
Setelah Chandra dan Andini keluar dari rumah sakit tersebut meninggalkan Rendi sendiri disana, datanglah seseorang yang selama ini selalu dicari-cari oleh Rendi.
Ceklek. Orang itu membuka pintu dan langsung menutupnya.
Tap,
Tap,
Tap, suara derap langkah kaki tersebut.
Mendengar suara kaki itu Rendi langsung bangun dan melihatnya.
"Bagaimana keadaannya pak ?" tanya Dokter Rio.
"Saya merasa sudah jauh lebih baik, Dok."
"Ouhh, bagus sekali."
"Terimakasih Dok."
"Tapi, bukan ini yang saya inginkan," gumamnya namun masih terdengar oleh Rendi.
"Maksud dokter ??" Rendi menaikan satu alisnya.
"Saya ingin Anda tidak lagi merasakan sakit," ujar Dokter Rio sambil tersenyum.
"Benar Dok, rasanya pegal sekali harus tidur miring seperti ini," keluhnya. Memang karena luka dipunggungnya dia juga harus tidur dengan posisi miring.
"Oh ya, baiklah saya punya satu obat yang akan menghilangkan rasa sakitmu." Rio langsung menyuntikkan cairan yang dibawanya ke dalam infusan.
"Terimakasih dok."
Namun beberapa menit kemudian, Rendi merasakan kaku disekujur tubuhnya, tangan dan kakinya mendadak tidak bisa digerakan olehnya, juga mulutnya yang tidak dapat mengeluarkan suara sedikitpun hanya matanya lah yang mampu mengedip-edip.
"Hum.." Rio mengulum senyumnya.
"Bagaimana reaksinya, apa kamu sudah tidak bisa berbicara ?" Rio tersenyum iblis.
Rendi diam saja, tatapan matanya menjadi tajam.
"Haha, itulah yang saya inginkan. Tenang saja rasa sakitmu akan sirna setelah 1 jam. Racun itu akan berjalan terus merusak sel-sel yang ada ditubuhmu, dan kabar baiknya kamu akan meninggal dalam waktu satu jam saja, " paparnya. Dia menyunggingkan senyuman yang penuh kelicikan.
"..."
"Dan sebelum kamu meninggal, saya akan memberi tahu sesuatu yang nantinya tidak akan membuatmu menjadi roh penasaran ataupun gentayangan."
"Sebelumnya kau kenal aku, bukan ?"
"Ya aku adalah seorang Dokter yang awalnya adalah seseorang yang menyelamatkanmu. Namun kemarin aku adalah orang yang menggunakan mu untuk menghancurkan Chandra," ucapnya.
Rendi menatapnya dengan lebih tajam lagi.
"Aku adalah orang yang kamu cari-cari selama beberapa hari ini. Mm dan satu lagi yang perlu kamu tahu, aku membenci Chandra karena aku mencintai Andini. Semua ini cukup bukan untuk tidak membuatmu mati penasaran ?"
".."
"Bersenang-senanglah sebelum ajal menjemputmu.."
Rio pergi meninggalkan Rendi yang sedang meregang nyawanya.
__ADS_1
Sungguh cara yang benar-benar kejam yang pernah dilakukan oleh Rio, yang notabenenya adalah seorang dokter yang terkenal memiliki citra sebagai seorang penyelamat.
Tapi mau bagaimana lagi, jika jiwa dan pikiran sudah dirasuki oleh setan ?? Menghalalkan segala cara dan membabi buta semuanya bagi mereka adalah hal yang lumrah dilakukan.
Satu jam kemudian, benar saja Rendi sudah terbujur kaku di hospital bed-nya. Chandra langsung diberitahukan oleh pihak rumah sakit bahwa Rendi sudah meninggal dunia.
Betapa malangnya Chandra, melihat lagi kematian seseorang yang disayangnya. Ya meski sudah disakiti olehnya namun akhirnya dia tetap berterimakasih kepadanya karena berkat dirinya juga dia bisa bertemu dengan Andini, seorang wanita yang kini sangat dicintainya, dan jika tanpa Rendi, mungkin kini Chandra lah yang sudah tiada. Chandra bersyukur masih bisa berkumpul dengan Andini.
Dan Rio, tentu dia tidak akan mendapatkan hukuman, bagaimanapun rumah sakit yang merawat Rendi adalah rumah sakitnya.
Sebisa mungkin dia menghapus segala jejaknya agar tidak ada satupun yang mencurigainya.
Sungguh penjahat yang sangat hebat, apik namun sengat kejam. Mungkin itulah julukan yang harus diberikan kepadanya.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, Chandra mulai kembali melaksanakan aktifitas seperti biasanya, bekerja dan menjadi suami yang baik.
