Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Abrakadabra


__ADS_3

Hatchim.. Hatchim..


Saat ini mereka sedang mengeringkan rambut mereka. Terdengar suara Andini yang beberapa kali bersin.


"Kamu flu ?"


"Sepertinya," jawabnya sambil menggosok-gosok hidungnya.


Setelah ritual mandi selama berjam-jam itu akhirnya Andini dan Chandra kembali berhubungan dengan baik. Andini sudah tidak menangisinya lagi, entah apa yang Chandra lakukan sampai Andini kembali ceria lagi. Mungkin dia sedikit mengatakan mantra 'Abrakadabra ala kadzam' kepada Andini.


Hatcimm.. Andini bersin untuk ketiga kalinya.


"Sepertinya kamu benar-benar flu, And." Chandra memegang dahi Andini.


"And, kamu demam.." lirihnya. Tentu saja dia akan demam bermain air tak ingat waktu.


"Tidak apa ka, aku hanya pusing saja."


"Sini biarkan aku yang mengeringkannya, sambil memijat kepalamu." Chandra meraih handuk itu dan mulai mengeringkan rambut Andini. Posisi mereka sekarang Chandra duduk di bibir ranjang sedangkan Andini duduk di karpet lantai.


"Maafkan aku ya ! Harusnya kita.." ucapnya disela-sela memijat.


"Sudah jangan diingat lagi, aku malu.." Terlihat rona merah di wajah Andini.


"Jangan bilang-bilang ke siapa-siapa ya !" perintah Chandra.


"Ya !"


"Biarkan orang penasaran, ok."


"Benar.."


"Tapi aku ingin lagi.." goda Chandra.


"Kakak.." pekiknya. Keduanya tertawa bersama.


Sedangkan di bawah sana mereka yang belum tahu kabar tentang kondisi dua insan tersebut, saling menyuruh satu sama lain untuk mengeceknya.


"Tidak Sri, kamu saja.." tolak Bik Ijah.


"Jah, ayo pura-pura tawari mereka makan. Ini sudah berjam-jam mereka tak keluar kamar. Aku takut.." ujar Bik Sri.


"Tidak, tidak mau.." tolaknya lagi.


"kalian ini kenapa ? Mereka sudah rujuk, mereka sudah suami istri biarlah mereka yang mengatasi masalah mereka sendiri. Kita gak berhak," tegas Mang Samsul.


"Iya aku tau mereka sudah rujuk, ya tapi kan mereka belum makan toh, ini bentar lagi Magrib. Dari sebelum Duhur mereka tidak turun-turun. Aku takut keduanya pingsan toh..." ucap Bik Sri dengan gaya bicara orang Jawa.


"Ya kan mereka sudah gede, Sri.." ucap Bik Ijah.


Mereka bertiga terus ribut meributkan hal yang sebenarnya tidak pantas untuk mereka ributkan.


Sedangkan Doni sibuk memasukan Rio ke penjara dan memastikan bahwa dia mendapatkan balasan yang setimpal.

__ADS_1


***


Seminggu kemudian hubungan Chandra dan juga Andini benar-benar sudah membaik. Chandra kembali berhasil menerbitkan senyuman di wajah Andini.


Setelah Rio tertangkap, akhirnya Chandra tahu siapa yang membuatnya bangkrut. Dengan bukti-bukti yang ada dia melaporkan kembali Rio dengan pasal yang berlapis-lapis. Penipuan, penganiayaan, pemerkosaan dan lainnya. Bisa dipastikan itu cukup membuatnya tak berdaya dan mendekam lama di penjara.


Chandra merencanakan sesuatu untuk memulai kehidupan baru dengan Andini. Dia tidak ingin kebodohannya yang dulu sampai terulang kembali.


Saat melihat toko perhiasan, Chandra menghentikan mobilnya. Dia menanyakan kepada penjaga toko itu sebuah cincin yang indah dan penuh makna.


Penjaga itu memberikan sebuah cincin yang bertatahkan berlian berwarna biru, ukurannya cukup untuk Andini. Tak memikirknnya lagi, Chandra langsung membeli cincin itu.


Setelahnya mendapatkan barang yang dia inginkan, Chandra merogoh sakunya. Dia menelpon seseorang untuk menyiapkan sesuatu untuk dirinya. Dia meminta tiga orang laki-laki untuk hadir pada waktu yang sudah ditentukan olehnya.


Lalu setelah itu dia membelikan Andini pakaian yang indah, sepatu berhak sedang yang senada dengan pakaiannya itu.


Setelah itu dia pulang, dalam perjalanan dia terus mengulum senyumnya. Entah apa yang sudah direncanakannya, yang pastinya pikiran Chandra tak sepolos dan tak semudah pikiran authornya.


