
Andinipun masuk kedalam diikuti oleh Mang Samsul dibelakangnya.
Betapa bahagia rasanya melihat orang yang disayanginya kini sudah siuman. Senyum merekah dibibir Andini tercipta indah begitu juga dengan Agas papanya, walaupun masih dalam keadaan lemah bibir pucat itu tak kalah merekahnya sama dengan anaknya.
"Papa..." ucapnya. Tak terasa air mata Andinipun berlinang saking bahagianya.
"Nak kenapa matamu berkaca-kaca ?"
"Aku aku sangat bahagia Pah" ucapnya terbata. Kemudian dia menciumi tangan Papanya.
"Sayang, jangan menangis. Papa dan Ayah mertuamu akan selalu ada untuk mu mulai dari detik ini. Hapus air matamu itu ya.. " ucap Papanya dengan nada pelan sambil mengelus pucuk kepalanya.
"Iya." Andini mengukir senyumannya kembali.
"Selamat sore, permisi saya akan memeriksa tekanan darah pasien dulu" ucap Perawat itu.
Dan Andinipun mempersilahkan Perawat itu untuk melaksanakan tugasnya setelah selesai Perawat itupun langsung berbicara kepada Andini.
"Ibu, karena Bapak baru saja sadar dan dikhawatirkan belum membuang gas dalam perutnya jadi Bapak belum bisa makan dulu, nanti setelah itu baru bisa ya Bu" ucap Perawat itu memberitahu.
"Iya baik terimakasih Mbak" ucap Andini.
Setelah Perawat itu pergi, Andinipun menyuruh Papanya untuk beristirahat kembali, dan menyuruh Mang Samsul untuk pulang beristirahat juga . Sedangkan dia membuka laptopnya membaca laporan yang sudah dikirimkan oleh Rina, Sekretaris Papanya.
Sudah tiga hari dia tidak bekerja maka dari itu walaupun sudah malam dia akan memaksakan bekerja karena nasib orang lainpun ada pada dirinya. Apalagi sekarang papanya baru saja melakukan operasi dan membutuhkan waktu yang lama dalam penyembuhan. Mau tidak mau Andini harus lebih extra dalam bekerja.
****
Malam hari tepat jam delapan malam Chandra baru sadarkan diri dari tidurnya, dia melihat sekeliling kamarnya sudah rapih dan wangi dan melihat pakaian baru untuknya di sudut bibir ranjangnya. Piring yang sebelumnya berada diatas nakas disamping ranjangnya pun kini sudah tidak ada lagi.
Malu, perasaan itu kini menghinggapinya. Bagaimana tidak ketika dia sedang marah tiba-tiba saja perutnya berbunyi baginya itu sangat memalukan sekali.
__ADS_1
Diapun lama terdiam untuk mengumpulkan semua nyawa- nyawa yang belum terkumpul pada tubuhnya. Setelah dirasa sudah tidak pusing dan tidak lemas lagi diapun langsung mengambil handuk dan mandi. Badannya sudah lengket karena keringatnya sendiri. Setelah selesai mandi dia memakai baju yang sudah disiapkan Andini.
Cacing-cacing dalam perutnya sudah berbunyi lagi, diapun menuju ruang makan dan bertanya kepada Bik Ijah dimana keberadaan Andini sekarang. Bik Ijah pun menjawab pertanyaan itu sesuai dengan yang diinstruksikan oleh Andini.
Karena penasaran dengan keadaan Papa mertuanya, Chandrapun bergegas pergi ke rumah sakit itu.
Tepat pukul sebelas malam dia baru sampai disana. Jarak yang begitu jauh cukup memakan waktu baginya. Dilihatnya Andini yang sudah tertidur pulas di sofa kamar itu. Wajahnya terlihat sangat lelah dan letih. Kemudian dia menghampiri Papa mertuanya dan duduk di sampingnya.
Papa mertuanya menyadari kehadirannya, diapun berkata " Nak Chandra."
"Pah.. Istirahat saja biar saya yang menjaga" ucap Chandra setengah berbisik, tidak ingin mengganggu Andini dan Agas. Agaspun langsung tertidur kembali.
Saat memperhatikan wajahnya, dalam hati Chandra terbesit rasa simpati, dan rasa sayang seperti kepada ayahnya sendiri. Mungkin karena kini dalam tubuh Agas terdapat organ milik ayahnya. Jadi perasaan itu muncul begitu saja.
