Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
AADA


__ADS_3

Ada Apa Dengan Andini..


**


"Andini..." ucap Chandra sambil menghampirinya. "Jari telunjuk Andini tadi bergerak Don" ucapnya lagi dengan nada sumbringah.


"Apa..." Rio langsung menghamipirinya, ingin segera mengeceknya.


"Don segera panggil Dokter yang selama ini merawatnya" titah Chandra, seraya menyindir Rio.


Dengan rasa bahagia dan terkejut, Doni langsung memanggil Dokter sementara Chandra merangkul Andini agar tidak disentuh oleh Rio.


๐Ÿ˜ฌ giliran gini aja baru tau rasanya istri mau dipaling๐Ÿ˜ˆ


Tak selang beberapa menit, dokter dan suster sudah berada disana.


"Maaf Pak Direktur, saya harus mengecek pasien dulu" ucap Dokter itu, begitu hormat kepada Rio.


Chandra dan Doni pun seketika terkesiap mendengar kata DIREKTUR dari mulut Dokter itu. Namun rasa terkejutnya mencair ketika Suster menghampirinya dan berkata, "Bapak berdua boleh mundur beberapa langkah ?"


Sementara Andini remang-remang sudah membuka matanya, mengangkat tangannya secara perlahan.


"Alhamdulillah pasien sudah sadar " ucap Dokter itu dengan nada penuh dengan kebahagiaan.


"Alhamdulillah..." ucap mereka bersamaan.


"Andini." Chandra menghampirinya namun ditahan oleh Rio.


"Tunggu dulu" kata Rio sambil menajamkan matanya.


"Akh... Aku dimana ?" ucap Andini pandangannya mengedar kesekeliling ruangan.


"Anda dirumah sakit Nona" ucap Dokter tersebut seraya memperhatikan gerak gerik Andini.


"Rumah sakit. Papa, mama ku mana ? Kamu siapa ?" ucapnya dengan nada seperti anak kecil.


"Saya Dokter.. "


"Dokter Papa Mama ku mana dok, kalian siapa ?" tanya Andini lagi sambil memperhatikan keadaan disekitarnya.


"And..." lirih Chandra pilu.


"Tenang dulu ya Nona, Nona masih ingat siapa Nona ?" tanya dokter dia merasa ada yang aneh denga perilaku Andini.


"Aku, aku Andin mama biasanya manggil aku Andin" ucapnya setengah memikir.


"Umur Andin berapa ?" tanya seorang dokter sambil mengikuti nada bicaranya.


"Aku baru berumur enam tahun dok.." ucapnya sambil mengacungkan jempol kanan dan 5 jari tangan kirinya.


"Apa, Andini jadi amnesia ?" batin Chandra.


"Andini amnesia " batin Doni dan Rio dihatinya masing-masing.


Dokter langsung memeriksanya, memeriksa tekanan darah dan lainnya.


"Pak sebaiknya kita bicara diluar sebentar" pinta Dokter tersebut kepada Chandra.

__ADS_1


Sekarang mereka sudah berada diluar, Chandra langsung bertanya kepada Dokter bagaimana kondisi Andini saat ini.


"Dok, bagaimana keadaan istreri saya yang sebenarnya."


"Begini Pak, isteri Anda baik-baik saja. Hanya saja sepertinya beliau menderita amnesia, dimana beliau hanya mampu mengingat kejadian di usia enam tahunnya" ucapnya sedikit lirih.


"Jadi dok, dia tidak mengingat kejadian yang kemarin.."


"Tidak pak.." jawab dokter itu sambil menggeleng.


"Apa dia bisa sembuh dok ?"


"Maaf untuk kondisi seperti ini mungkin kita hanya bisa bergantung kepada keajaiban, meskipun adanya cara pengobatan tapi jika otaknya menolak maka akan sulit pak." Dengan nada berat dokter mengatakannya.


Seketika Chandra menjadi sangat lemas. Pikirannya sedikit melanglang buana kesana kemari.


"Apa ini.. Mengapa harus seperti ini, dia tidak mengenaliku lebih parahnya dia hanya mengingat masa lalunya. Apa ini karma ?" batin Chandra. Sedangkan tangannya sudah mengusap kasar wajahnya sendiri.


"Seberapa persen dok, Andini bisa sembuh.." ucapnya kemudian.


"40 persen pak. Tapi meski begitu kita harus berusaha pak.. Dan bapak harus banyak-banyak bersabar karena saat ini emosi pasien seperti anak kecil sangat tidak setabil." Dokter mengelus-elus punggung Chandra.


"Iya dok.. Terimakasih."


"Baik pak saya permisi dulu."


"Ya.." balas Chandra sambil mengangguk-angguk.


Ketika mereka sedang berbicara serius. Andini menatap aneh kepada Doni dan juga Rio.


"And.. Ini aku Doni, teman kamu.."