Saat ini Andini masih berada didalam kamarnya. Sedangkan Chandra mengumpulkan semua orang.


"Mang, Bik, Don.." serunya satu persatu. "Saya besok akan membawa istri saya pergi berbulan madu. Tapi saya mohon tolong rahasiakan kabar ini dulu.."


"Siap Den.." ujar ketiganya.


"Kemana Chand ?" tanya Doni.


"Hanya keluar kota, mungkin hanya seminggu saja, apa kamu mau ikut, Don ??" tanya Chandra sungguh-sungguh.


Sedangkan yang lainnya hanya tertawa mendengar gerutuan Doni.


"Tidak, kami tidak akan membawa koper," jawabnya langsung.


"Kalian kan akan berbulan madu, mengapa tidak membawa persiapan ?" Perkatanyaanya membuat orang-orang disana tertawa kembali.


"Aku mempunyai Villa disana, jangan berpikir yang macam-macam, Doni. Kamu belum menikah." Kekeh Chandra.


Tak lama kemudian Andini menghampiri mereka, tapi Chandra langsung mencegahnya dan menggiringnya masuk ke kamarnya lagi.


"Ka aku kan belum menyapa mereka.." ucapnya.


"And, ada yang ingin aku bicarakan, ini lebih penting.." ujarnya. Setelah mereka berbaikan sebutan 'ka' itu melekat lagi pada Chandra, karena dialah yang meminta hal tersebut.


"Ka ada apa ?"


Chandra menutup pintu kamarnya. "Tidak.." ucapnya. Kemudian dia membaringkan dirinya diatas kasur.


"Nonton yuk," ajaknya lagi sambil membuka aplikasi menonton di ponselnya.


"Nonton apa ?" Andinipun duduk dan melihat apa yang sedang Chandra lihat.


"Nonton film horor pasti seru.." ujar Chandra menawarkan.


"Enggak, aku enggak mau nonton film setan ka," tolaknya.

__ADS_1


"Yaudah pengennya nonton film apa ? Film ****" desisnya.


"Apa ??" Andini membulatkan matanya.


"Film ***" Desisnya lagi.


"Ish, kamu...." Andini memukul-mukul badan Chandra dan diapun terkekeh karenanya.


Chandra menarik lengan Andini, membawanya ke dalam pelukannya. Menghirup aroma sampo di rambut Andini. "Wangi," batinnya.


"Ka.." lirih Andini.


"Iya.."


"Terima kasih.."


"Nanti saja terima kasihnya.."


"Lalu kapan ?"


"Nanti saja.." Chandra terus memeluk tubuh Andini. Merasakan kehangatan dari perbuatannya itu.


"And, nanti besok ikut aku ya !"


"Kemana ?"


"Ikut saja ya !"


"Hmm.. Baiklah.."


"Apakah lama ?"


"Tidak," bohongnya. Padahal mereka akan pergin selama seminggu.


"Aku sudah membelikan baju untukmu, sudah ada di mobilku.."


"Biar aku ambil."


"Jangan itu sudah pas ukurannya. Temani aku saja disini.."


"Siapp.."


Tak lama merekapun tertidur dan terbuai dalam mimpi mereka masing-masing. Acara nonton yang menjadi tawaran awalnya malah berakhir dengan acara tidur dengan saling merangkul. Dua insan yang baru saja kasmaran ini kemesraannya melebihi orang yang baru saja menikah.


Saat malam sudah tiba, Chandra mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, untuk menanyakan apakah permintaannya sudah selesai ataukah belum. Dan ternyata kabar baik menghampirinya, semuanya sudah selesai dan siap untuk melanjutkan rencana selanjutnya.


Setelah berbincang-bincang dengan orang suruhannya. Chandra kembali ke tempat dimana Andini sedang melepas lelahnya. Di kecupinya kening istrinya itu dengan sangat lembut, kemudian dia membaringkan tubuhnya disamping Andini dan kembali memeluknya.


"Sungguh Andini, aku tidak ingin kehilanganmu untuk kesekian kalinya. Cukup saat kamu koma, dan saat kemarin kita bercerai, aku tidak ingin kalut seperti saat-saat itu lagi.." gumamnya.


"Andai saja didalam hidup kita tidak Rio, Laura dan juga Bela mungkin kita sudah mempunyai keluarga kecil saat ini.." lirihnya.


Dikecupinya lagi kening, mata dan bibir istrinya itu sampai dia merasa kantuknya menyerang, sungguh Chandra yang sebenarnya adalah orang yang paling romantis.

__ADS_1


__ADS_2