Akan tetapi perasaan bencinya terhadap Andini belum padam juga. Dia sangat benci kepadanya dari dulu hingga sekarang. Entah perasaan itu dulu muncul begitu saja, dan menjadi lebih dalam ketika dia bertemu dengan almarhum Bella.
Dia selalu berpikir bahwa Andinilah perebut kebahagiannya, karena Andini dia berjauhan dengan Bella, karena Andini Bella selalu menderita, karena Andini pula Bella meninggal dunia.
Begitulah kehidupan biduk rumah tangga, pernikahan adalah suatu hubungan yang juga anugrah pun juga musibah, dimana jika tidak diuji oleh pasangan maka akan diuji oleh ibu mertua atau ayah mertua bisa juga keduanya atau dari darah daging mereka sendiri.
Malam semakin larut, Chandra pun kembali mengantuk, dia benar-benar lelah sampai tidur berjam-jam pun tidak pernah cukup untuk mengusir rasa kantuknya. Saat baru saja dia merenggangkan otot-ototnya, dengan nyaring ponselnya berbunyi mengagetkannya, beruntung Agas dan Andini tidak mendengarnya.
Chandra mengangkat telepon itu yang tak lain adalah dari Polisi.
"Hallo, dengan Pak Chandra, kami dari Pihak Kepolisian ingin mengabarkan bahwa pelaku tabrak lari korban atas nama Hermawan sudah kami tangkap, dimohon Saudara untuk datang kesini secepatnya" ucap Pak Polisi.
"Baik pak saya akan segera kesana, terimakasih Pak" ucap Chandra.
Perasaan marah kesal kini menyelimutinya dengan langkah cepat dia menuju mobil agar segara sampai pada tempat tujuannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama Chandrapun sudah tiba di Kantor Polisi bersamaan dengan Rendi.
__ADS_1
Chandrapun meminta izin kepada polisi untuk bertanya alasan mengapa dia menabrak lalu pergi begitu saja. Dengan sangat tidak berperasaan laki-laki tua itu menjawab,
"Ini semua adalah karena dosa ayahmu, dia pantas menerimanya, bahkan ini tidak seberapa dibanding dengan rasa sakit yang adikku terima, aku ingin dia hidup tidak mau matipun tidak bisa, aku ingin dia lebih menderita. Satu-satunya kesalahanku adalah dia mati begitu saja" umpat laki-laki tua itu yang hampir saja melukai Chandra karena amukannya.
Pihak polisi langsung memisahkan mereka dan membawa lelaki tua itu kebalik jeruji besi.
Chandra tidak habis fikir dengan jawaban dari laki-laki itu, mengapa bisa lelaki tua itu bicara seperti itu, apa yang sudah ayahnya lakukan kepada adiknya, pertanyaan pertanyaan itu bermunculan dalam pikirannya.
Ingin sekali dia bertanya lagi kepadanya namun pihak polisi menghentikannya karena emosi laki-laki tua itu sedang tidak stabil, bisa saja dia membunuh Chandra didepan mata mereka sendiri. Amukannya benar-benar seperti banteng spanyol yang sedang melihat bendera merah, tidak dapat dihentikan.
"Keadaanya sudah seperti ini tersangka bisa dikenakan pasal yang berlapis-lapis. Pak Chandra tolong Anda tenang saja, kami pihak polisi akan terus menyelidiki kasus ini dan mengungkap motif pelaku" ujar polisi tersebut.
"Baik Pak terimakasih "ucap Rendi. Mereka berduapun pergi meninggalkan tempat itu.
Hari demi hari sudah berlalu kasus itu tinggal menunggu panggilan sidang dan menetapkan hukuman yang pantas untuk pelaku kejahatan seperti dirinya.
Hari demi hari itu pula Chandra dan Rendi disibukan dengan kasus kecelakaan sedangkan Andini dan kerabat terdekatnya sibuk mengurusi Papanya.
Hampir tiap hari mereka tidak bersama. Terkadang Andini datang pagi dan Chandra berangkat pagi dan begitu sebaliknya. Mereka begitu sibuk dengan urusannya masing masing.
bersambung.
please untuk
like👍
comment💭
vote💯
favorit❤
__ADS_1
share📬