Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Musibah Belum Berhenti


__ADS_3

Setelah mendapat kabar menghilangnya Laura dari Rendi. Chandra kembali masuk ke ruangan dimana Andini berada, dengan perasaan marah dan kecewa yang dimilikinya.


Dia mendudukan dirinya disebelah Andini. Menatap wajah Andini secara lekat. Tak bersuara juga tak bergerak, dia terus menatapnya, menatap sendu wajah yang lima bulan terakhir ini selalu menemaninya.


"Aku akan menemukan Laura, aku akan menghukumnya Andini. Aku akan menghukum semua orang yang sudah menyakitimu bahkan meski itu adalah diriku sendiri, aku akan menghukumnya Andini." bisiknya dalam hati.


"Seandainya saja kamu pergi dariku, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Mungkin kamu sekarang sedang tertawa, bahagia. Tapi kamu memilih tidak pergi dariku. Bahkan setelah kamu tahu aku sudah menyelingkuhimu, kamu masih tetap bersamaku. Mengapa ?" bisiknya lagi


"Menatap mu yang seperti ini, membuat aku menjadi tak berdaya. Aku merasa sesak jika aku mengingat kejadian semalam. Seharusnya aku menahanmu pergi bukan malah membiarkanmu pergi." Kali ini dia mengangkat suaranya sambil memegang tangan lembut Andini.


"Bodoh boooodooooh. Bahkan aku tidak hanya mengecewakanmu, aku juga menghinamu, aku juga menyakitimu." Chandra merutuki sikapnya semalam. Dia menjenggut keras rambutnya dan mengusap kasar wajahnya.


"Bukan Akhir seperti ini yang aku inginkan. Ku akui pada awalnya aku ingin kamu merasakan sakit dan pergi meninggalkan aku, tapi bukan dengan begini. Aku, aku ingin kau sehat, kau berdiri tegap seperti biasa. Tapi kau malah memilih tidur dan tidak menatapku. Aku merasakan sakit ketika aku melihatmu seperti ini, aku termakan oleh rencana ku sendiri. Katakan Andini trik apa lagi ini ?" ucapnya lagi. Kali ini matanya pun ikut bersedih, menghujani kedua pipinya.


Sampai saat ini hanya Andinilah wanita yang mampu membuat air matanya jatuh, bukan karena kesalahannya akan tetapi karena kesalahan Chandra sendiri.


Lama sekali dia melamun dan bergumam sendiri. Keadaannya sekarang sedang kacau, hatinya sedang diporak poranda, kepalanya pusing mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Sampai siang pun sudah berganti menjadi malam dia tetap duduk disana menunggu Andini, meski dokter sudah banyak yang keluar masuk tetapi dia tetap saja berada disana, tak ada satupin detik yang terlewatkan tanpa memandang wajah Andini.


***


Keesokan harinya.


Subuh-subuh sekali Chandra sudah bangun, semalaman dia tertidur di kursi yang sejak kemarin dia duduki.


Badannya sudah merasakan pegal, lengket dan juga sudah mulai mengeluarkan aroma-aroma asam. Karena kemarin dia tidak memikirkan hal lain selain Andini. Akhirnya Chandra pulang kerumahnya untuk mandi dan mengambil peralatan yang dia pikir suatu saat benda itu akan diperlukan. Dia juga berencana akan bekerja dirumah sakit sambil menunggu Andini.


Dalam perjalanannya menuju rumah sakit lagi, dia teringat acara di tv-tv yang apabila akan menjenguk orang sakit biasanya orang itu membawa buket bunga. Chandra juga ingin melakukan hal yang sama, dalam hatinya berharap semoga Andini cepat segera sadar.


Dibelilah bunga tulip warna putih, menurutnya bunga itu cocok untuk tipe perempuan seperti Andini, yang bersih,suci, cantik nan elegan. Tidak terlalu meriah namun terlihat indah.


Didalam mobilnya sesekali Chandra mencium bunga yang baru saja dibelinya itu. "Wangi seperti dirimu Andini" bisiknya dalam hati. Kemudian diletakannya secara hati-hati tepat di sebelah kursi kemudi.


Saat sedang menyetir, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.

__ADS_1


Bip bip bip


Panggilan telepon dari Doni.


"Ya hallo.." jawabnya dengan segera.


"Bagaimana keadaan Nona Andini, Tuan Chandra ?" tanya Doni setengah berbisik. Dia tidak ingin Agas mendengar kabar buruk tentang anaknya, bisa- bisa itu akan mempengaruhi kondisinya.


