
...Jangan menghancurkan perasaan seseorang, jika itu terjadi dan sering terjadi, Anda tidak akan pernah mendapatkannya lagi....
...LH...
...****x****...
Pagi ini Andini bangun lebih awal seperti biasa dia mengerjakan kewajibannya terhadap tuhannya lebih dulu, kemudian dia melakukan kewajiban terhadap suaminya yaitu merapihkan kamar, menyediakan baju kerja, dan memasak.
Untung saja Chandra tidak pernah meminta Laura untuk menggantikan pekerjaan yang sudah menjadi kewajibannya itu, jika saja sampai seperti itu mungkin dia merasa dia benar-benar sudah tiada dimuka bumi ini.
" Laura kamu cantik sekali menggunakan gaun itu," ucap Chandra yang baru saja tiba dan melihat Laura menggunakan dres yang sedikit terbuka.
"Mmmm tidak hanya cantik kamu juga seksi" ucapnya lagi dengan nada menggoda. Dia sengaja melakukan hal itu hanya untuk membuat Andini marah.
"Terimakasih Mas" ucapnya disertai senyum yang tidak bisa diartikan.
"Mm.. Maaf aku harus kekantor papa dulu." Sungguh dia sangat kehilangan muka sekali ketika suaminya sendiri selalu memuji wanita lain dihadapannya.
Andini berangkat terlebih dulu kekantor Papanya, karena Doni yang memintanya datang untuk meeting bersama klien dari China. Dan itu tidak bisa digantikan oleh Doni.
Setelah selesai meeting, Andini baru berangkat ke kantor suaminya. Setelah sampai dia berkata :
"Capek juga bolak balik perusahaan, huffft." Andini mengeluarkan nafasnya secara kasar.
" Sekalian masih dibawah aku buat choco drink dulu deh, kayanya seger kalau ditambah es" tambahnya lagi.
Kemudian dia pergi ke dapur kantornya.
Samar samar dia mendengar desas desus para karyawan yang sedang berada di sana.. Dia mencoba untuk mendekatinya lagi dan mendengarkannya di balik tembok penghadang itu.
"Ehh.. Tau gak ? Makin hari pak Chandra makin deket aja sama Sekretarisnya" ucap karyawati 1.
"Ahh.. Masa sih.." jawab karyawati 2.
"Iyaa bener.. Tadi aku gak sengaja mergokin mereka waktu mau minta tanda tangan Pak Chandra" ucap karyawati 3.
"Tapi bukannya dia itu suaminya Direktris utama kita ya" ucap karyawati 2.
"Wah jangan jangan mereka selingkuh lagi" ucap karyawati 3.
"Mungkin aja sih.. Mungkin dia gak suka kali sama Bu boss ya kan secara Bu boss tertutup gitu. Sedangkan Lauraa wehh bodynya kan bagus" ucap karyawati 1.
Andini yang mendengar itupun merasakan sakit yang tiada tara. Dalam pikirnya orang orang pun sudah mulai menggosipkan tentang kehidupan rumah tangganya dan dengan beraninya mereka berkomentar tentang penampilannya.
__ADS_1
Andini pergi keruangannya tanpa es choco drink keinginannya itu.. Hilang sudah seleranya ketika dia mendengar hinaan dari para bawahannya. Marah, kesal, sakit hati bercampur aduk menjadi satu yaitu ingin berteriak meluapkan segalanya.
Sedangkan masih didalam dapur itu keluarlah seorang pria tampan dan tinggi serta berkulit putih dilengkapi hidung mancung dan bibir yang merah tak lupa mata yang indah. Dialah Chandra yang sengaja bersembunyi ketika para karyawati menggosipkannya.
"Bagus.. Terimakasih atas kerja sama kalian" ucapnya pada ketiga karyawati.
"Tapi Pak.. Hal itu sangat menyakitkan bagi Ibu Andini" ucap karyawati 2.
"Iya Pak.. Sebaiknya urusan rumah tangga diselesaikan dengan kepala yang dingin. Bukan menambah solar ketika api sedang menyambar" ucap Karyawati 3.
"Kalian tidak mengerti rasa sakit Pak Chandra" bela Karyawati 1 kepada Chandra.
"Sudahlah saya sudah membantu kalian maka balasannya kalian yang harus bantu saya. Jangan banyak bicara jangan sampai bocor" ancamnya.
"Tapi Pak bagaimana nanti jika Bu Andini memecat kami" tanya Karyawati 2.
