
Saat membalikan badannya Andini terkejut dengan sebuah mobil yang terparkir didepan rumahnya. Mobil tersebut bukanlah mobil Chandra. Karna penasaran diapun langsung masuk kedalam rumahnya itu. Akan tetapi dia tidak menemukan siapapun berada dirumahnya terkecuali Bik Ijah, saudara Bik Sri asisten rumah tangganya.
"Bik itu didepan mobil siapa yah, itukan bukan mobil Chandra " tanya Andini.
"Ohh itu mobilnya mertua Non " ucap Bik Ijah.
"Emang Bibi tau mertua saya, kan Bibi belum pernah liat " Andini takut ada orang yang mengaku sebagai mertuanya.
"Tadi Bapak itu bilang Non, bibi juga awalnya gak percaya terus dia nunjukin foto pernikahan Non sama den Chandra, difoto itu juga ada tuan Non, papa Non, terus bibi juga perhatiin mukanya mirip, yaudah bibi percaya Non." Bik Ijah menjelaskan kejadian lima belas menit yang lalu sebelum Andini datang.
"Ouhh terus Ayah kemana ?" tanya Andini yang tak melihat keberadaan mertuannya itu.
"Ayah disini, tadi abis sholat magrib dulu " ucap Hermawan, mertuannya itu.
"Ayah, Assalamualaikum ayah." Andini langsung menghampiri mertuannya itu dan mencium tangannya.
"Waalaikum salam, Nak mana suami kamu ?" tanya Hermawan, yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Chandra.
"Ahh itu. Ka Chandra. Ka Chandra tadi bilang masih ada kerjaan yah " ucap Andini berbohong.
"Kerjaaan, dimana ? Ayah tadi keruangannya kata sekretarisnya dia gak ada, ayah kira dia udah pulang jemput kamu " ucapnya, Ayahnya heran mengapa anaknya tidak ada dikantor maupun dirumahnnya.
"Ahh ituu katanya kerjaan diluar kantor yah, udah ijin kok sama aku. Ayah tenang aja." Belanya pada Chandra. Padahal Andini sendiripun tidak tahu keberadaan Chandra sekarang, dia berbohong untuk menutupi semuanya kepada mertuanya. Dia tidak ingin Chandra sampai dimarahi gara-gara aduannya itu.
"Ayah ayo duduk dulu " ucap Andini, kemudian dia mengambilkan ayahnya segelas air dan sepering kue yang sempat dia beli.
"Sini Nak duduk ayah ingin menanyakan sesuatu padamu " ucap mertuanya ketika Andini menyuguhkan apa yang dia bawa.
"Ada apa ayah ?" tanyanya.
"Bagaimana sikap Chandra dan perlakuannya padamu. Jujur saja ayah tidak akan marah tentang keluh kesahmu itu" ucap mertuannya. Dia sangat hapal dengan sikap putranya itu apalagi ketika pertama kali dia bilang akan menjodohkannya, dia merasa anaknya telah merencanakan sesuatu yang tidak baik. Dan mungkin saja akan menyakiti hati Andini. Walaupun dia tahu bahwa Andini temannya tapi hatinya masih meragukan sikap putranya itu.
"Ayah kenapa tanya seperti itu. Andini tidak ada keluhan apapun terhadap ka Chandra, ka Chandra itu baik Yah, sangat baik. Bahkan sangat mencintai Andini. Andini sangat bahagia yah." Bohongnya, Andini tidak ingin membongkar aib pernikahannya. Baginya ini adalah masalahnya dengan Chandra.
"Ohh ayah tenang mendengar hal itu langsung dari mulut kamu, ya sudah kamu kan baru datang kamu pergi mandi dulu sana" ucap mertuanya itu.
"Ohh iya Yah, aku belum sholat. Aku tinggal dulu sebentar ya.. " pamitnya, Andini pun langsung bergegas kekamarnnya setelah mendapat persetujuan dari mertuanya itu.