Dia sudah bisa menerima kenyataan yang terjadi padanya, berkat sang istri yang selalu memberikannya support terbaik.
Dia juga sudah memilih asisten yang baru, perusahaannya pun sudah kembali normal seperti sedia kala.
Ketika dia melihat foto Andini yang diletakan di meja kerjanya, tiba-tiba suara bariton Doni membuyarkan lamunannya.
"Chand.."
Chandra terkesiap, " Huh, Don tidak bisakah kamu ucapkan salam atau setidaknya ketuk pintu dulu ?" keluhnya.
"Hehe.." Doni menyunggingkan senyumnya.
"Maafkan aku. Oh ya aku datang kesini, ingin membicarakan masalah Laura."
"Memang, untuk itu kamu harus ke Surabaya besok untuk memberikan pernyataan sebagai saksi kejadian penembakannya."
"Ouh, apa aku tidak bisa disini saja ?"
"Chandra, aku tau kamu orang kaya, tapi mereka adalah aparatur negara, kau harus tunduk padanya."
"Cih, haha.." Chandra terkekeh karena ucapan Doni.
"Baiklah, besok aku pergi kesana," setujunya.
"Hemm ! Tapi ngomong-ngomong apa kau lupa dengan sesuatu ?"
Chandra menyernyitkan alisnya, " Lupa ?"
"Iya, bukankah kau akan memberikanku hadiah ?"
"Astaga, aku lupa. Kau ambil saja yang kamu inginkan. Aku akan membayarnya tapi jangan lebih dari 10 juta."
"Pelit sekali," celetuk Doni.
"Yasudah jika tidak mau."
"Ya baiklah aku akan mengambilnya. Ingat besok.."
"Iya.." lirihnya.
Doni pun pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Chandra pergi ke Surabaya, untuk memberikan pernyataan dihadapan polisi tentang kasus penembakan Laura.
Selain itu dia juga diberi tahu bahwa cabang perusahaannya yang ada di Surabaya sedang membutuhkan kehadirannya, jadi dia pergi ke kota itu bukan sehari dua hari melainkan tiga hari.
Dan itu cukup membuat Andini menjadi uring-uringan tidak jelas.
"Bibik, aku bosan sekali tidak ada ka Chandra," ucap Andini manja pada Bik Sri.
"Uh Non, Non cuma tiga hari kok Den Chandra perginya juga," timpal Bik Ijah.
"Tapi kan Bik tiga hari itu lama," balasnya pada Bik Ijah.
"Sabar Non," ucap Bik Sri.
"Hemm, Bik aku pengen belajar masak dong, biar nanti ka Chandra datang aku masakin buat dia."
"Jangan Non, masak susah Non takut kena minyak panas," larang Bik Sri.
"Iya Non lebih baik Non pergi nonton TV aja, yah" saran Bik Ijah.
"Yah Bik, aku kan pengen jadi istri yang baik, aku juga pengen bisa masak. Nah, ini aja deh tempe, aku pengen belajar goreng tempe, kan mudah bik keliatannya," ucap Andini ketika melihat tempe yang sudah terpotong.
"Tapi Non.." ucap Bik Sri.
"Udah Bik jangan tapi-tapian.." Andini bangkit dari kursinya, kemudian dia mengambil wajan.
"Bibik liatin aja dulu yah, aku kemarin sempet liat youtu**. Dan sekarang aku mau praktekin."
Dia mengambil minyak yang berada jauh dari kompor, dan ketika dia membawanya ternyata minyak itu bocor dan tercecer di lantai.
Tidak ada yang sadar dengan tercecernya minyak di lantai itu. Dan saat dia mengembalikan minyak itu ke tempatnya lagi, kakinya terpeleset dan dia terjatuh..
"Akkkkhh..."
Sreeet brugh..
Kepalanya terbentur dan dia jatuh pingsan.
"Noooon..." Teriak kedua Bibik itu.
Seketika semuanya menjadi panik, Bik Ijah langsung menepuk-nepuk pipinya, sedangkanBik Sri langsung memanggil Mang Samsul untuk menggotong Nona mereka ke kamarnya.
bersambung..
Nah, menuju episode yang sudah lama ditunggu-tunggu yah. ๐๐
Maafin aku kemarin gak Update istirahat dulu. pusiyang nyari pembaca ๐ gila bener deh, ternyata lebih suli dari nulis.
buat yang lainnya tolong like nya, share, love jangan lupa. apalagi vote tuh kan gratis ๐๐
biar akunya semangat lohh๐
upnya banyak.
thanks
CU yudadababay๐
__ADS_1