"Aku Rio" ucapnya sambil tersenyum.


"Aku tidak pernah punya teman seperti kamu juga kamu Rio, siapa ?"


Cek lek..


Pintu dibuka dari luar, masuklah Chandra dengan raut wajah yang tidak dapat di artikan lagi.


"Ini siapa ? Kalian semua siapa dimana Papa Mama ku, kalian pasti orang jahat" ucap Andini dengan wajah yang ketakutan.


"Bagaimana ini, dia tidak tahu siapa kami. Dia tidak tahu Papa dan Mamanya sudah meninggal. Dia hanya mengingat masalalunya ketika dirinya berumur enam tahun" batin Chandra.


"Hai nama aku Chandra.." ucapnya sambil mengulurkan tangan. Entah apa yang sedang dia pikirkan lagi.


"Aku Andini Maheswari.. Mamaku sering memanggilku Andin .." katanya dengan rasa takut yang terlihat jelas di matanya.


Melihat semua itu Doni dan Chandra tersenyum. Setidaknya Andini mau berinteraksi dengannya.


"Kaka sudah tau kok. Oh ya Andin, Andin jangan takut kepada kami." Sambil menunjuk kepada Doni.


"Kami adalah orang yang Papa dan Mama kamu utus untuk menjaga kamu" ucapnya dengan nada yang ramah seperti guru tk kepada muridnya. Entah dari mana kemampuan itu dia dapat, seketika saja dia bisa berperilaku manis.


"Lalu Papa Mama ku kemana ?"


"Mereka sedang ada perjalanan bisnis keluar negri" ucap Chandra berbohong.

__ADS_1


"Papa tidak pernah berangkat keluar negri ?" tanyanya polos.


"Aduh Chandra.." batin Doni.


"Ahhaha.. Tadi Papa sama Mama bilang sama kaka, katanya mereka ada urusan jadi gak sempet liat kamu bangun" ucapnya berbohong lagi. Mau bagaimana lagi dia tidak bisa mengatakan kebenarannya.


Andini merundukan kepalanya..


"Andin jangan sedih, kan ada kaka disini, lagi pula kesananya cuman bentar kok. Oh iya anggap aku kakak mu."


"Aku tidak pernah punya kaka, aku anak tunggal kaka bohong sama aku, kaka bukan kaka aku" ucapnya dengan nada marah.


"Andin..." lirih Chandra.


"Kaka ini sudah dibayar papa kamu, dan kaka akan menjaga kamu ya.."


"Apa buktinya kaka mengenal papa ku.."


"Aku punya buktinya, ini aku ada foto mu dengan Papamu And... Lihatlah " ucap Doni sambil memberikan ponselnya.


"Itu diambil ketika kita sedang makan direstoran" imbuhnya lagi.


"Untung saja aku pernah meminta foto bersama Pak Agas waktu dulu.." batin Doni.


Sementara Rio tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya terdiam memperhatikan Andini berinteraksi. Walaupun dia seorang dokter tapi ketika pasien dalam kondisi seperti ini dia tidak bisa apa-apa. Kini dalam diri Andini dia sudah dilupakan, bahkan suaminya sendiri sudah bukan apa-apa dimatanya, apalagi dirinya yang hanya beberapa kali bertemu dengan Andini. Dengan rasa kecewa yang menggeluti pikirannya, akhirnya diapun keluar dengan sendirinya.


Beberapa jam kemudian Andini dipindah ruangkan ke ruangan perawatan. Dia juga sudah mulai sedikit lebih berinteraksi dengan Chandra maupun Doni.


"Andin, jawab pertanyaan kakak apa yang kamu sukai ?" ucap Doni.


"Aku.. Aku .. Aku suka permen yang ada rasa susunya rasanya manis. Aku suka permen yang ada pegangannya itu" ucapnya dengan logat anak kecil.


"Lolipop.." terka Doni.


"Iya.."


"Terus Andin suka apa lagi.." tanya Doni kemudian.


"Es krim vanilla, cokelat, strobery, alpukat semuanya aku suka eskrim."


"Nanti kita beli yah.. Sekarang kamu makan bubur dulu kaka suapin.. Aaaa" Chandra pun membuka mulutnya, mencontohkan Andini supaya mengikuti perintahnya.


"Aaa..." Andini membuka mulutnya dan menelannya.


"Kakak.. Kakak janji yah bakal beliin Andini permen sama eskrim."


"Iya kakak janji bakal beliin kamu permen sama eskrim kalau kamu udah pulang dari rumah sakit ya.."


"Yaa..." Andini senyum sambil mengangguk-angguk kecil kepalanya.


bersambung...


ah.. maafin chilla ya andini nya dibuat kek anak kecil hehe.. jangan marah loooh besok up lagi..


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


stay tuned terus ya di karya aku

__ADS_1


__ADS_2