dia terdiam. Tiba-tiba tangannya mengepal keras, badannya bergetar pertanda bahwa emosi Chandra sudah meningkat lagi.


"Aku tidak akan membiarkannya begitu saja, aku akan merebutnya. Lihat ini Andini, akan aku balas semua perbuatan mu kepadaku" geramnya.


Seperti inilah kehidupan didunia. Manusia hanya bisa berbuat tanpa bisa memutuskan, yang menentukannya hanyalah Allah. Maksud hati berbuat baik ingin menyatukan keduanya namun ternyata malah membuat musibah bagi keduanya.


Tepat malam jam dua dini hari, Chandra pulang kerumahnya. Awalnya dia ingin menghindari bertemu dengan Andini namun ternyata Andini dengan setia menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


"Ka.." panggil Andini saat dia melewatinya.


"Ka aku mohon bicaralah" ucapnya seraya Andini mengikutinya dari belakang.


"Ka..." lirihnya. Kali ini tangannya sudah menggapai tangan Chandra.


"Lepas Andini." Tepis Chandra, dan Andini pun melepaskan gengamannnya.


"Dari mana saja kamu Ka..?" Andini begitu khawatir kepadanya.


"Apa urusannnya denganmu ?" ucapnya dengan nada tidak ramah. Bagaimana mau ramah sekarang saja Chandra merasa kesal dan jengkel kepada Andini.


"Oh apa kamu ingin memamerkannya bahwa kamulah pemilik perusahaan itu, hah" terkanya asal-asalan.


"Tidak ka. Dengar itu semua adalah permintaan dari Ayah dan aku tidak bisa menolaknya."


"Kamu bilang ini itu permintaan dari Ayah. Aku sungguh tidak percaya Andini. Kamu itu wanita licik. Terus, teruskan Andini sekarang apa lagi yang ingin kamu ambil dariku" .


"Pertama kamu menjauhkan aku dengan semua wanita sejak SMP, kedua kamu menjauhkanku dengan Bella, ketiga kamu membuat rencana agar aku menikahimu, keempat kamu mengambil jantung ayahku, kelima kamu mengambil satu satunya kenangan yang aku miliki bersama ibuku. Sekarang Bella sudah tidak ada, Ayah sudah tidak ada. Lantas apa lagi Andini ? Apakah itu semua belum cukup ? Apakah kamu inginkan nyawaku juga mati ditanganmu hah.." bentaknya.


"Tidak ka..hiks hiks.. Aku aku.." ucapnya terbata karena Andini sudah menangis.


Beginilah yang terjadi kepada wanita hanya bisa menangis ketika hati tak lagi bisa menahan, otak tak lagi bisa berpikir hanya airmata yang menandakan ketidak berdayaannya.


"Diam Andini aku tidak ingin mendengar ocehanmu lagi.." teriak Chandra.


Prayy... Prayy...


Beberapa vas bunga dimeja ruang tamu itu sudah tidak berbentuk lagi. Seperti hancurnya hati mereka masing masing.


Chandrapun pergi setelah memecahkan vas bunga tersebut. Sedangkan Andini, dia hanya menangis tersedu- sedu, menangisi kehidupannya yang begitu miris. Selalu saja perkara rumah tangganya tidak dapat diselesaikannya dengan lancar.


Bik Ijah yang mendengar suara vas jatuh pun keluar mengintip, semula dia samar samar mendengar suara Chandra, akan tetapi sekarang dia hanya mendapati Andini yang menangis seorang diri.


Bik Ijah pun menghampirinya dan merangkul Andini, mencoba menguatkan hati Andini. Dia paham betul saat ini hati Andini sedang terluka. Dia mencoba bertindak seperti seorang ibu kepada Andini. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia menenangkan Andini. Diapun heran mengapa Chandra begitu tega memperlakukan Andini seperti ini, dan sangat menyesalnya dia tidak bisa berbuat apa-apa.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2