"Dia belum sadar dari komanya Don" lirihnya.


"Apa Koma, bagaimana bisa ? Bukankah awalnya Tuan mengatakan bahwa dia pingsan"


"Awalnya sebelum ke rumah sakit aku mengira bahwa dia hanyalah pingsan namun setelah dokter memeriksanya keadaannya lebih buruk dari yang aku bayangkan" lirihnya lagi.


"Tapi mengapa bisa ? Bagaimana kejadian awalnya ?"panik Doni.


Chandra langsung menceritakan kejadian awalnya. Oh tidak dia men-skip setengah kejadian malam itu, dia tidak menceritakan Andini yang datang ke kamarnya dan pergi dengan kecewa.


"Laura, siapa dia ?"


"Baiklah, akan aku bantu tuan untuk mencarinya. Tolong tuan jaga Nona Andini."


"Baiklah terimakasih Don."


Keduanya saling menutup panggilan dimasing-masing ponselnya.


"Apa yang mesti dijaga dari Andini, Don" ucap Agas yang baru saja mendengarkan pembicaraan Doni dengan Chandra.


"Bapak .." Doni terbelalak sempurna mendapatkan Agas berada dibelakangnya.


"Katakan ! Apa yang terjadi dengan Andini" bentaknya. Siapapun akan kaget dengan bentakannya itu termasuk Doni.


"Dia koma pak" ucap Doni tak sengaja, keterkejutannya membuat lidahnya menjadi lancar mengatakan apa yang seharusnya dia sembunyikan.


"Apa....?" lirihnya. Agas pun kaget dengan kabar yang dibawa oleh Doni.

__ADS_1


"Akkh.. Akkhhh...." Kini dia sedang memegang dada bagian kirinya. Jantungnya memompa kuat dan terasa amat sangat sakit.


"Bapak" teriak Doni. Sesegera mungkin dia berlari menghampiri Agas..


"Bapak .." Asistennya itu mencoba mengangkat Agas.


"Tolong tolong...." teriaknya lagi.


Pak Samsul, Bik Sri dan Bik Ijah pun kangsung berkumpul dititik dimana suara itu berasal..


"Tuaaannn !.." ucap ketiganya secara bersamaan karena kaget. Mereka menghampiri Agas yang sedang terbaring di lantai dengan di tahan oleh Doni.


Pak Samsul dan Doni pun langsung menggotong Agas dan memasukannya ke mobil. Setelah masuk Doni langsung mejejakan kakinya menginjak gas, tangannya sudah mengoper gigi dan tangan satunya lagi membanting stirr.


Dalam pikirannya bagaimanapun caranya dia harus segera cepat berada di rumah sakit.


Agas yang berada dibelakang Doni masihh erat memegang dadanya, rasa sakit itu menyerang begitu saja sama seperti perasaannya yang terlalu khawatir dengan kondisi Andini. Sedangkan Pak Samsul bingung dengan apa yang harus dilakukannya.


Mobil yang dikemudikan Doni akhirnya terparkir rapi di rumah sakit yang dulu pernah menjadi tempat operasinya. Lebih tepatnya tempat Dokter Rio bekerja.


"Dokter tolong dok disana ada pasien darurat" ucap Doni terengah-engah karena sesudahnya dia memarkirkan mobilnya di berlari ke arah resepsionis.


Para perawatpun langsung memulai aksinya, mereka dengan sigap membawa Agas menuju ruangan tindakan dokter.


"Silahkan isi administrasinya dulu " pinta salah satu perawat kepada Doni.


Donipun segera menuruti perintah perawat itu. Tak lupa dia pun memberitahu Chandra akan keadaan mertuanya itu.


Ditempat yang sama, sama-sama rumah sakit namun berbeda nama, Chandra baru saja akan mengisi perutnya yang dari kemarin belum mendapatkan sesuap makanan. Langsung mendapat kabar bahwa mertuanya masuk rumah sakit.


Kabar buruk itupun membuatnya menjadi lemas kembali. "Cobaan apa lagi yang kau turunkan kepadaku Ya Allah" suara batinnya. Kini dia tidak bisa berbicara, menjadi bisu seketika. Kakinya tak lagi bisa menompang.. Dia terduduk dikursi yang kemarin dia tiduri itu.


Dirinya kembali memandang sendu Andini, "Andini..." lirihnya.


Dengan sigap dia langsung meminta suster untuk selalu berada didekat Andini. Sedangkan dia pergi ke tempat dimana Doni berada.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2