__ADS_1
Andini tidak tahu bahwa Chandra sudah datang dari tadi dan mendengar apa yang dibicarakan antara si menantu dan si mertua itu.
"Andini, kenapa kamu berbohong. Aku melakukan itu agar kamu mau menceraikanku atau kamu bicara tentang kejelekanku dan ayah menyetujui jalan yang akan ku ambil" gumam Chandra.
Kemudian dia masuk dan menghampiri ayahnya itu yang sedang duduk di ruang tamunya.
"Assalamualaikum Yah." Chandra mencium tangan ayahnya.
"Waalaikum salam, dari mana saja kamu?" tanya ayahnya langsung tanpa basa basi lagi.
"Aku aku..." ucap Chandra terbata, karna bingung harus menjawab apa.
"Gak bisa jawabkan, ayah tau istri kamu itu berbohong. Mangkanya ayah tanya lagi akan perlakuan kamu sama dia, supaya kamu mendengar kebohongannya yang menutupi semua kesalahan kamu " ungkapnya.
Ketika ia tadi melihat Chandra sudah datang dia menanyakan lagi tentang sikap Chandra kepadanya. Dia ingin agar Chandra tahu bahwa Andini rela berbohong demi seorang Chandra.
Chandra hanya menunduk, merasa bersalah.
"Istri kamu itu orang baik, buktinya dia berbohong demi kamu, dia gak mau ayah marahin kamu, dia berbohong demi belain kamu lelaki brengsek, walaupun ayah tau kebohongannya, tapi ayah hargai itu " tambahnya lagi, yang masih kesal terhadap anaknya itu.
"Ayah, aku tu gak cinta sama dia, perasaan gak bisa bohong yah. Aku tuh gak suka sama dia bahkan aku benci banget sama dia" sangkalnya.
"Tapi yah.. Aku sama sekali gak cinta sama dia ?" ungkapnya lagi.
"Chandra yang kamu harus tau cinta itu bisa datang dengan sendirinya, hargai keberadaannya dulu, jangan sakiti dia, suatu saat kamu akan tau alasan mengapa kamu mencintainya, dan satu lagi jangan menyia-nyiakan orang yang begitu mencintai kamu. Jika dia sudah pergi kamu tidak akan mendapatkan orang yang sama tulusnya seperti dia, ingat itu." Ayahnya begitu geram terhadap putranya itu.
Meski kesal Hermawan tidak bisa melakukan apapun, selain hanya bisa menasehatinya agar tidak menyia-nyiakan Andini yang sekarang sudah menjadi isterinya, yang sudah sepantasnya dia hargai, dan dijaga.
Keduannya nampak diam dan akhirnya Chandrapun pamit " Ayah aku pamit dulu, aku belum mandi belum sholat juga" ucapnya.
Andini yang tak sengaja mendengar obrolan antara anak dan ayahnya itupun terkejut dan berlari kearah kamarnya dan disana dia langsung menangis, air matanya membuncah, keluar deras dari mata kecilnya itu, bibirnya bergetar tak bisa lagi bekata, otaknya seakan terpenuhi dengan kata kata yang keluar dari mulut Chandra, kata kata "aku tidak menyukainya." Bahkan memenuhi gendang telinganya. Hatinya sudah tersayat terluka menghadapi fakta yang tidak bisa dihindarinya lagi
"Kenapa kenapa kenapa ?" Hanya pertanyaa itulah yang bisa dia ucapkan. berbeda di dalam benaknya banyak sekali pertanyaan yang belum bisa dia temukan jawabannya.
Tok tok tok
"Non, Makan malam nya udah bibi siapin " suara Bik Ijah memanggilnya. Andinipun langsung menghapus air matanya, dia tidak ingin memperlihatkan kerapuhan hatinya itu. Dia harus terus melanjutkan pura-pura bahagianya itu. Dan tentunya harus berjuang lebih keras untuk meyakinkan Chandra akan perasaan yang dia punya selama ini. Dia tidak ingin menyerah begitu saja. sekli lagi karena baginya ini adalah awal dari perjuangan untuk mendapatkan seorang lelaki idamannya itu.
