Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Resmi


__ADS_3

Setelah pergi dari rumah Andini, Chandra langsung meminta Pak Karni, orang kepercayaannya untuk mengurusi perceraiannya itu, mulai dari surat hingga nanti persidangan. Sedangkan Chandra sendiri dia tidak ingin lagi muncul kepermukaan, entah kemana dirinya menghilang saat ini.


Sementara Rio sedikit demi sedikit dia mulai menghancurkan perusahaan Chandra. Tidak tahu apa yang ada dipikirannya itu, dia tetap melakukannya meski sudah tahu bahwa Andini dan Chandra akan segera resmi bercerai.


Setelah Andini menandatangani surat perceraian itu, dia terlihat semakin murung dan sedih. Terkadang tiba-tiba saja air matanya menetes, karena hanya mengingat Chandra.


Doni dan yang lainnya pun khawatir dengan keadaan Andini saat ini. Mereka selalu mengajaknya untuk berbicara, bercanda ria namun Andini tidak pernah menanggapinya. Hidupnya hanyalah melamun, melamun dan melamun saja.


Saat ini Andini sedang di kamar papanya yang sempat di gunakan oleh Chandra, dia melihat-lihat lagi ruangan itu, semilir wangi parfum Chandra tercium di hidung mancungnya. Entah mengapa dia merasakan sensasi damai hanya dengan mencium bau parfumnya itu, padahal seingatnya dia tak pernah berdekatan dengan Chandra.


"Kenapa rasanya nyaman sekali, kenapa aku merasa selalu dekat denganmu, Chandra ??" gumamnya.


"Tidak, mana mungkin itu terjadi ?? Ingat Andini dia tidak pernah mencintaimu, lupkanlah !!! Sebentar lagi kamu akan sidang dan bebas darinya.."


Hati dan pikirannya sedang tidak singkron, hatinya mengatakan bahwa dia sangat kehilangan Chandra namun pikirannya menepis semua itu.


Dia berjalan keluar menuju balkon yang ada didepan kamar papanya, tiba-tiba saja cuaca malam itu berubah menjadi gelap gulita. Tak ada bintang hanya ada angin yang kencang meniupi dirinya. Mungkin alam semesta pun turut ikut bersedih melihat kehidupannya.


Lama sekali dia disana tanpa ditemani siapapun. Dan tiba-tiba saja rintik hujan mengenai dirinya, dia hanya diam saja menerima rintik air itu. Lama kelamaan rintik itu berubah menjadi deras sedangkan Andini masih belum beranjak juga dari tempatnya. Dia tersenyum kecut melihat hujan menerpai dirinya.


"Melihat hujan ini, aku merindukanmu kaa.." lirihnya. Air mata itu kembali menggenang dipelupuknya.


"Tapi jika lebih diingat lagi akan terasa sangat menyakitkan. Hujan ini mengingatkanku pada hari itu, dimana aku sangat membutuhkanmu namun kamu tidak pernah ada untukku..." Air matanya menetes bercampur dengan air hujan.


"Namun hujan ini juga yang membuatmu menjadi lebih dekat denganku meski hanya sesaat saja. Aku sangat merindukan hari-hari bersamamu.."


"Andini..." teriak Doni yang baru saja datang dan melihat Andini yang sudah basah kuyup karena air hujan.


Namun Andini hanya diam saja, seakan dirinya tidak mendengar teriakan itu.


"And, masuklah kamu akan sakit nanti. Ayo masuk !!!" teriak Doni karena memang hujannya sangat lebat, dia juga menarik lengan Andini.


"Tidak Don, hanya dengan begini aku bisa melepas rasa rinduku pada Chandra."


"Kamu merindukannya ??" teriaknya lagi.


"Aku merindukannya Don, tapi aku juga sakit jika terus mengingatnya. Hatiku saat ini sedang berada dikeduanya," lirihnya. Dia tetap keukeuh untuk terus berada di balkon tersebut.


"Andini..." Doni mencoba menarik lengannya lagi. Hujan mendadak menjadi rintik kembali.

__ADS_1


"Aku mencoba menghubunginya, namun dia sudah mengganti nomor telponnya. Setelah dia pergi dari rumah ini, pernah sekali dia mengirimi pesan padaku bahwa surat perceraiannya sedang diurus oleh Pak Karni. Aku mencoba menghubungi Pak Karni tapi dia juga tidak tahu dimana Chandra berada ? Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali saja.." lirihnya.


"And, disini hujan sebaiknya kita masuk dulu ke dalam."


"Tidak.."


"Nanti kamu sakit, And.."


"Jika sakit itu akan mengantarkan Chandra kepadaku apa boleh buat, aku akan melakukannya."