"Aku sebagai jaminannya. Kalian tidak akan dipecat gara gara hal ini." Kemudian Chandra pergi setelah mengatakan itu.
"Aneh yaa.." ucap Karyawati 3.
"Iya.. Ada ya seorang suami seperti itu, semoga kita dijauhkan" balas karyawati 2
"Benar"
"Iya." ucap karyawati 2 dan 3 secara bersamaan.
Chandra memanglah selalu mempunyai akal, tipu muslihat untuk menyakiti Andini. Dia tidak pernah kehilangan ide untuk membuat hati Andini hancur berkeping keping.
***
Jam 12.30
Setengah satu siang hari, Andini sengaja tidak keluar ruangan. Dia memilih untuk berdiam diri di kantornya mungkin sampai jam pulangnya. Dirinya tidak lagi bisa menterorir semua perkataan orang baik tentang nya maupun tentang Chandra.
Tok tok tok...
Baru saja Andini merebahkan kepalanya diatas meja kerjanya, seseorang sudah mengetuk pintunya. Beginilah nasib seorang Presdir baru istirahat saja sudah ada yang mengganggu.
"Masuk.." ucapnya dengan malas.
Masuklaah seorang gadis cantik yang menjadi benalunya.
"Permisi, Ibu Andini ini ada berkas yang mesti Ibu tanda tangani " ucap Laura.
__ADS_1
( Siapa lagi jika bukan Laura, Bella kan sudah meninggal )
Andini pun menerima berkas tersebut dan langsung mentanda tanganinya. Kemudian dia mengembalikan berkas tersebut.
"Laura.. Saya ingin berbicara denganmu ?" Dengan keberanian yang saat ini dia miliki dia pun mengajak Laura untuk berbicara. Tanpa memikirkan ancaman dari Chandra.
"Ada apa Mbak ?"
"Laura saya tahu kamu wanita baik selain itu kamu juga cantik, kamu juga bisa mendapatkan yang lebih dari Chandra. Bisakah kamu menjauhinya. Kita sama sama wanita kamupun pasti tau bagaimana rasanya ketika pacar kamu berdekatan dengan wanita lain" ungkapnya.
Entah apa yang membuat Andini berani mengucapkan kata kata itu, yang jelas saat ini dia sedang mengusirnya secara halus.
"Mbak.. Saya tau saya cantik baik dan juga banyak lelaki yang ingin dengan saya. Tapi Mbak kenapa Mbak mempertahankan lelaki seperti dia, dia selalu menyiksa Mbak."
"Mengapa kamu berbicara demikian ?" Jelas jawaban tersebut bukanlah jawaban yang Andini inginkan.
"Ya karna faktanya demikian Mbak"
"Maksudmu ?"
" Chandra meminta saya bekerja sama untuk menyakiti Mbak. Jika saya menjadi Mbak, saya akan pergi meninggalkannya."
" Tidak Laura, saya sangat mencintai suami saya. Sebenarnya apa yang kamu mau, saya bisa berikan, rumah pekerjaan apapun yang kamu mau saya bisa berikan asalkan kamu meninggalkan kami." Yah, semua kekesalannya dia keluarkan.
" Saya tidak mau rumah atau pun pekerjaan Mbak juga Mas Chandra saya tidak pernah merebutnya, dia yang selalu menempel dengan saya jadi jangan salahkan saya karena hal itu." ucapnya dengan nada tak ramah.
"Laura jadi kamu tidak mencintai Chandra kan ?" cerca Andini dengan serius.
Kringg kring...
" Maaf Mbak saya harus pergi, Pak Chandra memanggil saya, permisi." ucapnya sambil menodongkan ponselnya. Kemudian dia pergi tanpa dipersilahkan oleh Andini.
"Ahh... Tapi Laura..." Andini tidak bisa menghentikannya.
Dan pertanyaan itu masih menjadi pertanyaan tidak ada jawaban dari Laura tentang perasaannya pada Chandra. Hal itu membuat Andini setengah gusar, bagaimana jika dia juga menyimpan perasaan terhadap Chandra, rumah tangga ku akan tetap runyam jika seperti itu. Ini tidak bisa dibiarkan aku harus mengambil langkah lain. Begitulah isi pikiran Andini.
Otaknya terus berputar bagai mesin yang tiada henti, sampai suhu kepalanya terasa panas karna terlalu banyak memikirkan rencana apa yang musti dia lakukan. Terus berputar terus berputar hingga akhirnya dia memiliki jawaban dari semuanya..
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Like. Koment. Share. Vote. Rate. Love. Semampu kalian mendukung ku tencu.ππ