Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Membela Bella ..


__ADS_3

Air mata mereka terus berjatuhan seperti hujan yang deras tak terhitung bulir tetesannya, siapa yang tidak bersedih atas kepulangan seseorang yang disayanginya. Pergi begitu saja tanpa pamit, membuat semua orang begitu terkejut. Pada dasarnya memanglah ajal tidak akan pernah bisa ditebak, ajal akan datang menghampiri setiap insan yang bernyawa dengan waktu yang telah ditentukan tanpa menyiapkan kesiapan hati terlebih dulu.


"Mbak Andini dan keluarga kami mohon maaf tidak bisa menolong pasien dan kami ucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya atas kepergiannya, semoga keluarga semua bisa bersabar atas musibah yang sedang menimpa" ucap Dokter Suba.


"Almarhum akan segera kami tangani dan sebagai permintaan terakhir almarhum, saya ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting, mohon keluarganya semua mengikuti saya " tambahnya kemudian.


Semuanya kecuali Agas mengikuti arahan dari dokter tersebut tanpa berkomentar lagi.


Agas tidak mengikutinya karena ingin mengurusi jenazah sahabat karibnya, dia ingin selalu berada disisinya di saat- saat terakhirnya.


Setelah agak jauh dari kamar almarhum Hermawan, Dokter Suba pun langsung memulai percakapannya,


"Begini, sebelum pasien meninggal, beliau meminta saya untuk mendonorkan jantungnya kepada ayahnya mbak ini" ucapnya sambil menunjuk Andini. Andini yang menangis tersedu tidak terlalu fokus mendengarkannya, Andini masih teringat bagaimana detik-detik ayah mertuanya meninggal.


"Dan beliau juga berpesan jika rekam medisnya ada di Asisten Pribadinya, apakah disini ada Asisten Pribadinya ?" tanyanya kemudian.


"A a ada, memang benar beliau sudah mendaftarkan diri " ucap Rendi.


"Baik harus secepat mungkin jejak rekam medisnya harus berada ditangan saya, karena kita harus segera mengambil tindakan."


"Apa-apaan ini tidak bisa, almarhum adalah ayah saya dan saya tidak mengijinkannya" teriak Chandra.


"Maaf Nak, tapi ini adalah permintaan dari almarhum, dan kebetulan almarhum juga teman saya, sebelum kejadian ini saya juga sudah mengetahui bahwa almarhum sudah ingin mendonorkan jantungnya kepada temannya, yang ternyata itu adalah mertuamu" ungkapnya.


"Tidak.. Saya menolak" tegas Chandra


"Tapi saya mempunyai surat kuasa yang menyatakan bahwa anda sebagai anaknya tidak bisa mengganggu gugat atas keputusan yang beliau buat" ucap pengacara Hermawan yang baru saja tiba dan langsung memotong perkataan Chandra.


"Pak Karni " ucap Chandra kaget.


"Ya Nak kamu tidak bisa menggugat keputusan ayahmu, ini surat dari ayahmu" ucap Pak Karni seraya dia menyodorkan sebuah amplop putih


Anakku Chandra..


Maafkan ayah, ayah tidak bisa menjadi sosok orang tua yang baik, maafkan ayah karena sudah memaksamu untuk menikahi Andini, tapi Andini adalah wanita yang baik, istri yang baik ayah yakin itu.


Ayah minta tolong padamu untuk selalu menjaganya jangan sakiti dia, putuskan hubunganmu dengan pacarmu itu. Cukup memiliki satu wanita dalam hidupmu akan terpenuhi semua keinginanmu dan kebutuhanmu. Jangan seperti ayah dulu menyakiti hati ibumu, terkadang orang ketiga itu adalah perusak yang akan meluluh lantahkan dirimu, jangan pernah untuk tergoda oleh sesuatu yang bersifat sementara, karena penyesalan selalu berada diakhir.


Jika kamu sudah membaca surat ini berarti ayah sudah tidak bersamamu lagi, dan ayah tidak ingin meninggalkanmu sepenuhnya, ayah ingin mendonorkan jantung ayah untuk teman ayah yang juga mertuamu, tolong jangan pernah marah. Ayah ingin selalu kamu kenang, ayah ingin selalu menemanimu meski itu hanya jantung ayah.


Jaga keluargamu, cintai mereka anggaplah Agas sebagai ayah kandungmu karena ada jantung ayah disana. Ayah harap kamu mengerti.


Ayah

__ADS_1


Chandra menitikan air matanya "Ayah.." bisiknya dalam hati.


"Silahkan lakukan operasi pengangkatan jantungnya" ucap Chandra dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, keputusan ayahnya sudah final. Kemudian dia pergi dari sana dengan tatapan mata yang kosong dan langkah yang gontai tanpa tujuan.


Akhirnya Dokter Suba bisa melakukan operasi pengangkatan jantung tanpa gangguan, sebenarnya ini sangat beresiko mengingat umur Hemawan yang tak muda lagi akan tetapi jika sudah melihat jejak rekam medisnya, dia memiliki riwayat jantung yang masih baik.


Andini sedang mengisi data-data untuk Papanya yang akan melakukan operasi, apalagi ini adalah operasi besar yang tingkat keberhasilannya hanya 50 persen, pihak rumah sakit tidak ingin disalahkan atas tindakannya jadi terlebuh dulu meminta persetujuan dari orang terdekat pasien.