__ADS_1
Dia merapihkan riasannya dan juga kerudungnya, berharap bahwa semua orang tidak mengetahui jika dia susah menangis.
"Iya bi.. Aku kesana." Dia pun membuka pintunya, melangkahkan kakinya dan berusaha untuk tersenyum melupakan yang sudah terjadi.
Dia pergi ke ruang makan dan disana sudah ada dua orang laki-laki sedang duduk menunggunya
" Ayah ka Chandra maaf aku terlambat. Sebaiknya tadi kalian jangan menungguku" ucap Andini.
"Tidak Nak, ini kedua kalinya kita makan bersama, tentunya ayah tidak akan melewatkan momen ini" ucap mertuanya.
"Ayo makan " ucap Hermawan mengajak kedua anak nya itu.
Andini pun langsung mengambil piring dan mengisinya dengan lauk pauk yang diinginkan oleh Chandra kemudian memberikannya. Dia tetap melakukan itu agar tidak menimbulkan kecurigaan orang terhadap dirinya. Disisi lain ayah mertunya sangat bahagia mendapatkan menantu yang begitu menyayangi putranya yang brengsek itu. Dia berharap agar kelak Chandra dapat mencintai Andini bahkan lebih dari Andini mencintainya.
Acara makan malampun selesai, Andini langsung merapihkan meja makannya untuk membantu meringankan pekerjaan Bik Ijah. Setelah itu diapun langsung pergi ke kamarnya ketika sudah pamit ke ayah mertuanya.
Didalam kamarnya itu dia melanjutkan tangisan yang sedari tadi dia tahan, ditemani oleh buku diarynya. Dia mencurahkan segala isi hatinya itu, hanya dengan menulislah pikirannya bisa tenang.
^^^Dear diary^^^
^^^Aku mencintainya, sangat mencintainya, sungguh mencintai suami ku Chandra. Namun dia tidak mencintaiku, apa yang bisa aku lakukan ? Ingin sekali aku marah tapi tidak bisa, aku tau bahwa perasaan itu tidak bisa dipaksa. Tapi setelah seminggu ini terlewati apakah tidak ada sedikit saja ruang untuk ku di hatimu Chandra.^^^
^^^Suamiku Chandra^^^
Begitulah isi dari tulisannya itu. Setelah dirasa cukup tenang dia pun langsung menutup diarynya dan membaringakan tubuhnya di kasur miliknya. Tetapi air matanya masih saja tetap menangis.
Hati siapa yang tidak akan sakit mendengar suaminya sendiri mengatakan bahwa dia tidk mencintai istrinya sendiri.
Sedangkan diruangan lain, Chandra menemani ayahnya dan dia merasa benar-benar sial dari waktu maghrib hingga jam sepuluh malam ayahnya selalu memberinya wejangan agar Chandra mau belajar untuk mencintai Andini dan menghilangkan niat untuk pergi darinya bahkan ayah memintanya untuk segera membuatkan cucu.
"Ayah aku sudah lelah.. Aku ingin istirahat" ucap Chandra yang sedari tadi ingin mengakhiri percakapannya itu.
"Ya sudah pergi tidur sana ikuti isterimu, Ayah juga akan menginap disini " ucap ayahnya.
"Apa ayah nginap, aku aku harus tidur di kamar Andini ?" bisiknya.
"Ya sudah kalau begitu ayah itu kamarnya, aku pergi dulu" ucap Chandra. Dia tidak bisa menolak keinginan ayahnya. Akan sangat tidak baik jika ssmpai ia mengusir ayahnya sendiri, terlebih lagi rumah inipun diberikan olehnya kepada putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
bersambung..