Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Rendi Belum Meninggal


__ADS_3

Hari sudah semakin sore, namun mereka, para anak buah Doni belum juga menemukan siapa penembak yang melesatkan peluru kedua kepada Rendi. Orang itu berhasil melarikan dirinya dari pengawasan anak buah Doni.


Sedangkan Laura sudah diberikan kepada pihak yang berwajib di Surabaya dan sudah memasuki bui dengan laporan perencanaan pembunuhan atas nama Saudara Rendi.


Tuduhan itu cukup untuk membuatnya mendekam di penjara.


Dan Rendi sudah diterbangkan ke Jakarta untuk penanganan lebih lanjut. Karena rumah sakit Surabaya tidak memiliki alat yang kini sangat dibutuhkan Rendi.


Chandra dan Doni juga dalam perjalanan pulang.


Pikirannya melayang pada kejadian saat Rendi di tembak, dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, ibu Rendi dan juga ayahnya. Dia juga belum mengerti tentang seseorang yang ingin menghancurkannya selain keluarga Rendi.


Siapa dia ? Apa tujuannya juga belum jelas ?


Namun satu hal lagi yang tersirat dalam batinnya, Rendi orang yang sangat dia percayai ternyata adalah orang yang menusuknya dari belakang. Meski dia sudah memaafkan keluarganya tapi kenapa dia masih tetap saja berniat menghancurkannya ? Ada apa ? Itu masih menjadi pertanyaan terbesar dalam benaknya.


***


Kini Chandra sudah berada dirumah sakit. Menunggu Rendi selesai operasi pengeluaran peluru yang hinggap di tulang rusuknya.


Berharap Rendi bisa cepat sadar dan dia bisa bertanya perihal masalalu ayahnya.


Chandra duduk dikursi yang ada di koridor rumah sakit, dia menundukkan tubuhnya, kedua tangannya menompang kepalanya.


Kejadiannya benar-benar diluar nalar Chandra.


Kejadian itu pula sangat membuatnya syok. Sungguh jika di tanya satu tambah satupun mungkin dia tidak bisa menjawabnya saking terlalu banyak masalah yang menimpanya.


Namun ketika dia masih terbuai dengan lamunannya itu, tiba-tiba saja Andini datang menghampirinya dan kemudian dia berjongkok tepat dihadapan Chandra.


i



( Ilustrasi )


Dia melihat Chandra yang amat begitu berantakan, seketika saja dia meluluskan air matanya yang sedari tadi di tahannya.


"Ka.."


Chandra mendongkak, namun masih tetap membungkuk. "Andini.." lirihnya.


"Ka.. kau menangis ?" tanya Andini.


"Ah, tidak.. " Chandra segera menghapus jejak air mata dipipinya. "Kok kamu ada disini ?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Aku mendengar kabar kakak dari Doni. Aku langsung memaksa Doni untuk mengantarkan ku kesini," ungkapnya. "Kakak boleh memelukku jika kamu mau."


Setelah mendapat tawaran itu Chandra langsung bangkit dari duduknya dan langsung mendekapnya erat.


"menangislah ! Jangan kakak tahan. Aku tau kakak sedang sedih. Jangan malu padaku ka.." titahnya.


Chandra pun meraung-raung menangis di bahu Andini. Sedangkan Andini hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya dan mengelusnya pelan. Dia tidak tahu betul apa yang terjadi pada suaminya itu namun dia juga tau bagaimana rasanya menahan kepedihan.


Setelah selesai menangis, Chandra melepaskan pelukannya pada Andini. Kemudian dia menatapnya. Lalu dia mengatakan, " Maaf, maafkan aku.." Kemudian Chandra memeluknya lagi.

__ADS_1


Andini tentu tidak mengerti mengapa laki-laki yang sedang memeluknya itu meminta maaf. Namun karena situasi yang seperti ini, akan lebih baik jika dia hanya mendengarkan keluh kesah suaminya.


"Kak, kita duduk yuk aku pegal ?" gerutunya disela-sela tangis Chandra.


"Ahh.. maafkan aku."


"Tidak apa.."


Kini mereka berdua tengah duduk di kursi tadi.


"Andd.." lirihnya.


"Iya ka." Andini langsung menoleh menatapnya.


" Bagaimana rasanya jika kau tahu bahwa orang kepercayaan mu adalah orang yang ingin menghancurkanmu ?" Chandra menatap Andini.


"Aku tidak tahu, tapi mendengarnya pasti itu sangat sakit."


"Sangat menyakitkan sekali, Andini." Chandra menyandarkan kepalanya di pundak Andini.


"Mengapa orang seperti itu harus hadir di dalam hidupku ? Apa tuhan tidak ingin aku bahagia ?" lanjutnya kemudian.


"Syuut !" Andini meletakan jari telunjuknya di bibirnya sendiri sambil melirik ke wajah Chandra.