Setelah berjam-jam lamanya menunggu, kini Papanya sudah masuk ruang operasi dan sudah berganti pakaian menjadi pakaian pasien berwarna hijau. Bersiap untuk melakukan transplatasi jantung.


Awalnya papa Andini menolak untuk melakukannya karena pendonor jantungnya adalah temannya sendiri, tapi mendengar penjelasan dari Andini bahwa ayah mertuanya itu masih ingin menemaninya dan anaknya meski itu hanya jantungnya saja, diapun akhirnya menyetujuinya.


Setelah papanya masuk keruangan operasi Andini mencari Chandra, dia sibuk memainkan ponselnya beberapa kali dia mencoba menghubungi suaminya, namun tidak pernah diangkatnya. Diapun mencoba mencarinya kesegala penjuru rumah sakit, ke toilet, Musholla, kantin namun tidak di temukannya sosok suaminya itu. Saat dia melihat ke arah taman dia melihat seseorang laki-laki yang cukup familiar duduk termenung memandang langit malam tanpa bintang.


"Ka.. " ucap Andini saat dia sudah berada di depan laki laki tersebut.


"And.." lirih Chandra.


Kemudian Andinipun duduk disebelahnya, ingin mencoba menghibur suaminya yang baru saja kehilangan seseorang yang cukup berarti baginya.


"Ka.. " katanya dengan pelan membuka sebuah percakapan.


"And.. bolehkah aku meminta satu permintaan" ucapnya langsung dengan memandangi wajah Andini.


"Aku ingin jantung ayah untuk Bella.." ucapan dari lubuk hatinya pun keluar, memang sedari tadi dia melamun memikirkan Bella yang sakit yang membutuhkan donor jantung, akan tetapi dia tidak bisa mengatakannya karena surat dari Ayahnya.


"Apa ?" Andini kaget bukan main, bisa-bisanya suaminya sendiri memikirkan hal yang seharusnya bukan jadi pikirannya, ayahnya masih dioperasi.


"Iya.. Selama ini dia sedang sakit, dan dia juga sedang membutuhkan donor jantung, keadaannya sekarang kritis " ungkapnya.


"Tidak bisa" tolak Andini secara langsung.


"And, Aku mohon, apapun akan aku lakukan" ucapnya sambil mengatupkan tangannya menempel pada dahinya.


"Tidak ka, papaku sudah menantikan hal ini."


"And, aku akan berjanji akan selalu bersamamu."


"Berjanji ? tapi ka aku sungguh tidak bisa."


"And, ini menyangkut hidupnya Bella.."


"Lalu apa ini tidak menyangkut kehidupan papaku. Aku bilang aku tidak bisa, ayah memberikannya dan aku juga tidak ingin menolaknya, aku ingin ayah bersamaku dan aku juga ingin papaku sembuh. Aku tidak bisa" ucapnya sambil mengusap air mata dipipinya, entah sejak kapan air matanya menetes.

__ADS_1


"And, mengapa kamu egois sekali."


"Kamu bilang apa ka, aku egois, haha bukankah kamu yang egois, kamu sudah memiliki isteri dan kamu juga memiliki hubungan dengan sahabat isterimu. Kamu mengataiku egois setelah apa yang telah kamu lakukan kepadaku ..."


"And, masalahnya aku sudah berjanji kepadanya akan memberinya donor jantung, dan aku juga akan berjanji kepadamu aku akan meninggalkannya."


"Baiklah jika itu mau mu bilang saja kepada pengacara ayah dan Dokter Suba."


"Benarkah yang kamu bilang." Wajah Chandra berseri dia bahagia dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Andini.


Andini yang melihat itu menjadi sakit


"Aku bisa apa, jika kamu ingin aku mati sekarang pun aku akan menurutinya, kamu suamiku. Tapi ka Chandra ini perihal kehidupan papaku dan keinginan ayahmu apa kamu akan menghalanginya ?"


"Andini apa yang sedang kamu katakan, bukankah tadi kamu juga memperbolehkannya."


"Ka Chandra aku lapar, apa kamu juga ingin makan bersama" Andini mengalihkan pembicaraannya.


"Andini... apa yang sudah kamu katakan, apa kau tidak serius dengan ucapanmu itu" teriak Chandra karena geram merasa sudah di permainkan oleh Andini.


"Aku serius, aku tidak akan memberikannya ka, sangat sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk papaku. Lagi pula jika aku menyetujuimu untuk memberikannya kepada Bella, apa kamu akan menepati janjimu itu, apa kamu pernah perduli kepada diriku sampai kamu menjanjikan hal itu kepadaku, aku tidak sanggup melihatmu bersama Bella atau wanita lain, hatiku merasakan sakit, dan sakit itu masih aku rasakan" ucap Andini sambil menahan bulir bening yang ada di sudut matanya agar tidak terjatuh sia sia.


"Andini.... (plaaakk)" teriaknya seraya melayangkan tangannya menampar pipi mulus Andini.


Air mata Andini pun tidak tertahankan lagi, dia menghirup nafas secara dalam dan menghembuskannya dengan cepat.


"Terimakasih." Adalah kata yang diucapkan oleh Andini, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Chandra sendiri disana.


Hati Andini begitu kalut karena tamparan yang dia terima dari suaminya, begitu ringan tangannya sehingga bisa bisanya dia melayangkan tangan itu tepat pada pipi isterinya sendiri demi membela orang ketiga dalam kehidupan rumah tangganya.


bersambungg....


vote


like


comment


fafo


share


tencuuu😍😍

__ADS_1


__ADS_2