Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Jangan Pergi


__ADS_3

...Kau terus ucapkan kebenaran yang aku kira itu adalah suatu kebohongan yang terus kau lakukan demi mendapatkan cintaku...


...***LH***...


Semuanya sudah pulang baik Chandra, Doni maupun Mang Samsul semuanya sudah pergi meninggalkan Agas bersama isterinya. Hanya air mata dan kesedihan yang terlihat jelas di raut wajah mereka.


Mereka bertiga kini sudah dalam perjalanan pulang, Chandra sengaja ikut dengan mobil Doni, karena masalah yang menimpanya akhir-akhir ini membuatnya sedikit stress dan membuatnya sedikit kurang fokus dengan jalan yang dilaluinya.


"Bagaimana nasib saya, saya sudah tidak ada tempat bersandar lagi. Pak Agas sudah tidak ada, saya harus mencari pekerjaan kemana lagi" batin Mang Samsul sambil melirik Chandra yang berada dibelakangnya yang sedang memijit-mijit pelipisnya.


Mang Samsul adalah mantan pemulung, diumur tiga puluh tahun sudah ditinggal pergi, istri dan anaknya sudah meninggal akibat terkena penyakit. Dia tidak memiliki teman di kota J juga pendidikannya yang hanya tamatan SD membuatnya terhambat mendapatkan pekerjaan.


Dia jauh datang dari kota L ke kota J untuk mengadu nasib. Namun saat sudah setahun dirinya tinggal di kota J bersama keluarga kecilnya, bukanlah kesejahteraan yang dia dapat malah kesengsaraan yang melanda. Isterinya menderita sakit TBC dan anaknyapun terjangkit virus itu. Akhirnya mereka meninggal dunia karena tidak mempunyai biaya untuk mengobatinya.


Beruntung Pak Agas menemukannya dan menjadikannya satpam dirumahnya. Dan untuk soal makan dan tidur dia tidak perlu memikirkannya lagi, karena Pak Agas sudah menanggung semuanya. Tapi sekarang Pak Agas sudah tidak ada. Dia bingung harus pergi kemana ?


Ditempat lain.


Rendi sedang menemani Andini.


"Nona maafkan saya, seharusnya Nona tidak berada disini sekarang. Maafkan keluarga saya Nona. Tapi saya tidak bisa menyerahkan Laura kepada Chandra sekarang ataupun nanti. Saya tidak ingin dendam ini berkelanjutan. Semoga Nona cepat sadar dan tidak pernah menyalahkan Laura" ucapnya sambil memandang jauh Andini.


Di rumah Agas.


Chandra dan lainnya sudah berada dirumah Agas. Chandra langsung duduk dikursi ruang tamu yang pertama kali dia duduki saat datang untuk melamar Andini itu. Di hempaskan tubuhnya disana, dia merasa tubuhnya sangat lemas sekali ditambah dengan kepalanya yang juga pusing. Dia memijit lembut kembali pelipisnya agar pusingnya turut hilang.


Betapa berat ujian yang dilewatinya kali ini isteri juga mertuanya, orang yang sama-sama disayanginya harus berpisah karena kematian. Kini jantung ayahnya benar-benar tidak bisa lagi berdetak menghidupi Agas, semua ini adalah karena kesalahannya.

__ADS_1


Andini masih belum sadar tetapi dia sudah kehilangan orang yang paling disayanginya. Chandra bingung harus mengatakan apa ketika Andini sadar nanti tidak mendapatkan papanya disampingnya. Semuanya membuat Chandra kacau dan hampir membuat kepalanya terpecah belah menjadi dua saking pusingnya.


Ketika Chandra larut dalam lamunannya Bik Ijah, Bik Sri, Doni maupun Mang Samsul sudah berkumpul di ruang tamu, tidak ada dari semuanya yang berbahagia jelas mereka masih dalam keadaan berduka kehilangan tuannya. Mereka semua terdiam melihat Chandra yang juga terdiam.


"Kalian mau kemana ?" tanya Chandra yang sudah menyadari kehadiran mereka. Mereka terlihat sudah membawa tasnya masing-masing hanya Doni saja yang tidak membawa apapun.


"Pak Agas sudah tidak ada Den, jadi kami harus pergi" ucap Bik Ijah. Dihatinya tidak pernah ada kebencian meski ia pernah di usir oleh Chandra. Semua itu karena Andini yang memintanya untuk tidak menyalahkan Chandra.