"Andini..." Doni membentak Andini, terkadang dia pusing dibuatnya.


"Aku hanya ingin melihatnya sekali saja," ulangnya sambil menunjukan jari telunjuknya.


"Aku ingin bertanya kepadanya, mengapa dia mengatakan bahwa Laura itu wanita jahat. Sedangkan yang aku tahu bahwa dia sangat mencintainya, bahkan dia mau menyentuhnya."


"And.. masuklah dulu akan kuceritakan semuanya," ucap Doni melemah. Bagaimanapun dia juga mengerti keadaan Andini saat ini.


"Tidak, Don. Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami.." tolaknya.


"Aku tahu semuanya, And. Tapi sifat keras kepalamu menutupi kebenarannya dari dirimu sendiri."


"Benar kamu tidak akan marah padaku ?"


"Ya.. Maafkan aku selama ini tidak pernah mau mendengarkanmu atau siapapun.."


"Masuklah dulu akan kuceritakan.."


Andini langsung masuk dan mandi. Dia tak sabar mendengar fakta yang sesungguhnya dari Doni. Setelah itu, dia duduk di ruang keluarga dan Doni mulai menceritakan semuanya yang dia ketahui saat Andini amnesia.


"Apa, jadi ayah Chandra dibunuh ? Rendi dibunuh ? Dan mereka datang dari masalalu ayah Chandra. Mengapa aku tidak tahu semua ini ??"


"Karena pada saat itu kamu mengalami amnesia, And. Dan itu semua karena Laura bukan karena Chandra."


"Jadi aku salah menduga ??"


"Ya selama ini kamu sudah salah menuduh orang," lirihnya.


"Aku, aku..." Dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Maafkan aku And. Seharusnya aku selalu berusaha menceritakannya kepadamu meski kamu menolaknya seribu kalipun.."


"Tidak Don aku yang salah bukan kamu." Andini terdiam setelah mengucapkan kalimat itu. Tak ada tangis lagi, perasaanya masih diguncang. Tentu saja ini adalah kenyataan yang menyakitkan baginya, ternyata dia sendiri yang salah melangkah.


"Don, aku ke kamar dulu.." pamitnya. Namun saat dirinya beranjak, Doni menahannya dengan mengatakan,


"And, semuanya sudah berlalu. Aku tahu kamu mengalami penderitaan apa saja selama ini, maka dari itu aku mendukungmu. Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia, jangan siksa terus menerus batinmu. Kamu berhak bahagia dengan caramu sendiri."


Andini terkesiap dengan perkataan Doni. Tapi hanya satu yang dia garis bawahi, 'Bagaimana dirinya bisa bahagia dengan caranya sendiri ?'


Dia pergi dari ruang itu menuju kekamarnya. Ia berbaring dan menaikan selimutnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya.


"Apa aku sudah salah melangkah ?? Apa aku salah menceraikannya ?? Sebenarnya apa yang terjadi saat aku amnesia ??" tanyanya bertubi-tubi pada dirinya sendiri.


Masih banyak pertanyaan lainnya yang belum dia dapatkan jawabannya. Cintanya selama 12 tahun tak akan pernah bisa dia lupakan begitu saja. Meski jelas dia sudah disakiti tapi tetap saja dia selalu mencari.


"Aku harus mencari Chandra bagaimana pun caranya, aku harus tanyakan kebenarannya.." monolognya malam itu, mengantarkannya kedalam mimpi.


***


Sudah berhari-hari ini dia mencari Chandra namun tidak ada yang tahu kebenarannya. Dia mulai putus asa, semua pertanyaan di benaknya tidak ada yang bisa menjawab.


Akhirnya pada hari yang sudah ditentukan, sidang perceraian pun datang. Andini menghadiri sidang perceraiannya itu dan berharap semoga dirinya bisa bertemu dengan Chandra meski hanya sekali saja.


Tapi Chandra benar-benar hilang entah kemana ? Sidangnya pun diwakilkan oleh Pak Karni, selaku pengacaranya.


Andini nampak sedih. Dan saat ketukan palu itu berbunyi sebanyak tiga kali, air matanya menetes deras. Tak dapat dipungkiri hatinya masih mencintai Chandra, tapi kini keadaan sudah berbalik dia bukan lagi istrinya. Dia harus bisa melupakannya dan harus bangkit dari keterpurukannya.


bersambung..


banyak yang minta jangan cerai, auto muter otak😂


tunggu kelanjutannya ya.. masih banyak episode lainnya..


btw aku juga mau promoin karya aku yang satunya



nah ini.. jangan lupa dibaca yahh....

__ADS_1


jangan lupa dukung aku terus dengan cara like, vote, share, komen, dan love di setiap karya aku .. terima kasih😉


__ADS_2