Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Suara Alam


__ADS_3

"Ka.."


Ceklek pintunya dibuka oleh Andini, dia melihat Chandra sedang tidur selonjoran diatas ranjang dengan mata yang memandangi langit langit rumahnya. Kemudian dia menghampiri suaminya.


"Ka.. Aku sudah membawakan makanan untukmu, ayo makan." Masih tidak ada jawaban dari Chandra.


"Ka, aku tau sangat menyakitkan sekali ditinggal oleh orang yang kita sayangi, akupun pernah merasakan itu ketika Mama meninggal. Tapi Papa bilang kita tidak boleh terlalu bersedih, tidak baik. Itu akan menyiksa mereka disana, toh seberapa sedihnya kita pun tidak akan bisa mengembalikannya kesisi kita." Chandra masih tidak bergeming.


"Ka semua yang ada didunia ini pasti akan meninggalkan kita atau kita yang akan meninggalkannya, semuanya tidak abadi jadi tolonglah jangan seperti ini. Makan yah aku ingin kamu tetap sehat" ucapnya sendu.


"Pergi !" Satu kata itulah yang diucapkannya.


"Ka, aku mohon.."


Chandra mulai geram mendengar Andini. Dia pun langsung bangkit dari kasurnya.


"Pergi dari sini Andini !" usirnya lagi.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memakan ini. Dengar ! aku masih membutuhkanmu, janganlah seperti ini" ucapnya garang. Andini kini duduk di samping suaminya.


"Aku pun sama kehilangan ayahku, meski dia adalah mertuaku tapi dia juga orang tuaku ka. Rasanya sama seperti mamaku meninggal, sakit pedih dan tentu merasa kesepian karena berpikir tidak ada lagi yang menemani kita. Untuk itu aku tidak ingin kamu merasa kesepian, aku datang untuk menghiburmu, untuk menguatkanmu, aku ingin menjagamu. Izinkan aku untuk terus berada disampingmu, izinkan aku untuk menjadi harapanmu untuk hidup ka.." ucap Andini lirih.


"Harapan " ucap Chandra menyernyitkan alisnya.


"Harapan apa ? Ayah meninggal karena kecelakaan, dan aku menerima semua itu. Tapi Bella meninggal karena kamu Andini, aku tidak bisa menerima kematiannya. Seharusnya dia yang mendapat donor jantung itu bukan Papamu."


"Maafkan aku, tapi ayah mertua yang memberikannya kepada Papaku. Ayah ingin melihatnya sehat kembali begitu juga dengan aku, sebagai anaknya akupun menginginkan yang terbaik" sambutnya.


Chandra mendengus kesal mendengarnya


"Hmmmph.. Aku tidak yakin ayah memberikannya, jangan jangan kamu memaksanya karena pada saat detik-detik terakhir ayah, kamu sendiri yang berada disana bukan" cibirnya.


Andini menajamkan matanya memandang wajah chandra.


"Maksudmu apa ka, kamu menuduhku memaksa ayah. Pada waktu itu tidak hanya aku seorang yang berada disana, ada Dokter Suba dan yang lainnya juga dan mereka mendengarkan semuanya mereka sudah tau semuanya" ucapnya dengan marah. Kesal karena selalu saja suaminya itu berperasangka buruk terhadapnya apalagi menyangkut Bella.


"Sudahlah orang seperti mu bisa melakukan apa saja." ucap Chandra tanpa menoleh kearahnya sedikitpun.


"Apakah kamu tidak tahu Bella meninggal karena apaa ?" tanya Andini dan Chandra pun langaung menoleh, penasaran.


"Bella meninggal karena dia sudah banyak minum dia adalah alkoholik" ungkapnya, dirinya sudah tidak bisa menahan lagi dia ingin Chandra benar benar sadar.


"Sudahlah Andini, Bella sudah meninggal jangan lagi menjelek jelekannya" geram sekali mendengar pernyataan itu dari Andini.