"Bisakah kakak tidak mengatakan hal yang seperti itu ?" Dia menjeda kalimatnya.


"Orang seperti itu akan selalu hadir di kehidupan setiap manusia, kak. Tujuannya untuk membuatmu lebih kuat, menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lain sebagainya," ucapnya.


Entah darimana dia mendapatkan kalimat seperti itu. Namun, kalimat itu cukup membuat Chandra terkejut. Andini yang biasanya selalu manja kepadanya tiba-tiba berubah menjadi Andini yang seperti dulu kala. Mungkinkah ??


"Andd.. apa kau sudah ingat sesuatu ?" tanya Chandra pelan sambil menatap lekat matanya.


"Tidak, tidak apa apa." Chandra memalingkan lagi wajahnya.


"And.. tolong jangan pernah tinggalkan kakak yah. Kakak sudah tidak punya siapapun sekarang kecuali kamu," lirihnya.


"Iya kak, bahkan aku juga tidak sanggup melewati hari tanpa kakak."


"And.. Apakah kau mencintaiku ?"


"Sangat kak.."


"Andd.. jika nanti terjadi sesuatu, tolong ingat bahwa kita sangat saling mencintai.."


"Baiklah.."


"Tolong maafkan kesalahan ku yang dulu.."


"Kesalahan apa ?"


"Aku pernah membuatmu menangis, maafkan aku.." lirihnya


"Tidak apa kak, yang terpenting sekarang kakak selalu membuatku bahagia."


Keduanya saling terdiam. Dan datang lah seorang suster yang berlari menghampirnya.

__ADS_1


"Pak, permisi. Apakah bapak bernama Chandra ?"


"Iya saya Sus, ada apa ?"


"Pasien atas nama Rendi sudah berhasil kami operasi, namun ..." Suster itu menjeda kalimatnya karena masih mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Namun apa sus ?" Chandra bangkit dari duduknya.


"Beliau ingin bertemu dengan Anda, segera.."


"Baik, saya akan segera kesana. And, ayo.." Dia menarik tangan Andini.


Setibanya di kamar perawatan Rendi. Chandra masuk seorang diri kesana, karena peraturan untuk menjenguknya hanya diijinkan satu orang saja, sedangkan Andini menunggunya di luar.


"Chan...dra," lirih Rendi.


"Iya ada apa Ren ?"


"Maaf...kan aku, sudah mengkhianatimu. Maaf karena aku tidak punya pilihan lain, Chand."


Chandra hanya diam saja, tak dapat dipungkiri bahwa dia memang sakit hati karena tindakannya itu.


"Maafkan aku Chand, yang membunuh ayahmu adalah pamanku sendiri. Mereka tidak tahu bahwa ibuku memanfaatkan ayahmu." Dia mengatakan itu dengan masih terbata.


"..."


"Perjodohanmu terjadi karena kesalahanku, Laura berhasil melarikan diri juga karenaku, dan kerugian yang kemarin kau dapat juga karenaku, Chandra. Maafkan aku.." Air matanya sudah mengalir deras. Dia menyesali segala perbuatannya yang kemarin, meski itu di waktu yang terlambat.


"...."


"Chandra satu hal yang kau harus ingat, ada seseorang yang menyuruhku untuk menghancurkanmu, namanya Budi. Aku tidak tahu dia siapa yang ku tahu dia adalah seorang pengacara.." ungkapnya.


"Maksudmu ?" Kali ini Chandra menanggapi perkataannya.


"Ada orang yang menyuruhku untuk menghancurkan dirimu dan juga hubunganmu dengan Andini.."


"Apakah itu keluargamu atau orang suruhan Laura?" terkanya.


"Bukan Chan, Budi namanya, Laura tidak punya uang sebanyak itu untuk menyewa pengacara" ulangnya lagi.


"Berhati-hatilah !!" Pesan Rendi.


"Hem, aku punya satu pertanyaan, apakah kamu adalah putra ayahku ?" tanya Chandra dengan ragu.


Rendi membalasnya dengan senyuman.


"Bukan Chandra aku bukan kakakmu. Kamu anak tunggal, sedangkan aku anak yang dilahirkan tanpa ayah," ucap Rendi sendu.


"Ouh, maaf aku tidak tahu."


"Iya tidak apa-apa."


"Kau istirahat saja dulu, aku akan pulang untuk membawa segala kebutuhanmu di sini," ucapnya. Sebenarnya saja di dalam hati masih ada rasa kesal kepadanya.


"Baik, terimakasih Chand. Terimakasih juga karena tidak marah, ataupun benci kepadaku," ucapnya sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Hemm.." Chandra pun keluar dari ruangan tersebut. Kemudian dia mengajak Andini untuk pulang.


Bersambung.


__ADS_2