Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Hair Dryer


__ADS_3

..._Aku hanya punya kamu dan kamu hanya punya aku_...


...Candi...


Setelah sebulan lebih dia bekerja dirumah sakit. Hari ini adalah hari Chandra untuk pergi bekerja kekantor lagi. Pagi ini sebelum berangkat kekantor Chandra tidak melihat adanya Andini di meja makan.


"Bik.. Andini udah turun apa belum bi, kok aku gak liat yah.."


"Anu den, Non Andini belum keluar juga dari kamarnya. Bibi udah coba bangunin sih tapi belum ada sahutan.. Bentar bibi bangunin lagi" ucap Bik Ijah karena Bik Sri sedang mengerjakan yang lainnya.


"Gak usah bi aku aja.." Chandrapun sudah naik keatas. Tanpa permisi lagi dia membuka pintunya dan..


"Aaarrrrgghhhh" teriakan Andini didalam sana.


Mata dari kedua insan itu masing-masing saling terbelalak, terlebih Chandra melihat tanpa niat berkedip sekalipun. Apa yang mereka lihat ???


"Haha.. Haha.. Haa.."


Seketika saja Chandra tertawa terbahak-bahak sampai terpingkap-pingkal. Melihat rambut Andini yang sudah aut-autan kesana kemari.


"Kakak untuk apa kakak kesini..." Andini mendorong Chandra agar keluar dari kamarnya.


"Kamu.. Kamu sedang apa ??? Kenapa rambutmu berubah jadi begini hah.. ?" tanyanya dengan masih cekikikan.


"Aku tidak tahu, sebaiknya kakak keluar saja. Kakak kan laki-laki ??" ucapnya sambil menggiring kembali Chandra.


"Tidak tidak tidak..." Chandra melihat adanya hair dryer di atas ranjang Andini, pun langsung mengerti mengapa keadaan Andini berubah menjadi seberentakan ini.


Dia membalikan badannya, memegang kedua bahu Andini dan menatapnya tanpa ada suara tawa lagi, dia menatapnya begitu serius.


"Aku akan membantumu merapihkan rambutmu.."


"Tidak aku tidak mau.." ucapnya sambil menunduk kemudian dia memanyunkan bibirnya itu.


"Jadi Andin tidak mau kakak bantu. Andin mau ditertawakan orang ? Lihatlah..." Chandra menggiring Andini pada meja riasnya. Memperlihatkan Andini pada kaca yang ada dihadapannya.


"Kamu masih mengenakan kimono handuk, rambut yang sudah berantakan seperti orang gila, dan bibir yang pucat seperti ini, orang akan mengira kamu adalah hantu kamar mandi."


"Kakak !!" pekiknya.


"Ada apa ? Memang benarkan orang akan menganggapmu sebagai hantu kamar mandi."


"Tapi..."


"Dengarkan kakak, kalau hanya untuk rambut insya Allah kaka bisa, percayalah. Kakak akan membuatmu cantik.."


"Apa kakak berkata jujur kepadaku ? Sungguh akan membuatku cantik.." tanyanya.


"Iya.. Mari duduk disini.." ucap Chandra. Kemudian dia mengambil hair dryernya dan merapihkan rambutnya.


Rambutnya kini sudah selesai di keringkan dan dirapihkan. Sekarang giliran Chandra untuk menyisirinya..


"Tadi kamu kenapa sih bisa sampai acak-acakan gitu rambutnya..." tanya Chandra sambil menyisiri rambut Andini.


"Tadi itu Andin baru aja selesai mandi, sampoan gitu abis gitu pas Andin mau ngeringin rambut, Andin liat alat itu terus Andin inget itu buat ngeringin rambut yaudah Andin pake aja.. Buuuuzzzz, jadinya gini. Untung aja rambut Andin gak belibet kesana kesini, kalau ya bisa botak kepala Andin kaya om Dedy.."


"Om Dedy.. Om kamu ??"


"Iya Om aku om Dedy Corbuzier" celetuknya.


Chandra tidak terlalu serius mendengarkan Andini berbicara. Dan saat hendak mengikat rambutnya, Chandra memperhatikan dengan lekat leher jenjang milik Andini. Dia mencoba menelan salivanya.


"Apa ini kenapa aku ingin sekali menyentuhnya" bisiknya. Kemudian dia merapatkan dirinya mencium bau wangi dari rambut dan juga tubuh Andini. Menghirupnya lebih dalam, dalam dan dalam lagi. Sampai....

__ADS_1


"Ka.. " seru Andini yang tidak mendapatkan jawaban.


"Kak..!!" ulangnya lagi..


"Kak... !!" Masih tidak ada jawaban.


"Kak, kak Chandra" Dia berteriak sekeras mungkin menyadarkan lamunan Chandra.


"Hah..." Chandra terkejut mendengar teriakan Andini. Seketika saja menggelengkan kepalanya.


"Ada apa ??" jawabnya kemudian.


"Harusnya Andin yang bertanya kenapa kaka semakin mendekat kepadaku" ucap Andini dengan nada marahnya. Namun terlihat sangat imut sekali seperti biji ketapang.


"Ah.. Maafkan kakak. Rambutnya sudah kakak ikat. Dan sebaiknya kamu segera pakai pakaian rapih jangan lupa pakai kerudung seperti biasa yah" perintahnya. Kemudian dia keluar dengan sangat terburu-buru dari kamar tersebut.


"Ka Chandra selalu saja aneh" gumam Andin.


Sedangkan Chandra yang diluar sana..