"Kamu tidak akan percaya jika aku yang mengatakannya, tapi kamu akan percaya setelah mendengarnya dari dokter yang merawatnya" gerutunya dengan suara pelan tidak ingin terdengar tapi terdengar.

__ADS_1


Chandra tidak bisa menjawab, Andini tidak bisa lagi berkata keduanya terdiam, hening tidak ada yang bersuara sampai suara cacing dari dalam perut Chandra berbunyi.


Kruyuuuuuukk....


Andini terseyum, dia memalingkan wajahnya, sebenarnya ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak namun suasananya sedang tidak baik.


Akhirnya dia hanya bisa membungkam mulutnya dengan menyatukan bibir atas dan bawahnya agar Chandra tidak menyadari bahwa dia sedang mentertawakannya.


Setelah dirasanya sudah terkontrol, dia pun mengangkat suaranya


"Mm.. Aku mau keluar dulu, ada yang harus aku siapkan. Aku mau menemani Ayah malam ini" ucapnya terbata. Setelah itu Andinipun langsung pergi dari kamar Chandra menuju kamarnya.


Setelah Andini pergi, Chandra marah sampai memukul perutnya karena tidak tahan menahan malu.


"Kenapa kamu berbunyi disaat seperti ini" ucapnya memarahi perutnya sendiri


"Aku tau kamu lapar, setidaknya tahan sebentar" dia masih mengumpat perutnya sendiri.


Kruyuuuukk..


Perutnya berbunyi lagi.


"Hmm.. Memang sebaiknya aku makan. Ini pasti masakan Bik Ijah, diakan sibuk dari tadi mana ada waktu untuk masak " ucap Chandra pada makanan yang di bawa Andini.


Kruyuukk.. Perutnya berbunyi lagi untuk yang ketiga kalinya.


"Tapi perutku lapar, hah makan saja" celetuknya.


Dia benar-benar tidak bisa lagi menahan rasa laparnya, ya siapa yang bisa menahan rasa lapar dari kemarin hingga siang ini, orang biasa mungkin saja sudah lemas.


Chandra pun melahap habis makanan itu. Rasa marahnya terhadap Andini berkurang seiring dengan rasa kenyangnya dan rasa kantuk yang menyerang. Chandra pun terlelap tidur dengan ponsel yang digenggamnya.


Setelah Andini pergi dari kamar Chandra, dia mengambil tas tenteng berukuran sedang untuk membawa barang- barang yang akan dia siapkan untuk pergi kerumah sakit, menjaga Papanya.


Saat dia sedang menyiapkan dia pun berkata,


"Ternyata Chandra juga punya rasa lapar, hehe. Semoga saja makanan yang aku masakan untuk dia dimakan habis " ucapnya bahagia. Seketika dia melupakan apa yang sudah terjadi kepadanya. Kejadian kecil seperti itu saja sudah membuatnya bahagia bahkan rasa bahagianya itu membuat bibirnya selalu mengukir sebuah senyuman yang menutupi sebuah kesedihannya.


Andini selalu bertahan mengahadapi Chandra dengan alasan karena dia begitu mencintainya. Akan tetapi dia tidak menyadari cintanya itu membuatnya menderita, membuat air matanya selalu menetes, dan membuat dadanya terasa sesak dengan kelakuan Chandra yang tidak bisa menghargainya.


Jika seseorang sudah mencintai bukankah kotoran kucingpun akan terasa seperti cokelat, pribahasa itu mungkin kini sedang dinikmatinya.


Setelah bersiap-siap Andini berniat untuk pamit kepada Chandra namun ketika sudah sampai dikamarnya Andini melihat Chandra sedang tidur pulas seperti tidak ada masalah. Lagi-lagi bibirnya melengkung tersenyum bahagia melihat Chandra yang tidur seperti itu. Dilihatnya piring itu sudah bersih seperti telah di cuci. Diapun mengambilnya dan meletakannya didapur.