"Apa.. Tidak Mang, Bik, Bik Sri, Don setelahnya Papa tidak ada, saya harap kalian masih bekerja disini, menjaga rumah ini. Tetaplah bekerja disini dan rawat rumah ini ya" pinta Chandra.


"Tapi tuan.." ucap Mang Samsul.


"Mang saya mohon kalian harus tetap disini. Rumah ini adalah rumah mertua saya juga rumah isteri saya, saya tidak berniat untuk mengosongkan rumah ini. Mungkin saja dirumah ini banyak kenangannya untuk Andini. Dan juga sekarang Andini sedang koma, dia belum tahu papanya meninggal. Jika kalian pergi rumah ini akan kosong dan tidak akan ada yang merawatnya. Jadi saya mohon kalian tetap disini ya. Masalah gaji biar saya yang akan menggaji kalian. Dan Doni saya minta sama kamu selama Andini koma tolong jaga perusahaannya dan Papa, kamu bisa kan Don"


"Tuan... Saya tidak bisa tuan. Lebih baik tuan sendiri yang mengelola dan saya yang membantu keperluan dan kebutuhan tuan selama bekerja diperusahaan. Seperti selayaknya saya kepada Pak Agas."


"Baik tuan.."


"Bik Ijah, maafkan saya dulu pernah mengusir Bik Ijah dari rumah" ucap Chandra tulus.


"Apa.." Semuanya terkejut terkecuali Bik Ijah. Bagaimana tidak terkejut Bik Ijah tidak pernah membicarakan masalahnya bekerja ditempat Agas kepada siapapun meski itu kepada Bik Sri.


"Iya.. Semua itu terjadi karena kekhilafan saya, maafkan saya Bik Ijah."


"Den Chandra tidak perlu meminta maaf, karena saya sudah memaafkan semuannya Den."


"Terimakasih Bik.. Ya sudah semuanya silahkan kembali ke kamar masing-masing. Oh iya dimana kamar Andini saya ingin mencari barang yang mudah-mudahan bisa membuat Andini segera sadar."

__ADS_1


"Saya akan antarkan Den, mari !" Kali ini Bik Sri yang menjawabnya. Bik Sri adalah ART yang sudah lama bekerja disini, semenjak Andini berumur lima tahun.


Bik Sri pun menuntunnya menuju kamar Andini.


"Ini Den kamarnya Non, selalu Bibi rapihkan walaupun Non sudah menikah, disini ada buku-buku yang selalu Non baca, Bibi juga gak ngerti Den apa yang dia baca tapi setahu Bibi selain suka baca dia juga suka nulis cerita, ini juga di laptopnya Bibi sering liat banyak tulisan tapi Bibi gak berani baca, soalnya Bibi gak bisa baca Den hehe.."


"Haha.. Bibi nih ada-ada aja. Kamarnya gak seperti pada umumnya kamar cewek ya Bi" ucap Chandra sambil melihat kesekelilingnya.


"Soal itu Bibi gak tau Den, yang taunya dia orangnya gak suka ribet Den."


"Ohh..." jawabnya sambil mengangguk-angguk


"Ya sudah Den, Bibi keluar dulu masih ada banyak pekerjaan lainnya."


"Makasih ya Bi." Bik Sri pun meninggalkan Chandra sendirian dikamar Andini.


"Kamarnya sama seperti kamar ku tidak ada ornamen yang menunjukan identitas pemiliknya. Tapi rasanya sangat nyaman meski diruangan ini seharian pun tidak akan bosan. Sama seperti karakternya. Bukunya banyak sekali pantas saja dia adalah satu-satunya wanita yang mengalahkan aku kala itu. Isteriku memang pintar dan berbeda dari yang lainnya" ucap Chandra ketika dia kembali melihat kesekeliling kamar Andini. Saat dia hendak duduk dimeja belajarnya tiba-tiba saja ada seseorang yang datang.


"Permisi Tuan, saya mengganggu Anda" ucap Doni.


"Iya ada apa Don ?"tanya Chandra.


Bersambung


Hmm ada yang bisa nebak Doni mau ngomong apa😅😅


stay tuned teruussd😎😎

__ADS_1


__ADS_2