"Ada apa denganku.. Kenapa aku ingin sekali... Arghh.. Chandra kau sudah gila. Andini yang sebenarnya sedang amnesia. Sekarang dia hanyalah seorang anak kecil, bagaimana jika nanti mentalnya terguncang bila aku melakukan sesuatu kepadanya" lirihnya sambil menuruni tangga dan mengacak-acak rambutnya.


"Tidak Chandra.. Jangan dulu, tahan" imbuhnya lagi sambil mengatur nafasnya.


"Chan... Kamu kenapa ?"


"Den.. Den Chandra kenapa ?" ucap Bik Ijah.


"Ah tidak Bik, Don aku tidak papa.." jawab Chandra dengan senyum yang dibuat-buat.


"Yakin kamu tidak apa-apa sedangkan rambutmu berantakan" tanya Doni lagi, sambil melirik Chandra dari atas hingga bawah.


"Tidak aku tidak apa-apa serius.."ucapnya meyakinkan. Apalah daya tidak akan mungkin baginya untuk menceritakan soal dia yang menginginkan haknya. HuaaaπŸ˜‚


"Andini..." Terkejut Chandra melihat Andini yang tidak mengindahkan perintahnya. Andini keluar dari kamarnya menggunakan baju santainya tanpa memakai kerudung.


"And..." ucap Doni sambil menatapnya aneh.


"Doni.. Kamu jangan melihatnya.." bentak Chandra.


"Ah ya ya ya.." ucap Doni yang langsung lari terbirit-birit menuju luar.


"And.." Chandra langsung menghampirinya.


"Kakak sudah bilang pakai kerudungmu.." Kemudian dia merangkul Andini dan membawanya keatas.


"Tapikan.. Apa salahnya ? Mamah juga tidak pernah melarangku jika aku tidak ingin memakai kerudung. Kan aku masih kecil kak " ucapnya polos.


Kini Chandra sudah berada dikamar Andini. Dia mengambilkan baju juga kerudung yang pantas untuk ia kenakan..


"Sekarang kamu pakai ini saja yah.. "Dia memberikan gamis juga kerudung blouse.


"Engga.." Andini menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mendudukan diri diatas kasurnya.


"Andin yang cantik, kakak mohon kamu pakai ini saja ya" pintanya lagi. Tapi Andini sedang memasang mode diamnya.


"Ya sudah.." Chandra berjongkok didepannya.


"Kamu kenapa ?" Chandra melihat raut wajah Andini yang ditekuk.


Andini hanya menggeleng..


"And.. Andin mau apa kakak belikan, eskrim yang ada telur sama susunya atau eskrim tiga warna ?" Chandra mencoba melunturkan wajah tidak enak dipandang itu.

__ADS_1


Andini menatap Chandra dan berkata, "Ka.. Aku hanya rindu Mamah dan Papah."


Jlebb...


Andini yang mengatakan itu sedangkan Chandra yang merasakan sakitnya. Kini mata Chandra sudah berlinang namun masih setia menatap Andini.


"Akupun And.. Merindukan ibu dan ayahku.. Aku tau rasanya tersiksa seperti itu, aku tau rasanya kehilangan. Hanya saja kita berbeda, kamu tidak mengingat sama sekali tentang kematian orang tuamu.. Kita hanyalah anak yatim piatu sekarang kita tidak punya siapa-siapa lagi. Aku hanya punya kamu begitupun kamu And hanya mempunyai diriku.." batinnya dalam hati. Air matanya sudah membentuk aliran sungai kecil.


"Kakak kenapa menangis ??" Andini menghapus air mata yang tersisa dipipi Chandra dengan menggunakan jempol tangan kanannya.


"Tidak.." ucapnya sambil tersenyum dan memegang tangan Andini yang masih mengusap air matanya.


"Aku juga merindukan kedua orang tuaku.." celetuknya.


"Memangnya kemana orang tua kakak ?"


"Orang tuaku sedang bepergian ditempat yang sangat indah.. ?"


"Jahat sekali mereka, mengapa tidak mengajakmu..?"


"Tidak, aku yang tidak bisa ikut dengan mereka" jelasnya.


"Mengapa ?"


"Karena disini ada kamu " ucapnya seraya mencuil batang ujung hidung Andini.


"Ishh kakak ini. Doyan banget sih pegang hidung aku ?" Kali ini Bibir Andini sudah manyun.


"Abisnya sih Andini gemesin.."


"Ish.." Andini memalingkan wajahnya.


"Udahlah... Mm.. Kamu pakai ya baju sama kerudungnya." Chandra memintanya lagi dengan sangat keukeuh.


"Gak ah.. Gerah..." tolaknya.


"Yaudah pake kerudungnya aja yah..." pintanya lagi.


"Yaudah deh." Setujunya dengan terpaksa.


"Kalau gak diturutin pasti masih maksa juga kan" batinnya.


"Nah gitu dong kan jadinya cantik. Yaudah kakak kerja dulu yah. Kamu baik-baik disini sama Bik Ijah sama Bik Sri yah.." pamitnya yang hanya diangguki oleh Andini.


Kemudian Chandra keluar meninggalkan Andini sendiri disana.


Bersambung....


Gimana amburadulkan hahaha..


Yang tenang yah untuk orang yang ingin Andini cepet sadar, cepet tau babehnya udah meninggal..


Sabar.


Masih ada banyak kasus yang Othor Chila juga puyeng gimana nyeritainnya.


Humm.. Pokoknya jan kabur dulu dehh.. Stay aja dimari ya.


Love you..


Jan lupa seperti biasa dukungannya.πŸ˜‚πŸ˜‚


Jaizian...πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2