Akan tetapi bukannya pergi malah di kembali lagi ke kamarnya Chandra. Dia kembali untuk merapihkan kamar Chandra yang sudah seperti mobil pecah. Diambilnya pakaian yang kotor dan diletakannya ke keranjang agar nanti Bik Ijah mencucinya. Diapun mengambilkan pakaian baru untuk suaminya pakai setelah mandi nanti. Tak lupa dia pun menyelimutinya agar tidurnya semakin nyenyak.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak ya ka, semoga setelah bangun nanti kamu tidak pernah bersedih lagi, muach." Andini memberikan ciuman di pucuk kepala suaminya. Dia tidak akan melewatkan momen ini, bagaimana tidak dia adalah seorang istri yang hanya bisa mencium suaminya sendiri ketika sedang tidak sadarkan diri, karena ketika sadar mendekatinya pun seperti hal yang sangat mustahil.


"Bik ..." Panggil Andini setelah berada siruang makan.


"Iya Non "


"Andini mau pergi ke rumah sakit dulu jenguk papa, mungkin pulangnya besok Bik. Dan tolong kalau ka Chandra nyariin bilang aja di rumah sakit ya Bik, oh iya makanan udah Andini masakin tinggal di angetin aja kalau ka Chandra pengen dan baju kotor ka Chandra udah di keranjang tinggal di cuci ya Bik.." ucapnya. Memang Andini tidak seperti para majikan yang lain. Dia selalu berkata sopan kepada siapapun.


"Siap Non laksanakan. " ucapnya dengan cepat


"Assalamualaikum Bik.."


"Waalaikum salam" jawabnya.


Setelah itu Andini pergi dengan mobilnya sendiri melaju cepat menuju rumah sakit. Dalam perjalanannya dia selalu memanjatkan doa doa berharap ketika dia sudah tiba dirumah sakit Papanya sudah siuman.


Saat Andini baru saja sampai di rumah sakit, ponselnya berdering nyaring mendapatkan telpon dari satpam rumahnya yaitu Samsul.


"Hallo Non Andini.." ucap Samsul di sebrang sana.


"Iya Mang ada apa ?"


"Ini Bapak, Bapak sudah sadar Non, sekarang lagi diperiksa sama Dokter " ucapnya sumbringah


"Bener Mang ? Yaudah ini Andini lagi ada di bawah sebentar lagi nyampe " jawab Andini dengan cepat dan tak kalah sumbringah. Senang sekali rasanya doa doa yang dia panjatkan saat dalam perjalanan terkabul menjadi kenyataan.


Sesegera mungkin dia berlari menuju kamar rawat Papanya itu.


Setelah sampai didepan pintu kamar, Dokter yang memeriksanyapun keluar dari kamar tersebut yang tak lain adalah Dokter Suba.


"Bagaimana kondisi Papa saya dok ?" tanya Andini dengan antusiasnya.


"Alhamdulillah kondisi pasien sekarang sudah membaik, namun jika terjadi sesuatu yang aneh langsung saja hubungi saya" pinta Dokter Suba.


"Baik dok terimakasih" ucapnya dengan haru.


"Dan tolong dijaga perasaannya jangan sampai pasien merasa takut gelisah dan lainnya, karena itu akan mempengaruhi cara kerja jantungnya."


"Baik dok terimakasih atas sarannya."


Kemudian Dokter Suba pun meninggalkannya dan Andini masuk ke dalam ruangan tersebut .


Bersambung..


Yuhu kembali lagi bersama prichill, tolong like karyaku ya jan lupa juga coment berikan aku semangat melalui kata kata. share juga biar semua orang tahu, vote beri penilaian untuk ku, dan jan lupa jadikan favorit agar kalian tau kapan aku update. tencuu๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜. semoga sehat selalu

__ADS_1


__ADS_2